Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.
Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.
Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...
Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.
Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.
Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...
Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pulang Dari China
"... Aku bisa jelaskan..." Ujar Presdir Akira, memperhatikan Kaoru dengan tatapan rajawali.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan." Kaoru membalikkan tubuhnya untuk pergi dari ruangan itu.
"Tunggu..." GREB! Presdir Akira menangkap tangan Kaoru. Dia bangun dari kasur, kakinya yang patah di paksa berjalan untuk menahan Kaoru... Punggungnya mengeluarkan darah, lukanya terbuka lagi.
Presdir Akira langsung merosot jatuh dengan dinding menjadi penahannya. Darah dari punggungnya membentuk lintas rapi di dinding.
"Dengarkan dulu penjelasannya..." Presdir Akira menutup sebelah matanya, menahan sakit.
"Tidak, lepaskan aku." Kaoru menjawab dingin, sama sekali tidak peduli dengan upaya Presdir Akira.
"Dengarkan aku..." Presdir Akira memegang tangan Kaoru dengan erat, bersusah payah menahan sakit di tubuhnya.
"Baiklah, mungkin kau akan bilang bahwa malam itu tidak sengaja..." Kata Kaoru, memandang dingin Presdir Akira. "Ya, aku tahu... Kau mungkin bahkan tidak ingat pernah melakukannya."
"Tapi kau tega membeliku, penderitaan yang kualami karena hal itu sangat besar. Andaikan kau tidak membeliku 8 tahun yang lalu, andaikan kau tidak membawaku kedalam Organisasi, dan andaikan kau tidak melakukan hal itu, hidupku tak akan jadi begini."
"Aku cuma ingin melindungimu..." Presdir Akira berkata sambil menutup matanya. Darahnya sudah cukup banyak keluar.
"Aku ingin melindungimu... Dari kakakmu... 3 milyar, kakakmu yang mengajukan... Dia sudah tidak peduli lagi kamu hidup atau mati... Ku... Kubawa kau ke Organisasi... Untuk hidup dan lingkungan baru yang lebih baik... Tapi malam itu... Aku tidak tahu... Aku sama sekali tidak berniat jahat padamu... Aku ingin... Melindungimu..."
Suara Presdir Akira terputus-putus. Dia terlihat terengah-engah, napasnya naik turun dengan cepat. Matanya setengah tertutup, sepertinya akan kehilangan kesadaran. Darah mengalir sangat deras lewat lukanya yang terbuka.
"Kau..." Kaoru memandang Presdir Akira dengan tatapan prihatin, karena ekspresi dan darah yang keluar dari lukanya.
"Tidak... Aku tidak apa-apa... Kau bisa... Memutuskan sesukamu... Percaya atau tidak... Yang terjadi 8 tahun lalu..." Presdir Akira sekarang benar-benar kehilangan kesadaran.
Kaoru sedikit panik dan segera memanggil dokter. Rei dan Rin juga ikut datang ke ruangan Presdir Akira...
"Ada apa?" Rin bertanya pada Kaoru saat sudah sampai di depan ruangan Presdir Akira.
Presdir Akira sudah dibawa lagi ke dalam ruang operasi...
"Dia... Lukanya terbuka lagi..." Kaoru menjawab singkat, cukup prihatin karena dia yang membuat Presdir Akira seperti itu.
"Dasar... Harusnya kita tidak meninggalkannya tadi..." Rei terengah-engah, berlari padahal kurang darah, "Bagaimana dengan darahnya? Bukankah harus donor lagi?"
"Tidak, dokter sudah mendapat stok darah golongan A+ dari bank darah." Rin menjawab cepat.
"Kalian sudah tahu bahwa dia ayah kalian?" Tanya Kaoru, menatap Rei dan Rin. Rei dan Rin saling bertukar pandang.
"Iya ma, kami sudah tahu... Tapi dia bukan orang jahat, 'kan? Dia melindungi kami..." Jawab Rin, menunduk menatap lantai.
"Dia bahkan mau mengorbankan nyawa untukku... Orang jahat tak akan mau melakukan itu, mungkin hanya sedikit kesalahpahaman di sini..." Rei juga menunduk menatap lantai.
"Jadi, kotak kado dan amplop uang yang dikirim ke rumah kita selama 2 minggu juga dari dia?" Kaoru bertanya menyelidiki.
"Iya." Jawab Rei dan Rin bersamaan. Kaoru hanya menatap Rei dan Rin, diam saja, kehilangan kata-kata.
Mereka menunggu... Selama satu setegah jam. Dan akhirnya dokter keluar, mengatakan operasi sudah selesai. Presdir Akira kembali dibawa ke ruang rawat VIP. Banyak selang infus dipasang pada tubuhnya dan pernapasannya dibantu masker oksigen. Rei, Rin, dan Kaoru menunggu di dalam ruang VIP.
Dan setegah jam lagi berlalu...
"Sudah malam, kalian menginap saja disini, tidur di ruang VIP kamar sebelah." Ujar Kaoru, berdiri dan membelai kepala Rei dan Rin.
"Iya..." Jawab Rei dan Rin singkat.
"Mama nggak tidur?" Tanya Rin.
"Nanti saja, mama ingin memastikan kondisi dia dulu." Jawab Kaoru, menunjuk Presdir Akira yang masih tertidur. Rei dan Rin keluar dari ruang rawat itu.
Kaoru menggambil kursi dan duduk di samping kasur Presdir Akira. Dia menatap wajah tampan Presdir Akira yang sangat mirip dengan Rei. Rambut merahnya yang biasa rapi jadi berantakan, sama seperti Rei...
Matanya sangat indah ketika sedang terpejam. Mulutnya tampak sedikit terbuka dari masker bening tabung oksigen. Dia benar-benar sangat imut waktu tidur, tampan sekali (wajah yang bikin nafsuan). Kaoru mengelus pipi Presdir Akira dengan jari telunjuknya.
Saat sedang mengelus, tiba-tiba tangan Kaoru ditangkap Presdir Akira.
"Apa? Jatuh cinta padaku?" Presdir Akira membuka matanya. Tampak mata merah yang tajam bagai rajawali.
"Mana mungkin," Kaoru menarik lepas tangannya dari genggaman Presdir Akira, "Hanya merasa sedikit bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab untuk operasi tadi? Kalau begitu menikahlah denganku." Kata Presdir Akira, dia bangkit, duduk di kasurnya, dan melepas masker oksigen dari mulutnya.
"Tetap berbaring atau kau akan mati." Kaoru mendorong Presdir Akira agar berbaring lagi.
"Jadi... Kau mau menikah denganku?" Presdir Akira mengulang pertanyaannya lagi, menatap Kaoru dengan serius.
"Aku membencimu." Kata Kaoru singkat, mengerutkan alis dan memalingkan wajahnya.
"Aku harus bertanggung jawab karena telah melakukan itu. Rei dan Rin membutuhkan seorang ayah... Lupakan masa lalu dan lihatlah lurus ke depan." Presdir Akira kembali duduk di kasurnya, sangat keras kepala.
"Kubilang aku membencimu... Ahh!" Kalimat Kaoru terpotong, dia ditarik keranjang oleh Presdir Akira.
"Menikahlah denganku... Kau serius membenciku?" Presdir Akira kembali mengulang pertanyaannya, sekarang jarak mereka sangat dekat.
"Jangan menindihku, kau berat..." Ujar Kaoru, merasa sangat tidak senang. "Aku tidak tanggung jawab kalau lukanya terbuka lagi."
Kaoru mendorong Presdir Akira dengan tangannya. Presdir Akira menangkap tangan Kaoru dan menahannya di kasur.
"Aku ingin jawaban 'ya' atau 'tidak', ini demi Rei dan Rin." Presdir Akira berkata serius, semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Kaoru, menatap dengan tajam.
"Tidak." Kaoru langsung menolak.
"Kenapa?" Tanya Presdir Akira, mengerutkan alis, baru pertama kali ada orang yang menolak-ku.
"Pokoknya tidak, Rei dan Rin tidak terlalu membutuhkanmu." Jawab Kaoru.
"Mereka butuh, kau tidak akan tahu apa yang terjadi kalau mereka tidak mempunyai ayah." Kata Presdir Akira, membuat Kaoru sedikit bimbingan dengan keputusannya...
"Be... Beri aku waktu untuk memikirkannya..." Ujar Kaoru setelah berpikir sejenak.
"Baiklah, tiga hari. Pikirkan dalam tiga hari." Kata Presdir Akira.
"Tiga hari? Kau kira aku apa?" Kaoru mengerutkan kening, memalingkan wajah.
"Tidak... Ini karena batas waktu yang diberikan Rei tinggal seminggu." Ujar Presdir Akira, "Aku ingin bukti kau adalah milikku." Presdir Akira memutar wajah Kaoru agar dia menatapnya.
"Batas waktu dari Rei? Apa-apaan itu? Dan kau mau bukti apa, kalau mau harusnya setelah... Umm!"
Kalimat Kaoru terpotong ketika Presdir Akira menciumnya.
"Umm! Umm!" Kaoru memberontak, pelecehan seksual...
"Aku hanya minta hadiah sedikit." Kata Presdir Akira setelah puas mencium Kaoru. Membuat Kaoru benar-benar kehabisan nafas.
"Mesum! Kuhajar kau!" Kaoru mengancam Presdir Akira dengan terengah-engah.
"Jangan, nanti ada operasi yang ketiga... Dan kau sama sekali tak boleh melukai suami, ingat calon suamimu ini adalah penguasa dunia."
Presdir Akira melepaskan Kaoru. Kaoru turun dari ranjangnya dengan muka merah, perasaannya campur aduk antara marah, kesal, dan malu, "Jangan menyentuhku, kau bukan suamiku."
Dilain pihak...
"Papa hebat..." Kata Rin, dari tadi menguping dibalik pintu bersama Rei. Berani sekali menantang mama, bisa habis dihajarnya.
"Papa mesum lebih tepat." Kata Rei, meletakkan kepalanya di pintu kamar rawat Presdir Akira, "Ayo pergi." Ajak Rei setelah beberapa saat, dia berjalan meninggalkan ruangan Presdir Akira.
"Kau tidak penasaran apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?" Tanya Rin, berjalan mengikuti Rei.
"Mungkin... Kita akan punya adik baru... Soalnya papa sangat mesum." Jawab Rei asal, sebenarnya dia juga tidak tahu bagaimana cara agar mendapat adik baru.
Dan akhirnya Rei dan Rin berjalan masuk kamar masing-masing, tidur...
Keesokan harinya...
"Kami akan punya adik baru tidak?" Tanya Rei, dia pergi ke kamar rawat Presdir Akira pagi harinya.
Kaoru sudah tidak ada disana... Mereka tidur sekamar kemarin malam?
"Astaga, kau dapat dari mana ide itu?" Presdir Akira balik bertanya, baru selesai memakan sarapannya dan sekarang sedang membaca koran China.
"Entahlah, kira-kira saja... Kami mau pulang, sekolah terlantar." Rei mengangkat bahu, merasa bingung sendiri. Jadi bagaimana caranya agar mendapat adik baru...
"Baiklah, kalian pulang saja duluan. Aku mungkin akan pulang dua hari lagi." Presdir Akira menutup koran dan meletakkannya di atas meja. "Kalian diantar pesawat pribadi, terserah berangkat jam berapa." Presdir Akira mengambil handphone dan mengirim pesan pada asistennya.
"Oke." Kata Rei singkat, kemudian pergi meninggalkan ruang rawat Presdir Akira.
Jam 13.30 WIB...
"Kami pergi pulang dulu pa." Rin mengucapkan salam sebelum pergi.
"Iya, hati-hati..." Presdir Akira melambaikan tangan mata merah rajawali-nya tetap kelihatan tajam walau dia tersenyum. "Kaoru, aku ingin mendengar jawaban yang bagus saat aku pulang dari China nanti."
Kaoru mengabaikannya, tidak tertarik menjawab. Mereka pun berangkat, lepas landas dari bandara internasional Diwopu Urumqi, China.
Mereka sampai di rumah 1 jam 55 menit kemudian, yaitu jam 15.49 (ditambah perjalanan naik mobil sekitar 24 menit).
"Akhirnya sampai di rumah... Rumah sendiri memang yang paling nyaman." Kaoru menghela napas, merasa sangat lega.
"Gawat, sekolahnya kita udah bolos 3 hari." Ujar Rin, berjalan menaiki tangga.
Rei mengangkat barang-barang yang dalam sebuah koper, isinya senjata Amunisi F-8, jubah, sayap lipat, jepit rambut setengah bintang, laptop, dan jam tangan HP ciptaan mereka. Tentu saja dibawa pulang secara diam-diam...
"Papa bodoh itu bilang, dia sudah minta izin libur dari sekolah. Masalah penculikan ini juga sudah menjadi berita hangat. Dan tangan Rin akan jadi pusat perhatian kalau masuk sekolah..." Ujar Rei, ikut naik ke lantai 2.
"Angket tugas sekolah akan di kirim ke rumah nanti sore oleh anggota Organisasi... PR numpuk."
Rei dan Rin sudah berada di lantai 2, Rei membawa koper itu masuk ke dalam kamar Rin.
Sore harinya angket tugas sekolah benar-benar datang. Rei dan Rin mengerjakan tugas itu semalaman setelah makan malam... Dan tanpa di duga tangan Rin sudah cukup sembuh, dia melepas gips-nya.
Keesokan harinya mereka pergi ke sekolah.
Disekolah sudah banyak wartawan, menunggu kedatangan Rei dan Rin. Wartawan tidak bisa masuk ke dalam rumah Rei dan Rin karena diperingatkan anggota Organisasi.
"Mohon sepatah dua-patah kata untuk kejadian yang menimpa kalian pada hari Senin empat hari yang lalu!" Seorang wartawan menjulurkan mik kearah Rei dan Rin. Semua berebut mengambil gambar.
"Bagaimana kondisi CEO yang tertembak itu?! Dimanakah gerangan anak penculik yang katanya terlibat itu?! Bagaimana kalian bisa lolos setelah disandera?!"
Rei dan Rin dihujani pertanyaan cepat dengan teriakan wartawan.
To be continued...
Gubrak!