NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Mushola

...بسم الله الر حمن الر حيم ...

.... ...

.... ...

...Sandyakala "Aksa dan Amerta"...

...Karya : Ms_nyms...

***

Beberapa bulan kemudian

Hari minggu di akhir bulan menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh para anggota Mahija dan Fian. Mereka sudah merencakan sebuah perjalanan singkat seharian berlibur di sebuah pantai yang lumayan sering mereka kunjungi, namun untuk pertama kalinya mereka berangkat bersama-sama setelah selama ini hanya di perintah hanya dua orang saja setiap dua minggu sekali ke sana.

Suara riuh di belakang barak, para prajurit pleton Mahija yang sedang bercanda pada anggota prajurit lain yang tidak bisa ikut dalam liburan singkat mereka. Wajah-wajah yang sangat mendambakan suasana pasir pantai dan air laut menjadi sebuah kesan yang bermakna singkat namun terkenang selamanya.

"HAHAHA TIDAK IKUT" ejek Jaka yang sudah bersiap dengan tas kecil bermotif loreng.

"Bang jangan begitu.. " ucap seorang prajurit yang hanya duduk memandangi mereka yang tengah bersiap.

"Piket dulu kau, baru nyusul kau sama si gundul pacul siang nanti "ujar Hansen yang menepuk bahu adik asuhnya itu. " Nanti sampai sana jam makan siang pastinya. Sudah nikmati saja piket pagimu sampai jam 12 siang nanti "

Hanya ada tarikan nafas yang sangat dalam, Mahija kini sudah siap untuk berangkat. Mereka berangkat jam setengah 3 pagi dini hari agar bisa melaksanakan sholat subuh di sana.

"Sudah semuanya? "

"Siap sudah ndan.. "

"Angkut makanan dan semua kebutuhan kita selama disana seharian nanti. " perintah Mahija pada anggota nya yang langsung bergerak mengangkut semua makanan ke dalam mobil.

Mereka menggunakan mobil pribadi yang 3 mobil diantaranya mereka sewa dari travel agent terdekat, sengaja Mahija tidak menggunakan fasilitas militer agar tidak terjadi permasalahan internal.

Semuanya sudah berada di dalam mobil termasuk Fian yang sudah duduk di sebelah kemudi mobil Mahija, Ia duduk menunggu Mahija yang akan menyetir.

"Nanti jam 12 siang langsung berangkat saja naik bus atau taxi, jangan malas-malasan bertugas. Ngerti Jul ?" peringat Mahija pada anggota nya yang berdiri mengantarkan Mahija dan anggota lainnya di halaman parkir asrama.

"Siap"

"Ini uang taxinya, selamat bertugas " ucap Mahija sembari memberikan beberapa lembar uang 100 ribuan pada anggota nya.

"Ndan.. Tapi.. "

"Sudah pegang saja, buat Jaga-jaga. Uang rayon kan belum turun " Mahija langsung pergi meninggalkan anggotanya itu yang masih berdiri di halaman parkiran.

Empat mobil mereka keluar dari area asrama TNI, petugas piket jaga yang sedang berjaga memasang muka memelas karna melihat Mahija dan anggota nya berlibur singkat seharian.

Perjalanan sekitar 2 jam ± akhirnya sampai, mereka langsung meregangkan persendian mereka dan segera turun dari dalam mobil yang sudah berjejer rapih di sebuah sudut parkiran khusus.

Warga yang tengah bersiap untuk sholat subuh melihat segerombolan pria yang baru saja sampai di desa mereka, warga tampaknya tidak terlalu bingung akan kedatangan mereka sebab mereka sudah mengenal semua pria yang baru saja sampai di desa mereka.

"Sudah sampai nak.. " sapa kepala desa menghampiri Mahija yang tengah bersiap untuk menuju mushola desa.

"Alhamdulillah pak.. "

"Ayo-ayo sholat subuh, sudah hampir masuk waktunya " ajak kepala desa pada anggota Mahija.

"Untuk yang nasrani bisa beristirahat terlebih dahulu di sekitar sini. Selagi menunggu yang muslim melaksanakan sholat subuh"

"Siap ndan.. " Seru ke empat anggota Mahija yang beragama nasrani.

Adzan subuh berkumandang dengan merdu terdengar ke seluruh sudut desa, suara yang seperti sedang berada di Masjid Nabawi. Para warga yang beragama muslim pun segera menuju ke mushola desa, melihat siapakah yang saat ini sedang mengumandangkan adzan.

Allahuakbar, Allahuakbar la ilahaillallah..

Imam kali ini di pimpin oleh Mahija, semua saf sholat telah rapat. Mahija memimpin sholat subuh kali ini dengan tenang dan tentram, ia sangat bersyukur bisa mengajak para warga untuk melaksanakan sholat subuh yang sangat sulit bagi beberapa orang untuk bangun pagi.

Mahika yang berada di bagian saf makmum wanita, cukup penasaran siapa yang saat ini menjadi imam sholat subuh kali ini. Suara yang ia dengar bukanlah suara kepala desa atau suara remaja putra yang biasanya, apakah ada orang lain yang sedang berkunjung di pagi subuh ini.

Usai melaksanakan sholat subuh, Mahika segera berjalan pulang kembali ke rumahnya. Hari ini ia ingin menyelesaikan skripsinya, dengan mukenah berwarna putih dengan liris ungu muda yang masih dikenakannya ia berjalan secepat mungkin mendahului ibu-ibu yang berada di depannya.

"Avisa pelan-pelan nak.. Nanti jatuh " peringat seorang wanita paruh baya. Bu Lasmi istri kepala desa.

"I-Iya bu" jawabnya yang langsung memperlambat jalannya.

"Avisa ini.. " Ibu-ibu menggeleng kan kepalanya saat melihat tingkah Mahika yang langsung tersenyum.

"Buu, Avisa pulang duluan ya mau masak.. Sekalian ngerjain skripsi"

"Tidak usah masak, nanti ibu antar ke rumah makanan. Hari ini ada tamu desa, jadi makanan pasti banyak. Ngerti Avisa? "

"Tapi bu.. "

"Avisa.. " serempak ibu-ibu yang berada di samping bu Lasmi.

"Iya bu.. Kalau gitu Avisa pamit, assalamu'alaikum"

"Waalaikumsalam" sahut para ibu-ibu.

"Sepertinya Avisa lupa ya bu kades" tanya salah satu ibu pada bu Lasmi.

"Sepertinya begitu.. "

"Hari ini kan, hari... "

Matahari telah menyinari seluruh permukaan daratan, para warga memulai aktifitas di hari minggu ini dengan santai. Terkhusus hari ini tidak ada warga yang mencari ikan di laut atau sekedar berjualan mencari nafkah di pesisir pantai, hari ini di khusus kan untuk menjadi hari yang istimewa bagi mereka semua.

Anak-anak mulai bermain di tepi pantai seperti biasanya, anak perempuan ada yang bermain ayunan di halaman rumah Mahika. Tawa anak-anak terdengar saat melewati setiap sudut desa, para ibu-ibu yang sedang sibuk masak bersama dan para bapak-bapak yang sibuk merapihkan meja dan bangku.

Sedangkan Mahija dan para anggota nya sedang membakar daging, ayam, dan ikan untuk disantap siang nanti, mereka saling bergantian menjaga api agar tidak membuat lauk menjadi gosong.

"Setiap tahun pasti selalu ada acara disini dan semua biaya di tanggung oleh komandan, padahal semua biaya kalau dijumlahkan bisa mencapai jutaan rupiah ya gak Jak?? " tanya Hansen pada Jaka yang masih sibuk mengipas-ngipas ikan yang masih dibakar.

"Tau ah, perih mata gua nii.. Woii Sen.. Bantuin gua perih mata gua kena abu " Jaka yang sibuk kelilipan karna abu dari pembakaran.

Hansen langsung membantu teman karibnya itu sembari tertawa cekikikan melihat Jaka yang masih saja mengucek kedua matanya, Hansen langsung memberikan air agar Jaka segera mencuci matanya itu sebelum terjadi iritasi.

Fusssshhh..

Api pembakaran untuk memanggang ikan yang tinggal beberapa potong lagi padam terkena cipratan air yang disiram oleh Hansen, Jaka yang melihat langsung frustasi dan mengejar Hansen yang sudah berlari duluan.

"JAKA!! HANSEN!! " panggil Mahija yang melihat keadaan bagian pembakaran lauk basah.

"SIAAP NDANN.. !! " serempak keduanya langsung mendekat setelah terjadi kejar-kejaran yang belum terselesaikan.

"Cepat selesaikan dulu bakar ikannya sebentar lagi jam makan siang. Kalian mau tidak makan siang? "

"Siap salah.. " Hansen dan Jaka segera membawa nampan yang berisikan ikan dan kembali menghidupkan perapian kembali.

Hansen dan Jaka melirik ke arah Mahija yang memperhatikan anggota lainnya, tidak menyadari ke dua anggota nya itu sedang mempraktekan dirinya ketika sedang memantau. Hansen cekikikan saat Jaka berkecak pinggang sama persis apa yang sedang Mahija lakukan saat ini, Jaka bergaya ala-ala Mahija.

"Ehm.. Sampai tidak sadar di belakang sana dua anggota mu sedang mengejek mu nak.. " ujar kepala desa menghampiri Mahija, melihat kedua anggota Mahija yaitu Hansen dan Jaka sedang menertawai tingkah mereka yang mengikuti komandannya.

Mahija melirik kedua anggotanya itu dengan tatapan tajam, lalu mengobrol dengan kepala desa. Jam makan siang hampir tiba, makanan sudah tersusun rapih di sebuah saung yang didirkan di tepi pantai. Mahija memberikan perintah pada salah satu anak untuk memanggil Mahika ke rumahnya, ia akan berbicara pada Mahika untuk pertama kalinya setelah empat tahun lamanya.

Anak lelaki itu kembali setelah beberapa menit pergi, ia berbicara bahwa Mahika tidak ingin keluar dan sedang ada tugas. Mahija bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menuju rumah Mahika, ia melihat Mahika sedang duduk di teras rumahnya dengan memakai baju gamis berwarna coklat.

"Assalamu'alaikum.. " panggil Mahija.

"Wa'alaikumussalam" jawab Mahika melihat pria yang sedang berdiri di depan pagarnya. "Ada perlu apa? " tanya nya.

Mahija sedikit bingung, apakah Mahika lupa pada dirinya. Hingga tidak mengenal nya "ah tentunya sudah 4 tahun tidak bertemu secara langsung tentu saja lupa. Toh pertemuan kami singkat"

"Begini, sudah waktunya makan siang. Seluruh warga diharapkan berkumpul di tepi pantai" Mahija memberitahu tanpa memandang wajah Mahika.

"Saya sedang sibuk, maaf saya akan datang terlambat.. Duluan saja"

"B-baiklah kalau begitu" ucap Mahija "assalamu'alaikum" Mahija meninggalkan Mahika dan kembali ke tepi pantai.

"Wa'alaikumussalam"

Semua warga berada di tepi pantai termasuk anak-anak, semua anggota Mahija juga sudah duduk di tembok batas tepi pantai. Mahija melihat semuanya dari kejauhan, sekitar beberapa meter lagi sampai di tempat berkumpul.

Tinng..

Sebuah notifikasi pemberitahuan masuk ke ponsel Mahija, Mahija melihat ke seluruh anggota nya. Mata mereka semua saling pandang, tak bisa berkata apapun sejenak terpaku. Seperti petir di siang bolong, Mahija membeku saat matanya melihat ke semua orang yang sedang berkumpul di tepi pantai tak jauh dari tempat dirinya berdiri.

"NDAAAAN!!!! " teriak anggotanya.

"KOMANDAN!!! " kembali Jaka dan Hansen berteriak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!