Season 1
Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.
Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.
Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.
Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Di dalam rumah, dua pasangan yang tak muda lagi begitu menggebu saling memuaskan. Terutama prianya yang tak dapat lagi membendung rasa rindunya terhadap wanita yang ada di bawah kungkungannya.
Pria itu terus memaju mundurkan pinggulnya dari yang tadinya pelan semakin cepat, cepat, dan cepat sampai ia tak bisa lagi menahan muntahan lahar putihnya. Tubuhnya ambruk di atas Wanitanya, pria itu menelusupkan wajahnya ke ceruk leher sang wanita.
"Daniel, berat." Lirihnya sedikit mendorong tubuh pria di atasnya. Pria yang bernama Daniel itu menyingkir menggulingkan tubuhnya ke samping Wanitanya.
"Satu Minggu tidak bertemu denganmu rasanya rindu ini sangat menggebu, Rebecca. Kau sungguh membuat ku candu akan tubuhmu. Menikahlah denganku!" Daniel yang tadinya menatap langit-langit kamar menoleh ke samping menatap wanita yang selama ini menjadi teman tidurnya.
"Sudah ku katakan ku tak ingin menikah jika hanya karena nafsu saja. Kau tahu aku baru saja kehilangan suamiku 7 bulan yang lalu dan tidak mungkin bagiku menikah secepatnya."
"Aku mencintaimu, Rebecca. Jauh sebelum kau mengenalku, dan menjadi partner ranjang ku." Daniel mengubah posisinya menjadi duduk masih dalam keadaan tak berpakaian.
"Maksud kau?" Rebecca tidak mengerti, dia hanya mengenal pria ini ketika Austin mulai menjualnya menjadi wanita malam. Dan dari sanalah Rebecca sering menjadi partner ranjangnya Daniel sejak 6 bulan yang lalalu.
"Kita pernah bertemu sebelumnya pada saat kau belum menikah." (sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengakui kesalahanku)
"Aku tidak mengerti, setahuku kita kenal saat Austin menyuruhku melayani pria kaya."
Daniel menghelakan nafas. "Istriku meninggal ketika melahirkan putraku Sean. Aku terpuruk dan juga terguncang, cintaku telah di bawa mati. Ku pikir aku tidak akan jatuh cinta lagi setelah kepergian mendiang istriku. Tapi, semua perkiraan ku salah ketika ku bertemu wanita di saat usia Sean jalan dua tahun."
"Ku menyukai gadis berasal dari Las Vegas, Nevada. Kecantikannya, kebaikannya membuatku terpikat. Ku mencari tahu siapa gadis itu dan ternyata dia berasal dari kampung yang terkenal dengan tempat pelacuran, perjudian. Seketika itu ku kecewa padanya dan ku berpikir jika dia wanita murahan. Sampai dimana ku melihat dia berjalan begitu mesra dengan seorang pria membuatku terbakar api cemburu dan marah."
Rebecca mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir pria di sampingnya, dia juga ikut duduk untuk mendengarkan ceritanya.
"Rasa cemburuku membuat amarahku memuncak sampai ku melakukan kesalahan dengan mencegat keduanya ketika pulang sekolah dengan berpura-pura menjadi perampok. Aku menutupi wajahku menggunakan topeng lalu memalak kedua remaja SMA itu dan memukul prianya secara membabi buta saking cemburunya padanya. Ku juga membawa paksa gadis itu ketempat sepi, melampiaskan rasa cemburuku dengan cara memperkosanya. Aku... aku tidak tahu jika dia masih suci, aku menyangka dia wanita malam sama seperti yang lainnya."
Rebecca membungkam mulutnya syok, cerita Daniel sama seperti peristiwa yang ia alami. Air matanya merebes meluncur saat mengingat peristiwa menyakitkan itu.
Daniel memegang kedua pundak Rebecca, menatap lekat-lekat wanita berusia 40 tahun itu. "Aku minta maaf, akulah pria itu dan kaulah wanitanya. Maafkan aku..." ucap Daniel penuh penyesalan.
"Ka-kau... Kau brengsekkk.. kau bajingannn.." Rebecca memukul-mukul tubuh Daniel melampiaskan amarahnya. Daniel membiarkan itu sebab ia sadar jika dirinya salah. Dia merengkuh tubuh wanitanya berusaha menenangkan.
"Kau jahat.. hiks..hiks..hiks.. karena kau, temanku harus bertanggungjawab atas apa yang tidak pernah ia lakukan. Hiks..hiks..hiks.."
"Aku tahu, maafkan aku. Aku juga tahu jika Bian adalah Putriku, Putri yang hadir atas pemaksaan yang ku lakukan, aku tahu semuanya Rebecca, aku tahu."
**********
Di tengah malam yang mencekam, Bian tak dapat tidur dengan nyenyak. Gadis itu begitu kedinginan akibat AC terlalu dingin, tubuhnya tidak biasa dengan dingin. Dia terbangun mencari remote control, cuman dia tidak bisa menemukannya. "Dimana remote nya? dingin banget."
Krek...
Pintu kamar terbuka, ceklek... terdengar di kunci. Bian menoleh dengan selimut membalut tubuhnya, tapi itu masih kurang.
"Nathan, kau simpan dimana remote AC? ini dingin banget."
Nathan mendongak, dia sempat heran kenapa gadis itu belum juga tidur padahal sudah pukul 1 dini hari. Nathan menghabiskan waktunya di ruangan kerja dan baru selesai.
"Kan bisa pakai selimut," ujar Nathan berlenggang menuju ranjang, merebahkan tubuhnya.
"Ini juga sudah pakai tapi masih dingin. Aku tidak biasa di AC. Nathan, tolong kecilin!" pinta Bian mendekati Nathan berdiri di dekatnya. Nathan tak menggubris, pria itu justru memejamkan mata mengubah posisinya menjadi menyamping.
"Nathan mana remote AC nya?" rengek Bian menggigil kedinginan, tubuhnya paling tidak kuat jika terkena dingin.
"Brisiiik...! Cari saja sendiri! Aku lelah mau tidur!" sergah Nathan kesal. Beda halnya dengan Bian, Nathan justru akan lebih nyenyak kalau AC nya dingin.
Bian memberenggut kesal, wanita itu mengalah dan memilih kembali ke sofa. Tidak ada selimut lagi, hanya selimut tipis yang saat ini ia kenakan. Dia berusaha tidur dalam keadaan kedinginan. "Bu, Ayah.."
Nathan mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat gadis itu. Ia bisa melihat jika dia menggigil, dirinya menghelakan nafas merasa tak tega. Dia pun mengecilkan AC supaya tidak terlalu dingin. Bian yang merasakan perubahan menoleh ke arah ranjang.
"Nathan, makasih." Ucapnya tulus tersenyum manis.
"Hmmm.." hanya deheman, dia sempat melirik sebentar ke arah Bian kemudian melanjutkan tidurnya dan tak butuh waktu lama, gadis itu sudah terlelap. Kali ini Nathan lah yang tidak bisa tidur sebab merasa kegerahan, dia sampai membuka kaosnya bertelanjang dada. Sudah mencari posisi yang nyaman namun, tak kunjung mendapatkan.
"Ck, sekarang saya yang tidak bisa tidur. Dia malah asik tidur," katanya seraya mendekati gadis yang tidur di sofa memperhatikan raut wajahnya yang terlihat damai.
Nathan berjongkok memperhatikannya, "Entah kenapa mata ini sulit berpaling darimu. Rasanya ku ingin selalu menatapmu, ada apa denganku?" Sebab tak bisa tidur tanpa AC yang dingin, Nathan kembali membesarkannya. Lalu ia malah memilih merebahkan tubuhnya di dekat Bian karena ia tahu jika istrinya akan kembali kedinginan.
Sofanya bisa muat untuk dua orang sehingga Nathan bisa ikut rebahan di sana. Dengan perlahan, Nathan mengangkat kepala Bian lalu tangan kirinya di selusupkan supaya menjadi bantal. Tangan kanannya terulur menyibak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya kemudian beralih memeluk pinggangnya. Bian yang merasakan kedinginan menelusupkan tubuhnya mencari kehangatan dan kenyamanan di balik dada bidang Nathan.
Nathan tersenyum usil, "Besok pagi akan ada drama."
Bersambung....