NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum Iblis x Saksi Bisu 2

‎   Reza dan Poltak terus memacu langkah mereka. Gedung Teater Lama terletak di ujung paling belakang kawasan FIB, berbatasan langsung dengan area hutan kampus dan danau yang tak terawat. Jaraknya cukup jauh dari pusat aktivitas mahasiswa, dan karena kondisinya yang sudah lama tidak dipakai, tempat itu dikelilingi ilalang tinggi dan pohon-pohon rindang yang membuat suasananya selalu remang-remang meski di siang hari.

‎

‎Napas Reza memburu, dadanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum karena tulang rusuknya yang belum sembuh dipaksa bekerja ekstra. Namun, di dalam kepalanya, memori kelam Mei 1998 kembali berputar. Saat itu, ia hanya bisa berdiri mematung melihat Chintya dibawa pergi karena ia terlalu kecil, terlalu lemah, dan situasi terlalu kacau. Ia benci perasaan tidak berdaya itu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah lagi membiarkan orang terdekatnya terluka jika ia masih bisa berlari. Dan Dini, senior yang selalu baik padanya itu, kini berada dalam bahaya besar.

‎

‎Saat mereka berlari melewati area parkir samping, mata Reza yang tajam sempat menangkap sebuah pemandangan di balik pepohonan. Kaca jendela Honda Jazz yang terbuka sedikit menampilkan wajah Kevin yang sedang tersenyum sinis melihat ke arah mereka.

‎

‎Reza memicingkan mata, menyadari ada yang tidak beres dengan keberadaan Kevin di sana. Ini pasti ulah si bajingan itu, batin Reza menggelegak. Namun, ia tidak punya waktu untuk melabrak Kevin sekarang. Prioritasnya adalah nyawa dan keselamatan Dini. Ia membuang pandangannya dari Kevin dan menambah kecepatan larinya.

‎

‎"Woy, Za! Tunggu aku! Paru-paruku macam mau pecah rasanya!" teriak Poltak dari belakang, tubuh besarnya berguncang-guncang, keringat membasahi kemejanya hingga tembus pandang.

‎

‎"Cepetan, Tak! Gudangnya di depan situ!" balas Reza.

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Sesampainya mereka di pelataran Teater Lama yang dipenuhi daun kering dan rumput liar, suasana terasa sangat sunyi. Terlalu sunyi. Pintu kayu ganda gedung tua itu tertutup rapat, catnya terkelupas di sana-sini.

‎

‎Di dalam ruangan yang gelap dan berbau debu, tragedi itu sedang terjadi. Dini, sang primadona kampus, meronta sejadi-jadinya. Air matanya mengalir deras, suaranya habis karena berteriak minta tolong, namun tidak ada yang bisa mendengarnya di ujung kampus yang sepi ini. Dua preman bertubuh besar itu memeganginya dengan kasar. Tawa menjijikkan mereka menggema di ruangan kosong itu, mengubah hari yang cerah menjadi mimpi buruk paling kelam dalam hidup Dini. Ia tidak bisa melawan kekuatan dua pria dewasa yang brutal itu.

‎

‎BRAK!

‎

‎Tepat saat Reza dan Poltak hendak mendobrak pintu depan, pintu kayu kecil di bagian samping gedung—pintu jalur evakuasi yang langsung mengarah ke hutan kampus—terbuka dengan kasar.

‎

‎Dua preman berbadan besar, lengkap dengan jaket kulit imitasi mereka yang lusuh, berhamburan keluar dari sana. Wajah mereka terlihat panik namun menyeringai, sambil merapikan celana dan jaket mereka.

‎

‎Melihat dua wajah yang menghancurkan warkop semalam, darah Poltak dan Reza langsung mendidih.

‎

‎"Itu mereka, Za! Preman botak anjing itu!" teriak Poltak, menunjuk ke arah dua pria yang kini mulai berlari ke arah semak-semak menuju stasiun UI.

‎

‎Reza menoleh ke arah pintu utama gedung yang masih tertutup, lalu menatap Poltak dengan tegas. Situasinya kritis. Ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam, tapi ia tidak bisa membiarkan bajingan-bajingan itu lolos begitu saja.

‎

‎"Tak! Lo kejar mereka berdua! Jangan sampai lolos! Gue bakal masuk ke dalam nolongin Mbak Dini!" perintah Reza cepat.

‎

‎Poltak mengangguk, matanya memerah karena amarah yang memuncak. "Biar kucincang mereka jadi perkedel!" raung Poltak.

‎

‎Dengan tenaga yang entah datang dari mana, pemuda Batak bertubuh gempal itu berlari mengejar kedua preman tersebut, menerobos ilalang setinggi dada. "Woy, berhenti kelen babi hutan! Jangan lari kelen!" teriak Poltak menggelegar.

‎

‎Di tengah pengejarannya yang brutal, Poltak berpapasan dengan dua orang Satpam kampus yang sedang berpatroli menggunakan sepeda motor bebek.

‎

‎"Woy Pak Satpam! Turun kelen! Jangan santai-santai minum kopi aja kerjaan kelen! Ada penculik lari ke arah stasiun! Kejar pakai motor itu, cepat!" teriak Poltak sambil terus berlari ngos-ngosan, menunjuk ke arah preman yang semakin jauh.

‎

‎Satpam yang kaget melihat mahasiswa bertubuh raksasa dengan wajah lebam berlari sambil berteriak-teriak histeris, sempat kebingungan selama beberapa detik sebelum akhirnya memutar balik motor mereka dan ikut mengejar. Namun, preman-preman pasar induk itu sangat gesit. Mereka sudah terbiasa dikejar Satpol PP di pasar. Dalam hitungan menit, mereka berhasil menyelinap ke celah pagar pembatas kampus yang rusak, melompat ke area permukiman warga, dan menghilang tanpa jejak dari kejaran Poltak dan pihak keamanan kampus. Poltak merosot di tanah, memukul tanah dengan frustrasi.

‎

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!