(Mengandung adegan 21+)
Sebuah kisah wanita bernama Asma Aqilatunnisa. Seorang wanita bercadar dengan manik mata biru indah. Membuat siapapun terpesona dengan matanya yang biru seperti lautan. Cantik dan misterius
Hanya sedikit yang tau kenyataan sebenarnya. Asma hanya menyembunyikan noda di balik khimarnya.
Selamat membaca ^_^
Harap apresiasi melalui like, komentar, dan votenya yaa ... Salam cinta dari Zaraa❤
Akun 👉
Ig: @zha_zaraa
Fb: Zaraa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaraa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 14
❤ Happy reading ❤
🌸🌸🌸
"Aku tau apa yang kamu pikirin Asma." Ida dan Syifa duduk. Mereka berdua menatap Asma yang terlihat pucat.
"Sayangnya, aku gak bisa memastikan. Reno putra pertama dari Pak Sanjaya sangat misterius. Gak ada akun sosmed apapun. Jadi aku gak nemuin fotonya. Beda banget sama Ustad Dhika yang pede dan narsis." Ida berucap seperti mengejek. Syifa hanya mengerjapkan mata. Tak mengerti apa yang sedang kedua temannya bicarakan.
"Aku taunya Reno sama Dhika itu beda ibu tapi satu ayah. Jadi ibunya yang sekarang adalah ibu tiri Reno. Ibu kandungnya ninggalin Pak Sanjaya waktu belum se—kaya ini. Jadi kemungkinan besar, wajah Reno dan Dhika gak mirip." Ida menatap kosong. Ia tahu hal itu dari papanya.
"Siapa sih Reno?" tanya Syifa yang tak bisa menahan diri lagi untuk bertanya.
Tok tok tok
Suara pintu membuat mereka tersentak. Lalu Asma membuka pintu dan tersenyum.
"Umi ...." seorang wanita paruh baya dengan khimar hitam serta gamis dengan warna senada masuk. Mata wanita itu membesar ketika melihat Ida.
"Ayduha?" Ida tersentak. Ia mengenali suara itu.
"Kamu di sini juga Nak?" wanita itu memeluk Ida lalu juga Syifa.
"Ini Syifa Ummi, dia muallaf."
"Alhamdulillah Nak. Kalian semua di terima dengan tangan terbuka disini. Nanti kalian bisa berkenalan dengan Ustad dan Ustadzah di sini," tutur Ummi dengan nada yang begitu lembut dan suara khas ibu yang bijaksana.
"Jadi ini pesantren Umi?" wanita itu mengangguk dan tersenyum. Ida tak pernah berpikir bahwa pesantren tempat Dhika mengajar adalah milik abinya. Meski papanya sudah memberitahu bahwa keluarga Sanjaya mendirikan sebuah pesantren.
"Gak nyangka yaa? Asma juga ngiranya pesantren Ummi yang dekat di kamar kostnya. Padahal bukan. Kami mendirikan di sini karena suasana yang begitu menyejukkan dan damai."
Asma tersenyum malu.
"Ummi kenal sama Ida?"
"Iya, Ida akan menikah dengan putra sulung Ummi, kemungkinan habis idul fitri." Asma melirik Ida yang wajahnya nampak pias. Padahal Ummi mengucapkan dengan nada kebahagiaan.
"Ya udah, bentar lagi dzuhur. Siap-siap gih, sholat di mushola." Umi kemudian pamit.
Sepeninggalnya wanita itu, Asma sedikit ketakutan. Mengapa segala hal terjadi kebetulan. Ia mengerti bahwa nama Reno banyak. Tapi ia takut bagaimana jika Reno calon suami Ida adalah lelaki yang sama dengan lelaki terakhir yang tidur dengannya?
Asma melirik Syifa. Temannya itu juga tak bisa membantu jika tanpa peralatannya. Ia kemudian menghembuskan nafas. Berusaha menetralkan perasaan yang berkecamuk. Menenangkan diri. Mengatakan kepada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.
***
Setelah sholat dzuhur berjamaah. Asma dan Ida serta Syifa membantu beberapa santriwati yang sedang memasak. Teras mushola di jadikan dapur di sana. Karena pengertian i'tikaf yaitu berdiam diri di masjid/mushola.
Bahkan sebenarnya tidur juga harus di mushola tapi karena mushola yang begitu kecil dan tak bisa menampung seluruh santriwan dan santriwati serta para Ustad-Ustadzah maka mereka harus tidur di asrama masing-masing. Sedangkan kegiatan lain, harus selalu di mushola.
Asma memotong sayur sedangkan Ida sedang memotong bawang. Beberapa santriwati sedang menyiapkan takjil. Sedangkan Syifa? Ia tiduran sembari memakai earphone karena signal yang tak ada di sana. Ia terlihat begitu lesu dan beberapa kali bertanya kapan waktu berbuka.
"Asma ...."
Asma menatap Ida yang matanya tampak tertegun. Ekor matanya mengikuti arah pandangan Ida. Manik mata birunya ikut membulat.
"Astaghfirullah Syifa. Ayo pakai hijabnya!" Asma mendekat pada Syifa yang rebahan dengan berbantal hijabnya.
"Panas Asma," keluhnya, tapi ia langsung memasang hijabmya ketika melihat mata Asma yang melotot. Ia sedikit takut karena selama berteman dengan Asma, ia tak pernah melihat Asma begitu.
"Milih panas mana sama api neraka?" mata Syifa membesar. Lalu menunduk.
"Denger Syifa, hal yang paling penting bagi wanita itu menjaga auratnya ...." tutur Asma lembut.
"Sebagaimana dalam Q.S Al-Ahzab ayat 59. Artinya begini: Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. " Asma kemudian menyentuh gamis Syifa yang tersingkap hingga lutut.
"Ingat, jilbab ke seluruh tubuh! Ayat lainnya dalam Q. S An-Nur ayat 30-31 artinya begini
...."
"Iya Asmaaa!" potong Syifa cepat karena malas untuk mendengarkan kembali ceramah dari Asma.
"Pahintum?"
"Pahimna!" sahut semua wanita yang ada di sana. Asma kemudian mengerjapkan mata.Menatap mereka dengan pipi malu merona.
Beberapa santriwati itu menatap Syifa dengan tatapan heran. Asma melihatnya. Ia kemudian melanjutkan memotong sayur.
"Maaf yaa, Syifa itu muallaf. Jadi dia belum begitu tau tentang Islam," ucap Ida sembari tersenyum manis.
"Oo pantas aja," celetuk salah satu dari mereka.
"Udah ku duga juga sih, mukanya bule banget," sahut gadis yang memakai gamis berwarna pink dan hijab dengan warna senada.
"Kalau Mbak Asma juga muallaf ya?" tanya gadis itu lagi.
"Hush! Sok banget deh. Panggil Ustadzah Asma. 'Kan Ustadzah yang ngajarin kita ngaji." tegur salah satu temannya.
"Gak papa, saya lebih suka di panggil Mbak. Ustadzah itu gak pantas di sematkan sama saya." Asma benar-benar tak enak hati. Ia tak nyaman di panggil Ustadzah. Meski ia tau, hampir semua pengajar apapun di sini di panggil para santri dengan sebutan Ustad atau Ustadzah.
Sedangkan untuk mengajari ngaji, sebenarnya lebih ke membenarkan makhroj huruf dan tajwid. Karena tak semua santri bisa membaca Al-Quran dengan baik meski sudah berumur belasan tahun.
"Tapi Mbak pantas kok jadi Ustadzah," ucap gadis yang gemuk.
"Kayaknya cocok yaa kalau di pasangin sama Ustad Dhika. Serasi. Ganteng dan cantik." gadis yang lain menimpali
"Udah-udah. Jangan terlalu kebanyakan ngobrol!" sahut gadis yang memakai outfit serba pink tadi. Ia nampak tak suka saat teman-temannya terlalu memuji Asma. Apa lagi saat memasangkan dengan Ustad Dhika.
Asma hanya diam, mereka kemudian melanjutkan memasak. Karena memang mereka memasak untuk orang yang banyak. Jadi mereka biasa memasak sehabis dzuhur. Lebih nyaman dan tak terburu-buru.
Asma terlihat mengerjakan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Tak menyadari bahwa sedari tadi ada sepasang mata tampan yang memperhatikannya dengan mata tak berkedip. Manik mata biru Asma begitu fokus pada sayur yang sudah di potong dan sedang ia bersihkan.
Mata itu terlihat menawan. Meski wajahnya tertutup khimar tapi beberapa orang menduga dengan seenak hati bahwa wajahnya cantik. Termasuk pemilik sepasang mata tampan itu. Dan itu memang kebenarannya.
Sepasang mata tampan itu lalu beralih menatap Ida dengan sorot mata penuh arti. Senyumnya merekah ketika melihat Ida mengusap matanya yang berair karena memotong begitu banyak bawang.
Bersambung
Tap jempolnya yaa❤
Btw, kalau mau Vote NDBK tanggal 1 atau 20 aja yaa ^_^ Di kumpulin dulu aja poinnya 😘
INTINYA, BGITU MNYADARI DOSA2 YG PRNH DILAKUKAN, DN SEGERA TAUBAT NASUHA, DN MMOHON AMPUN, DGN ISTIGHFAR, SHOLAWAT, DZIKIR, BCA AL QUR'AN, DN SNANTIASA ISTIQOMAH, SERTA BRJANJI TDK MLAKUKANNYA LGI, INSHA ALLAH, ALLAH MNGAMPUNI, DN PRBANYAKLH AMAL JARIYAH. DN SERING2 BRBUAT BAIK.. SERTA IHKLAS DGN TAKDIR ALLAH, YG TRCATAT DI LAUHUL MAHFUDZ..
KLAKUAN WARGA NEGARA +62..