Story of Mizyan Abdillah. Sekuel dari EMPAT SEKAWAN LOVE STORY.
Keputusannya menjadi seorang mualaf tidak serta merta hidupnya dalam ketenangan. Godaan dari teman masa lalu, cinta yang mulai tumbuh di hati, namun ternyata tidak mudah untuk menaklukan wanita yang selalu hadir menguasai pikiran. Makin bertambah masalah yang menimpanya kala menyadari jika aset vitalnya tak lagi berfungsi.
Mampukah ia istiqomah menjadi muslim yang taat dengan segala masalah yang menghampirinya?
Bisakah ia mendapatkan hati dari wanita yang didambakannya?
Rahma. Dia belum siap menikah lagi. Namun bujukan sang ibu berpuluh kali membuat keteguhannya mulai goyah.
"Mizyan lelaki yang baik. Seorang mualaf yang bersungguh-sungguh belajar agama. Dia bisa menjadi imam untukmu dan Dika."
Benarkah sudah waktunya ia menerima cinta yang lain, disaat cinta dan kenangan bersama almarhum suaminya masih ia rawat dan pupuk di hatinya.
MELUKIS SENJA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Tamu Tak Diharapkan
Rahma duduk termangu di sofa. Tangannya menggenggam gelas kosong usai meminumnya sampai habis. Ia sedang kilas balik kejadian yang menimpanya tadi. Siapa mereka, apa yang diinginkannya. Pertanyaan yang terus berputar di kepala dan belum mendapat jawaban.
Matanya mengawasi Dika yang terus bergerak mengitari setiap sudut apartemen. Tak ada kecanggungan, seolah ini rumahnya sendiri. Namun Rahma menegurnya saat Dika ingin membuka pintu ruangan yang tertutup.
"Nggak boleh, sayang." Rahma menggelengkan kepala saat Dika sontak menatapnya usai mendengar teguran darinya. "Ini bukan rumah Dika. Nggak boleh seperti itu." Ia pun menuntun Dika untuk duduk kembali di sofa.
Sesuai perkataan Mizyan tadi. Tuan rumah itu langsung keluar begitu selesai menunjukkan makanan dan minuman yang tersedia, menunjukkan letak kamar mandi juga dapur, serta letak remot tv dan AC yang disimpan di kotak yang sama.
"Anggap saja rumah sendiri."
Masih terngiang ucapan Mizyan yang diulang beberapa kali. Bahkan terakhir sesudah pintu ditutup, kembali didorong dari luar. Hanya dengan melongokkan kepalanya saja, pria itu berucap, "Anggap saja rumah sendiri."
Mana bisa menganggap rumah sendiri. Mizyan adalah orang asing baginya. Orang yang telah menolong menyelamatkannya dari kejaran 2 orang pria berjaket. Ia menghembuskan nafas panjang jika kembali mengingat peristiwa tadi. Wajah 2 pria berjaket itu sudah terekam di kepalanya. Ia tak akan lupa jika suati saat bertemu kedua orang itu lagi.
Mama Indah.
Mungkinkah?
Rahma kembali berspekulasi. Jika dirunutkan dengan kedatangan mama Indah dua hari yang lalu, yang tiba-tiba menjadi baik, yang secara garis besar mengajaknya berdamai dengan masa lalu.
Ah pusing.
Ia menggeleng. Lalu mengurut-ngurut pelipisnya. Makin dipikirkan malah membuat kepalanya berdenyut sebab tak jua terpecahkan.
"Nda, mo itu...."
Teriakan Dika membuatnya terlonjak. Ternyata anaknya itu sudah tak lagi duduk di sisinya.
Ia mendekat ke arah Dika yang.bersiri di depan lemari kaca. "Nggak boleh, sayang. Itu bukan mainan." Sembari dirinya mengamati deretan piala berbentuk unik dan piagam bertuliskan penghargaan atas nama Mizyan Abdillah.
Top 50 Desainer Arsitektur Terbaik Indonesia
Most Popular Designer in The world
Itu diantara deretan penghargaan milik Mizyan yang ia baca di kancah lokal dan internasional.
Jadi dia seorang arsitek ternama?
"Nda, mo itu...."
Rasa kagum dan tak percaya buyar oleh teriakan Dika yang memaksa menginginkan piala berbentuk patung unik berbahan kristal.
"Nggak boleh, sayang. Itu bukan mainan. Nanti Om marah."
Namun Dika tetap merajuk sambil terduduk di lantai.
"Bunda mau pulang sendiri ah, kalau Dika nakal."
Berhasil. Dika berdiri dan menghalangi jalannya sambil memeluk kaki.
"Atu anak coyeh, Nda." Dika mendongak menatap sang bunda dengan mata mengerjap-ngerjap.
"Iya. Dika anak soleh. Kesayangan Ayah dan Bunda." Rahma mencium puncak kepala anaknya itu penuh sayang. "Anak soleh harus nurut sama Bunda," ia tersenyum melihat Dika yang mengangguk-anggukan kepalanya.
Tak terasa 1,5 jam lamanya berada di apartemen. Rahma sudah merasa cukup untuk beristirahat dan menenangkan diri. Apalagi baru saja Uma menanyakan kabar posisinya sebab khawatir pergi dari pagi sampai sekarang belum pulang juga.
"Ini nomer saya. Kalau ada perlu, hubungi saja."
Rahma meraih secuil kertas di atas meja. Sebaris nomer ponsel dituliskan Mizyan di secuil kertas itu saat tadi sebelum pergi.
****
Mizyan memutuskan tidak pergi jauh dari apartemennya. Demi jaga-jaga jika saja Rahma memerlukan bantuan urgent. Tak ingin waktunya terbuang begitu saja, ia mengambil kertas dan pensil dari dalam mobil untuk menggambar rancangan rumah sesuai konsep yang dipinta klien tadi pagi.
"Mas, tumben nongkrong di sini." Salah seorang security apartemen merasa heran sebab Mizyan meminta ijin ikut duduk lobi dekat pos jaga.
"Di dalam lagi suntuk. Susah dapat inspirasi." Mizyan menjawab santai tanpa mengalihkan perhatiannya pada sketsa yang ia buat.
Petugas keamanan itu manggut-manggut dan tak lagl berbicara sebab khawatir mengganggu konsentrasi Mizyan.
Tring.
Notif pesan masuk terdengar dari ponselnya yang ia simpan di samping kertas.
"Saya mau pulang."
Pesan singkat yang ia baca ternyata dari nomer tak dikenal. Ia abaikan. Mungkin hanya spam.
Jarak 10 menit, bunyi notif berikutnya terdengar lagi dua kali. Ia sigap mengusap layar. Siapa tahu ada pesan penting dari klien.
"Hei, kenapa gak dibalas."
"Di rumah mau syukuran ultah Dika. Saya harus pulang!"
Mizyan terkejut. Ternyata pesan dari nomer tak dikenal itu dari Rahma. Ia baru sadar setelah mencerna isi pesan itu. Berkutat dengan gambar membuat waktu tidak terasa berlalu dengan cepat bahkan terlupa jika dari pagi perutnya belum terisi makanan dengan benar.
"Ok. Tunggu!"
Setelah membalas pesan Rahma, Mizyan lanjut memesan paket fried chicken demi merasakan perutnya yang berbunyi nyaring.
Ia menekan bel pintu yang terintegrasi dengan kamera agar yang di dalam bisa tahu siapa tamu yang datang. Ia masuk dengan menenteng 3 paket makanan cepat saji. Tidak lupa juga membelikan 2 paket untuk 2 petugas jaga yang tampak senang menerima pemberiannya.
"Om!"
Entah kenapa, 1 kata yang terucap riang dari mulut Dika itu menjadi nada dering yang menyenangkan. Ia tersenyum melihat Dika yang meloncat-loncat di depannya.
"Saya mau pulang sekarang." Rahma mendekati Mizyan yang tengah mengeluarkan 3 box makanan dari kantong kresek lalu menatanya di meja makan berkapasitas 4 orang itu.
Mizyan mengangguk. "Sebentar, kita makan dulu ya. Saya lapar..."
"Saya pulang naik taksi kok. Nggak usah diantar."
Mizyan menggeleng. "Saya akan antar! Gimana kalau penguntit itu masih mengejarmu. Bahaya."
Rahma mengatupkan bibir dan tampak berpikir. Ia menjalin jemarinya sebagai tanda kegelisahan mulai hinggap di hati.
"Dika, makan yuk!" Mizyan beralih menatap Dika yang datang bergabung.
"Kami masih kenyang. Silakan aja kalau mau makan." Rahma menahan Dika yang akan menaiki kursi dan mengajaknya menunggu di sofa.
"Atu mo mamam, Nda."
"Tuh kan, Bunda." Mizyan menatap Rahma sambil tersenyum sebab perkataan Rahma dan Dika bertolak belakang.
Namun senyumnya memudar cepat sambil menutup mulut melihat Rahma yang melotot padanya. "Ups, lupa."Ia pun mengangkat dua jarinya. Peace.
"Apa kamu punya musuh?" Mizyan yang makan dengan cepat dan telah usai, menatap Rahma yang makan sambil menyuapi Dika.
Rahma menggeleng.
"Lalu siapa mereka?"
Lagi-lagi Rahma menggeleng. "Saya tidak tahu. Tapi mereka seperti mau menculik..." Ujarnya sambil melirik Dika yang memgunyah cepat dan minta disuapi lagi.
"Maaf bukannya ikut campur" Mizyan memperhatikan Rahma yang membereskan semua bekas makan, memasukannya ke dalam satu kantong plastik sebagai sampah. "Sebaiknya ceritakan pada orangtuamu, kejadian ini. Biar sama-sama waspada."
"Iya."
****
"Berhenti di sini aja!"
Rahma meminta Mizyan menghentikan mobil yang berjarak 3 rumah lagi menuju rumahnya.
"Tanggung nih, 3 rumah lagi sampe." Meski begitu Mizyan menuruti keinginan Rahma yang keukeuh untuk berhenti.
"Saya nggak mau keluarga tahu kalau pulang diantar kamu. Soalnya saya bilangnya naik taksi online"
Rahma menunggu respon Mizyan, tapi pria yang duduk di kursi kemudi itu diam tak bersuara. Ia tak tahu reaksi wajah pria yang sudah menolongnya itu sebab dirinya duduk di jok belakang.
"Makasih udah menolong saya."
"Hei boy, met ulang tahun. Nanti kado dari Om nyusul ya!"
Rahma mendesah. Dua kali ucapannya diacuhkan. Ia malah menyaksikan Dika yang riang melakukan high five dengan Mizyan sebelum keluar dari mobil.
Pukul 2 siang, acara syukuran milad Mahardika Al Malik diisi dengan mengundang 2 badut yang melakukan berbagai atraksi sulap dan mendongeng. Membuat anak-anak terhibur penuh tawa gembira. Kue ulang tahun spesial untuk buah hati tercinta di potong dan dibagi-bagikan ke semua tamu. Tak banyak yang diundang, hanya sekitar 20 orang dari tetangga dan keluarga. Rade juga datang bersama Nana, bergabung dengan Manda dan si kembar putranya Salma.
Selepas magrib, Dika sudah tepar. Tadi siang putranya itu tidak sempat tidur siang sebab teralihkan dengan bermain bersama para sepupunya yang datang lebih awal. Rahma kini menatap jam dengan gelisah sebab mobilnya belum tiba juga di rumah.
"Mana kunci mobilnya? Biar saya yang urus."
"Nanti ada orang yang akan mengantarkan ke rumah."
Awalnya Rahma menolak tawaran Mizyan itu. Namun pria itu ngotot ingin membantunya. Ia pun nggak mungkin meminta Sandi karyawan tokonya sebab hari ini libur. Ia juga akan sibuk dengan acara di rumah. Tidak ada pilihan lain.
"Coba tanya sudah sampe mana?" Uma menangkap raut kecemasan di wajah Rahma yang berjalan modar mandir ke sana ke mari.
"Sudah, Uma. Tapi belum dibaca."
Barulah selepas isya, suara mobil yang ditunggunya terdengar. Rahma sontak berlari ke arah pagar besi dan mendorongnya sampai ujung. Mobil SUV berwarna hitam peninggalan Malik itu masuk ke dalam halaman, perlahan sampai terparkir sempurna. Ia belum melihat jelas wajah orang yang membawa mobilnya sebab silau oleh lampu.
Rahma terpaku di tempatnya berdiri ketika pria bertopi keluar dari dalam mobil sambil melempar senyum.
Ia yang awalnya terlihat senang sebab mobil yang penuh kenangan itu telah kembali, kini berubah datar.
"Katanya mau diantar orang," tanyanya dengan ketus.
"Iya. Kan saya orangnya."
"Nggak salah kan saya bilang?!"
Mizyan tampak santai bersandar di pintu mobil, menanggapi Rahma yang berubah-ubah mode. Sejak pertemuan pagi kadang ramah kadang ketus.
Rahma menghembuskan nafas panjang lalu geleng-geleng kepala melihat tingkah Mizyan yang cuek, berwajah tanpa dosa itu.
"Eh, ada nak Mizyan." Ayah Badru yang baru pulang dari masjid tampak senang melihat ada tamu selebritas pesantren itu.
"Saya mengantar mobil Rahma yang gembos di parkiran TPU, pak." Mizyan menyalami sekalian menjelaskan maksud kedatangannya dengan sopan.
"Kok Rahma nggak bilang kalau nak Mizyan yang mau bawa mobilnya."
Tatapan Ayah terhadapnya membuat Rahma menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku kira orang bengkel, Yah."
"Ayo masuk dulu, nak!"
"Nggak usah, Yah. Dia buru-buru ada keperluan lain."
"Saya lagi santai kok."
Jawaban Mizyan membuat Rahma menatap tajam lalu mendelik. Belum selesai sampai di sana. Begitu Mizyan duduk di ruang tamu, Uma menyambutnya dengan antusias. Merasa senang bisa bertemu lagi.
"Nak Mizyan sudah makan?"
"Uma masak banyak hari ini. Mau ya dicicipi?"
"Tadi bilangnya udah makan kok, Uma." Rahma menyela sambil memberi kode mata agar menolak ajakan ibunya itu
"Wah, mau Uma. Pas sekali saya belum makan."
Menyebalkan.
Tak tahu malu.
Rahma hanya bisa mengumpat dalam hati. Mizyan sungguh tidak peka akan kode pengusiran yang dibuatnya itu. Malah dengan santainya melenggang ke meja makan mengikuti Uma.