📍Update 🚥 16 : 16 WIB
Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?
❣️ I write what I want to write. ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 - Suddenly
Hari itu adalah hari libur.
Setelah bangun dan sarapan, aku membersihkan apartemen dan mencuci pakaian. Setelah semuanya selesai, aku mandi lalu duduk santai di sofa sambil menonton televisi.
Rasanya hari itu aku hanya ingin diam di apartemen sambil menonton televisi tanpa memikirkan apa pun.
Pekerjaan.
Pernikahan.
Dan seseorang yang beberapa hari terakhir ini terus mengacaukan hidupku.
Tak lama kemudian, suara bel terdengar.
Siapa?
Mona?
Aku langsung berdiri dan membuka pintu.
Namun, bukan Mona yang berdiri di depan pintu.
“Liam?” ucapku terkejut.
Liam tersenyum.
Rasa kesal langsung menjalar dalam diriku.
Kenapa dia datang lagi ke tempatku?
“Ada apa kamu ke sini?” tanyaku.
“To the point banget kamu, ya? Setidaknya suruh aku masuk dulu kek,” ucap Liam.
“Nggak mau. Cepat bilang ada apa kamu ke sini?” tanyaku ketus.
“Aku butuh bantuan kamu,” ucap Liam.
“Bantuan apa?”
“Ayo, kita bicara di dalam,” ucap Liam seraya masuk.
“Eh! Aku belum nyuruh masuk,” protesku.
Liam terus berjalan masuk lalu duduk di sofa.
Aku hanya bisa menghela napas. Setelah menutup pintu, aku ikut duduk di sampingnya.
“Ayo, cepat bilang kamu butuh bantuan apa?” tanyaku.
“Elle...” ucap Liam lembut.
Aku mengernyitkan dahi.
Entah kenapa, aku merasa ada yang aneh.
“Aku tahu kita udah nggak punya hubungan apa-apa lagi...” lanjut Liam.
“Nah... akhirnya kamu mengakui juga kalau kita udah putus,” sahutku.
“Iya, kita udah putus. Meskipun begitu... aku rasa cuma kamu yang bisa bantu aku.”
“Apa sih? Ngomong yang jelas. Jangan muter-muter,” ucapku.
Liam terdiam sejenak lalu menarik napas.
“Elle... tolong jadi pacarku.”
“Apa?!” seruku kaget.
Apa aku tidak salah dengar?
“Coba ulangi. Tolong apa?” tanyaku.
“Tolong jadi pacarku.”
Jadi pacarnya?
Lagi?
“Kamu minta balikan?” tanyaku.
“Iya. Eh, bukan.” Liam langsung terlihat panik.
“Iya atau bukan? Ngomong yang bener.”
“Bukan.”
“Kalau bukan, kenapa nyuruh aku jadi pacar kamu?”
“Karena aku butuh seseorang buat jadi pacarku.”
“Butuh seseorang buat jadi pacar?” ulangku.
Aku menatapnya curiga.
“Kamu taruhan apa lagi, hah?”
“Nggak. Aku nggak taruhan apa-apa.”
“Kalau bukan, kenapa tiba-tiba kamu butuh pacar?”
“Ini demi Papa.”
“Demi Papa?” tanyaku.
“Iya. Aku pengin ngenalin pacarku ke Papa. Papaku pengin aku pacaran. Dia nggak mau aku sendiri terus. Tapi masalahnya, aku nggak punya pacar.”
“Ya udah, sana cari pacar. Kenapa harus aku?”
“Nggak segampang itu cari pacar. Apalagi pacar yang bikin nyaman.”
Aku langsung menatap Liam.
“Apa untungnya kalau aku jadi pacar kamu? Pacar pura-pura, maksudku.”
“Kamu mau apa? Aku bisa kasih semua yang kamu mau,” ucap Liam.
“Cih... Mentang-mentang orang kaya, kamu jadi ngomong seenaknya. Kamu pikir aku cewek matre atau cewek murahan yang bisa kamu beli dengan uang atau barang mewah, hah?” ucapku.
“Aku nggak bermaksud gitu. Aku cuma pengin kamu ngelakuin apa yang aku minta,” ucap Liam.
“Aku bukan bawahan kamu, ya. Aku ini ma... rekan bisnis kamu,” ucapku.
“Aku nggak bermaksud nyuruh kamu kayak aku nyuruh bawahanku. Aku cuma pengin bikin Papa senang. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi, Elle. Aku cuma punya Papa.”
Eh?
Raut wajah Liam terlihat sedih.
Entah kenapa, melihatnya seperti itu membuatku merasa iba.
Aku menghela napas.
“Oke. Aku mau jadi pacar kamu. Pacar pura-pura. Tapi dengan satu syarat,” ucapku.
“Apa?” tanya Liam.
“Setelah kerja sama perusahaan kita selesai, jangan muncul lagi di hadapanku atau pura-pura nggak kenal aku,” ucapku.
Liam terdiam.
“Gimana? Kalau kamu setuju, aku akan ikut kamu ke rumahmu. Kalau kamu nggak setuju, ya aku nggak akan ke rumah kamu.”
Liam terlihat berpikir.
“Oke. Aku setuju,” ucapnya.
Aku tersenyum.
Lalu aku berdiri.
“Aku ganti baju dulu, ya. Nggak mungkin, kan, aku ketemu Papa kamu pakai baju rumahan begini?”
Liam mengangguk.
Aku pun masuk ke kamar.
Kulihat deretan pakaian di dalam lemari.
Seketika aku bingung memilih pakaian.
Meskipun aku hanya akan menjadi pacar pura-pura Liam, entah kenapa rasanya seperti aku benar-benar pacarnya dan akan bertemu dengan calon mertuaku.
Aku menggelengkan kepala.
Astaga. Kenapa aku sampai berpikir seperti itu?
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya aku memutuskan memakai dress lengan pendek berwarna biru muda.
Setelah itu, aku merias wajahku. Aku hanya meriasnya dengan simpel, sekadar membuat wajahku terlihat segar dan enak dilihat.
Setelah semuanya selesai dan rapi, aku mengambil tas lalu keluar dari kamar.
“Ayo,” ucapku.
Bukannya berdiri, Liam malah tetap duduk sambil menatapku.
Aku mengernyitkan dahi.
Kenapa dia?
Ataukah ada yang salah dengan penampilanku?
“Liam...” panggilku sambil melambaikan tangan di depan wajahnya.
Liam tetap diam.
“Liam!” seruku sambil menepuk pundaknya.
“Hah?” Liam tersentak.
“Kenapa malah bengong sih?”
“Nggak apa-apa,” ucapnya.
“Ya udah, ayo.”
Aku berjalan keluar dari unit. Liam pun mengikutiku dari belakang hingga kami masuk ke dalam lift.
Di dalam lift, Liam melirik ke arahku hingga membuatku merasa risih.
“Ada apa sih? Apa ada yang aneh sama penampilanku?” tanyaku.
“Nggak,” jawab Liam.
“Terus kenapa kamu dari tadi ngelirik-lirik aku?”
Liam terdiam sesaat.
“Karena... kamu cantik.”
Aku mengernyitkan dahi.
“Nggak usah gombal. Aku nggak butuh digombali.”
“Aku lagi nggak gombal, kok. Aku cuma ngomong fakta.”
Aku hanya menghela napas.
Lalu kami tak bicara lagi.
Tak lama kemudian, lift terbuka di basement.
Ting!
Kami berdua keluar dari lift lalu masuk ke dalam mobil Liam.
Setelah memasang sabuk pengaman, perlahan mobil Liam melaju meninggalkan apartemenku.
Siang itu langit terlihat cerah. Jalanan cukup ramai.
Sepanjang perjalanan, kami hanya diam.
Liam fokus menyetir, sementara aku bersandar di jendela sambil melihat pemandangan di luar.
Di tengah jalan yang ramai itu, aku mulai memikirkan bagaimana reaksi Papa Liam ketika melihatku.
Ini adalah pertama kalinya aku akan bertemu dengan papanya. Bahkan aku tidak tahu seperti apa wajahnya.
Dulu, Liam tidak pernah menunjukkan wajah papanya kepadaku. Dia hanya pernah bercerita kalau papanya bekerja di ibu kota.
Perlahan, aku mulai gugup.
Meskipun aku hanya pacar pura-pura Liam, kalau papanya memandangku aneh, menghina, atau mengatakan aku tidak pantas untuk Liam, aku pasti tetap akan merasa sakit hati.
Pasalnya, aku tidak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya.
Kalau nanti aku mengalami semua itu, mungkin aku tidak perlu menunggu sampai kerja sama antara aku dan Liam berakhir. Aku bisa langsung memutuskan untuk tidak ingin bertemu dengannya lagi.
“Oh iya, Elle...” ucap Liam.
Aku menoleh ke arahnya.
“Nanti kalau Papa tanya tentang hubungan kita, bilang aja apa adanya. Maksudku, kita teman waktu SMA, terus ketemu lagi sekarang.”
“Ya,” jawabku.
“Jangan bilang waktu SMA kita pernah pacaran. Pacarannya setelah kita ketemu lagi sekarang.”
“Iya.”
“Kamu kenapa sih?”
“Nggak apa-apa. Udah, nyetir aja.”
Setelah itu, kami kembali diam.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di sebuah kompleks perumahan.
Begitu melewati pos satpam, kulihat rumah-rumah besar dan mewah berdiri di sepanjang jalan.
Rasanya seperti masuk ke dunia lain.
Pasalnya, rumahku dan tetangga-tetanggaku di Semarang hanya rumah sederhana seperti kebanyakan rumah pada umumnya.
Tak lama kemudian, Liam membelokkan mobil menuju sebuah rumah dengan pagar yang dilapisi batu-batu alam. Bagian pinggir jendelanya didominasi kayu berwarna cokelat.
Garasi mobilnya berada di bagian bawah rumah.
Setelah mobil berhenti, kami melepaskan sabuk pengaman.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum keluar dari mobil.
Aku dan Liam akhirnya keluar dari mobil. Kami keluar dari area garasi lalu menaiki tangga di sisi kiri yang pegangannya terbuat dari kayu.
Aku berjalan di belakang Liam dengan rasa gugup yang semakin menjalar.
Klek!
Liam membuka pintu depan.
Aku masih berdiri di tempat.
Aku ragu untuk masuk.
Bayangan hal-hal buruk mulai bermunculan di kepalaku.
Bagaimana kalau Papa Liam marah saat melihatku?
Bagaimana kalau nanti beliau mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan kepadaku?
Dan bagaimana kalau kedatanganku justru membuat hubungan Liam dan papanya menjadi buruk?
Aku menatap pintu yang terbuka di hadapanku.
Haruskah aku benar-benar masuk?