Assalamualaikum wr wrb
Cerita ini masih lanjut di novel novel sebelumnya, atau bisa di katakan season ke 3 dari Jodoh dalam istikharoh,
Di sini author akan menceritakan kisah dewasa anak anak Jihan,
Dimana El yang mempunyai sikap cenderung seperti Jihan, yang santai ahli gombal, dablek karena sering pacaran di sekolah dan di pesantren, tapi sikapnya itu tertutup karena sikap kecerdasan dan ketampanannya yang menjadi idola para wanita dan santri putri lainnya
Sedangkan Al, yang sikapnya kaku dengan perempuan, rajin dan tekun, berbanding balik dengan sikap El, yang mana Al cenderung pintar karena rajin, menurut El, kalau gak belajar gak pintar katanya, tapi kalau masalah ketampanan masih tampan Al tentunya, dan itu mambuat El minder dari Al,
Mereka juga berbanding balik dengan El yang selalu hidup sederhana, tanpa menonjolkan siapa orang tuanya, bahkan sering kali jarang menggunakan fasilitas yang Abah dan Uminya berikan,
Sedangkan Al,? dia selalu hidup dengan kemewahan fasilitas yang dia terima, bahkan selalu harus menggunakan yang terbaik dan original
Pada suatu ketika mereka mempunyai pasangan atau pacar masing masing, sudah terjalin lama, tapi saat mereka bertemu dengan 1 wanita yang sikapnya sama dengan sosok idola, atau wanita yang menurutnya istimewa, mereka memilih untuk lebih dekat dengan wanita tersebut,
Dan tanpa mereka sadari, mereka mencintai 1 wanita yang sama, dengan jalan perkenalan yang berbeda, seperti apa ceritanya..? ikuti saja alur novelnya... 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulfatun khasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sederhana
Seperti biasa di jam istirahat El menghampiri Heny di kelasnya, sebenarnya tatapan Heny sudah mengganggu pemandangannya saat dia datang tadi, apa lagi dengan dirinya yang datang dengan mobil mewahnya, di tambah plat nomer yang terkesan pribadi yaitu EL 2 ZJ ( El anak ke 2 Zain Jihan ) menjadi hal yang mencurigakan bagi Heny
Sebenarnya gak masalah sih, orang El juga tidak memperlihatkan kalau dirinya anak orang kaya atau miskin, dalam arti tidak pernah mengumbar dan memperlihatkan dirinya siapa, tapi namanya cewek yang lagi sensitif pasti akan merasa di bohongi
" Assalamualaikum....." ucap El langsung membuat teman teman Heny pada kabur dengan sendirinya
" Waalaikumsalam..." jawab Heny datar
El sudah faham kalau Heny mungkin lagi ngambek saat ini, gara gara dirinya yang gak pernah terus terang dengan pasangannya itu
El tidak langsung berkata, dan justru menatap Heny semakin lekat di wajah ngambeknya yang justru makin inut dan cantik menurut El
" Ngapain lihat lihat..." jutek Heny
" Ya Allah... Galaknya.." jawab El sambil tersenyum jahil
El makin intens memandang wajah Heny, tanpa berkedip, membuat Heny salah tingkah sendiri dan..
Plak..... satu pukulan ringan menghampiri lengan El
" Ngapain segitunya lihatnya..." ujar Heny
" Semakin marah sepertinya semakin cantik aja" gombal El mengeluarkan senjatanya
" Gombalnya keluar lagi...." kesal Heny
" Lagi Datang bulan ya...?" goda El santai
" Iya mendadak datang bulan karena kamu" jawab Heny jutek dan El justru tertawa ngakak
" Gak lucu tau gak..... " bentak Heny dan El seketika berhenti tertawa
" Kenapa sih harus bohong gini" ucap Heny langsung pada inti yang membuat dia ngambek
" Bohong apa sih? Emang aku pernah bohong, dan bilang apa sama kamu?" tanya El bingung sendiri
" Kenapa gak terus terang aja apa adanya, tanpa ditutup tutupi" jawab Heny yang beranggapan kalau El menutupi kehidupan aslinya
El langsung faham maksud Heny, karena El kepekaannya cukup tinggi, jauh dari Al apa lagi Zain,
Dan El bukan tipe cowok yang polos dan ketinggalan, karena dia jauh lebih pengalaman dan apa aja tau, dari pada Al yang terkadang masih polos
" Sekarang aku tanya sama kamu.. boleh?" ucap El dan Heny masih diam dan kemudian mengangguk
" Tapi senyum dulu dong,... " pinta El dan Heny tersenyum sekilas
" Pelit amat senyumnya..."
" Buruan... Mau nanya apa?" kesal Heny dan El kembali tertawa
" okey okey..... santai dong brow... jangan galak galak..." gurau El lagi dan tidak di tanggapi oleh Heny
" Kamu marah karena kamu tau siapa kakak kan? kenapa kakak gak terus terang kalau kakak anak orang berada, begitu kan?" tanya El dan membaca semua pikiran Heny
Heny terdiam tapi dalam hati membenarkan, karena semua itu memang pas dengan apa yang ada di dalam pikirnnya
" Sekarang gini.... Kamu lebih suka orang kaya tapi sombong dan menonjolkan kalau dia orang berada, apa orang kaya tapi sederhana?" tanya El bijak
" Yanh sederhana lah..." jawab Heny cepat
" Nah kan... Jadi kenapa harus ngambek?" ucap El membalikkan ucapan Heny
" Ya Heny takut,... Heny di kira matre, mau pacaran sama orang kaya saja" ucap Heny yang menurut Al terlalu cetek pikirannya
" Udah udah.... Gak usah di pikir, Kakak aja santai.." jawab El menyudahi semuanya dengan tangannya yang mengelus kepala Heny
Pengen rasanya membawa Heny dalam pelukannya, tapi saat ini belum saat untuk begituan, dari pada kena takziran
" Kirain tadi ngambek karena Kakak terlilit hutang rentenir.." goda El yang menjadi trending topik akibat ucapan Wawan
" Emang ya tuh si Bakwan.... Mulutnya masyaallah.... Pengan tak masukkan ke komunitas lambe dower memang kok, lemes mangat tau gak..." kesal Heny pada Wawan yang ember dan jadi raja gibah di sekolahnya
" Udah... namanya mbak Wawan... Bukan Mas Wawan lagi itu" ucap El yang sama sama kesal sebenarnya
Tapi El memilih mengabaikan saja, karena menurutnya kalau gak ada orang seperti Wawan dunia ini gak seru
Heny hanya mengetahui status El saja, dan pastinya Heny belum tau siapa orang tua El yang nantinya akan menjadi kejutan bagi Heny
Di sisi lain, Jihan dan Zain agak siangan berangkat ke kantornya, soalnya tadi ada tamu yang sangat pagi sekali datang kerumahnya,
Jadi mau gak mau, berangkat ke kantornya agak siangan, orang kantor dan rumah sakit sendiri jadi tidak ada yang protes,
Dari lantai atas Al baru bangun tidur, tidur di pagi hari memang sangat nyaman dan nyenyak, apa lagi bagi orang yang tidak punya kegiatan seperti Al yang sedang liburan saat ini
Al turun dengan muka yang masih bau bau bantal, kucel di tambah tangannya yang mengucek matanya untuk lebih terang lagi
" Baru bangun?" ujar Jihan yang sedang menyiapkan sarapan Zain
" Heem.... El mana? gak ada tadi di kamarnya?" tanya Al sambil menarik kursi yang akan di duduki olehnya
" Jam segini tanya El, udah di kantin sekolahnya dia mah.." jawab Jihan sambil menuang nasi di piring anak bujangnya itu
" Gila tuh anak.... sekolah jauh gini masih di tempuh, orang mau di ajak pergi juga malah sekolah" ucap Al yang mungkin akan gagal rencananya
" Kan ada turunannya...." sindir Zain pada Jihan
" Turunan baik gak apa apa dong..." saut Jihan sadar diri
" Apa, kalau Umi mungkin dulu takut ketinggalan pelajaran, Kalau El, eh.. gak jamin.. Dia sekolah karena mau nemuin pacarnya tuh.." jawab Al yang faham akan sikap gombal adiknya
" Kalau itu bukan turunan Umi.." ucap Jihan cepat sambil melirik pada Zain
" Bukan abah juga" saut Zain santai
" Oh ya... Gimana? kapan wisudanya?" tanya Jihan sambil duduk di kursi dekat Zain
" Bulan depan..."
" Okey Abah Umi nanti kesana" jawab Jihan santai
" Sekalian kenalin calon menantu Umi ya Al" pinta Jihan lagi
" Apa mau sekalian di lamarkan juga boleh" sambung Zain santai
Uhuk... Uhuk..... Al langsung tersedak, karena dirinya juga belum siap kalau untuk segera menikah
" Hem... Hem.. kan.... minum dulu" ujar Jihan memberi minum anaknya
Al segera minum sampai habis karena terasa panas tenggorokannya akibat tersedak masakan yang cukup pedas
" Yaelah Al... Timbang dengar suara lamaran aja udah tersedak... " cibir Zain yang heran dengan anaknya
" Ya iya lah... Abah sih, jauh banget ngomongnya, jadian juga belum ada seminggu, masak iya mau di lamar aneh... mendadak lagi" bantah Al pada Zain
" Jangan salah.. Abah dulu nembak Umi, habis subuh, paginya Abah lamar ke orang tuanya, besoknya Abang ajak nikah, kenapa? gak jadi masalah kan? awet sampe saat ini, makin romantis" ucap Zain membuat Al tercengang dengan penuturan Abahnya
" Jangan deng Al, pastikan dulu, kalau pacarmu gak mempunyai masa lalu, repot.. masalah permantanan itu" ucap Jihan kembali menyindir Zain yang senenak udelnya bilang romantis,
Gak ingat apa kalau romantis seperti ini juga harus melewati badai besar di tengah jalan