Bhadrika Anneta Fabian memilih bersembunyi dari keluarganya karena belum siap menerima pernikahannya dengan seorang pria yang tak ia cintai.
Sementara Pangeran Aditama meski sudah tiga tahun berlalu masih terus mencari Istri sirinya yang kabur, hingga pada akhirnya ia menemukan titik terang tentang keberadaannya
" Jika kamu tak ingin aku menjadi Tuan Pemaksa, maka patuhi dan cintai aku sebagai suamimu."
" Tapi aku tetap tidak bisa mencintaimu karena di hati ini hanya ada dia. Jadi lepaskan saja aku!"
" Anne dia sudah pergi, jadi lupakanalah! Lagipula aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kamu akan tetap menjadi istriku sampai nanti. "
Di kala Pangeran masih berjuang untuk mendapatkan cinta istri, tiba-tiba muncul seseorang yang sangat mirip dengan almarhum pria yang sangat Anne cintai.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan mereka selanjutnya?
Follow ig Author : Novi_Rahajeng08
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Selamat tinggal
Di belahan dunia lain, terlihat tiga anak kecil sedang berlari bersama orang tuanya untuk menjenguk sang Kakek.
" Opa ...," seru anak kecil itu yang terus berlari kearah kakeknya.
Pria paruh baya itu pun dengan sigap menangkap tubuh mungil yang berlari ke arahnya.
"Dapat," ucapnya ketika berhasil menangkap tubuh sang cucunya yang kini sudah tumbuh semakin besar.
" Baheer ... Sudah Pian katakan jangan suka berlari-lari ke arah Opa." Kean mencoba mengingatkan putranya yang sangat aktif itu. Pasalnya, kondisi kesehatan Papa Ken kurang baik.
" Sudah tidak apa-apa, mungkin Baheer sangat merindukan Opa, ya 'kan?" lerai Papa Ken seraya menciumi pipi gembul Baheer.
Baheer pun mengangguk, membuat Papa Ken semakin gemas di buatnya. Inilah yang menjadi obat dikala kesedihan akan kehilangan putri kesayangannya. Meski sudah ada pelipur, tapi hati dan pikiran seorang ayah tetap saja tak tenang jika belum mendengar bagaimana kabar putrinya.
Selama tiga tahun ini, isi dalam pikirannya si penuhi dengan berbagai pertanyaan tentang Dimana putriku? Bagaimana kabarnya? Apakah dia baik-baik saja? Apa dia sudah makan? Amankah dia? Bagaimana kehidupannya, Dan masih banyak lagi.
Itulah alasan paling utama kenapa kesehatannya semakin menurun. Karena kalau dikatakan soal usia, belum terlalu tua di tambah lagi sebelumnya sangat suka olahraga. Namun, dalam satu tahun terakhir ini, dia tak bisa melakukan olahraga yang terlalu berat karena kondisi jantungnya sedang kurang baik.
"Oh, ya Papa tadi habis teleponan sama siapa?" tanya Kean yang sempat melihat bahwa Papa Ken baru selesai menelpon dengan seseorang.
" Oh, sama Pangeran," jawab Papa Ken.
" Opa, Bira juga mau di pangku," ujar Abira yang tak mau kalah dengan adiknya.
" Oh, Bira juga mau di pangku. " Papa Ken pun mengangkat tubuh mungil itu untuk di bawa kedalam pangkuannya. Sepertinya, beberapa hari tak bertemu membuat mereka sudah saling merindukan satu sama lain.
" Abira ...,"
Baru saja Dinda mau menegur, Papa Ken langsung memberikan kode dengan mengatakan kalau tidak apa-apa. Melihat masih ada satu cucunya yang belum di pangku, membuat Papa Ken menawarkan diri.
" Ceisya mau Opa pangku juga?"
Ceisya menggeleng.
" Kenapa?" tanya Papa Ken heran dengan jawaban sang cucu.
" Kasihan Opa, nanti keberatan kalau harus memangku Ceisya juga," tutur gadis cilik itu yang terlihat lebih dewasa dan pengertian. Padahal, dia merupakan anak bungsu, tetapi sifatnya hampir mirip dengan papanya yang sangat dewasa dan irit bicara.
Papa Ken pun tersenyum ketika melihat sikap sang cucu yang seakan mengingatkan ia pada Kean kecil. Dimana, Ia yang selalu saja mengalah ketika Lean dan Anne sedang ingin bermanja padanya.
Tak lama kemudian, terlihat seorang wanita paruh baya berjalan masuk bersama beberapa pelayan dengan membawa cemilan dan minuman.
" Oma ...," seru Ceisya yang langsung berlari kearah Mama Dira.
Dikarenakan tak bisa ikut bergabung dengan kedua kakaknya, Ceisya pun beralih pada neneknya.
" Uuh ...," Mama Dira pun berhasil menangkap tubuh cucunya, lalu menggendongnya.
" Wah, cucunya Oma sepertinya makin besar ya setelah pulang liburan ...," ujar Mama Dira seraya mencubit gemas Pipi Ceisya yang sudah seperti bakpau. Pasalnya, postur tubuh Ceisya memang lebih besar ketimbang kedua Kakaknya.
" Hehehe, iya dong Oma. Soalnya, selama liburan Ceisya banyak makan dessert," jawab gadis kecil itu polos dengan cengengesan.
" Oh, begitu tapi kok Oma tidak di bagi makanannya," goda Mama Dira.
" Di bagi dong Oma, justru Ceisya juga belikan oleh-oleh buat Oma sama Opa, "tutur gadis itu yang meminta turun dari gendongan Omanya.
" Aku juga beli," ucap Abira dan Baheer yang tak mau kalah kalau mereka juga membeli oleh-oleh untuk Oma dan Opanya.
Hari ini, Kean dan Dinda memang baru saja kembali untuk menemani ketiga putrinya mengikuti acara liburan sekolah selama beberapa hari. Awalnya, Kean berniat untuk mengajak Mama Dira dan Papa Ken berlibur guna mengusir kesepian, kerinduan dan kesedihan. Namun di tolak dengan alasan kondisi Papa Ken yang kurang memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh selama puluhan jam.
Melihat ketiga cucunya yang berlomba mengambil oleh-oleh, membuat Mama Dira dan Papa Ken tersenyum melihatnya. Meski wajahnya tersenyum, tetapi masih terlintas sebuah kesedihan di dalam. Apalagi Mama Dira yang harus kehilangan dua anaknya sekaligus dalam waktu yang berdekatan. Meski belum bisa mendapatkan kabar tentang dimana keberadaan Anne, mereka berharap bahwa putrinya itu masih hidup dan bisa kembali lagi ke tengah-tengah keluarga ini.
...***...
Selesai berkemas, Anne dan Pangeran segera bersiap pergi meninggalkan Lauterbrunnen.
" Apakah sudah siap semua sayang?" tanya Pangeran pada Anne yang masih sibuk mengemasi barang-barangnya. Meski tak semua barang ia bawa, tetapi Anne tetap harus mengemasi barang-barangnya agar mudah jika sewaktu-waktu di butuhkan atau di pindahkan.
" Sepertinya sudah," jawab Anne.
Baru saja Anne akan bangun dari tempat duduknya, tiba-tiba terdengar suara seseorang sedang mengetuk pintu rumahnya. Mendengar ada tamu yang datang, membuat Pangeran pergi untuk membukakan pintu.
" Ternyata kamu," lirih Pangeran saat melihat Jeremy datang.
" Memangnya siapa lagi!" jawab Jeremy ketus.
Tak lama kemudian, terlihat Anne yang sudah siap dengan tas dan juga kopernya.
" Sudah siap untuk berangkat?" tanya Jeremy.
Anne terlihat kembali menatap seisi rumah yang telah ia tinggali selama satu tahunan karena pada sejatinya ia memang tak menetap di satu tempat. Apalagi ketika waktu ramadhan tiba, Ia akan pergi ke negara-negara di mana yang mayoritas penduduknya muslim agar nuansa ramadhan dan lebaran lebih terasa.
" Selamat tinggal, semoga suatu hari nanti aku bisa kembali lagi ke sini," pamit Anne dalam hati.
Setelahnya, ketiga orang itu berjalan menuju tempat parkir mobil. Pasalnya lokasi rumah Anne dan Jeremy tidak bisa di lewati oleh kendaraan. Jadi, mereka harus berjalan beberapa meter menuju tempat parkiran.
Sesampainya di tempat parkir, Pangeran mencoba membantu memasukkan koper Anne dan tasnya ke dalam bagasi. Sementara Anne sudah duduk di kursi penumpang belakang supir.
" Kok kamu duduk di sini?" tanya Anne saat melihat Pangeran yang tiba-tiba masuk dan duduk di sampingnya.
" Loh, memangnya kenapa sayang?" tanya Pangeran bingung karena ia tak merasa salah atau ada yang aneh.
Anne menghela nafas. " Duduk di kursi depan samping Jeremy karena dia bukan supir," pinta Anne yang membuat dahi Pangeran berkerut.
" Aku tidak masalah Anne, "ujar Jeremy yang memang tak mempermasalahkannya.
" No! "
" Tuan Pangeran Aditama ... Bisakah anda duduk di depan atau saya yang___"
" Baiklah," jawab Pangeran cepat yang tak mau jika Anne duduk di depan samping Jeremy.
Setelahnya Pangeran kembali keluar dari mobil guna berpindah posisi duduk di depan. Setelahnya, mobil mereka pun berjalan menuju Bern karena Pangeran harus pergi mengambil barang-barangnya yang ada di rumah Esme.
...****************...
Halo gengs ... Maaf ya kalau Novi baru update. Doakan semoga setelah hari ini akan lancar updatenya....
penasaran sama lnjtn nya