Kumpulan cerita horror yang tak pernah dialami oleh orang awam.
Cover by Mpuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V a L L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kanthil
Temanggung
Era 1930
"Kanthil" adalah seorang janda muda. Konon cantiknya ini Paripurna sehingga kerap membuat para lelaki berhantam untuk merebutkannya. Kanthil merupakan seorang yang cerai mati dengan desas-desusnya sang suami dulu meninggal terkena teluh atau santet dari seseorang yang menginginkannya.
Kanthil tak memiliki anak, dia hidup sendiri sepeninggal suaminya. Profesinya adalah penjual bunga sajen di sebuah "Pasar Wage" (Pasar wage adalah pasar tradisional yang hanya buka dikala hari pasaran Wage, misal minggu wage, selasa wage dan seterusnya).
Banyak lelaki yang memperebutkannya dari kaum jelata hingga parlente dari yang bujang, duda bahkan tak jarang pria beristri pun ikut menginginkannya. Kanthil ini memang jelita, mungkin karena darah campuran Jawa-Belanda. Karena menurut isu yang menyebar, ibu Kanthil dulunya adalah gundiknya orang belanda, tapi ditelantarkan. Ibunya meninggal waktu Kanthil masih kecil dan dia pun di asuh oleh seorang demang hingga akhirnya dia diusir sekira usia belasan tahun. Kecemburuan anak-anak demang tersebut mengakibatkan Kanthil diusir dan untungnya sebelum demang itu meninggal Kanthil diwarisi rumah sepetak. Disinilah Kanthil akhirnya bertemu pujaan hatinya dan menikah.
"Mau kah kau menikah denganku, Kanthil?" ucap pujaan hati.
"Iya, Mas," seraya menganggukkan kepala dan tersipu malu-malu.
Pesta sederhana pun digelar untuk menyambut pernikahan Kanthil dan sang pujaan hati. Tapi itu tak berlangsung lama, sekira 2 tahun usia pernikahan, suami Kanthil pun meninggal.
"Kamu harus jaga diri baik-baik, uhuk uhuk ..." lirih sang suami.
"Mas, bertahanlah. Aku akan membawamu ke dukun untuk mengobati penyakitmu, Mas," ucap Kanthil yang bersiap-siap untuk membopong suaminya.
"Tidak. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, Kanthil. Orang-orang sudah murka dengan ku. uhuk ..." menepis tangan Kanthil dan terbatuk.
Kanthil merasa kasihan dengan suaminya yang menderita seperti ini. Sungguh tega yang membuat suaminya seperti ini. Kanthil pun hanya pasrah. Tak lama kemudian suami tercinta pun meninggalkan dirinya selamanya.
"Mas ... Mas ..." jeritan Kanthil terdengar di seluruh desa. Masyarakat yang mendengar kabar itu pun bergunjing untuk membicarakan kematian sang suami penjual sajen itu. Karena dipastikan bahwa meninggalnya sang suami dengan keadaan tidak wajar.
"Kasian ya, Jeng si Janda Kembang. Ditinggal suaminya. untung belum punya anak," ucap salah seorang ibu-ibu.
"Iya, Jeng. Tega sekali orang yang nyantet suaminya. Punya dendam kesumat kali sama suaminya," timpal ibu satunya lagi.
"Biasalah persaingan memperebutkan sang istri. Tidak bisa dipungkiri, Kanthil emang cantik, Jeng ...!" salah satu ibu-ibu memuji kecantikan Kanthil.
Sepeninggal suaminya, Kanthil harus menghidupi dirinya, dia menyambung hidupnya dengan berjualan "Bunga Sajen" (mawar, melati, kanthil, pandan, kenanga sejenis itu lah).
Nama "KANTHIL" sebenarnya bukan nama aslinya, itu hanya julukan saja, diambil dari salah satu bunga yang dijualnya yaitu "Bunga Kanthil"
...****************...
Saat menjanda banyak lelaki yang mau meminangnya. Dari lelaki biasa hingga yang mapan, tapi tak semudah mendapatkan hati Kanthil. Bertahun-tahun dia menjanda, sampai akhirnya di tahun 35an ada satu pria yang berhasil mendapatkan hati Kanthil.
"Aku sudah lama ingin meminangmu, Kanthil," ucap sang pria itu.
Kanthil hanya tersenyum malu melihat perlakuan pria yang telah membuatnya jatuh cinta itu.
Para lelaki yang memujanya tentulah kecewa, tapi yang lebih mengecewakan lagi adalah laki-laki yang berhasil mendapatkan hati Kanthil adalah pria beristri, sebut saja Sasongko, pria paruh baya, dia adalah lurah bentukan belanda.
"Apakah tidak masalah dengan istri, Mas?" tanya Kanthil.
"Apakah kamu takut dengan istri pertamaku? Aku akan meminta izinnya untuk dapat menikahi kamu, Kanthil," ucap Sasongko.
"Tetapi kalau istri Mas tidak mengizinkan, bagaimana? Apakah Mas akan tetap menikahi ku?" tanya lagi khawatir.
"Apabila ia tidak mengizinkan, aku akan menceraikannya. Tak perlu risau, Kanthil. Aku berjanji aku akan selalu bersamamu dan akan menikahimu," ucap Sasongko.
Kanthil hanya menanggapi dengan anggukan dan senyuman yang merekah diujung bibirnya.
Tergolong orang yang memiliki pengaruh di daerah itu, tentu tak ada laki-laki yang berani beradu dengan Sasongko. Kanthil seperti diperdaya dengan hartanya, hanya dikasih janji akan menikahinya setelah dia menceraikan istrinya. Tapi Kanthil seperti mau-mau saja. Alhasil kurang lebih 2-3 tahun, Kanthil hanya menjadi gundiknya Sasongko. Kurun waktu selama menjadi gundiknya, Kanthil tak boleh lagi berjualan bunga, semua kebutuhannya tercukupi, dibuatkan rumah, perhiasan yang katanya lebih mewah.
"Kanthil, kamu tidak usah lagi berjualan bunga. Biar semua kebutuhanmu aku yang penuhi. Rumah ini menjadi milikmu," ucap Sasongko.
"Tapi, Mas, aku masih ingin berjualan bunga," dalih Kanthil.
"Apakah kebutuhan yang aku penuhi dan aku berikan masih kurang, Kanthil?" tanya Sasongko sambil membenarkan rambut yang terurai sedikit ke daun telinga Kanthil.
"Tidak, Mas," ucap Kanthil menunduk seraya memilin ujung baju yang ia pakai.
"Ya sudah. Kalau begitu, kamu tidak usah berjualan bunga ya. Kamu di rumah saja, menunggu aku pulang," ucap Sasongko sambil tersenyum.
Kanthil yang tinggal di rumah joglo jati yang cukup megah kala itu, Sasongko mengunjungi Kanthil sekiranya seminggu dalam satu atau dua kali. Kanthil yang biasa mandiri tak betah kalo harus di rumah terus dan ia pun berjualan bunga lagi setelah 2 atau 3 tahun berhenti.
"Aku sangat bosan di rumah. Tidak ada aktivitas yang bisa aku kerjakan. Aku akan berjualan bunga lagi," gumam Kanthil yang masih mondar-mandir di pelataran rumahnya.
Kanthil sedikit berpikir bagaimana dia ingin berjualan kembali, ia tidak ingin berjualan di lapak. Dan Kanthil pun memutuskan untuk berjualan keliling dengan menggunakan delman lengkap dengan kusirnya. Dimana pedagang kecil pun menjualkan bunga sajen milik Kanthil.
"Mbak, ini bunga sajennya untuk hari ini," ucap Kanthil yang menaruh bunga sajennya di beberapa pedagang.
"Nggeh, Mbak..." jawab salah satu pedagang titipannya.
Meski janji dari Sasongko belum jua terwujud, sepertinya Kanthil tak begitu memikirkannya. Dia fokus ke usahannya, hingga setidaknya kini Kanthil menjadi orang sukses kala itu, perlahan Kanthil menjadi kaum borjuis, meski masih saja sebagai gundik.
...****************...
Di tahun sekitar 40an, seiring dengan melejitnya karir Kanthil, saat itu sedang gempar-gemparnya dengan adanya "Kecu". Kecu adalah rampok atau begal yang biasanya menyasar ke pejabat-pejabat atau orang-orang penting bentukan Belanda.
Dan di suatu sore sepulang dia berkeliling, di perjalanan dia dengan delmannya, Kanthil dirampok.
"Lepaskan ..." Kanthil meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri.
"Diam kamu. Kamu sangat cantik sekali," ucap salah satu perampok itu dan membelai dagu Kanthil.
Kanthil yang hanya bisa diam, hanya pasrah menerima itu semua. Dibawanya Kanthil ke pinggir jalan yang dekat dengan selokan besar di sana. Entah kenapa Kanthil menjadi sasaran "Kecu" yang jelas perampokan itu terjadi, karena biasanya kecu menyasar ke rumah-rumah warga, bukan memberhentikan korban di jalan.
Suatu pagi, di temukanlah Kanthil dan kusirnya tertelungkup di parit pinggir jalan berbatu, mereka sudah tak bernyawa dan ngerinya lagi "kedua matanya" baik kanthil ataupun kusirnya itu hilang, seperti dicongkel sedangkan barang berharga yang diambil pun tidak semua lenyap. Terlihat "Suweng" (giwang) yang masih menempel di telinganya, sedangkan gelang yang berjejer ditangannya hilang. Delmannya pun masih ada, sedangkan kudanya mati karena ditebas lehernya. Perampokan ini tak biasa. Yang menjadi tanda tanya, mengapa perampok itu harus mencongkel matanya?
Desas-desusnya kala itu adalah "Kecu Anyaran" (Kecu baru) apabila ingin masuk ke dalam geng kecu itu memiliki syarat yang adalah harus mencongkel mata korbannya untuk diperlihatkan kepada bosnya kemudian "sah" lah dia menjadi "Kecu sejati".
Dengan adanya berita ini, gegerlah satu wilayah itu, Kanthil sang gundik jelita, meninggal dengan tragis, menyedihkannya lagi adalah Sasongko seperti lepas tangan, perlahan dia mulai menampik isu kalo kanthil adalah gundiknya.
"Aku tidak mengenal Kanthil. Siapa yang berani berbicara bahwa Kanthil adalah seorang gundik yang aku pelihara?" ucapnya berdalih.
"Saya tahu semuanya, Pak," ucap salah warga yang mendatangi rumah Sasongko kala itu.
"Tidak! Itu tidak benar! Bubar kalian. Tidak ada yang membenarkan bahwa Kanthil itu gundik saya!" ucapnya tegas dan meninggalkan warga yang masih berdiri di depan rumahnya.
Warga desa pun perlahan meninggalkan pelataran itu dan mempercayai bahwa Kanthil adalah gundiknya. Tetapi biarlah, biar Tuhan dan dia yang tahu. Padahal waktu itu, sudah menjadi rahasia umum kalau Kanthil adalah gundiknya pak lurah Sasongko, tapi kebanyakan orang memang tak begitu berani menentangnya, bahkan dalam setiap pidato-pidatonya, Sasongko selalu "mengklarifikasi" perihal skandal ini.
"Lha wong sudah menjadi rahasia umum".
Hanya saja memang Sasongko ini tak tersentuh, tak berani ada yang melawannya. Seiring waktu berlalu, "Hantu Kanthil" ini mulai menerror, menjadi momok yg menghantui wilayah itu. Selama 40 hari "Katanya" setiap hari pasaran wage, hantu Kanthil ini berkeliling di wilayah yang dulu biasa dilewatinya, antara pasar wage dan sekitarnya , berkeliling dengan delmannya, bersama kusirnya yg juga tercongkel matanya.
Konon kemunculannya akan ditandai dulu dengan wangi bunga Kanthil yang sangat menyengat, kemudian lewatlah sang Kanthil dan kusirnya dengan delmannya, dan akan berhenti bila ada yang melihatnya, menoleh dengan mata tercongkel, dan darah keluar dari lubang mata itu.