Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 RAPAT PARA ENTITAS
Di balik langit yang robek, tidak ada siang.
Dunia itu tidak punya matahari, hanya hamparan kelabu kehitaman yang dilapisi kabut merah, dan di tengahnya berdiri sebuah istana dari tulang-belulang dan batu obsidian yang menjulang seperti taring raksasa. Di lorong-lorongnya, obor-obor berapi ungu menyala tanpa asap, dan para kroco yang berjaga di setiap sudut menunduk dalam-dalam setiap kali ada langkah lewat.
Gorgom melangkah melewati mereka tanpa menoleh.
Wujudnya kini bukan lagi kabut hitam seperti di lembah batu. Di dunianya sendiri, ia kembali menjadi sosok jangkung berkulit pucat dengan mata merah menyala dan jubah compang-camping yang menyeret di lantai. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah peti obsidian. Cahaya dari dalamnya merembes lewat celah tutupnya, berdenyut dengan delapan warna yang bergantian: merah, biru, hijau, emas, dan empat lainnya.
Ia berjalan dengan dada membusung. Sudah seribu tahun pasukannya mencoba, dan semua gagal. Hari ini, dialah yang berhasil.
Pintu aula utama terbuka sendiri begitu ia mendekat.
Ruangan itu luas dan senyap. Di kedua sisinya berdiri tiang-tiang hitam, dan di antara tiang-tiang itu, para entitas sudah berbaris menurut tingkatannya. Di barisan terdepan, enam bayangan tinggi menunggu dengan sikap yang berbeda-beda: yang satu bersandar bosan, yang lain berdiri kaku seperti patung, dua lainnya sama-sama menyeringai dengan wajah yang persis kembar.
Gorgom tahu siapa mereka. Sawyer yang bertubuh kurus dan bertopeng kulit. Si kembar Hanz dan Hinz, yang tak pernah bicara sendiri-sendiri. Gangler yang tangannya lebih panjang dari tubuhnya. Endro yang diam-diam menghitung langkah siapa pun yang lewat. Xor yang matanya tertutup kain hitam, tapi selalu menatap lurus. Dan Marco, yang tersenyum ramah, senyum yang paling berbahaya di seluruh aula ini.
Di sisi lain berdiri para tingkat bawah. Froz si penjaga gerbang yang berkulit sisik. Hanzo yang bertubuh gempal dan membawa rantai. Anchor yang bermata cekung dan selalu bersiap membuang siapa pun yang gagal. Mereka semua menatapnya, sebagian dengan iri, sebagian dengan sesuatu yang lebih dingin.
Di ujung ruangan, di atas takhta yang dibuat dari ratusan tengkorak, duduk seseorang pemegang takhta kerajaan, namanya adalah Zaranos.
Dari jauh, ia tampak seperti pria biasa. Tubuhnya ramping, rambutnya hitam, wajahnya muda dan tampan, hampir lembut. Ia memakai kemeja gelap dan sebuah topi berlebar yang kini tergantung di salah satu sandaran takhta, sisa kebiasaan lamanya berkeliaran di dunia manusia. Tapi ketika matanya terangkat, napas Gorgom tercekat. Pupil itu menyempit menjadi garis tipis, seperti mata kucing yang menimbang mangsa, dan di balik sarung tangan hitamnya, cakar-cakar panjang bergerak pelan.
Di sampingnya berdiri seseorang yang membuat hawa di aula itu terasa lebih berat. Pria bertubuh raksasa, berlapis zirah merah tua, wajahnya tertutup helm tanpa celah. Galvanax. Entitas tingkat atas pertama, bayangan paling setia Zaranos, yang namanya saja cukup untuk membuat kroco gemetar.
Gorgom berlutut tepat tiga langkah dari takhta, lalu mengangkat peti itu dengan kedua tangan.
"Tuan Zaranos," ucapnya, suaranya bergetar oleh kebanggaan. "Seribu tahun kami menunggu. Akhirnya Hari ini, delapan kristal penyeimbang telah saya rebut dari tanah manusia. Langit sudah terbuka. Celahnya sudah menganga. Kebebasan Tuan tinggal selangkah lagi."
Zaranos tak segera menjawab. Ia hanya menatap peti itu, lalu menjentikkan jarinya pelan. Peti itu terbang dari tangan Gorgom dan mendarat di pangkuannya. Tutupnya terbuka dengan sendirinya.
Cahaya delapan warna menyembur keluar dan menyinari wajahnya. Untuk beberapa detik, seluruh aula terdiam. Mata kucing itu berkilat, dan bibirnya melengkung perlahan menjadi senyum yang sangat tipis.
"Seribu tahun, ya...." bisiknya, seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri. "Aku sudah lama menunggu momen ini...."
Ia mengangkat salah satu kristal, sebuah kristal merah yang berpendar seperti jantung yang berdetak, dan menggenggamnya erat di telapak tangannya. Lalu ia memejamkan mata.
Gorgom mengangkat kepalanya sedikit, menahan napas. Di sekelilingnya, para entitas lain ikut mencondongkan tubuh. Mereka tahu seharusnya kekuatan seribu tahun yang tertahan akan mengalir dari kristal itu ke tubuh tuan mereka, memutus rantai terakhir yang mengurungnya.
Detik berlalu.
Kristal itu tetap berpendar lembut, tapi tidak ada yang terjadi. Tak ada gelombang kekuatan, tak ada getaran di udara. Tak ada apa-apa.
Zaranos mengerutkan alisnya. Ia menggenggam lebih kuat, lalu mencoba kristal kedua, ketiga, keempat. Satu per satu ia mencoba, dan satu per satu kristal-kristal itu berpendar tanpa reaksi. Aula menjadi begitu sunyi sampai suara napas para kroco terdengar jelas.
Lalu Zaranos membuka mata.
Mata kucing itu sudah tidak lagi tenang. Pupilnya menipis tajam, dan urat-urat hitam menjalar naik di leher dan pelipisnya.
"Gorgom!."
Suara itu rendah, tapi membuat tiang-tiang obsidian bergetar.
"Y-ya, Tuan?"
"Kenapa kristal-kristal ini tidak memberiku apa-apa?"
Gorgom membuka mulutnya, tapi kata-kata menghilang dari kepalanya. "S-saya tidak tahu, Tuan. Saya merebutnya sendiri. Saya melihat segelnya runtuh. Langit terbuka, para kroco keluar. Saya pikir..."
"Kau pikir...." Zaranos berdiri. Peti obsidian itu jatuh dari pangkuannya dan menggelinding di lantai, kristal-kristalnya berhamburan, berdenting di antara kakinya. "Kau pikir kristal-kristal ini adalah kuncinya. Kau pikir, setelah seribu tahun, aku akan bebas hanya dengan menggenggam benda-benda ini."
"Tuan, saya..."
"Segel ini sepertinya punya lapisan lain." Zaranos berjalan turun dari takhta, langkahnya sangat pelan. Cakar-cakarnya mulai menembus sarung tangan. "Sang jenius sialan itu. Dia tak sebodoh yang kukira. Kristal-kristal ini hanya membuka celah, hanya cukup untuk melepas sampah. Dan sampah itu yang kau bawa kepadaku, seolah kau menyerahkan kemenangan."
Gorgom menempelkan dahinya ke lantai. "Mohon ampun, Tuan! Saya tidak tahu! Saya hanya menjalankan perintah..."
"bukannya perintahku adalah membawa kunci keberhasilan," potong Zaranos. "Bukan membawa separuh kunci dan menyebutnya hasil."
Dari barisan, Marco tersenyum tipis tanpa suara. Xor menggeser sedikit tubuhnya. Si kembar Hanz dan Hinz saling berbisik dengan nada yang sama. Tak seorang pun membela Gorgom.
"Ada lagi yang ingin kau laporkan?" tanya Zaranos dengan napas berat sambil berdiri tepat di depannya sekarang.
Gorgom menelan ludah. Ia tahu kejujuran bisa memperburuk keadaan, tapi diam lebih berbahaya lagi. "Ada seorang manusia, Tuan. Di lembah tempat kristal itu berada. Seorang pengembara muda. Ia melawan saya dan kalah. Saya biarkan ia hidup karena tidak ada artinya."
Mata zaranos makin menyipit dan ruangan bergetar yang membuat seluruh aula seakan menahan napas.
"kenapa kamu biarkan ia hidup?" Zaranos berbisik, dan bisikan itu jauh lebih mengerikan daripada teriakan. "Manusia yang melihat wajahmu? Manusia yang tahu letak kristal, tahu bahwa kau datang dari langit? Dan kamu tinggalkan ia bernapas, hanya karena merasa kasihan?"
"Bukan kasihan, Tuan! Ia lemah, ia..."
Zaranos mengangkat satu tangan.
Cakar-cakar itu keluar sepenuhnya dari balik sarung tangannya, panjang dan melengkung seperti pisau berburu. Gorgom mendongak, dan untuk pertama kalinya sejak seribu tahun, ia merasakan sesuatu yang selama ini hanya ia berikan pada manusia: rasa takut yang murni. Lalu getaran ditubuhnya membuat semua gelas yang ada disana berisi darah pecah berserakan
"Tuan, saya tingkat bawah satu! Saya masih bisa..."
"Dasar sampah, Kamu tak berguna lagi," kata Zaranos datar. "Entitas yang tak bisa membedakan kemenangan dari kegagalan hanya menghabiskan tempat, padahal aku cukup mempercayaimu sebagai entitas tingkat bawah 1"
Ia menoleh sedikit. "Galvanax."
Raksasa berzirah merah itu melangkah maju. Suaranya bergema dari balik helm tanpa wajah, dalam dan tanpa emosi. "Siap menjalani perintah, Tuan."
"tolong urus dan selesaikan."
"Tuan, kumohon!...kumohon ampuni aku...tuan.." Gorgom merangkak mundur, jubahnya tersangkut di lantai. "Beri saya satu kesempatan! Saya akan mencari manusia itu! Saya akan..."
Galvanax mengangkat tangan besinya. Cahaya merah menyala di sela jari-jarinya, dan tubuh Gorgom terangkat dari lantai, tergantung tak berdaya di udara. Kabut hitam yang dulu menjadi wujud tempurnya mengalir keluar dari tubuhnya, tercerai-berai seperti asap yang ditiup angin.
Ia hanya sempat menatap barisan entitas yang tadi memandangnya dengan iri. Froz memalingkan wajah. Hanzo menunduk. Anchor tak menunjukkan apa pun.
Lalu cahaya merah itu mengatup.
Ada bunyi seperti kaca pecah, kemudian sunyi. Di tempat Gorgom tadi melayang, hanya ada sedikit abu hitam yang jatuh perlahan ke lantai.
Tidak ada yang bersuara. Hanya Zaranos yang berbalik, mengambil kristal merah yang tergeletak di dekat kakinya, lalu memutar-mutarnya di antara jari.
"Entitas tingkat bawah satu ya...," gumamnya, hampir seperti mengejek. "Sekarang tempat itu kosong. Anchor, naiklah. Froz, Hanzo, geser. Isi tingkat bawah empat dengan yang baru."
"Baik, Tuan," ucap Anchor, suaranya datar.
Zaranos kembali ke takhtanya dan duduk. Ia meletakkan kristal itu di sandaran, lalu menatap para entitas satu per satu dengan mata kucingnya yang berkilat dingin.
"semuanya dengarkan aku baik-baik," katanya.
"Kristal-kristal ini hanya membuka retakan. Tapi segel itu punya lapis lain yang masih menahanku. Sang jenius tidak sebodoh itu menaruh seluruh kuncinya dalam satu tempat. Aku pasti yakin ada cadangannya. Aku bisa merasakannya, seperti rantai tipis yang masih melilit leherku."
"Cadangan, Tuan?" tanya Endro, entitas tingkat atas keempat, dengan suara dingin yang penuh perhitungan.
"ya...sesuatu yang tersebar. Sesuatu yang belum kita temukan." Zaranos mengetukkan cakarnya di sandaran takhta.
"Mulai malam ini, seluruh tingkat atas bergerak. Sawyer, Hanz, Hinz, Gangler, Endro, Xor, Marco, kalian cari tahu di mana mereka disembunyikan. Kerahkan kroco ke setiap sudut dunia. Rampas apa pun yang bisa dirampas, tapi cari benda yang menyimpan rantai itu, jangan sampai kalian mengecewakanku lagi."
Sawyer membungkuk dalam. Si kembar menyahut serempak, "Perintah diterima."
"lalu manusia yang melihat Gorgom itu bagaimana tuan zaranos?" Galvanax bertanya, helmnya sedikit menoleh.
Zaranos terdiam sejenak. Bibirnya melengkung, dan kali ini senyum itu tak ada kehangatan sama sekali.
"Biarkan dia," katanya pelan. "Kalau dia cukup bodoh untuk mencari kami, kita akan menemukannya lebih dulu."
Ia bersandar, memejamkan matanya yang kucing itu, dan menggenggam kristal merah di tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.
Di luar istana tulang, kabut merah bergolak. Dan di balik retakan langit yang mengintip dari kejauhan, sepasang mata kucing lain, yang jauh lebih kecil dan jauh lebih lapar, mulai menatap ke arah dunia manusia.