Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Sayang!
Restoran Vellmont, Ruang Pribadi 01.
Nara Aeris menatap makanan didepannya dengan penuh gembira, saat mau menggerakkan sendoknya untuk makan. Ponsel Mira Laurent langsung berdering dengan begitu keras, siapapun tahu ini pasti panggilan dengan nada dering khusus untuk mengingatkan panggilan yang tidak bisa diabaikan.
Mira mengangkat ponselnya dari meja, membaca nama yang tertera di panggilan telepon. Membuat wajahnya langsung berubah.
Nara yang terkejut karena nada dering itu, menatap ponsel Mira dengan curiga. "Siapa yang menelepon? Nada dering khusus mu agak membuatku curiga. Kenapa ekspresimu seperti baru menerima kabar buruk?"
Mira tidak langsung menjawab. Dia mengangkat panggilan tersebut, lalu mendengarkan suara di seberang selama beberapa saat. Semakin lama mendengarkan, semakin dalam kerutan di antara alisnya.
"Baik, aku segera kembali."
Setelah menutup telepon, Mira menatap Nara dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Nara Aeris berkedip polos. "Ada apa?"
"Aku harus kembali ke perusahaan."
"Kita baru saja mau makan."
"Aku tahu."
Nara Aeris meletakkan sendoknya, lalu menatap Mira Laurent dengan tatapan penuh simpati. "Kak Mira, kamu bekerja terlalu keras. Sebagai artis yang sangat menyayangimu, aku merasa sedih melihatmu harus kembali bekerja bahkan belum selesai makan."
Mira menatapnya tanpa ekspresi.
"Kalau begitu, ikutlah denganku kembali ke perusahaan."
Senyum Nara Aeris langsung membeku.
"Kenapa aku harus ikut?"
"Karena kamulah sumber masalahnya."
"Fitnah! Aku hanya melakukan siaran langsung dengan tenang. Aku tidak memaksa siapapun berbicara tentang tiga puluh milliar di tempat parkir!"
Mira tidak berdebat dengan Nara, dia langsung mengemasi tasnya, dan berkata. "Perusahaan harus menangani rekaman siaran tadi, memeriksa penyebaran videonya, dan mempersiapkan pernyataan jika media mulai menghubungi kita."
"Baik."
"Selesaikan makanmu. Jangan membuat masalah lagi selama aku pergi."
Nara mengangguk dengan sangat patuh. "Tentu saja. Aku ini orang dewasa yang bisa menjaga diri sendiri."
Mira menatap Nara dengan tidak yakin, namun karena panggilan perusahaan, dia hanya bisa pergi. Yah, hari yang berat harus dilalui lagi.
Begitu agennya pergi, Nara menyandarkan punggungnya ke kursi, dan tersenyum puas.
"Selamat bekerja, Kak Mira!"
Kalau Mira mendengar ucapan itu, kemungkinan besar ia akan kembali, hanya untuk menjewer telinga artisnya.
Sayangnya, Nara tidak punya waktu untuk memikirkan hal tersebut. Makanan yang diatas meja telah menarik perhatiannya sejak tadi. Akhirnya dia bisa makan!
Ia mengambil sendok, mencicipi makanannya. Lalu mengangguk puas.
"Enak sekali!"
Setelah beberapa suapan, Nara mengambil ponselnya, dan membuka media sosial. Popularitasnya memang meningkat pesat sejak siaran langsung sebelumnya. Potongan percakapan yang beredar di antara para penonton telah memicu banyak diskusi, terutama mengenai tindakan Ethan Hale yang diduga, berusaha menyembunyikan aset bersama senilai tiga puluh milliar dari Lydia Ardent.
Berbagai komentar bermunculan di bawah unggahan tentang kejadian tersebut.
Sebagian orang terkejut karena Ethan ternyata masih berusaha menghindari pembagian harta setelah perselingkuhannya terbongkar. Sebagian lainnya mempertanyakan apakah Lydia sudah mengetahui rencana tersebut. Ada pula yang mengingatkan agar publik tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, sebelum bukti diperiksa oleh pihak yang berwenang.
Nara Aeris membaca komentar-komentar itu, sambil sesekali mengunyah makanannya.
Ketika menemukan komentar yang menarik, gadis itu tidak ragu untuk membalasnya.
( Kak Nara, kamu beneran tidak sengaja mendengar percakapan Ethan? Atau kamu sudah tahu hal ini? )
Nara mengetik dengan cepat.
{ Aku baru saja menandatangani kontrak acara, bagaimana mungkin aku tahu? Yah. Mungkin takdir yang mengatur aku untuk bertemu dengan orang-orang bermasalah di jalan. }
Tak lama kemudian, balasan dari para penggemar atau orang lewat bermunculan.
( Hahaha, mungkin masalahnya yang ngejar kak Nara. )
( Sebelumnya Kak Nara emang suka gosip, tapi gak seintens ini. Dua berita, dua kali. Kalau ada tiga kali. Sepertinya bukan kebetulan lagi~ )
( Kak Nara, akhir-akhir populer karena gosip! Apakah dia beneran mau jadi pembawa acara gosip? )
Nara tertawa kecil, melihat komentar-komentar yang begitu lucu dan menggemaskan dari para pelaku internet. Dia kemudian membalas beberapa komentar, dan berhenti membalas.
Popularitasnya yang meningkat tentu membuatnya senang. Ia sudah cukup lama tidak memiliki kegiatan yang benar-benar menarik, di luar pekerjaan aktingnya. Kini, selain mendapatkan acara baru. Dia juga bisa berinteraksi dengan para penggemarnya melalui siaran langsung.
Hidupnya terasa jauh lebih menyenangkan.
Setelah menggesek layar beberapa saat, Nara merasa bosan, lalu meletakkan ponselnya di samping piring dan mengambil sepotong makanan. Namun, sebelum sempat memasukkannya ke mulut, layar ponselnya menyala.
Nama yang muncul membuat matanya langsung berbinar.
Silas Crane.
Nara segera mengangkat panggilan itu, sambil mengambil sepotong makanan, dan mengunyahnya dengan sempurna. Hah, enak sekali!
"Sayang!"
Di seberang telepon, Silas yang sedang duduk di ruang kerjanya terdiam sejenak.
Ia sebenarnya menelepon untuk menanyakan kejadian di tempat parkir hotel. Berita tentang siaran langsung Nara sudah sampai ke telinganya, dan sekretarisnya telah memberikan laporan singkat, mengenai percakapan Ethan Hale yang terekam dalam siaran tersebut.
Silas ingin memastikan keadaan istrinya secara langsung.
Namun, baru saja panggilan terhubung. Ia sudah disambut suara penuh kasih sayang, yang membuat pertanyaan di kepalanya mendadaknya sulit keluar.
"Sayang, kamu sedang apa?" Nara bertanya dengan suara manis. "Kamu sibuk? Apakah kamu merindukan aku?"
Silas menyandarkan punggungnya ke kursi, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Aku sedang bekerja."
"Kasihan sekali suamiku. Pasti lelah, ya?" Nara berkata dengan nada penuh simpati. "Kalau aku ada di sana, aku pasti akan menemanimu. Aku juga bisa membantumu menghilangkan stres."
Silas mengangkat alis. "Bagaimana caramu menghilangkan stresku?"
"Aku akan memelukmu, mencium pipimu, lalu mengatakan bahwa suamiku adalah pria paling hebat di dunia."
Silas terdiam sebentar, sebelum menjawab. "Kedengarannya cukup bagus."
Nara memiringkan kepalanya dengan senyum, sama sekali tidak menyangka. Suaminya akan menyetujui tawaran itu dengan begitu mudah.
"Kalau begitu, nanti aku benar-benar melakukannya!"
"Baik."
Sikap Silas yang tenang membuat Nara Aeris semakin bersemangat. Dia melanjutkan obrolan dengan penuh antusias, menanyakan apakah suaminya ada rapat yang melelahkan, dan berbagai hal tentang kondisi Silas.
Silas menjawab satu persatu pertanyaannya. Namun, semakin lama mereka berbicara, semakin sulit baginya untuk melupakan alasan awal dia menelepon.
"Nara."
"Ya, Sayang?"
"Aku sudah mendengar kejadian di hotel tadi."
Tangan Nara yang sedang memegang sumpit berhenti sejenak. Akhirnya, pertanyaan yang ditunggu-tunggunya datang juga.
Ia meletakkan sendok dengan hati-hati, kemudian menjawab dengan nada ringan. "Oh, yang tentang Ethan Hale? Aku juga baru saja membaca banyak komentar tentang itu."
"Apakah kamu takut ketika mendengar percakapannya?"
Mata Nara berkedip. Ia sempat mengira Silas akan langsung menanyakan rekaman, atau meminta penjelasan tentang apa yang terjadi. Ternyata, hal pertama yang ingin diketahui suaminya justru perasaannya.
Senyum di wajahnya tanpa sadar menjadi lebih lembut.
"Tidak, aku tidak takut. Aku hanya terkejut karena tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi. Untungnya, Kak Mira ada di sana. Kami bersembunyi di balik pilar, dan tidak mendekatinya."
"Bagaimana dengan rekamannya?"
"Aku langsung mengirimkannya ke Lydia Ardent, biarkan dia yang menanganinya sendiri."
Silas mengangguk kecil, meskipun Nara tidak bisa melihatnya.
"Baiklah, kamu tidak boleh mencari masalah lagi, atau mencoba memancing emosi pihak terkait. Jika ada yang ingin kamu lakukan, biarkan orang yang melakukannya."
"Baik, Sayang."
Jawaban Nara terdengar begitu patuh, membuat Silas terdiam.
Biasanya, istrinya akan menyelipkan satu atau dua pertanyaan tambahan, bahkan terkadang mencoba bernegosiasi ketika diberi nasihat. Namun, kali ini ia langsung menyetujui tanpa membantah sedikit pun.
Silas menyipitkan mata sedikit.
"Kamu benar-benar mengerti?"
"Tentu saja!" Jawab Nara dengan cepat. "Aku tidak akan mencari masalah. Aku akan menjalani hari-hariku seperti biasa, makan dengan teratur, beristirahat dengan cukup, dan menunggu suamiku pulang."
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor