NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

BAB 14

KITA NGGAK SEDARAH

Raka datang ke Studio Widuri empat kali dalam delapan hari.

Pertama membawa charger yang tertinggal. Kedua mengantar makanan dari Bu Imas. Ketiga menawarkan bantuan memperbaiki komputer. Keempat datang tanpa alasan yang masuk akal, hanya membawa dua kopi dan senyum yang membuat Wiwid tidak nyaman.

"Kuliah lo nggak ada tugas?" tanyanya.

Raka meletakkan kopi di meja. "Sudah selesai."

"Teman lo nggak ada?"

"Ada."

"Terus kenapa tiap hari di sini?"

"Pengen ketemu Bibi."

Wiwid berhenti memeriksa foto.

Setelah kejadian bersama Alvin di apartemen, ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya diabaikan. Cara Raka diam ketika melihat Alvin. Cara matanya mengikuti Wiwid di studio. Cara ia selalu menemukan alasan untuk tinggal sampai kru terakhir pulang.

Itu bukan tatapan seorang keponakan.

Wiwid memutar kursi. "Duduk. Kita bicara."

Raka menurut.

"Lo sudah delapan belas, kuliah, dan mungkin lagi merasa semua perhatian berarti cinta." Wiwid memilih kata perlahan. "Cari perempuan seusia lo. Jangan terus datang ke sini."

"Kenapa?"

"Karena gue Bibi lo."

"Bibi angkat."

"Tetap saja keluarga."

Raka menatapnya tanpa berkedip. "Bibi menyuruh aku cari perempuan lain karena terganggu atau karena takut?"

"Gue nggak takut apa-apa."

"Kalau begitu lihat aku waktu ngomong."

Wiwid langsung mengangkat wajah. "Jangan kurang ajar."

"Aku nggak kurang ajar. Aku cuma capek dianggap anak kecil."

"Lo memang masih anaknya Kang Herman."

"Aku juga laki-laki dewasa."

Udara studio mendadak terasa sempit. Wiwid berdiri dan menunjuk pintu.

"Pulang."

Raka tidak bergerak. "Aku suka Bibi dari dulu."

Pengakuan itu jatuh tanpa hiasan.

Wiwid tertawa sekali, terlalu keras. "Suka apaan? Gue yang ganti popok lo."

"Bukan Bibi. Mamah."

"Gue yang gendong lo waktu demam."

"Itu juga bisa dilakukan orang yang bukan keluarga."

"Raka!"

Seorang asisten mengintip dari ruang rias. Wiwid menurunkan suara dan menarik Raka ke ruang penyimpanan yang lebih tertutup.

"Kalau ada yang dengar, nama keluarga kita jadi bahan omongan. Bapak lo bisa hancur karena malu. Bu Imas akan pikir gue merusak anaknya."

"Bibi nggak merusak aku. Perasaan ini punya aku."

"Dan gue nggak membalas. Jelas?"

Raka menelan ludah. "Lihat mataku dan bilang nggak pernah merasakan apa-apa."

Wiwid menatapnya. Wajah ini masih menyimpan garis anak yang pernah tidur di pangkuannya, tetapi bahunya sudah lebih lebar dan suaranya tidak lagi milik bocah.

"Nggak pernah," katanya.

Raka mengangguk pelan. "Bohong."

Wiwid membuka pintu penyimpanan. "Keluar."

"Aku pulang kalau itu memang yang Teteh mau."

Sapaan itu membuat Wiwid menegang. "Panggil Bibi."

"Nggak mau."

"Keluarga mengajarkan begitu."

"Keluarga juga tahu kita nggak sedarah."

Raka mengambil tasnya. Sebelum pergi, ia menatap Wiwid sekali lagi.

"Aku akan berhenti datang ke studio. Tapi aku nggak bisa pura-pura perasaan ini nggak ada."

Ia benar-benar pergi.

Sepanjang sisa sesi, Wiwid salah menyebut nomor file tiga kali.

Saat istirahat, Pak Herman menelepon.

"Raka masih di studio?"

Wiwid melihat pintu yang baru dilewati pemuda itu. "Sudah pulang. Kenapa?"

"Dia bilang mau bantu kamu sampai malam. Besok ada ujian, harusnya belajar."

"Aku sudah usir."

Herman tertawa. "Dari kecil dia paling nurut kalau kamu yang bicara."

Kalimat itu membuat Wiwid merasa semakin bersalah. Keluarga mempercayainya. Herman tidak pernah memperlakukan Wiwid sebagai beban meski mereka tidak sedarah. Bu Imas memberinya tempat di setiap acara keluarga. Raka tumbuh di depan matanya dengan kepercayaan bahwa Bibi Wid akan selalu menjadi rumah aman.

Bagaimana jika orang-orang mengira ia memanfaatkan kepercayaan itu?

"Kang," katanya pelan. "Kalau suatu hari Raka memilih sesuatu yang keluarga nggak suka, Akang akan bagaimana?"

"Tergantung pilihannya. Kenapa tanya begitu?"

"Nggak apa-apa. Anak kuliah biasanya mulai keras kepala."

"Selama bukan narkoba atau berhenti kuliah, kita bicarakan. Raka bukan anak yang sembarangan."

Wiwid hampir tertawa. Justru karena Raka tidak sembarangan, pengakuannya terasa lebih berbahaya.

"Iya. Nanti aku ingatkan dia belajar."

Setelah telepon berakhir, Wiwid membuka grup keluarga. Foto Raka saat wisuda SMA masih dipasang Bu Imas di bagian atas. Di sebelahnya berdiri Wiwid, memegang buket dan tersenyum bangga seperti anggota keluarga yang seharusnya.

Ia menutup layar sebelum mulai mencari tatapan Raka di foto itu.

***

Malamnya, bel apartemen berbunyi.

Raka berdiri di luar membawa kunci cadangan yang selama ini dipegangnya.

"Aku datang untuk mengembalikan ini."

Wiwid menerima kunci tanpa membuka pintu lebih lebar. "Bagus."

"Setelah ini aku nggak akan masuk tanpa izin."

"Memang seharusnya begitu."

Raka mengangguk, tetapi tidak beranjak.

"Apa lagi?"

"Tadi Teteh bilang keluarga akan malu. Aku ngerti." Suaranya tenang. "Tapi jangan bilang hubungan darah atau agama melarang kita. Itu nggak benar."

Wiwid mencengkeram kunci.

"Lo belajar agama dari mana sampai berani bicara begitu?"

"Dari yang Bapak dan Mamah ajarkan. Teteh diangkat keluarga waktu umur dua tahun. Teteh bukan anak kandung kakek-nenekku, dan nggak ada hubungan persusuan dengan Bapak."

"Jangan bawa-bawa orang tua."

"Aku cuma menyebut fakta. Kita bukan mahram. Kalau suatu hari kita menikah, secara agama pernikahannya halal."

Wiwid memandang lorong, takut ada tetangga mendengar. "Diam."

"Yang menghalangi kita cuma cara keluarga melihat Teteh sebagai adik Bapak dan aku sebagai keponakan. Nama baik. Omongan orang. Bukan darah."

"Cukup."

"Teteh takut karena mereka akan marah, bukan karena aku melakukan sesuatu yang haram."

Wiwid mendorong bahunya menjauh dari pintu. "Pulang sebelum gue telepon Kang Herman."

Raka mundur satu langkah. Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya tetap teguh.

"Kalau Teteh telepon Bapak, aku akan bilang sendiri."

"Lo pikir ini permainan?"

"Nggak. Justru karena serius, aku nggak mau bersembunyi selamanya."

Wiwid menutup pintu di depan wajahnya.

Kunci cadangan masih terasa hangat di telapak tangan. Ia menyandarkan punggung ke pintu, mencoba marah, tetapi kalimat Raka terus kembali.

Ia berjalan ke ruang tengah dan melihat sofa tempat Alvin pernah menciumnya. Saat itu Raka berdiri dengan semangkuk anggur di tangan, meminta maaf seolah dirinya yang melakukan kesalahan. Wiwid baru sekarang memahami ketenangan yang terlalu kaku di wajahnya.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Alvin mengajak bertemu akhir pekan. Wiwid mengetik jawaban, lalu menghapusnya. Tidak ada alasan membatalkan. Alvin adalah laki-laki dewasa yang bukan bagian keluarganya, pilihan yang aman dan tidak mengundang gunjingan.

Namun untuk pertama kalinya, kata `aman` tidak terdengar sama dengan kata `ingin`.

Wiwid meletakkan ponsel dengan layar menghadap bawah. Ia marah kepada Raka karena memaksanya mempertanyakan hal yang selama ini tidak pernah perlu dipikirkan. Ia lebih marah lagi karena tidak bisa langsung membuktikan bahwa pemuda itu salah.

Semua penolakan yang disiapkannya berdiri di atas kata `keluarga`.

Raka baru saja merobohkan dasarnya dengan satu fakta.

Dari lorong, suaranya terdengar untuk terakhir kali.

"Kita nggak sedarah, Teh."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!