Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
"M-menyelamatkan nyawa...?" Haryo merangkak di tanah, berlutut memohon di kaki Tuan Baskoro.
"Tuan Besar! Ampuni saya! Saya tidak tahu! Saya benar-benar tidak tahu kalau pria ini kenalan Tuan Besar! Siska yang membodohi saya! Dia bilang ahli waris tanah ini sudah mati!" kata Haryo sambil menangis histeris.
"Haryo! Kenapa melimpahkan semuanya padaku?!" jerit Siska panik, wajahnya kini pucat pasi.
Mahardika melangkah maju beberapa langkah.
"Tuan Baskoro. Inilah orang-orang yang selama ini merusak nama baik perusahaan Anda di luar. Mereka menelantarkan anak kecil yang tak berdosa, memalsukan dokumen, dan membawa puluhan preman untuk mengintimidasi warga," kata Mahardika datar.
Tuan Baskoro memejamkan mata sejenak menahan amarah, lalu menoleh ke arah Kapolres Kota.
"Pak Kapolres. Sita seluruh aset Haryo dan Siska! Usut tuntas kasus pemalsuan dokumen, penipuan, penelantaran anak, hingga tindakan premanisme ini! Pastikan mereka berdua dan seluruh geng preman ini membusuk di dalam penjara seumur hidup mereka!" perintah Tuan Baskoro tanpa ampun.
"Siap, Tuan Baskoro!" tegas Kapolres. Ia segera memberi isyarat tangan pada belasan anggotanya.
"Tangkap mereka semua!"
Seketika, puluhan polisi bersenjata lengkap bergerak cepat. Bos Jarot dan tiga puluh preman yang tadinya sangat garang langsung menyerah tanpa perlawanan, diborgol satu per satu.
Haryo dan Siska menjerit-jerit histeris saat kedua tangan mereka dipasangi borgol besi.
"Mahardika! Ampuni aku! Aku ini adik iparmu!Mahardika! Tolong aku!" teriak Siska histeris sambil diseret oleh dua polisi.
Mahardika sama sekali tidak peduli dengan teriak Siska. Dia memang pantas di hukum.
Setelah seluruh preman, Haryo, dan Siska diangkut masuk ke dalam mobil tahanan dan dibawa pergi meninggalkan desa.
Ekskavator dan mobil-mobil jip yang ditinggalkan langsung diamankan oleh anak buah Tuan Baskoro.
Pak RT perlahan membuka pintu rumah dan menuntun Amel keluar.
Begitu melihat kondisi di luar sudah aman dan tidak ada lagi orang jahat, Amel langsung berlari kencang menerjang pelukan ayahnya.
"Papa!" seru Amel gembira.
Mahardika berjongkok dan menangkap tubuh kecil Amel, menggendongnya ke dalam pelukan hangat.
"Sudah aman, Sayang. Orang-orang jahat itu sudah ditangkap polisi," ucapnya menenangkan.
"Dokter Mahardika. Sebagai bentuk rasa terima kasih dan permohonan maaf atas tindakan mantan anak buah saya, sebidang tanah ini beserta seluruh area di sekitar desa ini akan saya balik namakan secara resmi atas nama putri Anda, Amel. Seluruh biaya pembangunan dan renovasi rumah ini akan ditanggung oleh Perusahaan Perkasa," ucap Tuan Baskoro tulus.
"Terima kasih atas kebaikan Anda, Pak Baskoro. Namun, cukup kembalikan hak tanah ini pada Amel, sisanya biar saya sendiri yang mengurusnya," jawab Mahardika dengan sopan.
"Tentu, Dokter Mahardika. Apa pun keputusan Anda, saya akan selalu mendukung. Oh ya, mengenai jamuan makan malam nanti, saya sangat berharap Dokter dan Amel bersedia hadir. Ada beberapa tokoh penting kota yang ingin saya kenalkan pada Anda," jawab Tuan Baskoro penuh rasa hormat.
Mahardika menatap Amel di dekapannya. "Bagaimana Sayang, apa kita pergi?" tanya Mahardika meminta persetujuan dari Amel.
"Iya Papa," jawab Amel mengangguk polos sambil tersenyum manis.
"Baiklah, Pak Baskoro. Nanti malam kami akan datang," jawab Mahardika mengangguk mantap.
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...