NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Pamali

​​Hari Minggu akhirnya tiba. Arkana libur bekerja. Pagi itu, suasana rumah terasa lebih santai. Dari dapur, terdengar suara minyak menggoreng telur dadar dan aroma nasi hangat.

​Hanifah yang baru selesai salat Subuh berjalan perlahan menuju dapur. "Mas, aku bantu ya?"

​Arkana yang sedang membalik telur dadar langsung menoleh. "Enggak."

​Hanifah mengembuskan napas pelan. "Mas pasti jawabnya itu lagi."

​Arkana terkekeh. "Lah, memang begitu jawabannya, Dek."

​Hanifah mendekat sambil tersenyum usil. "Kalau cuma ambil piring?"

​"Tidak."

​"Ambil sendok?"

​"Tidak."

​"Tuang air minum?"

​"Tidak juga."

​Hanifah memonyongkan bibirnya. "Mas pelit kerjaan."

​Arkana tertawa kecil, mencubit pelan hidung istrinya. "Bidan yang pelit, bukan Mas. Kata siapa yang menyuruh Hanifah bed rest total?"

​Hanifah akhirnya menyerah. "Iya... iya... nurut."

​"Nah, begitu." Arkana menyodorkan segelas susu hangat. "Ini. Minum dulu."

​Hanifah mengernyitkan hidung. "Aduh... susu lagi."

​"Biar dedeknya sehat. Kasihan Eka, Dwi, sama Tri kalau ibunya malas minum susu," goda Arkana.

​Hanifah langsung tertawa. "Ih... Mas. Belum lahir sudah dipanggil terus."

​Arkana tersenyum lebar. Ia berjongkok di depan Hanifah dan mengusap lembut perut istrinya. "Selamat pagi... Eka... Dwi... Tri... Hari ini jangan bikin Ibu mual terus ya."

​Tepat saat itu, Hanifah merasakan sebuah gerakan dari dalam. "Mas! Gerak lagi!"

​"Yang benar? Yang mana?" tanya Arkana antusias.

​"Entahlah. Pokoknya gerak."

​Arkana buru-buru menempelkan telapak tangannya. Sebuah tendangan kecil kembali terasa kuat. Wajah Arkana langsung berbinar. "MasyaAllah... kayaknya Tri!"

​"Loh, kok Tri lagi?"

​"Soalnya paling aktif," kekeh Arkana. "Kasihan Eka sama Dwi kalah cepat."

​Mereka tertawa bersama. Tawa itu terhenti saat Bibi Ratna keluar dari kamar dan langsung duduk di meja makan.

​"Ramai sekali dari tadi," tegur Bibi Ratna datar.

​Hanifah tersenyum malu. "Maaf ya, Bi."

​"Tidak apa-apa."

​Arkana segera menghidangkan sarapan. Mereka bertiga makan dalam diam. Di tengah suasana tenang itu, tatapan Bibi Ratna terhenti ke arah ujung halaman rumah yang berbentuk menyerong.

​Ia menghela napas pelan. "Arkana."

​"Iya, Bi?"

​"Bibi sebenarnya masih kepikiran satu hal," ucap Bibi Ratna.

​"Apa itu?"

​Bibi Ratna meletakkan sendoknya. "Tentang rumah yang kalian pilih ini."

​Arkana menoleh. "Kenapa rumah ini, Bi?"

​"Dari pertama datang, Bibi rasanya kurang sreg," ujar Bibi Ratna serius.

​Hanifah yang sedang makan langsung menghentikan gerakannya. "Maksud Bibi?"

​"Ayah atau ibumu gak kasih tau tentang rumah ini sebelum kalian beli?" Bibi Ratna menatap Arkana dan ia mengangguk pelan.

"Kedua orang tua kami sudah berdiskusi kok, bi. Tentang rumah yang kami beli ini. Dan mereka sudah kasih tau juga kok, tapi kami tetap memilih rumah ini dengan membuat mereka percaya bahwa kami akan baik-baik saja," jawab Arkana penuh keyakinan.

"Padahal dizaman bibi, orang tua dulu percaya... rumah kalian ini disebut rumah tusuk sate. Sebenarnya rumah tusuk sate itu kurang baik untuk ditinggali," jelas Bibi Ratna.

​Suasana meja makan mendadak sunyi. Arkana tersenyum tipis. "Bi... itu cuma kepercayaan orang dulu."

​"Bibi tahu. Bibi juga tidak bilang itu pasti benar," tukas Bibi Ratna cepat. "Tapi kemarin Hanifah keluar flek. Bibi jadi kepikiran. Jangan-jangan memang ada pengaruh buruk dari rumah ini."

​Arkana segera menggeleng. "Bi, bidan sudah menjelaskan. Hanifah hamil kembar tiga, risikonya memang lebih tinggi."

​Bibi Ratna mengangguk pelan. "Iya, Bibi mengerti. Hanya saja, Bibi cuma menyampaikan apa yang orang tua dulu percaya."

​Hanifah berusaha tersenyum, meski terasa dipaksakan. "Iya, Bi. Aku mengerti."

​Arkana menangkap perubahan wajah istrinya. Ia segera mengalihkan pembicaraan. "Eh, Dek. Hari ini kan Mas libur. Gimana kalau kita jalan-jalan sebentar?"

​Hanifah tampak bingung. "Jalan-jalan?"

​"Iya, cari udara segar daripada di rumah terus." Hanifah menoleh ragu pada bibinya. "Bi... boleh kami keluar sebentar?"

​Bibi Ratna mengangguk. "Silakan saja. Asal jangan terlalu lama dan Hanifah jangan capek."

​Tak lama kemudian, motor mereka melaju membelah jalanan pagi yang sejuk. Hanifah memeluk pinggang suaminya erat. "Mau ke mana sebenarnya, Mas?"

​Arkana tersenyum misterius. "Rahasia."

​Beberapa menit kemudian, motor berhenti di depan sebuah toko perlengkapan bayi. Hanifah membelalak bahagia. "Mas... kita ke sini?"

​Arkana melepas helmnya sambil tersenyum hangat. "Ayo. Kita lihat-lihat dulu."

...----------------...

​Sementara itu, sebuah mobil pikap hitam perlahan berhenti di depan rumah Arkana. Pak Hadi dan Bu Sulastri turun dari mobil. Di bak belakang, telah tersusun rapi tiga keranjang bayi dari kayu yang sudah dipernis ulang seperti baru, beserta beberapa kardus berisi pakaian bayi layak pakai.

​"Pelan-pelan, Pak. Jangan sampai keranjang bayinya terbentur," pinta Bu Sulastri.

​"Iya, Bu."

​Saat mereka hendak masuk ke halaman, pintu rumah terbuka. Bibi Ratna muncul. "Oh... Bu Sulastri. Silakan masuk."

​Bu Sulastri tersenyum ramah. "Terima kasih. Saya sama suami cuma mau mengantarkan barang buat Hanifah. Pakaian bayi bekas cucu kami dan tiga keranjang bayi."

​Bibi Ratna mendekat, melihat kardus pakaian bayi itu. "Ini semuanya... bekas?"

​Bu Sulastri mengangguk. "Iya, bekas cucu saya. Tapi sudah kami cuci bersih dan dipilih yang masih bagus. Saya juga sudah jauh-jauh hari ngomong ke Hanifah tentang ini dan dia mau menerimanya. Lagipula Hanifah kan hamil kembar tiga, jadi keranjang bayinya harus tiga."

​Bibi Ratna tersenyum tipis, nada suaranya berubah sinis. "Kalau saya sih... agak kasihan."

​Pak Hadi dan Bu Sulastri saling berpandangan canggung. "Maksudnya, Bu?" tanya Bu Sulastri lembut.

​"Ya... ini kan anak pertama mereka. Kalau mampu beli baru, kenapa harus memakai barang bekas?" tukas Bibi Ratna dingin.

​Pak Hadi berdehem pelan. "Barang memang bekas, Bu. Tapi semuanya masih sangat layak. Ini keranjang bayi saya bikinkan lagi, pas tau kalo Hanifah hamil kembar tiga."

​"Daripada disimpan di gudang, lebih baik dipakai lagi. Lagipula anak-anak itu masih merintis kehidupan. Kami hanya ingin membantu," tambah Bu Sulastri sabar.

​Bibi Ratna melipat kedua tangannya di dada. "Bukan begitu. Saya hanya berpikir, untuk anak pertama dan apalagi cucu pertama didalam keluarga mereka, rasanya... Lebih pantas memakai yang baru. Nanti orang mengira orang tuanya atau keluarga tidak mampu membelikan."

​Bu Sulastri tersenyum, namun sorot matanya menegas. "Barang boleh bekas, Bu... tapi kasih sayang kami tidak pernah bekas. Kami memberi bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena kami sudah menganggap Hanifah seperti anak sendiri. Lagian saya sudah bilang, kalo saya sudah ngomong ke Hanifah dan dia setuju."

​Bibi Ratna terdiam, namun gengsinya menolak mundur. "Kalau saya tetap kurang setuju."

​Pak Hadi menarik napas pelan, merasakan suasana mulai memanas. Ia menatap istrinya sekilas. "Sudahlah, Bu. Mungkin kita datang di waktu yang kurang tepat. Nanti saja kita antar lagi kalau Hanifah sudah pulang."

​Mereka kembali mengangkat kardus dan keranjang bayi ke atas mobil pikap, lalu perlahan meninggalkan halaman rumah bawah tatapan diam Bibi Ratna.

"Mereka ini sudah tua masa gak ngerti dikasih tau. Tetangga gini nih yang bakal nyusahin orang." Bibi Ratna masuk dan menutup pintu rumah tersebut.

...----------------...

​Di sisi lain, Arkana dan Hanifah baru saja selesai memilih beberapa perlengkapan bayi secukupnya. Tiga pasang sepatu bayi mungil berwarna biru langit, kuning pastel, dan putih polos.

​Hanifah memegang sepatu-sepatu kecil itu dengan mata berbinar. "Mas... kecil sekali."

​"Nanti yang biru dipakai Eka, yang kuning buat Dwi, yang putih buat Tri," ujar Arkana senang.

​Hanifah terkekeh. "Mas sudah membagi saja. Mereka belum tentu mau."

​"Ya nanti ayahnya yang pakaikan," balas Arkana seraya menggandeng tangan istrinya. "Kita beli secukupnya dulu ya, Dek. Kalau nanti kurang, pelan-pelan kita beli lagi."

​Hanifah mengangguk haru. "Terima kasih, Mas."

​Sore hari, mereka kembali ke rumah. Begitu masuk ke ruang tamu, Hanifah tampak begitu bersemangat.

​"Bi... lihat. Kami beli sedikit perlengkapan buat dedek," pamer Hanifah riang. Ia mengeluarkan sepatu bayi mungil berwarna biru. "Lucu, ya?"

​Bibi Ratna menoleh, lalu seketika menghela napas berat. "Arkana."

​"Iya, Bi?"

​"Kenapa sudah beli sekarang?" tanya Bibi Ratna dengan tatapan tidak suka.

​Arkana bingung. "Memangnya kenapa, Bi?"

​Bibi Ratna menatap tajam kantong belanja itu. "Duh.. Kalau orang tua dulu... usia kandungan belum tujuh bulan itu tidak boleh membeli perlengkapan bayi. Pamali!" tegas Bibi Ratna.

​Senyum Hanifah perlahan membeku. "Pamali, Bi?"

​Bibi Ratna mengangguk kaku. "Iya. Takutnya nanti... terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."

​Suasana rumah seketika berubah mencekam. Arkana menarik napas panjang. Ia melangkah maju, melindungi Hanifah di belakang tubuhnya.

​"Bi... saya menghormati semua kepercayaan orang tua," ucap Arkana tenang namun tegas. "Tapi saya juga percaya, rezeki dan takdir anak-anak kami ada di tangan Allah. Perlengkapan ini kami beli bukan karena sombong, tapi karena kami ingin menyambut mereka dengan penuh rasa syukur."

​Bibi Ratna tidak menjawab, hanya mendengus pelan dan memalingkan muka.

​Hanifah menggenggam kantong belanjaan itu lebih erat. Kebahagiaan yang sejak tadi memenuhi hatinya perlahan terusik oleh rasa takut yang kembali menjalar. Arkana yang merasakan itu langsung menggenggam erat jemari istrinya, berjanji dalam hati tidak akan membiarkan siapa pun merenggut kebahagiaan mereka.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!