Ditinggal suami meninggal di malam pertama, membuat Arumi sangat terpukul hingga wanita itu nekat untuk mengakhiri hidupnya. Akan tetapi, rencana wanita itu gagal karena ia dicegah seorang pria yang kebetulan lewat di jalan itu.
Arnold~ orang yang pernah menolong Arumi, tanpa sadar mencintai wanita itu setelah beberapa kali pertemuan, dan bisa bangkit dari keterpurukan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tufa_hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta pertama mudah untuk mengembalikan
"Kamu sendiri yang bilang bahwa kamu membenci anakku, jadi tunggulah anakku lahir, setelah itu kamu bebas mau kemanapun yang kau inginkan!" ucap Regan.
Regita masih diam mematung tanpa kata, ia seakan susah untuk menelan ludahnya sendiri saat mendengar ucapan Regan yang mengingatkan tentang ucapannya sendiri.
"Tidak, aku tidak akan menyerahkan anakku padamu! Aku yang mengandungnya dan aku pula yang akan melahirkannya!" ucap Regita tanpa menoleh pada suaminya tersebut.
Regan pun tersenyum penuh kemenangan, pria itu terlanjur mencintai Regita hingga ia tidak bisa membiarkan wanita itu pergi.
Kebersamaannya dengan dengan sang istri membuat Regan tidak bisa jauh dari wanita itu, dan setiap langkahnya Regan selalu ikuti tanpa sepengetahuan Regita.
"Jadi, apa maumu?" tanya Regan dengan wajah datar untuk menyembunyikan perasaannya dari wanita tersebut.
"Aku sudah tidak melihat cinta untukku di mata Arnold lagi, dia berubah dan aku melihat cinta untuk orang lain di matanya."
"Jika aku sudah tidak bisa bersamanya lagi, lalu untuk apa aku mengejarnya? Jadi aku memutuskan untuk hidup dengan anakku, hanya dengan anakku," ucap Regita.
Deg
Regan terkejut mendengar mendengar ucapan wanita itu, ia pikir Regita akan mengajaknya untuk membuka lembaran baru dan berusaha untuk mencintainya. Namun, jawaban wanita itu membuatnya seakan terhempas jauh.
"Kamu hanya boleh merawat anakku jika kita masih sah menjadi suami istri, tapi jika tidak, aku tidak akan membiarkanmu untuk bersamanya sampai kapanpun!" ucap Regan.
"Sini kuncinya aku mau pergi!" Regita mendorong tubuh Regan untuk mengambil kunci cadangan. Namun, karena tubuh Regan yang kuat pria itu tidak bergeser sedikitpun.
"Minggir!" Regita menatap Regan tajam dengan gigi yang terkatup rapat.
"Git … bisakah kau melihatku sedikit saja! Jika kamu tidak bisa bertahan denganku karena kau tidak mencintaiku, tapi cobalah bertahan demi anak kita, demi kebahagiaannya!" ucap Regan menatap mata Regita dengan wajah sendunya.
"Tapi setiap aku melihatmu, aku hanya mengingat kesalahan kita hingga aku tidak bisa memiliki Arnold lagi!" ucap Regita kesal.
"Baiklah, jika memang hanya Arnold kebahagiaanmu, aku akan mengembalikanmu padanya! Dan hari ini juga aku akan menemuinya." Regan melangkah melewati Regita dan hendak membersihkan diri ke kamar mandi.
"Apa yang ingin kau lakukan, kau tidak akan pernah bisa mengembalikan rasa cintanya padaku!" teriak Regita dengan air mata yang berderai.
"Aku berjanji padanya bahwa aku akan bahagia dan berusaha mencintaimu, namun pada kenyataannya aku tidak bisa menepati janjiku padanya, aku terus mencintainya dan tidak bisa mencintaimu!" teriak Regita seraya menoleh dan menatap punggung Regan yang melangkah menuju kamar mandi.
Regan menghentikan langkahnya mendengar ucapan sang istri. "Cinta pertama mudah untuk mengembalikannya, dia hanya berusaha menjauh karena ia sadar dengan posisinya, tapi jika kamu tersiksa menikah denganku, maka aku akan melepasmu untuknya!" ucap Regan.
Lalu Regan melanjutkan langkahnya, sementara Regita meluruhkan air matanya seraya melangkah menuju sofa dan duduk sambil menangis terisak-isak.
Beberapa saat kemudian, Regan keluar dengan wajah datar, tidak ada senyuman atau tatapan teduh pada wanita itu, ia seakan memutuskan kontak mata dengan sang istri.
Sementara Regita sudah menghentikan tangisannya ia hanya menatap Regan yang sibuk mengganti pakaian. Pasangan suami istri itu terbiasa mengganti baju tanpa malu di depan pasangannya asalkan di dalam kamar.
_____________
Awan, Rainy dan Arnold janjian di sebuah Restoran mewah di kota itu, namun Awan telat yang membuat Arnold kesal karena ia jarang menunggu seseorang.
"Malem … Ar, Rain ..." sapa Awan begitu sampai di restoran tempat ia dan Arnold janjian.
"Kamu telat 5 menit 42 detik!" ucap Arnold sambil menatap jam di pergelangan tangannya.
Awan tersenyum mendengar ucapan sahabatnya tersebut. "Kamu tidak pernah berubah dari dulu!" ucap Awan seraya menarik kursi yang akan pria itu duduki.
Sementara Rainy hanya tersenyum mendengar perdebatan kedua sahabat baik itu. Ia hanya duduk dengan senyum manisnya.
"Kalian sudah pesan makanan?" tanya Awan sambil menatap Arnold dan Rainy bergantian.
"Belum! Sekarang kamu panggil pelayannya!" jawab Arnold dengan wajah kesal.
Rainy pun semakin mengembangkan senyumnya dan menggeleng-gelengkan kepala melihat wajah sang kakak yang tampak kesal karena Awan telat 5 menit.
"Maaf tadi ada pasien darurat, aku harus membantunya!" ucap Awan tersenyum karena melihat wajah kesal sahabatnya tersebut.
"Baiklah, kali ini aku maafin, tapi tidak lain kali!" ucap Arnold dengan wajah cuek.
"Kakak … ! Kakak tidak boleh begitu, tugas seorang dokter itu lebih penting daripada kita. Jika Kak Awan tidak segera menangani pasiennya, maka bisa-bisa Kak Awan membahayakan nyawa seseorang, Kak!" ucap Rainy tersenyum pada sang kakak.
Arnold beralih menatap sang adik sambil memicingkan matanya. "Benarkah?" tanya Arnold seraya menggoda adiknya dengan tersenyum penuh arti.
"Kenapa tatapan Kakak aneh begitu?" tanya Rainy menatap sang kakak penuh tanya.
"Aneh apanya? Kakak biasa saja!" ucap Arnold seraya mencebikkan bibirnya.
"Terserah Kakak!" jawab wanita itu malas hingga membuat Arnold tertawa melihat wajah adiknya tersebut.
"Kita pesan makanan saja, aku sudah lapar!" ucap Awan setelah adik kakak tersebut terdiam beberapa saat.
Lalu, Awan pun memanggil pelayan restoran dan mereka memesan makanan sesuai selera mereka masing-masing.
Tanpa sengaja Marissa melihat Rainy sedang tersenyum dan berbincang-bincang dengan kedua pria yang duduk satu meja dengan wanita tersebut.
Wanita paruh baya itu menghampiri Rainy dengan langkah gontai, dengan air mata yang mengembun karena setelah sekian lama ia bisa melihat wanita itu dengan senyum ceria.
"Rainy … !" panggil Marissa dengan air mata yang menetes tanpa permisi setelah wanita itu bisa melihat wajah wanita itu dari jarak dekat dengan berdiri di sampingnya.
Seketika tiga orang yang ada di meja iti menoleh pada seseorang yang memanggil nama Rainy dengan suara gemetar.
Rainy yang terkejut reflek berdiri, ia menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan penuh rasa haru. "Mommy … !" panggil wanita itu dengan suara tercekat.
"Ingat apa tujuanmu sekarang!" ucap Arnold tanpa menatap sang adik dengan wanita paruh baya itu. Pria itu memotong daging di piringnya dan mengunyahnya dengan santai.
Deg
"Kakak tenang saja, aku akan ingat itu!" ucap Rainy tersenyum.
Wanita itu melangkah mendekati Marissa, lalu memeluknya erat. "Aku merindukanmu, Mom!" ucap Rainy dengan senyum tulusnya. Lalu memejamkan matanya menikmati pelukan hangat dari sang mertua.
Setelah beberapa saat kemudian, Rainy melonggarkan pelukannya dan menatap sang mertua dengan tatapan lembut.
"Ayo Mom, duduk! Kita makan malam bersama!" ajak Rainy seraya memegang pergelangan tangan wanita paruh baya itu untuk mengajaknya bergabung.
Namun, Marissa tetap mematung seraya menatap Rainy intens. Rainy yang merasa Marissa tetap di posisinya, ia langsung menoleh pada wanita paruh baya itu.
"Kenapa, Mom?" tanya Rainy dengan mengerutkan kening.
"Kembalilah, Sayang! Sky menderita sejak kamu pergi!" ucap wanita paruh baya itu dengan mata yang menahan tangis serta tatapan memohon.
Deg
Seketika ucapan Marissa membuat Rainy terkejut karena menurutnya Sky tidak mungkin menderita karena dirinya, sebab yang ia tahu Sky tidak pernah mencintai wanita itu.
"Anda jangan keterlaluan, adikku akan menikah dengan Dokter Awan~ pria yang ada di seberang saya, jadi Anda tidak berhak mengajak dia kembali, lagi pula untuk apa Anda mengajaknya kembali ke rumah yang seperti neraka itu? Ingat! saya tidak akan membiarkan itu terjadi!" ucap Arnold seraya menatap Marissa tajam.
"Kakak …!" panggil Rainy pelan seraya menoleh pada kakaknya tersebut.
"Baiklah, Kakak tidak akan ikut campur urusan kalian, tapi kamu harus tegas, agar kamu tidak terjerumus ke penderitaan yang sama!" ucap Arnold dengan wajah menahan amarah.
Sementara Awan hanya menyaksikan semuanya tanpa berniat ingin ikut campur.
"Apa benar yang dikatakan kakakmu kalau kamu akan menikah dengannya, Nak?" tanya Marissa seraya menatap Awan, dan air mata wanita paruh baya itu menetes tanpa bisa dicegah.
Rainy pun menghapus air mata wanita paruh baya itu dengan lembut. "Mommy akan tetap menjadi Mommy Rainy, aku akan tetap menjadi anaknya mommy meskipun aku menikah dengan orang lain!" ucap Rainy tersenyum.
"Jadi benar, Nak?" tanya Marissa kembali.
Rainy menatap Marissa dengan perasaan iba, lalu menganggukkan kepalanya pelan tanpa menatap mata wanita paruh baya itu.
Prang …
Suara piring jatuh terdengar dari salah satu meja yang tidak jauh dari kursi mereka bertiga hingga membuat semua orang menatap ke arah suara tersebut.
Deg
Rainy terkejut setelah melihat siapa yang menjatuhkan piring tersebut. "Pelangi ... !" gumam Rainy.
Pelangi pun beranjak dengan air mata yang berderai deras, meskipun gadis itu sudah besar tapi Rainy tidak bisa melupakan wajahnya.
Wajah Pelangi juga tidak jauh dari masa kecilnya hingga tidak sulit bagi Rainy untuk mengenalinya.
"Pelangi … !" teriak Rainy hendak mengejar gadis itu.
"Ingat apa tujuanmu, Rain!" ucap Arnold menatap adiknya yang hendak mengejar anak tirinya tersebut.
"Jika kamu sudah memilih jalan baru, berbahagialah, Nak! Pelangi biar aku yang urus!" ucap Marissa seraya memegang pundak wanita itu.
Lalu, Marissa melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut menuju pintu keluar. Sementara Rainy hanya menatap punggung wanita paruh baya itu dengan tatapan sendunya.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
...TBC...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu