Seorang gadis yatim piatu tinggal dengan neneknya, bertemu dengan CEO tampan. Pertemuan yang tak di sengaja membuat mereka mereka terikat di sebuah pernikahan.
"Tuan Alex yang terhormat, jangan coba-coba menyentuhku atau kau harus ganti rugi." jari telunjuk Arie menegak tepat di wajah Alex, Arie merasa itu akal akalan Alex agar bisa menyentuhnya.
"Cih.. kau bahkan bukan levelku."
Alex menatap tak kalah mengintimidasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar
Suasana dalam mobil sedikit tegang, Arie menatap tajam pada Alex tanpa berkedip sedikit pun.
"apa..!! kenapa kau menatapku seperti itu?"
"kau mau aku jatuh miskin lagi ya!!"
"apa maksudmu, bukankah kau memang miskin" Alex tersenyum miring.
Arie merogoh sakunya dan mengeluarkan lembaran uang kertas yang di terima dari Alex tadi.
"satu, dua, tiga, empat, lima, enam, lihat kau memberi ku enam ratus dan kau tahu baju yang aku pegang tadi harganya tujuh ratus empat puluh sembilan ribu, satu baju saja" jelas Arie panjang lebar, matanya hampir keluar saat melihat rentetan angka yang tertera di baju tadi.
"astaga" Alex menepuk jidatnya sendiri.
"teryata itu, aku akan membayar semua tenang saja" Alex benar benar tidak habis pikir dengan pemikiran Arie yang begitu perhitungan soal harga baju yang bahkan bisa Alex beli berserta tokonya.
"tidak aku tidak mau, antar aku ke tempat lain saja" Arie melipat kedua tangannya di dadanya, dengan tetap mengembung kan pipinya.
"kemana... kau mau kemana memangnya"
"mau beli baju lah, tapi tidak ke butik atau ke toko aku mau ke pasar"
"pasar, kau mau aku ke pasar" dalam kamus Alex pasar berarti dekil, kumuh, bau, dan kawan kawan sejawatnya.
"iya...kalau tidak mau ya sudah aku pergi sendiri" Arie berusaha membuka pintu namun tangannya di cegah oleh Alex.
" iya iya baiklah kita akan ke tempat yang kau inginkan" dada Alex sudah meletup-letup namun dia berusaha menahan karena titah dari kakeknya. akhirnya ia meremas gemas kedua tangannya sendiri di depan wajah Arie.
"hihihi.. terima kasih" Arie memamerkan gigi putih sehat khas iklan pasta gigi.
Tak berapa lama berkendara akhirnya Mereka sampai di salah satu pasar tradisional di Surabaya, awalnya Alex sedikit kesulitan memarkirkan mobilnya karena ini weekend dan jelas keadaan pasar saat ini seperti konser BTS penuh sesak dengan manusia.
"kamu tunggu disini saja..ok Tuan muda" ujar Arie sambil membuka safebelt nya.
"aku ikut"
"sudahlah disini saja"
"kenapa kau jadi yang perintah aku terus sih!! aku bilang ikut ya ikut." kekeh Alex.
"ok, tapi di larang mengeluh"
"ok siapa takut" dengan kaca mata hitam dan masker Alex siap bertempur.
mereka berdua pun turun dari mobil berjalan menembus kerumunan orang orang yang berlalu lalang dengan berbagai bawaan di tangan mereka, setelah melewati beberapa lorong pedagang, Alex sempat menutup hidungnya yang sedang memakai masker saat mereka melewati kios pedagang ikan, Arie memang sengaja mengajak Alex berputar putar agar dia bisa melihat seluruh isi pasar, langkah Arie berhenti di sebuah kios pedagang pakaian yang tidak begitu besar, barang dagangannya tertata rapih di lantai dan beberapa di gantungkan sebagai contoh model.
"piroan iku pak de" Arie menunjuk sebuah daster dengan motif polkadot berwarna biru cerah dengan aksen kerut di pinggang.
"40 mba" sahut seorang pria.
"CK.... kok larang se, 30 ae lho ya, ko aku tuku akeh"
"Ojo sak munu mba, ga oleh bathi (untung) aku"
"oleh tah pak de, moso kurang titik ae ga oleh" kekeh Arie.
pedagang itu melirik pada Alex yang sedari tadi berdiri di belakang Arie. Arie yang menyadari arah pandangan pedagang itu pun kesal, memutar bola matanya malas.
"wes piye iki oleh ga"
"wes mba 100 telu gae pean ga Popo"
setelah perdebatan panjang akhirnya harga deal 100 dapat tiga dan Arie hanya membeli tiga baju, muka Arie di tekuk sepanjang jalan dia hanya diam tak mengajak berbicara pada Alex yang mengekor di belakangnya. sebenarnya Arie ingin membeli beberapa pakaian dalam namun ia merasa tak nyaman karena Alex bersamanya.
"ayo pulang" ketus Arie.
"hanya itu saja yang kau beli" Alex mengerutkan keningnya.
"iya ini saja cukup" jawab Arie singkat.
"kau mengajakku berputar seharian hanya untuk membeli itu saja..itu saja"
"kau tau karena kau ikut aku jadi tidak bisa mendapatkan potongan harga, pakaian mu begitu mencolok dan mereka pasti mengira aku juga orang kaya, jadi aku tidak bisa menawar ... ish" Arie mendesis kesal.
"jadi ya Tuan hanya ini saja" Arie menekan tiap kata yang dia ucapkan.
Alex menggelengkan kepalanya sungguh dia tidak mengerti kenapa dia harus terikat dengan wanita absrut seperti itu, Arie mengikuti langkah Alex yang terlebih dahulu meninggalkan nya.
"lain kali aku tidak mau menemani kau ke pasar lagi titik, udah bau, sesak, panas, kalau kau mau ke pasar kau pergi sendiri dengar itu.... Arie.." Alex berhenti karena tidak mendapat jawaban, Alex menoleh ke belakang dia tidak mendapati Arie di belakangnya. Alex bergegas melangkah mencari gadis itu matanya memindai ke berbagai arah matanya terhenti, di sebuah sudut, Arie yang sedang berjongkok dengan seorang pria tua dan anak kecil di sampingnya mereka terlihat lusuh.
Arie mengeluarkan semua uang di sakunya lalu memberikannya pada pemulung di hadapannya.
"niki Pak" Arie mengenggam kan yang itu pada pria lusuh di hadapannya, melihat wajah tua itu mengingatkan Arie akan kakeknya saat ia kecil ia turut mencari barang bekas menyusuri jalanan menahan terik dan lapar.
"matur nuwun nduk" pria itu nampak bahagia dan berkaca kaca.
"matur nuwun mba" imbuh ank kecil di sampingnya.
Arie hanya tersenyum dan mengangguk, dia bangkit dan mulai melangkah ke arah Alex, sadar Alex melihat apa yang di lakukan membuat Arie sedikit merasa malu, Arie pun segera berlari kecil ke arah Alex.
"kemana saja dasar vakum cleaner" Alex melipat kedua tangannya.
"cuma lihat lihat saja siapa tau ada cowok ganteng" jawab Arie asal.
"kau mau apa, apa kau lupa kau sudah punya suami heh" Alex menarik lengan Arie dan melanjutkan langkah mereka menuju mobil.
berarti mau Alex ga eruh aku ya , hehehe beneran batin Arie.
mobil pun meninggalkan pasar, hening tak ada percakapan selama perjalanan sampai akhirnya Arie terlelap, Alex tersenyum kecil melihat wajah Arie yang di rasa lucu olehnya.
lucu eng ing eng
cewek lain km perhatikan sedangkan istri sendiri km abaikan dasar gob**k