Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Suruhan Delara
Karena mendapat serangan yang tiba-tiba, Fabian tidak sempat menghindar. Dia terhuyung dan hampir jatuh. Namun, pria yang tadi memukulnya dengan sigap menarik kemeja Fabian. Meski beruntung karena tidak mencium aspal, tetapi Fabian sial juga. Pria yang menariknya kembali melayangkan pukulan, bukan hanya sekali-dua kali, tetapi berkali-kali.
Fabian merasa panas dan sakit di sana sini. Bahkan, lidahnya juga mengecap rasa asin dan amis. Rupanya, ujung bibirnya terluka dan mengeluarkan darah. Bukan hanya itu saja, hidungnya pun terasa sakit dan mengeluarkan cairan hangat. Dia yakin itu juga darah.
"Kalian siapa? Kenapa menyerangku tanpa alasan?" geram Fabian ketika tubuhnya sudah dilepaskan. Dia mengabaikan rasa sakit dan perih di wajahnya, malah menatap tajam ke arah pria-pria yang menghadangnya.
"Tanpa alasan kau bilang?" Pria yang memukul Fabian tersenyum licik. "Makanya, lain kali jangan sok jadi pahlawan. Kau tidak perlu ikut campur urusan nona kami, Nona Delara," sambungnya.
Fabian terkesiap, ternyata kejadian ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin. Ikut campurnya dalam urusan Delara telah berbuntut panjang.
"Dasar lelaki brengsek! Kau telah menggagalkan rencana Nona!" Pria itu berteriak sambil menendang perut Fabian.
Fabian kembali terhuyung. Dia gagal menjaga keseimbangan dan akhirnya terjerembab di atas aspal. Belum puas membuat Fabian tersungkur, pria itu juga menendang motor Fabian. Kotak makanan yang Fabian bawa, diacak-acak dan kini berserakan di jalanan. Lantas, mereka berempat pergi dengan tawa keras.
"Ahh, sakit banget." Fabian berusaha bangkit sambil memegangi perutnya yang mulas.
Walau dengan tertatih, tetapi Fabian berhasil berdiri. Wajahnya mendadak pucat saat melihat kotak makanan yang berserakan di jalanan.
"Misiku, jangan sampai gagal karena kejadian ini," batin Fabian dengan panik.
Dia mengabaikan rasa sakitnya dan bergegas jongkok di antara makanan yang berserakan. Fabian mencari pesanan pelanggan yang berhubungan dengan misi.
"Ini ... benar-benar keberuntungan," ucap Fabian dengan senyuman lebar.
Bagaimana tidak beruntung, satu-satunya makanan yang berhasil diselamatkan adalah milik pelanggan yang menjadi misinya.
"Persetan dengan ini semua, yang penting misiku aman," ucap Fabian sambil mendirikan motornya.
Beberapa detik setelahnya, Fabian langsung menghidupkan mesin motor dan melaju meninggalkan tempat itu. Makanan yang berserakan ia biarkan begitu saja. Pikirnya, biarlah dibersihkan tukang sampah atau warga sekitar sana.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, Fabian tiba di tempat tujuan. Dengan tidak sabar dia memencet bel, berharap sang empunya rumah segera keluar dan menerima pesanannya. Dengan begitu, uang satu miliar berhasil ia genggam.
"Dari Wendy's Resto, Bu," kata Fabian setelah melihat wanita dewasa berjalan ke arahnya.
"Oh iya, sebentar ya, Mas."
Fabian tersenyum lebar. Matanya tak beralih dari gerakan tangan sang pemesan yang sedang membuka pintu gerbang.
"Ini, kembaliannya untuk Mas-nya aja," ucap wanita itu sambil menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu. Sesaat setelah dia mendongak, ekspresi wajahnya berubah kaget. "Mas! Wajahnya kenapa?"
Fabian tersenyum masam, "Tadi hampir dirampok, Bu."
"Astaga! Terus gimana, Mas? Nggak ada yang hilang, kan?"
"Nggak ada, Bu. Mereka berhasil saya lumpuhkan, yahh walaupun saya juga terluka. Tapi, nggak apa-apa, yang penting berhasil membuat mereka jera," dusta Fabian.
"Ah, syukurlah jika tidak ada yang hilang." Wanita itu tersenyum lega. "Mmm, mari masuk dulu, Mas! Saya obati lukanya," sambungnya.
"Nggak usah, Bu, saya langsung balik saja. Masih ada banyak pesanan yang belum saya kirim," jawab Fabian.
"Oh, baiklah kalau begitu. Hati-hati ya, Mas!"
"Iya, Bu." Fabian mengangguk sambil tersenyum, lalu kembali menaiki motornya dan melaju pergi.
Wanita yang belum lama menerima makanan dari Fabian, diam-diam tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Anak muda zaman sekarang, pintar sekali mengarang cerita," ucapnya.
Bersambung...