Sang kekasih yang dinanti Ternyata mengingkari janji. Kesetiaan Cempaka hanya berbuah duka berbunga nestapa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosa_Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata janjinya palsu
Keesokkan harinya Cempaka berusaha untuk menemui keponakannya Buana.
Dia ingin mencari tahu tentang Buana.
Sepulang dari Sekolah, dia sengaja memutar jalan melewati sekolahnya Melati, keponakannya Buana.
"Semoga saja Melati belum pulang" Gumamnya sambil duduk di bangku penjual baso, yang berada tepat di depan gerbang sekolahnya Melati.
"Mas, baksonya satu ya!" Cempaka memesan satu mangkuk bakso, sambil nungguin Melati.
"Baik mbak" Penjual bakso itu begitu gesitnya melayani pembeli.
"Maa, anak-anak yang bersekolah di depan sudah pada pulang belum ya?" Tanya Cempaka sambil mengaduk semangkuk bakso yang baru sampai di hadapannya.
"Kalau anak-anak yang sekolahnya di SD sudah pulang barusan, kalau yang SMP nya biasanya jam satu an, sebentar lagi" Ujar si Mas penjual bakso.
"Terimakasih mas ... Kebetulan saya mau jemput yang sekolahnya di SMP" Sahut Cempaka. Dia mulai menyendok baksonya dan di suapkan ke dalam mulutnya.
"Mau jemput adiknya ya?"
"Iya..." Sahut Cempaka.
"Teng!... Teng!...Teng!" Terdengar
suara lonceng dari Sekolah itu.
"Nah... Sepertinya bel tandanya pulang" Ujar si Mas tukang bakso.
"Iya Mas ..." Sahut Cempaka, sambil memperhatikan murid-murid yang melewati pintu gerbang yang sudah di buka oleh penjaga sekolah.
Setelah sekian menit dia menatap antrian murid-murid yang baru melewati pintu gerbang sekolah itu, dan... Yang di tunggu akhirnya nongol juga.
"Melati!... Melati!... Melati!..." Cempaka segera bangkit dari tempat duduknya sambil berteriak memanggil Melati, yang di tungguinnya dari tadi.
Terasa ada yang memanggil namanya, Melati segera menghentikan langkah kakinya. Dan melepaskan pandangannya ke arah datangnya suara.
"Sepertinya kenal aku sama suara itu" Gumamnya sambil menatap ke arah kedai bakso nya Mas Marto.
"Kak Cempaka!... Kakak yang manggil aku kan?..." Melati meyakinkan.
"Iya, duduk!... Kita makan bakso dulu, nanti pulangnya barengan"
Ujar Cempaka.
"Satu lagi mas, baksonya" Tanpa menunggu jawaban dari Melati, Cempaka langsung memesankan bakso buat Melati.
"Iya kak, enggak usah repot-repot
kak" Melati menolak dengan baik.
"Sudahlah... Duduk saja, temani kakak makan bakso. Ayo duduk!"
Cempaka setengah memerintah.
"Baik kak!" Akhirnya Melati duduk di hadapannya Cempaka.
Tak lama semangkuk bakso buat
Melati sudah tersedia di hadapannya.
"Wuow!... Sangat menggugah selera, apalagi perutku yang mulai keriuk-keriuk ini, nagih minta di isi. Terimakasih banyak kak. Aku langsung santap ya?"
Dengan hebohnya Melati menatap semangkuk bakso, yang menanti untuk segera di lahapnya.
"Tunggu apa lagi?... Ayo kita sikat habis si bundar mantap ini"
Ujar Cempaka pula.
"Ha... Ha... Ha... Kalian ini..." Mas tukang baksonya tertawa merasa lucu dengan tingkah kedua pelanggannya itu.
Setelah selesai mengucapkan do'a makan, mereka langsung menyantapnya dengan lahap.
"Alhamdulilahirabilalamin... Terimakasih ya Allah atas makanan yang enak ini" Cempaka tidak lupa mengucap syukur setelah menyantap habis baksonya.
Begitu pula dengan Melati.
"Perutku kenyang kak!... Makasih banyak ya kak" Ucap Melati lagi.
"Sama-sama... Ayo!... Kita jalan sekarang" Cempaka bangkit dari tempat duduknya di ikuti oleh Melati di belakangnya.
Mereka berdua berjalan bersama
berdampingan.
"Melati... Bisa bantu kakak kan?"
Cempaka membuka pembicaraan.
"Bantu apa kak?..." Tanya Melati sambil menghentikan langkah kakinya. Dia menatap wajah Cempaka penuh tandatanya.
"Ada beberapa pertanyaan yang mengusik di hatiku, Melati" Cempaka lalu duduk di tembok di bawah pohon yang rindang, yang ada di pinggir jalan.
"Iya kak, tentang om Buana bukan?" Melati menebaknya dengan tepat.
"Heemh... Apa yang Melati tahu tentang Buana? Coba ceritakan kepada kakak" Ucap Cempaka. Dia sudah merasa tidak sabar. Dia ingin segera mendengar kabar tentang Buana yang menghilang begitu saja.
Dia yang telah menghindar dan sengaja menjauh dari dirinya.
" Buana waktu itu datang bersama siapa sih?... Kok! Dia tidak menyahut dan bahkan lari menghindar dari kakak, sa'at kakak panggil namanya" Ucap Cempaka dengan lirih.
Perkataannya seakan tersangkut di tenggorokannya.
Melati yang sudah duduk di bangku SMA, dia sudah berusia tujuh belas tahun. Dia seperti mengerti dan faham apa yang ada di dalam hatinya Cempaka sa'at itu.
Diapun lalu duduk di samping Cempaka. Dia raih bahunya Cempaka dan dia senderkan di bahunya.
Jalanan di perumahan mewah suka sepi dari orang yang lalu-lalang.
Seperti waktu itu, tak ada seorangpun yang memperhatikannya.
"Kak Cempaka, yang sabar ya!... Ini semua bukan keinginannya om Buana. Aku juga tidak begitu mengerti. Cuma... Katanya om Buana merasa terjebak" Perlahan Melati mulai berkata tentang Buana.
"Maksudnya?..." Cempaka langsung mengangkat kepalanya dari bahunya Melati.
"Perempuan dan kedua orangtuanya itu telah menahan KTPnya om Buana. Waktu itu mereka mau mengembalikan KTPnya, tapi dengan satu syarat.
Yaitu... Om Buana harus menikahi perempuan itu... Begitu kak yang aku dengar" Ujar Melati.
Dia menatap wajahnya Cempaka dengan penuh iba.
"Kenapa ktpnya bisa di tahan?"
Cempaka penasaran.
"Menurut om Buana, dia cuma ngobrol biasa dengan perempuan itu, berbasa-basi, waktu si om belanja ke warungnya. Awalnya tidak apa-apa, tapi yang ke tiga kalinya si om ke warung itu lagi, selepas isya. Tiba-tiba Orangtuanya mendatanginya tepat dengan dua orang hansip. Dan langsung ktpnya si om di tahan oleh orangtuanya perempuan itu" Melati berhenti sejenak untuk menghela nafas.
"Katanya, nanti ktpnya akan di antarkan ke rumahnya, atau kepada komandannya. Begitu katanya kak, eh... Tahu-Tahunya dia malah mengajaknya nikah, padahal baru kenal biasa-biasa saja. Kami semua juga merasa bingung waktu itu. Namun, kami tidak bisa berbuat apa-apa" Lanjut Melati lagi.
"Lalu?... Buana langsung mau sama perempuan itu?" Cempaka mencercar Melati dengan pertanyaan itu.
"Tadinya menolaknya. Tapi, om Buana merasa bingung dengan jabatannya. Karena, ktpnya itu sudah di laporkan ke komandannya juga. Katanya, kalau tidak menikah dengannya,
berarti... Om Buana terancam kena pecat dari kepolisiannya"
Tutur Melati lagi.
"Memangnya kenapa sampai terancam kena pecat segala?..."
Cempaka tak mengerti.
"Aku juga tidak tahu jelas kak!...
Om Buana itu merasa kebingungan dan merasa bersalah, waktu ketemu sama kakak. Makanya, si om berlari waktu di panggil sama kakak"
Lanjut Melati lagi.
"Lebih baik kita pulang saja yu!"
Ajak Melati sambil menggandeng tangannya Cempaka.
"Berarti... Perempuan itu calon isterinya Buana?" Cempaka menahan tangis.
Melati menganggukkan kepalanya.
"Tapi, belum tentu juga kak!... Karena si om itu enggak bisa melepaskan kak Cempaka. Dia begitu mencintai kakak. Aku dengar waktu itu dia meminta waktu buat berpikir dulu, jadi tidak langsung menerima permintaannya kedua orang tua itu. Cuma dia bingung harus bicara apa sama kakak" Melati meyakinkan.
"Sudahlah Melati, aku sudah tak kuat lagi mendengar semuanya.
Kita pulang saja. Kini jelas bagiku bahwa om kamu itu hanya mempermainkan perasaan ku saja selama ini.
Janjinya palsu!... Pengecut!... Aku benci dia!!! " Cempaka bergegas berjalan dengan cepatnya, malahan setengah berlari ingin segera sampai ke rumahnya.
Like n koment mendarat !
semamgatt yaa..