Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.
Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.
Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Cek Itu
Tiga tahun telah berlalu, dan Alika kecil kian besar hari demi hari. Kecerdasannya melampaui anak-anak lain. Ia bersekolah di TK sementara ibunya kuliah. Tapi hari ini akan berbeda; tak lagi dipenuhi pelangi. Harinya sebentar lagi akan menggelap.
Alika Salsabila.
Saat Alika sedang di kelas TK-nya, ia mulai merasa pusing dan bibirnya mulai membiru.
Ambulans dipanggil dan gadis kecil itu dilarikan ke rumah sakit.
"Selamat pagi, Bu Salsabila. Alika dibawa ke rumah sakit, tolong segera datang," ujar gurunya.
Salsabila tak sempat berkata apa pun. Ia berlari ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Adnan sudah menunggunya.
"Katakan, ada apa dengan putriku?" tanya Salsabila.
"Anaknya stabil, tapi kita punya waktu seminggu untuk mengoperasinya," jawab dr. Adnan.
"Lalu apa lagi yang ditunggu untuk mengoperasinya?"
"Operasi itu dilakukan sejumlah spesialis di provinsi lain, dan biayanya mahal."
"Ya Tuhan, Adnan, katakan sekarang apa yang bisa kulakukan. Aku tak punya uang untuk membayarnya."
"Kamu tahu kita bersahabat, dan aku akan membantumu membayar operasi anak baptisku, Alika. Akan kupakai semua kartu kreditku, bahkan cek-cekku pun akan kutinggalkan di sini," ujar dr. Adnan.
Mereka telah menjadi sahabat karib, sampai-sampai Salsabila memintanya menjadi ayah baptis putrinya.
"Bagaimana caraku tahu apakah sebuah cek yang sudah bertahun-tahun tersimpan masih berlaku?" tanya Salsabila.
"Aku tak paham, Bila, jelaskan lebih baik," sahut dr. Adnan.
"Ayah Alika memberiku sebuah cek, dan tak pernah kucairkan."
"Tapi kamu bilang tak tahu siapa ayah anakmu."
"Dan memang aku tak tahu. Dia hanya meninggalkan itu sebagai ganti rugi. Ceritanya panjang sekali."
"Mari kita cari cek itu. Kita bisa menyerahkannya sebagai pembayaran di rumah sakit ini," ujar dr. Adnan.
"Selalu kubawa bersamaku, di dalam dompetku."
Salsabila mengeluarkan kertas itu. Aromanya masih seharum pria itu, utuh seolah tak pernah tersentuh.
"Mari kita tanyakan di resepsi apakah cek ini masih bisa dipakai," ujar dr. Adnan.
Mereka berdua turun ke bagian resepsi pembayaran dan menyerahkan cek itu. Resepsionis harus mengisinya sampai lengkap, sebab di sana hanya ada tanda tangan pemiliknya; tak ada nominal yang tertulis.
"Bu, berapa nominal yang harus saya isi?" tanya resepsionis.
"Tolong buat perkiraan biaya medis untuk pemindahan, operasi, dan seluruh perawatan yang dibutuhkan si anak," ujar dr. Adnan.
Resepsionis butuh beberapa menit sampai akhirnya memberi jawaban.
"Selesai. Ceknya sudah diterima oleh bank. Ternyata mudah," ujar resepsionis.
"Kita ambil kopi dulu, yuk?" ajak dr. Adnan.
"Aku ingin melihat bayiku," sahut Salsabila.
"Sebentar saja."
Mereka pergi ke kafe untuk mengobrol. Keduanya memesan, dan percakapan pun dimulai.
"Kamu yakin tak tahu siapa ayah Alika?" tanya dr. Adnan.
"Tentu saja tak tahu, aku tak ingat. Cuma ada satu setel pakaian baru dan sebuah cek. Aku tak banyak ingat tentang malam gila yang pernah kualami itu," jawab Salsabila.
Salsabila tak pernah punya keberanian mengatakan yang sebenarnya pada sahabatnya. Ia tak ingin dipersalahkan.
"Kalau ayah Alika sama dengan orang yang menandatangani cek ini, dan kalau ingatanku tak keliru, dia seorang pengusaha yang sangat ternama," ujar dr. Adnan.
"Kamu yakin soal itu?" tanya Salsabila.
"Cek ini jelas-jelas bertuliskan Arkana Baswara, dan pria itu tak bercela dalam bisnisnya. Tak dikenal punya pasangan; banyak yang bilang dia gay. Terlalu kebetulan kalau ternyata orang lain."
"Kamu yakin dengan apa yang kaubicarakan?"
"Yakin sekali. Sekarang naiklah menemani bayimu. Kita tunggu kabar untuk operasinya," ujar dr. Adnan.
Salsabila tercengang. Kalau itu benar, artinya Arkana Baswara adalah sang iblis itu sendiri. Dan kalau benar, ia harus lebih berhati-hati dan pergi dari tempat itu secepat mungkin.
"Bos, saya tahu Anda sibuk, tapi saya punya informasi," ujar Galih.
"Soal apa? Katakan kalian sudah menemukan orang yang selama ini menyabotase aku," sahut Arkana.
"Cek itu sudah dicairkan."
Arkana tenggelam dalam setumpuk map. Ia kian lelah. Ada seseorang yang membakari gudang-gudangnya, dan hidupnya berubah jadi kekacauan.
"Cek apa yang kaumaksud?" tanya Arkana.
"Tuan, cek yang ditinggalkan untuk wanita malam itu."
Arkana mengangkat pandangan dan menancapkan matanya ke mata Galih.
"Apa dia menguras uangku dengan cek itu? Aku sudah tak peduli lagi soal wanita itu. Sudah terlalu banyak waktu kubuang untuknya, dan aku tak berniat melanjutkannya," ujar Arkana.
"Tuan, ia memakai cek itu di sebuah rumah sakit untuk jumlah yang sangat besar."
"Batalkan transaksinya. Katakan pada bank itu cek yang hilang," perintah Arkana.
Arkana mengalihkan pandangan ke tumpukan kertas di depannya, membuat Galih terpaku oleh jawaban itu.
"Wanita itu membayar biaya medis untuk operasi seorang anak. Tuan, anak itu berusia tiga tahun, mungkin dia anak Anda," ujar Galih.
Arkana bersandar ke kursi besarnya, memikirkan langkah berikutnya. Apa yang harus ia lakukan seandainya ia punya seorang putri?
"Biarkan saja. Aku tak peduli. Teruslah bekerja, untuk itu kau kubayar," ucap Arkana.
Suasana hati sedang tak berpihak padanya hari ini. Galih mengira bosnya akan senang dan wataknya akhirnya berubah, ditaklukkan oleh seorang wanita mungil.
Namun Arkana tak pernah menunjukkan perasaannya. Ia tahu ada sesuatu yang mendorongnya ke arah wanita itu, sesuatu yang mengatakan ia harus mencarinya.
Wanita itu menyimpan cek tersebut bertahun-tahun dan hanya memakainya untuk sesuatu yang teramat penting. Wanita lain pasti sudah memborong tas termahal tahun ini dan mengisi seisi lemari pakaian.
Ada satu hal yang terus berputar di kepalanya: gadis kecil yang dirawat di rumah sakit itu. Ia tak meminta informasi lagi dari Galih. Ia tak tahu siapa di antara anak buahnya yang menjadi penyusup dan membakari gudang-gudangnya. Kalau sampai mereka tahu ia punya seorang putri, mereka akan mengincarnya.
Tapi dalam pikirannya, satu pertanyaan besar bergema: siapa wanita itu?