Perusahaan keluarga nyaris bangkrut, keuangan menipis lantaran terbiasa hidup mewah.Nabila harus menerima takdir Siska menolak dijodohkan dengan pak tua mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. Demi keluarga dia rela berkorban, dia rela di gadaikan, dinikahkan dengan pak tua mesum ituh yang terkenal kaya raya. Namun ituh tidak menujukan dirinya, sebelum hari penikahan mereka tiba. Sosoknya yang misterius dan selali sembunyi di balik kamera,akhirnya terungkap saat ia menikahi Nabila dengan cara hormat. " Kk-kamu.... masih muda? " tanya Nabila dengan polosnya. " kamu kira saya sudah tua gituh? " Nabila menggeleng panik. " tapi kata kaka siska, kamu orang tua yang mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. "Ituh hanya rumor palsu tentang saya, kamu jangan percaya rumor sebelum kamu liat langsung sendiri buktinya. "Apakah Nabila yang selalu menderita bisa hidup bahagia setelah menikah dengan suaminya Devan? Ataukah Siska akan menjadi duri dalam penikahan Nabila dan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
LILYA masih belum siuman sewaktu Devan bersiap ke kantor. Hari ini adalah jadwalnya ke perusahaan, khusus bertemu Raffa untuk membahas rencana mereka ke depannya.
Sedang perusahaan Tjandra ia serahkan pada papanya yang juga tengah memimpin di anak cabang perusahaan Gunawan yang dirintisnya dari nol. Devan sama sekali tak ikut bekerja keras, dia hanya mengungkapkan ide dan strategi untuk kedua perusahaan itu kedepannya.
Papanya, Ethan sudah berulang kali memintanya segera masuk dan mengurus langsung perusahaan, tapi ia tolak, lantaran Devan sama sekali tidak tertarik untuk bekerja.
Untungnya, Ethan bukan tipe pemaksa. Dia pun sudah memiliki calon menantu bernama Gavin yang masih Devan selidiki secara diam-diam ditambah Rangga, kaki tangan Devan yang benar-benar setia dan bisa diandalkan.
"Bangunkan dia untuk makan jika sampai jam sepuluh dia belum bangun juga. Jika kalian tidak bisa membangunkannya, telepon Dokter Andi dan minta beliau datang untuk memeriksa keadaan Nabila," pesannya pada para pelayan rumah.
"Baik, Tuan."
Devan pun berangkat setelah mengizinkan Nabila di sekolahnya melalui orang-orang yang ia bayar untuk menjaga istri kecilnya itu di sekolah. Devan sudah menjadi wali Nabila sejak gadis itu menikah dengannya, dia mengambil paksa wali Nabila, karena yakin Bambang dan Farah tidak akan lagi mengurus Nabila , kecuali karena harta.
"Saya akan pergi sendiri," katanya pada sang sopir. Kemudian Devan menaiki mobilnya dan pergi menuju perusahaan Gunawan secepatnya.
Siska tidak pernah menyangka waktu pertemuannya dengan Devan akan secepat ini. Dia bahkan mengucek matanya berulang kali saat melihat Devan melintas di parkiran perusahaan Gunawan yang dua hari lalu baru menerimanya menjadi salah satu pegawai.
Tidak mau membuang kesempatan yang ada, prempuan itu langsung berlari ke arah Devan dan langsung menghadang langkahnya. Devan menghentikan langkah, tatapannya dingin menghunjam ke arah Siska yang menatapnya dengan senyuman lebar.
"Akhirnya, aku bisa bertemu denganmu. Selama ini aku mencari-cari kalian. Di mana kalian tinggal? Apakah aku boleh numpang tinggal bersama kalian untuk sementara waktu? Uangku habis, aku tidak bisa menyewa tempat tinggal di sekitar sini."
Devan hanya menatap perempuan itu dengan wajah datar.
"Apa setelah kamu mengatakan semuanya padaku, lantas aku akan menolongmu? Minggirlah, aku datang kemari bukan untuk berurusan denganmu."
Devan mengambil langkah ke samping, tapi Siska pun melakukan hal yang sama. Dia bersumpah tidak akan membiarkan Devan lewat, sebelum pria itu mengiyakan rencananya.
"Bagaimana kabar adikku, dia baik-baik saja, bukan?" Siska mencari topik lain.
"Apa kamu takut dia marah, kalau aku ikut tinggal bersama kalian? Aku akan mengatakan semuanya padanya, tolong, biarkan aku tinggal bersama kalian sampai aku bisa menyewa kontrakan yang lebih murah!"
Devan memejamkan mata, menghela napasnya kasar, lalu melirik beberapa satpam yang hanya melihat saja dari jauh tanpa berani mendekat. Ditatapnya wajah Siska yang memandangnya
penuh harap.
Ekspresi yang benar-benar sempurna. Andaikan dia sebodoh Nabila , pasti Devan akan mengiyakan 20 Kali tanpa banyak tanya.
Sayangnya, Devan bukanlah Nabila. Dia lebih cerdas berkali-kali lipat dari istrinya.
"Akan kukatakan satu hal padamu. Jangan pernah menghalangiku. Kalau kamu masih ingin hidup di sekitar sini, diamlah dan jadilah warga yang baik, atau aku akan membuangmu dari perusahaan ini bahkan dari dunia ini kalau memang perlu." Devan mengambil langkah dengan cepat. Dia mendekati satpam dan berpesan pada mereka.
"Jangan biarkan wanita itu mengikutiku!"
"Baik, Tuan."
Pertemuannya dengan Siska membuat suasana hatinya memburuk saat bertatapan dengan Raffa. Dan om-nya pun menyadari perubahan signifikan yang terjadi dengan Devan hari ini di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Raffa tanpa basa-basi.
"Sampah di bawah membuatku badmood. Sejak kapan Om suka memelihara sampah?"
Raffa mengernyitkan dahi tidak mengerti. Dia tidak merasa telah memungut sampah, kecuali karyawan baru yang mungkin terpesona pada Devan dan mulai menggodanya di bawah sana.
"Kamu digoda oleh pegawai baru perusahaan ini?"
Devan mendelik. "Siska Atmawijaya , kenapa dia bisa masuk ke perusahaan kita?"
Raffa berdeham. "Oh, dia ... Rangga yang menerimanya."
Devan mengernyitkan dahi. Apakah ini yang dimaksud Rangga dengan sedikit bermain-main dengan Siska ? Membiarkan ****** itu masuk ke perusahaan Wijaya?
"Aku menempatkan Siska di bagian yang tidak terlalu penting. Dia tidak akan membuat masalah untuk kita."
"Kamu tetap perlu mengawasinya sebelum terlambat, Om."
"Aku akan melakukannya." Raffa melirik keponakannya sinis.
"Bukannya kamu sudah menyuruh Rangga mengawasinya, apakah dia masih kurang?"
Devan menggeleng. "Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja, perasaanku sedikit tidak enak."
Dan kalimat terakhir keponakannya sudah cukup untuk membuat Raffa
meningkatkan kewaspadaannya.
Bagaimana jika orang yang paling Devan percaya, bisa berbalik menyerang dan menghancurkan mereka?
Walau kemungkinan itu hampir mustahil, tapi bukan berarti tidak mungkin terjadi. Apalagi, jika mereka bicara soal cinta yang bisa membutakan semua mata manusia.
Nabila bangun saat merasakan seseorang mengguncang-guncang tubuhnya. "Nona Nabila , Anda belum makan sejak pagi. Tuan meminta kami untuk membangunkan Anda tepat pukul jam sepuluh pagi."
"Jam sepuluh!" Nabila melihat jam dinding di kamar itu, benar, pukul sepuluh.
Bagaimana dia bisa tidur selama itu? Seingatnya, dia sudah bangun pagi-pagi sekali, lalu ... pipi gadis itu merona, warnanya yang memerah membuat pelayan yang sejak tadi melihat mulai menatapnya khawatir.
"Apakah Nona sakit? Apakah kami perlu memanggil Dokter Andi untuk--"
"Tidak, tidak!" Nabila menggeleng tegas. Dia tersenyum manis pada pelayan rumah ini.
"Terima kasih atas kebaikan kalian. Aku tidak apa-apa. Itu ... Kak Devan di mana?"
"Tuan pergi ke kantor hari ini, Nona. Nona Lilya lebih baik sarapan dulu, sudah jam sepuluh, kami khawatir jika Nona sakit dan Tuan akan memarahi kami nanti." Nabila tersenyum tipis.
"Kalian pergi saja, aku ingin mandi dulu." Dan pelayan yang membangunkannya memilih pergi dari sana.
Nabila tidak tahu harus bagaimana sekarang. Entah apa yang terjadi pada Devan tadi pagi hingga menciumnya dan berlaku manis padanya.
Pipinya kembali bersemu. Nabila memegangi dua pipinya yang mulai tembam sejak ia tinggal bersama Devan. Rasanya panas dan jantungnya memompa begitu ingat peristiwa tadi pagi hingga dia pingsan di tempat tidur mereka.
"Apakah dia ... mau meminta haknya padaku?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya hingga saya bisa merealisasikan karya Pertama ini !!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐⭐⭐⭐⭐)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketingalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih ❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...