NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Sumpah Setinggi Langit

Radhika membuka pintu penumpang dan menyerahkan dua kantong kepada Naila.

Kantong pertama berisi dua stoples lemon madu buatan tangannya. Kantong kedua menyimpan satu set perhiasan: kalung berlian merah muda, anting, gelang, cincin kecil, lengkap dengan sertifikat batu dan asuransi.

Naila membuka kotak paling besar. Batu merah muda di tengah kalung memantulkan cahaya ke langit-langit mobil. Total berlian dalam set itu hampir dua puluh karat, angka yang membuat tangannya langsung menutup kotak kembali.

"Ini terlalu mahal."

"Sudah diasuransikan. Dokumennya atas namamu setelah kamu setuju menerima. Kalau nggak mau, Mas kembalikan ke toko."

"Mas benar-benar tanya persetujuanku?"

"Hadiah bukan kewajiban. Kamu boleh menolak."

Naila memeluk kotak itu. "Aku terima. Tapi jangan tiba-tiba beli satu toko."

"Tergantung story berikutnya."

"Mas habis berbuat salah?" tanya Naila. "Mau menyuap aku?"

"Hadiah."

"Karena story kalung kemarin?"

Radhika menatap lurus ke depan. Naila mendekat, menahan sisi kursi agar wajah mereka sejajar.

"Mas gugup, ya? Jangan menghindar."

Jarak napas mereka tinggal sangat tipis. Radhika memejamkan mata satu detik, lalu mundur tegas sampai punggung menyentuh pintu.

"Duduk yang benar."

Naila langsung mengerti. "Mas cemburu!"

"Nggak."

"Kalau nggak cemburu, kenapa datang sendiri dan membawa perhiasan satu lemari?"

"Mas memang mau kasih."

"Kapan belinya?"

"Pagi setelah lihat story."

"Berarti cemburu."

Radhika memilih diam. Naila tertawa puas karena diamnya lebih jujur daripada penyangkalan.

"Makanya langsung kasih kalung lebih mahal."

Ia memeluk leher Radhika dari samping dan menggesekkan pipi dengan cepat. "Aku sayang banget sama Mas."

Radhika melepaskan tangannya perlahan. "Turun. Kamu ada kelas."

"Aku cuma punya satu Mas. Story itu karanganku sendiri."

"Mas tahu sekarang."

Naila menggenggam gelang merah di pergelangan. "Kalau aku mau sesuatu, Mas selalu kasih?"

Radhika memandangnya serius. "Apa pun yang kamu mau, Mas kasih. Kalau kamu minta bintang di langit pun Mas carikan cara mengambilnya."

"Sumpah?"

"Sumpah."

"Kalau aku minta Mas berhenti menjauh?"

Radhika terdiam. Permintaan itu jauh lebih sulit daripada bintang.

"Mas akan berusaha," katanya akhirnya.

"Bukan jawaban penuh."

"Karena Mas belum bisa kasih jawaban penuh. Tapi Mas nggak akan meninggalkan kamu."

Naila menerima perbedaan kecil itu meski belum memahaminya.

Jantung Naila bergetar. "Terus Mas nggak cari istri? Nggak punya anak?"

"Itu urusan Mas. Kamu nggak perlu memikirkan."

"Kalau Mas sendirian, siapa yang menemani waktu tua?"

"Kamu."

"Kalau aku sudah menikah?"

Radhika tidak suka pertanyaan itu. "Mas nggak minta jawaban hari ini. Yang penting kamu hidup sesuai pilihanmu. Jangan karena utang hadiah, janji orang tua, atau merasa harus membalas siapa pun."

Kalimat terakhir terdengar seperti nasihat untuk Naila sekaligus penolakan terhadap perjodohan dirinya sendiri.

Jawaban tersebut tidak menghapus bayangan Anindya, tetapi janji Radhika membuat Naila mengangguk kuat.

Sore harinya, klub tenis UI mengadakan pertandingan persahabatan. Naila dipasangkan melalui undian dengan Rangga Saputra, ketua klub tingkat tiga. Mereka menang dalam dua set dan memperoleh boneka beruang hampir setinggi pinggang sebagai hadiah.

Rangga bermain agresif di depan net, sedangkan Naila menjaga garis belakang. Ketika Naila gagal mengembalikan satu bola, Rangga hanya mengetukkan raket dan berkata, "Poin berikutnya."

Di set penentuan, servis Naila tidak dapat dikembalikan lawan. Teman klub bersorak. Rangga mengangkat telapak untuk tos dan Naila membalas.

"Kamu seharusnya ikut tim kompetisi kampus," katanya.

"Aku masih ada klub tari."

"Coba satu bulan. Kalau nggak suka, berhenti."

"Bawa saja," kata Rangga. "Kamarku nggak muat."

"Kos-ku juga penuh."

"Kalau begitu aku bantu antar. Sekalian beli es kopi. Arah kita sama."

Sepanjang jalan, Rangga bercerita bahwa ia juga lulusan SMA Negeri 3 Bandung.

"Aku kelas tiga waktu kamu kelas satu," katanya. "Mungkin kita pernah berpapasan."

"Berarti dunia sempit."

"Atau memang jodoh."

"Kakak tingkat selalu segombal ini?"

"Hanya ke partner yang membawa menang."

Naila menolak tawaran Rangga untuk masuk kamar dan menerima boneka di area publik. Rangga tidak memaksa, hanya meminta izin mengirim jadwal lewat grup klub.

Naila tertawa karena mengira itu candaan. Di lantai tiga kos seberang, Vania mengangkat kamera dan memotret saat Rangga menyerahkan beruang di depan pintu.

Gita hampir menjatuhkan buku ketika melihat perhiasan dari Radhika.

Naila menunjukkan sertifikat dan dokumen asuransi, lalu mengunci seluruh set dalam kotak penyimpanan bank mini yang dibawa Pak Slamet. Ia tidak berniat memakai batu sebesar itu ke kelas.

"Kalung untuk story saja sudah cukup memancing masalah," katanya. "Yang ini kusimpan aman."

"Mas-mu suka sama kamu, ya?"

"Sayang sebagai kakak."

"Kamu boleh yakin pada perasaanmu sendiri. Kamu nggak bisa menjamin dia cuma menganggapmu adik."

Naila terdiam. Ponsel pengelola kos berbunyi sebelum ia menjawab.

Rekaman menunjukkan Vania memasukkan dua stoples dan kalung kristal ke dalam tas. Tanda kamera terlihat jelas di pintu, waktu kunjungan tercatat, dan Gita serta pengelola menjadi saksi akses.

Pada menit pertama, Vania memang mengambil kabel miliknya. Ia sudah bisa pergi. Namun, ia berdiri di depan meja Naila, membaca label stoples, lalu melihat kalung. Ia menoleh ke tanda kamera dan menggeser boneka, tetapi sudut lensa tetap merekam tangannya.

"Dia tahu," bisik Gita.

Naila merasa sedih sebelum marah. Vania diberi kesempatan datang secara resmi dan tetap memilih mengambil.

Naila tidak langsung menyebarkan tuduhan. Ia menyalin rekaman, mencetak bukti kepemilikan, mencatat kerugian, lalu berkonsultasi dengan bantuan hukum kampus. Karena ada pengambilan barang bernilai dan riwayat kekerasan terhadap Gita, mereka membuat laporan polisi ditemani pengelola.

Petugas menerima rekaman asli tanpa potongan, nilai verifikasi berkas dari sistem pengelola, daftar akses pintu, nota kalung, nomor seri, foto posisi sebelum kejadian, dan catatan klinik Gita sebagai peristiwa terpisah. Naila dan Gita memberi keterangan masing-masing.

"Jangan unggah videonya," pesan petugas.

"Kami tidak akan unggah," jawab Naila.

Jumat siang, polisi dan pihak kampus memanggil Vania. Dalam pemeriksaan yang disaksikan petugas perempuan, dua stoples dan kalung ditemukan di laci terkunci miliknya. Nomor seri cocok dengan dokumen Naila.

Vania menangis. "Aku cuma pinjam."

"Kamu pernah meminta izin?" tanya Naila.

Vania menunduk.

"Aku sudah memberi satu stoples. Kamu mencuri jaket, merusak kotak musik, mencakar Gita, lalu kembali mengambil. Aku terus memaafkan karena ingat kita pernah berteman. Kamu memakai itu sebagai kesempatan baru."

"Semua karena kamu pamer!" Vania meledak. "Kamu selalu menunjukkan apa yang Radhika kasih."

"Barangku bukan izin untuk kamu ambil. Perhatian orang lain juga nggak bisa direbut dengan menyakitiku."

Petugas memisahkan percakapan dan melanjutkan pemeriksaan satu per satu.

"Kamu memasukkannya ke tas dan menyimpan di kamar lain," kata petugas. "Itu bukan meminjam."

Naila tidak ingin menghancurkan masa depan seseorang, tetapi ia juga tidak bersedia menghapus akibat. Ia menyampaikan kesediaan untuk proses keadilan restoratif jika syarat hukum terpenuhi: semua barang kembali, biaya kerusakan diganti, Vania mengakui perbuatan di hadapan kampus, mengikuti konseling, dan tidak mendekati Naila atau Gita.

Keputusan bukan milik Naila seorang. Polisi, kampus, Vania, dan penasihat masing-masing harus menilai serta mencatat kesepakatan.

Petugas menjelaskan bahwa pendekatan restoratif hanya dapat dipertimbangkan jika Vania mengaku tanpa paksaan, barang kembali, kerugian dipulihkan, risiko pengulangan dinilai, dan aturan yang berlaku memungkinkan. Jika syarat gagal, proses formal tetap berjalan.

Naila mengerti bahwa memaafkan secara pribadi tidak sama dengan menghapus catatan perbuatan.

"Tolong jangan suruh aku minta maaf di depan kelas," mohon Vania. Ia berlutut sebelum petugas menyuruhnya berdiri. "Aku malu."

"Gita juga malu datang dengan wajah dicakar. Aku juga malu barangku dibongkar. Kenapa cuma malumu yang harus dijaga?"

Vania tidak mampu menjawab.

Naila memandang wajah mantan temannya. "Aku setuju permintaan maaf dilakukan tertutup di depan pihak kampus, asal larangan mendekat dan konseling tetap berjalan. Tapi kalau kamu mengulang, aku nggak akan meminta keringanan lagi."

Vania mengangguk sambil menangis.

Gita menambahkan syarat agar biaya kliniknya diganti dan Vania menandatangani pernyataan tidak menghubunginya secara langsung. Semua komunikasi harus melewati petugas kampus.

"Aku setuju," kata Vania cepat.

Petugas meminta ia membaca setiap poin sebelum menandatangani. Tangis dan rasa malu tidak boleh membuat kesepakatan menjadi sesuatu yang kelak diklaim tidak dipahami.

Semua barang dikembalikan, termasuk jaket hitam yang sebelumnya sudah diletakkan di depan kamar. Catatan restitusi dan perintah jarak disimpan kampus. Proses akhir menunggu penilaian resmi, bukan janji lisan.

Kampus memindahkan Vania dari seluruh kelompok tugas yang sama dan menetapkan petugas kemahasiswaan sebagai penghubung. Konseling bukan pengganti tanggung jawab, tetapi menjadi bagian agar pola obsesif tidak tumbuh tanpa penanganan.

Di depan petugas, Vania terlihat menyesal. Namun, saat berjalan keluar dan tidak ada yang melihat wajahnya, tangannya mengepal.

Ia tidak menganggap kesempatan itu sebagai belas kasih.

Dalam hati, Vania bersumpah suatu hari akan membalas Naila berkali-kali lipat.

Ia sudah kehilangan akses langsung ke kamar dan kelompok kelas. Karena itu, kebenciannya tidak lagi mencari barang kecil untuk dirusak. Ia mulai menunggu kesempatan yang lebih besar, lebih tersembunyi, dan lebih menyakitkan.

Kesempatan kedua dari Naila tidak menumbuhkan penyesalan. Di tangan Vania, kesempatan itu berubah menjadi waktu untuk menyusun dendam.

Ia pergi dengan kepala tertunduk, menyembunyikan kebencian yang belum benar-benar dilihat siapa pun di dalam ruangan itu pada hari tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!