Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memastikan
Flashback On
“Pengkhianat kau, Gio. Kau bawa intel dan menghabiskan seluruh barangku.”
Gomes menodongkan senjata tepat di kepala Gio. Gio tidak terima, karena dia memang tidak tahu bahwa ada penyusup masuk ke kediamannya dan merusak segala.
“Bukan aku.”
“Lalu, kalau bukan kau, siapa? Mereka semua ingin menangkap kita. Mereka bekerjasama dengan intel Asia.”
“Itu bukan aku,” jawab Gio lagi.
Bugh
Gomes menendang kaki Gio, hingga dia berlutut.
“Letakkan kedua tangannya di atas. Cepat!”
Gio menurut. Senjata itu sudah berada di belakang kepalanya. Sekali saja, pelatuk itu meletuk, maka kepalanya pecah.
Namun, Gio melihat sosok perempuan di sana hingga tanpa berhitung detik, tembakannya tepat menembus tangan Gomes hingga senjata yang dipegangnya terjatuh.
Dari sana, Gio mulai menyadari keistimewaan Fiona karena perempuan itu adalah dia.
Gomes lumpuh. Dengan gagah dan keren ala Lara di film tomb rider, Fio mengerahkan pasukan untuk membekukan lawan. Namun, bukan hanya Gomes yang ditahan, Gio juga. Pria itu tetap dibawa ke kantor polisi. Akan tetapi, dia bebas karena sang ayah sudah lebih dulu menyelamatkan asetnya menjadi legal dan bagian yang tidak legal sudah diatasnamakan ke panti asuhan dan panti jompo.
Fio menatapku remeh saat aku dinyatakan bebas.
“Tidak bisa. Dia juga mafia. Tidak bisa bebas begitu saja.”
Gio tersenyum lalu mengedipkan satu matanya pada Fiona. “Kita pasti akan bertemu lagi.”
Satu bulan kemudian, setelah pulang ke tanah air. Fio membeli sepatu. Sepasang sepatu yang sudah dia incar dari dulu. Akan tetapi saat berada di kasir, Fio tidak perlu membayar sama sekali dan pelakunya adalah Gio.
Pria itu tersenyum dari kejauhan dengan kalimat yang datang dari sebuah notifikasi ponselku yang berbunyi. Tidak sudah untuk mengetahui nomor ponsel Fio.
“Sorry, aku baru bilang terima kasih. Dan, ini hanya hadiah kecil dari rasa terima kasih itu. Love you.”
Dahi Fiona mengernyit. “Orang gila!”
Flashback Off
Gio menatap sepasang sepatu yang terpasang di kedua kaki jenjang Fiona. Dia tersenyum. Kemudian, menatap lagi perempuan itu.
“Kenapa diam? Jadi, ucapanmu waktu itu hanya dimulut saja. Akh! Semua pria sama saja.”
Gio tertawa. “Aku sedang memperhatikan sepatu ini. Ternyata, masih kamu pakai. Atu mau aku belikan lagi?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku sedang serius.”
Gio menatap kedua mata Fio. “Apa aku terlihat tidak serius.”
“Gio.”
“Fio.”
Keduanya, sama – sama memanggil nama lawan yang kini saling berhadapan cukup dekat.
“Oke.” Fio memilih untuk bangkit dar duduknya. “Kalau tidak mau, tidak apa. Masih banyak laki – laki yang mau menikahi, SEKARANG.”
Kata SEKARANG seolah memprovokasi ego Gio yang ingin memiliki. Gio langsung menarik tangan Fiona beserta kopernya.
“Hei, apa – apaan ini!”
Fio berontak. Dia menepis tangan Gio hingga pria itu terpaksa menggendongnya.
“Gio … lepas!”
Dengan cepat, Gio membawa masuk Fio ke dalam mobil dan menguncinya. Lalu, memasukkan kopernya.
“Hei, turunkan aku!” kesal Fio.
Namun, Gio mengabaikan teriakan itu dan terus jalan.
“Gio, mau dibawa ke mana aku?”
Gio melirik. “Kita mau menikahkan?”
Tadi, Fio tidak sungguh – sungguh. Dia hanya ingin melihat kesungguhan Gio yang kerap mengganggunya dan terlihat sangat menyukainya.
Kepalanya menggeleng. “Tidak, turunkan aku!”
Gio ikut menggeleng. “Tidak. Denganku, tidak ada kata – kata yang bisa ditarik lagi.”
Fio takut. Kepalanya menggeleng lagi. “Gio, aku …!”
“Kamu mau dan aku mau. Deal! Kita menikah.”
Fio panik. “Tidak bisa.”
“Kenapa tidak bisa?”
“Karena tidak ada KUA yang buka malam – malam.”
“Kalau begitu, kita ke tempat ku.”
Fio semakin panik. “Tidak.”
“Kenapa tidak? Hanya menunggu sampai pagi. Aku harus memastikan kalau kamu tidak berubah pikiran.”
“Tidak, Gio. Ini tidak benar.”
Gio tertawa. “Siapa bilang, ini tidak benar? Ini benar.”
Fio semakin pusing. Kepalanya pening. Dia ingin hidupnya hening tanpa masalah malah semakin bermasalah. Lelah berdebat dengan Gio, ia pun pasrah. Dia tidak lagi panik atau berontak dan memilih mengarahkan pandangan ke jendela sembari melihat jalanan.
Pikiran Fio melayang. Napasnya mulai teratur hingga tak lama kemudian dia tidur. Rupanya, aroma terapi menenangkan dari mobil Gio seperti sihir atau seperti terdapat kandungan obat tidur yang membuatnya nyaman.
Gio menoleh. Sudut bibirnya melengkung. Kemudian, dia sengaja menepi sejenak untuk mengambil selimut yang berada di belakang jok. Lalu, menyelimuti tubuh Fio agar tidak kedinginan.
Sesampainya di vila, Gio sengaja tidak membangunkan Fiona. Dia memilih menggendongnya dan meletakkannya dengan hati – hati di atas ranjang ini.
“Ada lagi yang ingin disiapkan, Tuan?” tanya asisten rumah tangga yang selama ini menjaga dan merawat vila milik Gio.
Gio melihat dua minuman hangat yang sudah berada di atas meja samping ranjang ini..
“Tidak, Bi. Terima kasih.”
“Sami – sami, Tuan. Saya permisi, pamit.”
“Silakan.”
Gio membuka kancing lengan kemejanya, dia juga membuka kancing di dad4nya dan melepaskan kemeja itu lalu melemparnya asal.
Fio sadar. Kedua matanya terbuka dan ...
Bugh
“Mesvm!”
Gio terkejut karena selain mata Fiona yang terbuka dan berteriak, perempuan itu juga melemparkan bantal ke wajahnya dan itu kena.
Gio tersenyum. “Sorry. I never hurt you."
"Aku terpaksa membawamu ke sini untuk memastikan kalau mempelai wanitanya siap besok pagi.”
“Tidak, tadi aku salah bicara. Lagi pula, kita tidak bisa …”
“Siapa bilang?” potong Gio. “Aku sudah disunat.”