NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Masalah di Kepala desa

Hari kedua Fajar menjabat sebagai Kepala Cabang Pemasaran di pedalaman Kalimantan Timur resmi dimulai. Agendanya hari ini adalah menyusuri distrik kecil tersebut untuk memetakan wilayah dan memastikan tidak ada masalah serius di lapangan.

Pagi-pagi sekali, Fajar sudah selesai mandi. Dengan tingkat kepercayaan diri ala eksekutif ibu kota, ia mengganti pakaiannya dengan setelan kemeja putih dan jas berwarna biru langit yang rapi. Sangat modis, namun jelas salah kostum untuk ukuran daerah berdebu.

Ia keluar dari penginapannya dan mulai berjalan menuju ruko yang menjadi kantor cabangnya. Setibanya di sana, ketiga bawahannya yang sedang nongkrong di teras langsung berdiri tegap. Mereka menyambut bos baru mereka dengan membungkukkan badan layaknya menyambut pejabat negara.

"Selamat pagi, Bos!" sapa pemuda berambut gondrong dengan lantang.

"Selamat pagi," balas Fajar berwibawa sambil merapikan kerah jasnya. "Jadi, agenda pertama kita hari ini apa?"

Pemuda bertopi terbalik maju selangkah dengan wajah agak tegang. "Hari ini kita harus segera ke rumah Kepala Desa setempat, Bos."

Fajar mengernyitkan dahi. "Kenapa mendadak? Ada apa?"

"Katanya ada masalah besar di sana, Bos. Pak Kades marah-marah dari pagi."

Mendengar kata 'masalah', detak jantung Fajar langsung berpacu. "Baiklah, tunjukkan jalannya ke sana sekarang."

"Di sini arahnya, Bos. Mari ikuti saya," ucap si topi terbalik.

"Baik, kamu jalan duluan."

Mereka pun berjalan kaki menyusuri jalanan yang masih berupa tanah merah. Sepatu pantofel hitam Fajar yang tadinya mengilap kini mulai tertutup debu, tapi ia berusaha mengabaikannya. Suasana di desa itu sebenarnya cukup asri, dikelilingi pepohonan rimbun dan rumah-rumah panggung kayu ulin khas penduduk lokal.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah rumah kayu yang ukurannya paling besar dan memiliki halaman luas.

"Ini beneran rumah Kepala Desa?" tanya Fajar memastikan.

"Bener, Bos. Gak salah lagi. Ayo kita langsung ketuk pintunya," jawab si gondrong.

Fajar menarik napas panjang, melangkah maju ke teras kayu, lalu menggedor pintu perlahan. Tok... tok... tok.

Tak lama kemudian, pintu berderit terbuka. Seorang ibu rumah tangga paruh baya dengan daster sederhana menatap mereka dengan tatapan penuh tanya.

"Loh, ini rombongan dari mana, ya?" tanya ibu itu.

Fajar langsung memasang senyum ramah andalannya. "Ohh, perkenalkan, Bu. Nama saya Fajar. Saya Kepala Cabang Pemasaran dari perusahaan yang baru buka di ruko depan. Kabarnya, Bapak Kepala Desa merasa kurang nyaman dengan kehadiran kami. Sebagai penanggung jawab, saya harus tahu masalahnya apa agar bisa segera diselesaikan."

"Ouhh... orang perusahaan rupanya. Baiklah, silakan masuk dulu, Pak," ucap ibu itu seraya membuka pintu lebih lebar.

"Terima kasih, Bu."

Fajar dan ketiga bawahannya melepas sepatu mereka yang berdebu dan melangkah masuk. Ruang tamu itu didominasi perabotan kayu jati. Di ujung ruangan, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan tatapan tajam rupanya sudah duduk menanti mereka dengan tangan bersidekap.

"Ohh... jadi kamu sudah datang," ucap pria itu dengan nada berat.

Fajar tersenyum canggung. "Maaf, Anda siapa, ya, Pak?"

Pria itu tertawa pelan, namun tawanya sama sekali tidak terdengar ramah. "Hahaha. Saya ini Kepala Desanya, Anak Muda."

Fajar buru-buru menunduk hormat. "Ohh, jadi Bapak Kepala Desanya. Kalau begitu, langsung ke intinya saja, Pak. Kenapa Bapak tidak suka dengan kehadiran kami?"

Kepala Desa itu menatap Fajar lekat-lekat. "Bapak bukan tidak suka dengan perusahaan kalian. Bapak tidak suka dengan cara promosi kalian yang sewenang-wenang dan tidak punya sopan santun!"

Fajar membeku. Alisnya bertaut. "Promosi? Sejak kapan kami melakukan promosi? Saya selaku Kepala Cabang saja tidak tahu menahu soal itu."

Fajar langsung menoleh ke belakang, menatap tajam ketiga bawahannya seolah ingin menelan mereka hidup-hidup.

Melihat bos mereka melotot, si gondrong dan si topi terbalik langsung mengangkat jari membentuk pose peace dengan wajah pucat pasi. "Ahaha... sumpah, bukan kami, Bos! Kami berani sumpah pocong!" bisik si gondrong panik.

Fajar menghela napas kasar, memijat pelipisnya. "Haa... yaudah, nanti kalian gue urus di kantor," desisnya tertahan. Ia lalu kembali menatap Kepala Desa dengan senyum profesional yang dipaksakan. "Jadi, kalau boleh saya tahu, promosi seperti apa yang Bapak maksud?"

Kepala Desa itu mendengus kasar. Ia meraih segulung kertas tebal dari bawah mejanya dan membantingnya ke atas meja tamu.

Brak!

"Lihat sendiri!" serunya garang.

Fajar sedikit tersentak. Ia mencondongkan tubuhnya dan membuka gulungan itu. Itu adalah sebuah spanduk promo berwarna kuning mencolok dengan tulisan merah raksasa: "OBRAL GILA-GILAAN! BARANG KOTA MASUK DESA! DISKON 50% KHUSUS HARI INI SAJA! YANG GAK BELI RUGI BANDAR!"

Fajar menelan ludah. Desain macam apa ini? Norak banget, astaga, batinnya merintih.

"Tadi pagi-pagi buta, sewaktu warga desa masih banyak yang sholat subuh, ada mobil pikap bak terbuka keliling desa pakai toa (pengeras suara) kencang-kencang," jelas Kepala Desa dengan nada marah. "Belum lagi, orang-orang arogan itu seenaknya memasang spanduk ini menutupi jalan masuk utama Balai Desa tanpa izin! Di mana tata krama kalian?!"

Rahang Fajar mengeras. Ia melirik tajam ke arah si gondrong dan memberi isyarat mata. Si gondrong langsung mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Fajar.

"Itu... kelakuannya Pak Joni, Bos. Kepala Gudang Logistik yang dari pusat. Dia ngerasa lebih senior dan megang kunci gudang, jadi tadi pagi dia maksa bawa barang dan spanduk sendiri tanpa nunggu instruksi Bos," lapor si gondrong dengan suara gemetar.

Darah Fajar mendidih. Si Joni sialan! Belum juga gue mulai kerja, malah dia yang bikin ranjau di depan mata.

Namun, marah di depan klien bukanlah gaya Fajar. Ia harus meredam situasi ini sebelum nama perusahaannya di-blacklist oleh satu desa, dan sebelum Kirana mendengar kabar memalukan ini di Jakarta.

Fajar menatap langsung ke mata Kepala Desa dengan ekspresi sangat serius dan tulus.

"Bapak Kepala Desa, saya atas nama pribadi dan perusahaan memohon maaf yang sebesar-besarnya atas insiden memalukan pagi ini," ucap Fajar tegas, tanpa sedikit pun nada keraguan. "Orang yang melakukan itu bertindak di luar komando saya. Saya pastikan, sebelum jam dua belas siang ini, seluruh spanduk yang mengganggu akan dicopot, dan pengeras suara itu tidak akan menyala lagi tanpa izin resmi dari Bapak."

Kepala Desa itu terdiam sejenak. Matanya menyusuri penampilan Fajar yang necis, seolah mengukur apakah pemuda kota ini hanya pandai membual atau benar-benar punya nyali.

"Pemuda kota memang selalu pandai bicara," sindir sang Kepala Desa sambil tersenyum miring. Istrinya tiba-tiba datang membawa nampan berisi lima gelas minuman hitam pekat yang asapnya masih mengepul.

"Kalau kamu memang pimpinan di sini, dan kalau ucapanmu bisa dipegang..." Kepala Desa menunjuk salah satu gelas di atas meja. "Buktikan dulu niat baikmu. Minum Kopi Akar ini sampai habis. Ini tradisi kami menyambut tamu yang ingin bernegosiasi."

Fajar menatap gelas itu. Bau ramuan akar-akaran yang sangat tajam dan pahit langsung menusuk hidungnya, membuat perutnya otomatis bergejolak. Bawahannya di belakang sudah saling sikut dengan ngeri; mereka tahu seberapa mematikan rasa minuman tersebut bagi orang yang tidak terbiasa.

Namun, bayangan wajah dingin Kirana dan senyum mengintimidasi Bapak Direktur Utama tiba-tiba melintas di kepalanya. Gagal di hari kedua bukanlah sebuah pilihan.

"Baik, Pak," jawab Fajar mantap.

Tanpa ragu, Fajar meraih gelas panas itu. Ia memejamkan mata dan menenggak Kopi Akar yang rasanya seperti campuran lumpur, kayu gosong, dan jamu paling pahit di dunia, langsung habis dalam tiga tegukan panjang.

Kepala Desa membelalakkan matanya sedikit, jelas tak menyangka pemuda berjas biru langit itu punya keberanian senekat ini. Fajar meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja, menahan rasa mual yang luar biasa dengan senyum simpul yang dipaksakan bergetar.

"S-sudah saya minum, Pak. Sekarang... izinkan saya pergi mengurus kekacauan ini," kata Fajar dengan suara agak serak menahan pahit.

Kepala Desa itu akhirnya tertawa lepas, kali ini tawa yang jauh lebih bersahabat. Ia mengangguk puas. "Silakan, Bos Fajar. Saya tunggu bukti nyatamu."

Siapkah Fajar menghadapi konfrontasi langsung dengan Pak Joni sang "Raja Kecil" di ruko setelah perutnya diaduk-aduk oleh Kopi Akar?

Fajar melangkah keluar dari rumah Kepala Desa dengan langkah cepat dan tegap. Di belakangnya, ketiga bawahannya mengikuti dengan pandangan penuh rasa segan. Mereka tidak menyangka bos kota yang kelihatannya necis itu berani menenggak Kopi Akar kebanggaan desa dalam satu tarikan napas.

Namun, di balik wajah sok kuatnya, perut Fajar terasa seperti sedang digiling mesin cuci. Rasa pahitnya menyebar ke seluruh rongga mulut hingga ke ubun-ubun.

Setibanya di ruko, Fajar melihat sebuah mobil pikap bak terbuka terparkir sembarangan. Di teras, seorang pria bertubuh gempal dengan kemeja flanel—Pak Joni, sang Kepala Logistik—sedang duduk santai sambil merokok dan meminum es kopi.

Melihat Fajar datang, Pak Joni tersenyum meremehkan. "Gimana, Bos Muda? Kaget lihat strategi gerilya saya? Makanya, kalau kerja di lapangan itu harus gercep, jangan kelamaan mikir di balik meja."

Tanpa membuang waktu, Fajar berjalan lurus mendekati pria itu. Matanya menatap tajam, aura kepemimpinannya menguar kuat, menutupi rasa mual di perutnya.

"Tarik semua spanduk norak itu sekarang juga, dan matikan pengeras suara di mobil itu," perintah Fajar dengan nada dingin dan berat.

Pak Joni mendengus, mematikan rokoknya. "Loh, Anda ini gimana? Saya ini lagi bantu ngejar target—"

Brak!

Fajar memukul meja besi di depan Pak Joni, membuat pria itu terlonjak kaget.

"Saya tidak butuh bantuan yang menghancurkan nama baik perusahaan!" potong Fajar tegas. "Saya adalah Kepala Cabang Pemasaran di sini. SK saya ditandatangani langsung oleh Direktur Utama. Semua strategi promosi ada di bawah wewenang saya. Tarik semua spanduk itu dalam waktu lima belas menit, atau detik ini juga saya kirim email rekomendasi pemecatan Anda ke HRD Pusat atas tuduhan sabotase operasional!"

Keheningan menyelimuti teras ruko. Pak Joni menelan ludah dengan susah payah. Nyalinya seketika ciut melihat kilat amarah di mata Fajar. Ia buru-buru berdiri. "B-baik, Pak Fajar. Saya dan tim logistik akan cabut spanduknya sekarang."

Saat Pak Joni lari terbirit-birit mengurus kekacauannya, ketiga bawahan Fajar bersorak tertahan. Si rambut gondrong mengacungkan dua jempol. "Gila, Bos! Keren banget! Tumbang juga tuh si Joni!"

Fajar hanya mengangguk lemah. Tiba-tiba, pandangannya mulai kabur. Bumi seolah berputar lebih cepat.

"Bos? Bos Fajar pucat banget," tegur si topi terbalik panik. "Aduh, Kopi Akar itu emang efeknya bikin kliyengan parah kayak orang mabuk buat yang gak pernah minum! Bos istirahat dulu di dalam!"

Mereka memapah Fajar masuk ke dalam ruang kerjanya yang sempit. Fajar menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Kepalanya terasa sangat ringan, seolah melayang. Dalam kondisi setengah sadar dan mabuk efek ramuan herbal tradisional tersebut, otak Fajar hanya memikirkan satu hal: ia harus melapor bahwa misinya hari ini berhasil.

Tangannya yang gemetar merogoh saku jas, mengeluarkan ponsel, dan menekan nomor panggilan cepat. Panggilan ke kantor pusat di Jakarta.

Tuut... Tuut...

"Kantor Pusat Pemasaran, dengan Sinta," terdengar suara datar yang familier dari seberang sana.

"Halo... Mbak Sinta..." gumam Fajar dengan suara melantur dan logat yang mulai tidak karuan. "Bilangin... bilangin ke bos kamu... urusan Kades udah aman... Joni udah gue semprot..."

Di Jakarta, Sinta sedikit mengernyitkan dahi. Ia langsung bangkit dari mejanya dan mengetuk pintu ruang direktur. Ia masuk dan meletakkan ponselnya di atas meja Kirana dengan mode loudspeaker.

"Bu Direktur, maaf menyela," lapor Sinta tenang. "Ada panggilan dari Kepala Cabang Kalimantan. Sepertinya... beliau sedang di luar kesadaran."

Kirana mengerutkan kening. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah ponsel. "Fajar? Kamu kenapa? Kamu minum alkohol di jam kerja?!"

Mendengar suara Kirana, Fajar justru tertawa konyol di seberang sana. "Hehehe... Kirana... bukan alkohol... kopi pahit banget... tapi aku berhasil, Na..."

Wajah Kirana langsung bersemu merah mendengar panggilan informal itu bocor di depan Sinta. "Fajar! Jaga bicaramu, ini saluran kantor!"

Namun Fajar yang sedang mabuk Kopi Akar sama sekali tidak peduli. "Biarin aja... aku udah beresin masalahnya hari ini... hebat kan aku? Semua ini demi kamu... biar kamu bangga... biar bapak kamu gak misahin kita lagi..." Suara Fajar semakin mengecil, berubah menjadi gumaman manja. "...kepala aku pusing banget, Na... aku kangen kamu..."

Sinta berdeham pelan sambil memalingkan wajah, pura-pura menyusun dokumen di sudut ruangan untuk menyembunyikan senyum tipisnya.

Kirana menggigit bibir bawahnya, wajahnya kini semerah kepiting rebus. Rasa marah, panik, sekaligus haru campur aduk di dadanya.

"Fajar... kamu tidur sekarang. Istirahat. Kita bahas ini nanti," ucap Kirana dengan suara yang berusaha dipertahankan ketegasannya, meski terdengar sangat lembut.

"Iya, Sayang... mmuah..."

Bruk! Terdengar suara benda jatuh di seberang sana, disusul oleh suara dengkuran halus. Fajar pingsan tertidur di atas mejanya.

Kirana menatap layar ponsel yang perlahan mati. Ia menghela napas panjang sambil memijat pangkal hidungnya, berusaha meredakan detak jantungnya yang berdebar tak karuan.

Fajar pasti akan mati kutu saat terbangun dan menyadari apa yang baru saja ia katakan besok pagi.

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!