Erika yang merupakan gadis cantik dan baik, harus menikah kontrak dengan pria yang sudah merebut kesuciannya.
Perjanjian mereka hanya sampai Erika melahirkan seorang anak untuk Bima.
Tanpa di duga Erika melahirkan bayi kembar, tapi Erika tapi dia merahasiakan dirinya mengandung bayi kembar. Dan setelah lahir, Erika mengambil salah satu dari bayinya, dan satunya lagi di ambil oleh Bima.
Akankah Erika bisa bertemu lagi dengan bayi kembarnya yang bersama Bima, dan apakah Bima dan Erika bisa menjadi keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AngelKiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu dari Ibu
Erika berjalan perlahan, sebuah tatapan kerinduan terpancar di wajah manisnya. Di lihatnya rumah yang masih sama sejak dia pergi, semuanya tak ada yang berubah.
Tok.. Tok.. Tok...
"Assalamualaikum.."
Krett...
"Wa'alaikum salam."
Sebuah mata menatap Erika dengan tatapan tak percaya, air mata perlahan mengalir dari pelupuk matanya.
"Erika.."
"Ibu.."
Di peluk nya, putri yang sudah lama hilang dari pandangan. "Ibu kangen kamu nak, kamu kemana aja.."
"Erika juga kangen Bu."
"Kita masuk dulu, yu. Adik-adik kamu juga pasti kangen sama kamu."
"Iya Bu."
Perlahan Erika memasuki rumah kecilnya, meski tak sebesar Villa milik Bima tapi rumah itu memberikan kehangatan yang tak bisa Erika dapatkan di Villa milik Bima.
"Kak Erika." Rara dan Rere langsung berhamburan memeluk kakaknya yang sudah lama menghilangkan.
"Kak Erika kemana aja. Hiks, hiks.. Rara sama Rere kangen.."
"Kakak juga kangen sama kalian.."
Perlahan Erika melepaskan pelukan kedua adiknya, ibunya menatap Erika dengan ekspresi wajah yang memiliki banyak pertanyaan untuk Erika.
"Erika ibu mau bicara sama kamu."
"Iya, Bu."
"Kalian pergi main dulu yah."
"Iya Bu." Rara dan Rere segera keluar dari rumah.
Kini di dalam rumah hanya ada Ibu Ratih dan Erika, "Apa yang sudah pria itu lakukan padamu, nak?"
Erika mengalihkan pandangan, dia tak sanggup melihat mata ibu tercintanya itu.
"Katakan, Erika. Sudah berapa kali?"
"Entahlah ibu, aku pun tak tahu.."
Bu Ratih terdiam mematung dengan jawaban sang anak, jawaban Erika menandakan jika dia sudah sering di sentuh.
"Erika ke sini mau mengatakan sesuatu."
"Apa itu?"
"Erika a..kan menikah."
Jeng...
Bagai petir di siang bolong, Bu Ratih menatap tak percaya apa yang di ucapkan oleh putrinya itu. Siapa? Siapa pria yang akan menikahi Erika.
"Dengan siapa, nak?"
"Dengan Tuan Bima."
"Kenapa? Kenapa dia mau menikahi mu. Apa dia telah sadar dan ingin bertanggung jawab."
Erika terdiam, bagaimana dia menjelaskan pada ibunya. Bima menikahinya bukan untuk bertanggung jawab melainkan hanyalah sebuah pernikahan kontrak untuk menyelamatkan pria itu dari amukan kakeknya.
"I..ya. Tuan Bima ingin bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan pada ku." Jawab Erika bohong.
Hanya jawaban itulah yang bisa di gunakan oleh Erika, walau membohongi ibunya. Tapi jika dia berkata jujur, Erika akan tetap di kurung di Villa itu sebagai budak **** Bima.
"Baguslah, nak. Setidaknya dia bertanggung jawab. Kapan kalian akan menikah?"
"Be..sok."
"Besok? Apa tidak terlalu terburu-buru."
"Tidak Bu, lagi punya tak da resepsi apapun. Hanya pernikahan biasa. Cuman ijab Kabul doang."
"Emm.. Tak apa. Yang penting kamu menikah, dan terhindar dari dosa lagi. Meski sebenarnya ibu tak ingin kau menikah dengan pria itu."
"Kenapa?" Erika menggerutkan keningnya.
"Ibu mana yang mau menikah kan anaknya dengan pria yang sudah menculik dan juga memperkosa putrinya."
Erika terdiam, apa yang di katakan oleh ibunya memang benar. Jika dia ingin, Erika pun tak ingin menikah dengan Bima tapi tak ada pilihan lain.
"Tapi, asalkan anak ibu bahagia. Ibu akan selalu merestui nya." Bu Ratih tersenyum sambil membelai wajah putrinya.
Erika langsung memeluk ibunya sambil menangis, dia tak akan bisa membayangkan bagaimana wajah kecewa ibunya saat tahu jika pernikahan ini hanyalah sandiwara.
"Oh, iya. Sekarang Erika kemari juga ingin mengajak Ibu sama Rara dan Rere buat ikut ke Villa. Soalnya kan besok Erika nikah."
"Iya, nak. Ibu udah gak sabar buat lihat anak ibu jadi wanita paling cantik.."
"Iya Bu."
...
Erika sedang berbaring di atas ranjang, kini dia sudah berada di Villa milik Bima. Ibu dan kedua adiknya pun juga ada di sini tapi mereka berbeda kamar dengannya.
Erika masih memikirkan perlakuan Bima pada ibu dan juga adik-adiknya. Erika kira Bima akan bersikap cuek pada mereka tapi perkiraan Erika salah, Bima bersikap ramah pada keluarganya malahan Bima memperlakukan keluarga nya seperti keluarga Bima sendiri.
Perlahan tangan Erika memegangi jantung miliknya sendiri, entah kenapa dia sangat gugup.
"Kenapa harus gugup, ini hanyalah pernikahan kontrak. Tak ada yang nyata dalam pernikahan ini, jadi anggap saja kau sedang memainkan drama film.."
Erika berupaya untuk segera memejamkan matanya, dia ingin terlelap dalam tidur dan segera bermimpi indah.
...
"Apa kakak tak salah menjadikan wanita itu sebagai istri."
"Aku sudah menjelaskannya beberapa kali padamu Karin. Ini hanyalah pernikahan kontrak."
"Tapi kenapa harus dengan wanita itu, wanita miskin dan hina itu. Tak pantas menjadi istri dari kakak ku, meski hanya pernikahan kontrak sekali pun."
"Aku sedang tak ingin berdebat Karin, sebaiknya kau pulang."
"Gak aku gak akan pulang, sebelum Kakak membatalkan pernikahan itu."
Plak...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Karin, Karin menatap takut kakaknya yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin.
"Ternyata aku terlalu memanjakan mu, Karin."
Karin terdiam membatu, dia masih tak percaya kakak yang selalu memanjakan dirinya bisa menamparnya hanya karena wanita rendahan itu.
Bima pun perlahan berjalan meninggalkan Karin yang masih diam mematung, terlihat Karin mengepalkan tangannya. Dia sangat marah pada Erika.
"Arg.. Kenapa jadi seperti ini. Aku menyuruh Kakak untuk menghancurkan masa depan wanita itu, kenapa sekarang dia malah menikahi wanita hina itu.."
"Meski wanita itu masuk ke keluarga Baskara, aku akan membuatnya sadar dengan posisinya."
...
Bima berada di sebuah kamar yang mewah, itu adalah kamar pribadi miliknya. Tak ada yang pernah masuk ke dalam kamarnya bahkan Karin sekali pun.
Bima yang sedang duduk di balkon sambil menghisap rokok miliknya, di lihatnya langit-langit malam yang gelap tanpa bulan tapi langit itu di hiasi ribuan bintang.
"Ah, apa aku sudah keterlaluan pada Karin."
Bima melihat tangannya yang baru saja menampar Karin, seumur hidup dia tak pernah menampar Karin tapi entah kenapa tadi tangannya seperti bergerak sendiri.
"Mungkin besok anak itu pun akan memaafkan ku."
Bima menghirup kembali rokok miliknya, dan saat dia menghembuskan nafas keluar asap dari mulutnya. Dia masih memikirkan keputusan untuk menjalani pernikahan kontrak dengan Erika.
Seumur hidup dia tak pernah memikirkan pernikahan yang dia pikirkan hanyalah menjadi pengusaha sukses karena urusan wanita itu hanyalah hal yang kecil, dia tinggal memberikan uang maka wanita itu akan bersedia mengangkang kan kakinya di depan Bima.
"Menikah? Cih...."
Yang terpenting baginya dari pernikahan ini adalah mempunyai anak, setelah itu dia bisa kembali bebas dan tak perlu memiliki ikatan apapun dengan wanita mana pun.
Tapi bagaimana jika muncul benih-benih cinta kepada Erika.
Apa yang akan Bima lakukan? Mempertahankan komitmennya atau melanggarnya.