Semalaman suara gaduh di atas genteng itu membuat bulu kuduk merinding.
Entah apa yang tengah ribut di atas genteng sana. Karena, tak terlihat wujudnya.
Karena gangguan itu, akhirnya yang punya rumah membiarkan rumahnya kosong. Namun, Bu Heni tidak membiarkannya kosong begitu saja. Dia menawarkan rumah itu untuk di kontrakan dengan harga yang sangat murah.
Setiap Orang yang menempati rumah itu selalu merasakan hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal. Seperti munculnya bayangan hitam yang tinggi besar di ujung teras.
Terror bercak darah di sekeliling rumah membuat bulu kuduk merinding. Apalagi tengah malamnya muncul Makhluk aneh yang menyeramkan. Pundak terasa di tindih balok es yang super dinginpun di rasakan oleh Bunga, orang yang kesekian yang menempati rumah itu.
Bunga dan Angga tetap mencoba untuk bertahan, hingga akhirnya mereka kalah dan mundur dari rumah itu. Setelah Bunga melihat Makhluk aneh yang berwujud ular berkepala manusia yang berambut panjang serta memakai mahkota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosa_Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serasa ditimpa balok es
Tinggal beberapa menit lagi menuju pukul dua belas.
"Uaah..." Bunga sudah menguap lagi untuk kesekian kalinya.
Walaupun sudah cuci muka, matanya terasa rapat, terasa susah untuk di buka.
"Neng... Jangan sampai tidur!" Angga mengingatkan.
Walaupun dirinya juga sudah sangat ngantuk.
Namun, dia sekuat tenaga mencoba untuk memelototkan kedua bola matanya, supaya tidak terpejam.
"Uaaah... Allahuakbar" Bunga menguap lagi.
"Uaaah... Allahuakbar... Astaghfirulahaladziiim. Kenapa ini mata terasa berat banget, ngantuknya bukan main." Angga pun tak luput dari serangan rasa kantuk itu.
"Teruskan wiridnya! Sebentar lagi jam dua belas! Kita jangan sampai kalah!" Bunga kini yang berteriak memberikan semangat.
Dia bangun dari duduknya.
Dia berdiri sambil menahan rasa kantuk yang teramat sangat.
Mulutnya tak berenti melapalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Ayat Qursi dia lafalkan secara terus-menerus, dan berulang-ulang.
Tepat jam dua belas malam.
Tiba-tiba....
"Aaagh..... Apa ini?..." Bunga berteriak dengan suara yang tercekat.
Di pundaknya, terasa ada sesuatu yang sangat dingin sedingin es, dan... Sangat berat.
Tubuhnya tak kuat menopangnya, diapun lalu terduduk, dan... Tidak sampai di sana,
Beban yang begitu berat di pundaknya, memaksanya untuk posisi bertiarap.
Pundak dan lehernya sudah sampai di lantai, menahan beban yang sangat berat dan sangat dingin sekali.
"Aaaargh... Abang... I... Ni... Ba... Ba... Bagaimana?... Be... Berat se... Se... Sekali...!" Ungkap Bunga terbata-bata.
Karena, menahan beban yang begitu berat di pundak dan lehernya.
Sekujur tubuhnya terasa kaku, bulu kuduknya terasa meremang.
Angga terperanjat sangat kaget! Melihat keadaan Istrinya yang tengah kesakitan dan tak berdaya, dengan beban yang begitu berat di leher dan pundaknya itu.
"Terus berdo'a! Jangan berhenti!" Angga berteriak.
"Allohu lailahailahualhayul qoyum....
Angga membacakan ayat Qursi dengan sangat kencang, setelah selesai lalu di tiupkannya ke arah Bunga yang masih tersungkur.
Bunga meringis, menahan sakit dan berat serta dinginnya sesuatu yang menimpanya.
Hingga Kepalanya jatuh tersungkur.
Mulutnya masih komat-kamit, mencoba untuk terus melafalkan ayat Qursi, walaupun dengan terbata-bata, karena, lehernya tercekik sesuatu yang sangat berat, dan sangat dingin.
Bibirnya seakan menebal dan bergetar kedinginan.
"Heeh!... Siapa kamu?... Jangan ganggu Isteriku! Kalau kamu berani, ayo! Tunjukkan wujudmu! Ayo lawan aku!" Teriak Angga menantang makhluk yang tak kasat mata itu, yang kini tengah menindih leher dan pundaknya Bunga, isterinya.
"Aaaaaargh.... Uuuh..." Bunga sepertinya mencoba untuk bangkit.
Namun....
Makin dia bergerak, makin berat terasa beban yang menindih leher dan pundaknya itu.
Rasa dinginpun merambah ke bagian tubuh yang lain, badannya terasa dingin dan membeku.
Tangan dan kakinya, kaku. Susah untuk di gerakan.
Melihat keadaan Istrinya yang makin tidak berdaya, Angga segera melafalkan ayat Qursi lagi dengan lebih khusu. Dia tatap isterinya dengan perasaan Khawatir.
Setelah selesai, dia tiupkan ke arah pundak dan leher isterinya hingga berkali-kali.
Dia berharap...
Makhluk yang tak kasat mata, yang tengah mengganggu isterinya itu segera pergi dari tubuh isterinya.
Sekali.... Duakali.... Tigakali...
Angga terus mengulanginya.
Dia pegangi pundak isterinya, dia coba mengusap-usapnya. Sambil terus melafalkan ayat Qursi.
Leher dan pundak Bunga sangat dingiiiin sekali. Itu terasa oleh tangannya Angga juga, yang terus mengusap-usapnya, sambil membaca ayat Qursi.
"Aaargh... " Suara Bunga makin terdengar samar-samar.
Nafasnya terdengar turun naik, karena menahan rasa takut yang tengah menderanya.
Melihat Bunga makin tak berdaya, timbul nekat dalam hatinya Angga.
Diapun berdiri, tepat di hadapan Bunga, yang tengah tersungkur tak berdaya, sejak setengah jam tadi.
Dia bertolak pinggang, mulutnya berteriak keras, menantang makhluk yang tak kasat mata, yang ada di depannya itu.
"Ayo!... Tunjukkan wujudmu!! Pengecut! Kalau berani, ayo lawan aku, dan tunjukkan wujudmu!" Teriak Angga, berkoar menantangnya untuk berduel.
Setelah Angga selesai meneriakkan tantangannya.
Tiba-tiba....
Dari leher Bunga yang tengah tersungkur itu, muncul Sesuatu... Seperti asap hitam yang bergulung.
Perlahan-lahan...
Asap hitam itu kian jadi tebal, dan... Bergulung menyelimuti setengah tubuhnya Bunga.
"Aaaaaargh.... Aaaaaargh...."
Terdengar suara serak Bunga dari dalam gulungan asap yang hitam pekat itu.
"As... Astag... Astaghfirulahaladziiim!" Masih dengan suara yang tercekat, Bunga mengucapkan Istighfar.
Dengan nafas yang terengah-engah.
Seperti yang tengah di kejar sesuatu yang sangat menakutkan.
Sosok yang seperti asap hitam yang tebal dan menggulung itu, perlahan-lahan berinsut dari leher dan pundaknya Bunga.
Kemudian....
Berubah menjadi makhluk yang sangat tinggi besar, seperti raksasa.
Tingginya sampai ke plafon rumah.
Dengan badan yang sangat besar dan hitam legam.
Matanya besar dan merah menyala...
Lubang hidung yang sangat besar, dengan nafas yang memburu...
Bibirnya tebal, dengan kedua taring yang muncul di sudut kiri dan kanan bibir.
Daun telinganya lebar dan meruncing.
Rambut yang gimbal dan acak-acakan, dengan rambut bagian depannya, sebagian menutupi jidatnya.
Perutnya besar membuncit...
"Heeeeeuuuhhh..." Deru nafasnya terdengar jelas memburu.
"Astaghfirulahaladziiim... Ya Allah... Makhluk apa itu?..." Angga tersentak kaget, dia mundur beberapa langkah.
"Ya Allah.... " Bungapun berteriak ketakutan.
Kini, dia bisa duduk lagi, leher dan pundaknya sudah tidak terasa berat lagi.
Diapun segera bangun dan berlari mendekati Angga.
Matanya melotot, dengan gigi yang gemeretak menahan rasa takut.
Rahang terasa kaku, tak bisa berkata-kata.
Degup jantung seakan memburu... Tak beraturan.
Sekujur tubuh terasa kaku untuk di gerakan.
Keduanya berdiri mematung di sudut ruang tamu.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuh mereka.
Baru kali ini mereka berhadapan dengan makhluk seperti itu, dalam satu ruangan yang luasnya hanya tiga kali empat meter.
"Baca ayat Qursi lagi!" Terdengar gemetar suara Angga di telinga Isterinya.
Bunga tak mampu berkata-kata, untuk menganggukkan kepalanya juga, terasa sangat berat.
"Audzubilahiminnasyaitonirroziim... Bismillahirrahmanirrahim...
Allahulaillahailahualhayulqoyum...
Bunga dan Angga mencoba melafalkan ayat Qursi lagi.
Kedua pasangan suami istri itu, mencoba untuk khusu.
Matanya tidak menatap makhluk aneh itu,
Dengan seluruh tubuh yang bergetar, keduanya terus membacakan ayat Qursi, walau kadang belepotan.
"Heerrrgggghhh.... " Terdengar suara makhluk itu, Suaranya menderu memekakkan telinga, kedua Suami-istri itu.
"Heeeerrrrgggghhhh.... !" Sosok makhluk itu mengerang lagi.
Matanya yang besar, melotot ke arah Bunga dan Angga.
Makhluk aneh itu melotot seperti yang marah kepada Bunga dan Angga.
"Teruskan wiridnya... " Bisik Angga bergetar.
Begitu pula dengan keadaan Bunga, tangan dan seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Heeeerrrggghhhh.... Heeeerrrggghhh....!!!" Sosok Makhluk yang tinggi besar itu mengerang lagi beberapa kali, nampaknya seperti yang merasakan sesuatu yang tidak nyaman di tubuhnya.
Mungkin, karena merasa kepanasan mendengar ayat Qursi yang di bacakan Bunga dan Angga secara terus-menerus.
Bunga melirik ke arah makhluk aneh itu, dengan sudut matanya, dia ingin memastikan, bagaimana pengaruh ayat Qursi baginya.
Dengan sudut matanya, Bunga melihat makhluk itu seperti yang gelisah, dan tidak nyaman mendengarnya.
Mengetahui hal itu, Bunga semakin semangat dalam membacakan ayat Qursi itu.
Kini... Dia tidak belepotan lagi karena takut.
Dia lantang membacanya.
Dia ingin mengetahui bagaimana kelanjutannya.
Bagaimana makhluk aneh itu bereaksi...
Akhirnya....
"Heeerrrrggggghhhh....!!!" Raungan keras yang meremangkan bulu kuduk terdengar dari mulut makhluk aneh itu.
Seiring dengan terdengarnya bunyi raungan itu, perlahan..
Sosok makhluk aneh itupun berubah kembali menjadi gulungan asap hitam yang tebal, untuk kemudian, asap itu perlahan-lahan memasuki lubang ventilasi rumahnya.
Dan akhirnya...
Hilang tak berbekas...
Hilang entah kemana...
Menyisakan bau bangkai yang menusuk hidung.
salam dari "Ternyata aku keturunan RPD" mampir kak
"Tak mungkin... Semua rompi kan di jepit, Enggak mungkin fi terbangkan angin.
itu ☝️☝️ ga mungkin di terbangkan angin 🤔🤔