Dira Tampubolon (17) terpaksa harus mengikuti perjodohan keluarga dengan paribannya, Defan Sinaga (27) yang lebih tua sepuluh tahun darinya. Perjodohan itu diikrarkan saat usia Dira masih dini dan masih duduk dibangku SMA.
Terpaksa Dira mengikuti keinginan bapaknya, Sahat Tambolon yang sudah berjanji pada kakak kandungnya untuk menikahkan boru panggoarannya karena memiliki hutang yang banyak pada keluarga paribannya.
Dira boru panggoaran sekaligus boru sasada dalam keluarga itu tak bisa menolak perintah bapaknya. Ia akan menikahi lelaki yang menurutnya sudah tua karena jarak usia mereka terpaut jauh.
Sifat Dira yang masih kekanak-kanakan menolak keras perjodohan itu. Tapi apa boleh buat, pesta martumpol telah digelar oleh kedua kelurga dan ia akan segera bertunangan dengan paribannya yang tua tapi juga tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Valentina Tampubolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bibir
Mendengar ucapan Dira, Defan langsung menginjakkan gas mobilnya dan melaju dengan kecepatan kencang. Rasa kesalnya tak bisa dipungkiri. Anak kecil itu berhasil membuatnya jengkel. Moodnya langsung berubah derastis.
Defan tahu kalau Dira sedang mengerjainya. Dira tiba-tiba terguncang ketika laju mobil yang cepat secara mendadak karena ia belum memakai sabuk pengamannya.
"Bang! Pelan-pelan lah! Ada manusia ini di dalam," sindir Dira dengan sinis.
Defan memilih diam, tidak menjawab perkataan Dira. Kecepatan laju mobilnya tidak juga ia turunkan, dengan cepat Dira menggunakan sabuk pengamannya agar dia lebih aman, serta agar tubuhnya tidak bergoyang-goyang.
"Bang," Dira kembali memperingatkan Defan. Tapi tak juga digubris oleh pariban dingin yang arogan itu.
"Diam dulu! Saya lagi konsentrasi nyetir," balas Defan dengan dingin dan formal.
Defan menghentikan mobilnya. Mereka telah sampai di taman tempat pemotretan. Tema pemotretan prewedding mereka adalah ruang terbuka hijau di Taman yang paling terkenal di Kota Medan.
"Turun," kata Defan dengan dinginnya karena moodnya sudah berantakan dari pagi.
Dira yang tampak tenang menurunkan gaunnya pelan-pelan tanpa bantuan Defan. Namun melihat Dira kesulitan mengangkat gaun beratnya, fotografer mereka menghampiri.
Dia membantu mengangkatkan gaun tersebut. Para MUA juga sudah duduk menunggu kedatangan Dira. Jadwal pemotretan mereka tinggal setengah jam lagi, waktu itu akan dimanfaatkan oleh Dira untuk berganti baju mengenakan gaun dan membiarkan MUA merias make upnya.
Look make up yang Dira pilih adalah tampil seperti barbie. Look itu sangat ngetrend sekarang, karena membuat wajah sangat cantik seperti riasan barbie.
Dira dibantu oleh MUA mengganti gaunnya. Dilanjutkan dengan merias wajahnya. Cukup waktu selama setengah jam sebelum fotografer mengambil alih untuk pemotretan tersebut.
"Silahkan pengantin pria berada dibelakang pengantin wanita. Lalu pengantin pria meletakkan tangannya melingkari pinggang pengantin wanita ya dan kepalanya diatas pundak," ucap Fotografer yang mulai mengarahkan gaya keduanya.
Dengan kikuk Defan mengikuti arahan fotografer tersebut. Ia meletakkan tangannya dipinggang calon istrinya. Padahal ia sudah sangat kesal dengan Dira.
Karena sangat kaku, gaya yang diperlihatkan Defan sangat tidak elok. "Tolong pengantin prianya tersenyum! Jangan datar gitu," perintah sang fotografer.
Dira melirik wajah Defan dengan mendongak keatas. Karena Defan berada dibelakangnya, ia tidak bisa melihat ekpresi paribannya. Ia terkekeh mendengar perintah sang fotografer.
"Senyum bang," Dira malah ikutan menyindir Defan.
Defan menunjukkan senyumnya. Tapi senyum itu tampak kaku. Tidak alami. Alhasil lagi-lagi dia terkena semprot oleh sang fotografer.
"Pengantin pria bisa relax? Tolong senyumnya yang alami. Jangan kaku," perintahnya lagi.
Dira lagi-lagi menengadah wajahnya keatas. Penasaran bagaimana mimik wajah paribannya itu.
Senyumnya yang kecut tentu saja membuat fotografer tampak marah. Ia malah membuat fotografer kesulitan dan memperlama proses pemotretan.
"Pengantin wanitanya bisa nggak contohin ke pengantin pria bagaimana cara tersenyum?" ketus fotografer semakin sinis.
"Bang! Senyum! Jangan cemberut aja. Nanti Dira kasih permen deh," goda Dira agar membuat Defan tersenyum.
Tapi usaha Dira sia-sia. Defan yang kaku dan arogan itu memang sangat sulit untuk tersenyum. Jika ia tersenyum pun wajahnya tampak kecut seperti memperlihatkan senyum sinisnya.
"Bang sudah capek saya senyum. Sedapatnya ajalah," ketus Defan yang semakin kesal kepada fotografernya.
"Kalau gitu sekarang gaya bebas aja ya bang. Tapi ingat harus senyum. Biar kaya ala-ala candid gitu," balas fotografernya.
Berbagai gaya candid diambil oleh sang fotografer. Tapi semua foto tanpa senyum Defan. Mukanya datar semua, dan membuat sang fotografer jengkel.
"Coba deh, dek Dira arahkan suaminya. Bikin yang mesra gitu gayanya, daritadi semua foto mukanya datar semua. Nggak ada senyum-senyumnya," ucap fotografer semakin kesal karena pemotretan tak kunjung selesai.
"Masih calon bang! Belum suami," celetuk Dira menjelaskan.
Dira meminta Defan untuk duduk, sementara Dira berdiri. Sekarang Dira yang akan mengarahkan gaya pada Defan. Sebenarnya dia tidak ada rencana, semua akan dilakukannya secara spontan.
Tiba-tiba Dira mengalungkan tangannya dileher Defan, membuat defan secara refleks terkejut. Muka kejutnya itu dipotret oleh sang fotografer.
Kali ini Fira berada disamping Defan. "Bang, foto aja ala-ala candid. Biar saya yang bikin bang Defan bergaya sendiri," ucap Dira mengarahkan.
Kali ini Dira bergaya elegan berada disamping Defan. Sebelum flash menyala, Dira tiba-tiba menggelitik Defan. Alhasil Defan tertawa. Dan foto itu berhasil diambil oleh fotografer.
Kemudian Dira mengarahkan agar Defan berdiri menyamping. Awalnya, Dira hanya meletakkan kedua tangannya di dada Defan dan menatapnya. Kemudian Dira yang berada didepan Defan, tiba-tiba ia berjinjit dan mencium bibir Defan.
Momen itu berhasil diabadikan oleh fotografer. Berbagai gaya telah Dira lakukan dan semua membuat Defan terkejut. Bibir mereka yang saling bersentuhan itupun membuat Defan tidak berkutik. Ia seolah-olah dikelabui oleh anak kecil berusia tujuh belas tahun.
Jatungnya berdegup kencang, ketika anak kecil itu menciumnya. "Sial! Anak kecil ini bertindak semaunya! Perasaan apa ini," batin Defan. Dia juga tidak bisa menolak ciuman itu karena semua demi kepentingan preweddingnya.
"Bravo!! Bravo!!" teriak Fotografer sambil bertepuk tangan.
"Gitu dong! Kalau daritadi begitu pasti pemotretan kita sudah beres dari tadi,"
Fotografer mulai merapihkan semua peralatannya. Sesi foto hari itu sudah selesai, semua foto yang diambil secara candid berkat bantuan Dira sangat bagus.
Sementara Dira bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Berbeda dengan Defan malah bersikap kikuk dan kaku.
"Bang. Ayo pulang," ucap Dira mengagetkan Defan yang sedang melamun seusai berganti pakaian.
"Abang ngapain sih dari tadi kok malah diam? Pemotretan udah beres dari tadi loh," celetuk Dira.
Defan berdiri dan masuk ke dalam mobilnya. Ia masih membayangkan kejadian tadi saat Dira menciumnya. Tapi malah Dira bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Kali ini Dira duduk disamping Defan. Kecantikan Dira tak bisa dipungkiri dengan make up yang masih tertata diwajahnya. Tetapi dia sudah mengganti gaunnya dengan pakaian biasa.
Pakaian yang ia kenakan hari inipun pemberian dari calon suaminya itu, saat berbelanja kemarin.
"Kau ini bukan seperti anak-anak. Kaya udah pro aja. Pake cium-cium segala," singgung Defan membuka suaranya.
Dira menoleh dan menatap tajam Defan. "Apa maksud abang?"
"Pura-pura nggak tahu lagi. Apa kau pernah mencium laki-laki sebelumnya?" tanya Defan dengan polos dan dingin.
"Enggak tuh! Abang laki-laki pertama yang ku cium," jawabnya dengan datar.
Defan menjadi bingung. Mengapa anak sekecil Dira yang dianggapnya polos malah lebih agresif.
"Emang kau nggak takut kalau abang cium duluan?"
Dira berpikir sejenak. Apa ada yang salah dari dirinya. Ia hanya mengikuti instruktur dari fotografernya tadi. Semua fotonya bahkan tampak alami. Tapi mengapa Defan meributkan hal sepele seperti itu?
"Emang kenapa sih bang? Emangnya salah kalau aku cium abang? Abang kan seminggu lagi bakal jadi suamiku. Lagian juga tadi disuruh sama fotografernya kan? Kalau abang mau cium Dira sekarang silahkan!" tantang Dira yang membuat suasana semakin dingin.
"Ingat ya bang! Dira nggak boleh hamil sebelum lulus sekolah," kecam Dira mengingatkan calon suaminya itu.
"Dih emangnya abang ngapain? Megang aja nggak, kenapa tiba-tiba hamil?" Defan menanggapi dengan sinis.
"Yaudah makanya abang santai aja. Anggap aja tadi nggak terjadi apa-apa! Lagian itu foto hasilnya bagus kan? Dan itu akan dipajang di pernikahan kita loh," ketus Dira.
Defan mengantarkan Dira hingga didepan rumahnya. Namun sebelum Dira keluar dari mobil, ponsel Defan berdering. Ia menatap layar ponsel cukup lama karena Dira tak kunjung keluar dari mobilnya.
Telepon yang baru saja dari sahabatnya tidak berani ia angkat didepan Dira. Dira sempat melihat nama kontak yang ada di layar ponsel tersebut.
"Hmm sahabat perempuannya," batin Dira. Sengaja Dira tak keluar dari mobil, Defan juga tak berani menyuruhnya untuk keluar.
"Kenapa nggak diangkat bang! Siapa tau penting," celetuk Dira membuat Defan semakin kikuk.
tapi baru baca bab 1, sepertinya menarik ceritanya...