Bisa menjalani sebuah pernikahan yang bahagia, mungkin adalah dambaan bagi setiap wanita yang ada di dunia ini. Namun apalah jadinya nasib dari sebuah pernikahan itu apabila sang suami sudah tak mempercayai istrinya?...
Maura Vinaya, seorang gadis yatim piatu yang berparas cantik. Sungguh memilukan nasib yang harus diterimanya. Di malam pertamanya, sang suami malah menuduhnya dengan tuduhan yang begitu sangat melukai hati dan juga harga dirinya.
Entah apa yang terjadi, laki - laki yang masih belum genap satu hari resmi menikahinya itu, malah dengan begitu teganya menuduh jika dirinya sudah tak suci lagi.
Sungguh memang nasib, akibat dari kesalahpahaman itu, membuat dirinya dan juga sang suami menjadi harus berpisah.
Namun sungguh sayang seribu kali sayang, disaat dirinya dan sang suami telah berpisah, dirinya malah dinodai oleh mantan suaminya sendiri.
Hingga dari kejadian yang begitu memilukan itu, telah mampu menghadirkan adanya malaikat kecil di dalam rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mual - mual
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Waktu terus berjalan dan masih akan terus berjalan hingga tiada akhir. Hari - hari terus berlalu dengan meninggalkan berbagai kenangan manis dan pahit yang mungkin telah dialami oleh hampir semua insan yang ada di muka bumi ini.
Sudah hampir dua bulan lamanya Maura berada di negeri orang. Hari - harinya telah dirinya lalui dengan dihibur oleh sahabat - sahabatnya. Tak ada Reyhan saat ini, karena Reyhan sudah kembali ke tanah kelahirannya yang juga merupakan tanah kelahirannya dirinya juga karena sebuah urusan pekerjaan.
Keadaan Maura saat ini juga sudah menjadi lebih baik, setidaknya Maura tak seperti beberapa minggu yang lalu yang masih terus menangis dan menangis. Setidaknya Maura sudah bisa tersenyum meski luka di hatinya masihlah belum sepenuhnya sembuh.
Di pagi hari yang terasa begitu sejuk ini, Maura baru saja selesai dari kegiatan membersihkan kamarnya.
" Akhirnya sudah selesai, aku mau ke dapur, pasti Audi dan Tania masih belum selesai masaknya ". Gumam Maura.
Dengan senyuman kecil yang sedikit terpancar dari kedua sudut bibir mungilnya Maura pun melangkahkan sepasang kakinya itu untuk menuju ruangan dapur. Maura begitu sangat penasaran dengan menu sarapan yang di masak oleh kakak beradik itu, pasti masakan yang mereka buat sangat lezat rasanya.
" Pagi semuanya ". Sapa Maura kala dirinya sudah masuk ke ruangan dapur.
" Pagi ". Sahut Audi.
" Pagi juga kak Maura ". Sahut Tania.
Maura memperhatikan kedua kakak beradik ini. Terlihat jika Audi sedang menumis sayuran sedangkan Tania sendiri sedang menata beberapa menu makanan di atas meja yang sudah siap untuk disajikan.
" Tan, kak Maura bantu menata juga ya ". Tawar Maura pada adik dari sahabatnya itu.
" Tidak perlu kak, biar Nia lakukan sendiri saja, kak Maura duduk saja, ini sudah hampir selesai kok ". Sahut Tania.
Maura menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh Tania, lebih baik dirinya duduk saja dengan memperhatikan menu - menu masakan yang sudah dibuat oleh sepasang kakak beradik ini.
Dengan penuh kagum akan karya masakan kakak beradik ini, Maura memperhatikan satu - satu persatu menu masakan yang sudah Tania tata di atas meja ini, dan saat inilah pandangan Maura menjadi tertuju pada salah satu menu masakan ikan yang berkuah, nampaknya masakan itu adalah sup ikan pedas. Penasaran dengan sup ikan itu, Maura pun ingin mencicipi bagaimana rasanya. Pasti rasanya sangatlah lezat, itulah yang ada dalam benak Maura.
" Sup ikan ini sepertinya enak, mau aku cicipi dulu ya kuahnya, aku penasaran sama rasanya ". Seru Maura dengan mengambil sebuah sendok kecil yang sudah tersedia di atas meja sana.
" Kenapa hanya mencicipi, langsung saja kamu nya sarapan lebih dulu ". Sahut Audi.
" Iya kak, kak Maura sarapan lebih dulu saja, kalau lapar jangan di tahan - tahan ". Timpal Tania.
Sudah sangat tak sabar ingin tahu bagaimana rasanya, Maura pun mulai membuka penutup dari sup ikan itu yang memang transparan dibuat dari kaca.
Namun alangkah terkejutnya Maura kala dirinya sudah bisa mencium aroma dari sup nya. Aromanya tercium begitu sangat menyengat sehingga membuat gejolak yang tak nyaman terutama pada perut Maura.
Mendadak perut Maura terasa seperti diaduk - aduk tak karuan serasa ingin muntah saja. Maura tak kuat dengan aroma dari sup ikan ini.
" Hoek... hoek... ". Maura pun mencoba menutup mulutnya karena rasa mual nya.
" Hoek... hoek... hoek... ".
" Kak Maura kenapa? ".
" Maura ada apa? ".
Audi dan Tania tersentak kaget karena tiba - tiba saja Maura menjadi mual - mual.
" Hoek... hoek... hoek... ".
" Hoek... hoek... hoek... ".
Dengan cepat Maura pun langsung bergegas menuju ke kamar mandi yang ada di dapur. Maura ingin menuntaskan rasa mual nya itu.
" Ya Tuhan, Maura kamu kenapa? ". Dengan penuh rasa khawatir Audi mencoba menyusul sahabatnya itu ke kamar mandi.
" Maura ada apa kamu sakit? ". Tanya Audi lagi dari balik pintu kamar mandinya namun sayangnya tak ada sahutan dari Maura.
" Kak apa yang terjadi pada kak Maura?, kak Maura sakit apa? ". Tanya Tania.
" Entahlah Tan, kakak juga tidak mengerti, dan beberapa hari ini kakak juga tidak melihat hal - hal yang aneh pada Maura ". Sahut Audi karena memang itulah yang dirinya ketahui.
" Tadi kak Maura terlihat asyik - asyik saja, bahkan terlihat bersemangat ingin mencicipi sup ikan yang kita buat, tapi ada yang aneh kak, sewaktu kak Maura sudah membuka penutup dari sup ikan nya, mendadak kak Maura jadi seperti itu, kak Maura jadi mual - mual seperti itu, apa mungkin sup ikan nya bau? ". Sahut Tania karena itulah yang menjadi kebingungan nya.
Audi menjadi terdiam setelah mendengar penuturan dari adiknya yang satu ini. Mengapa bisa seperti itu, mengapa Maura menjadi mual - mual hanya karena aroma dari sup ikan, padahal sup ikan itu memiliki aroma yang sangat enak yang akan membuat siapapun ingin mencobanya. Aneh, itulah yang Audi rasakan.
" Maura, kamu baik - baik saja kan?, aku buka pintunya ya? ". Seru Audi lagi.
Audi sangat khawatir jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada Maura, tak biasanya Maura seperti ini, jika memang benar sakit mengapa Maura tidak cerita jika dirinya sedang sakit.
" Maura, kamu baik - baik saja kan?, aku buka pintunya ya? ".
Ceklek...
Belum sempat Audi membuka pintu kamar mandi ini, Maura sudah lebih dulu membukanya.
" Ya Tuhan, Maura, kamu sakit? ". Audi sangat terkejut kala melihat Maura keluar dalam keadaan pucat.
" Kak, sepertinya kak Maura sakit, ini sudah sangat pucat orangnya ". Seru Tania.
Audi dan Tania mencoba untuk menggiring tubuh Maura untuk duduk terlebih dahulu. Ini sungguh sangat aneh, tadi keadaan Maura baik - baik saja, tapi sekarang malah pucat seperti ini.
Dengan lembut Audi mencoba menempelkan punggung tangannya di kening Maura. Ternyata suhunya cukup hangat dan cenderung agak menuju panas.
" Maura kamu kenapa?, kita ke rumah sakit yuk, aku khawatir kamu punya penyakit yang serius ". Seru Audi namun Maura menggeleng.
" Aku tidak sakit Audi, aku hanya mual - mual saja ". Lirih Maura.
" Tapi wajah kamu pucat Maura ayo kita ke rumah sakit sekarang ". Ajak Audi lagi.
" Iya kak Maura, kakak sepertinya demam, di rawat di rumah sakit saja kalau begitu, itu akan lebih baik ". Timpal Tania.
" Tidak perlu, sebentar lagi pasti akan baik lagi, aku tidak sakit, kalau mual - mual seperti ini pasti sebentar lagi kondisi ku akan baik, apalagi setelah dibawa tidur pasti akan lebih cepat membaik ". Sahut Maura.
" Apa katamu Maura?, sebentar lagi?, akan baik lagi?, tunggu dulu, itu artinya kamu memang sering mual? ". Audi masih tak mengerti maksud dari Maura.
Maura pun mengangguk sebagai jawabannya.
" Ya Tuhan, Maura, jadi kamu memang sering mual?, dan kamu tidak cerita sama aku dan Tania, kamu benar - benar keterlaluan Maura ". Audi sudah tak habis pikir dengan Maura.
" Ya sudah tunggu apalagi kak, ayo kita ke rumah sakit sekarang ". Ajak Tania.
" Tidak - tidak, aku tidak mau, aku malas jika harus ke rumah sakit ". Maura masih saja menolaknya.
" Tapi kak, kalau kak Maura tidak datang ke rumah sakit untuk diperiksa, kita tidak akan tahu apa penyakit kakak, jadi lebih baik kak Maura harus di periksakan ke dokter ". Ujar Tania yang tetap memberikan sarannya.
" Maura, jadi kamu memang sering mual?, semenjak kapan kamu sering mual - mual seperti ini?, kenapa aku sampai tidak tahu? ". Entah mengapa Audi seperti ingin memastikan sesuatu.
" Sudah sekitar dua mingguan ini, aku lebih sering mual - mual saat di pagi hari, tapi ya sudahlah Audi, mungkin karena aku masih belum terbiasa dengan cuaca di kota ini sehingga membuatku menjadi kurang enak badan dan akhirnya mual - mual seperti ini deh ". Jelas Maura.
Audi tak menyahut lagi. Dirinya menjadi termenung setelah mengetahuinya. Audi malah memikirkan hal yang lain tentang sahabatnya. Semoga saja apa yang dipikirkan nya tidaklah benar adanya. Namun jawaban Maura seperti menunjukkan kebenaran tentang yang menjadi kecurigaannya.
" Aku mau ke kamarku, aku mau istirahat ". Seru Maura lalu ia pun benar - benar beranjak dari duduknya sebelum akhirnya berlalu pergi untuk menuju ke kamarnya.
Padahal ini masihlah sangat pagi, namun dirinya sudah kembali mengantuk. Entahlah Maura sendiri juga tak tahu dengan kondisinya akhir - akhir ini. Selain sering merasakan mual, dirinya juga sering mengantuk.
" Ya Tuhan, semoga kecurigaan ku tidak benar ". Batin Audi.
Audi hanya bisa memandangi tubuh mungil sahabatnya itu yang sudah ingin kembali ke kamarnya.
Bersambung..........
🙏🙏🙏🙏🙏
❤❤❤❤❤