Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hunusan Keris Penentu
"Laras, pinjam kekuatanmu sekali lagi!" teriakan lantang Galih menggema memecah ruang bawah tanah yang sunyi, suaranya penuh keyakinan yang belum pernah Larasati dengar sebelumnya dari pemuda pendiam itu.
Larasati, meski tubuhnya sendiri sudah nyaris ambruk kehabisan energi, memaksakan diri berdiri, mengangkat tongkat sihirnya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menyadari inilah kesempatan terakhir mereka, mungkin satu-satunya peluang yang tersisa sebelum kelelahan benar-benar merenggut mereka bertiga. Setiap tetes energi yang tersisa dalam tubuhnya kini dipertaruhkan pada satu momen krusial ini, tanpa cadangan lagi untuk kesalahan sekecil apa pun.
"Ambil semuanya," bisik Larasati, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang tersembunyi jauh di dalam dirinya, menyalurkan kilat cahaya pemungkas langsung ke punggung Galih yang berdiri tegak beberapa langkah di depannya, tidak menyisakan sedikit pun cadangan untuk dirinya sendiri.
Cahaya putih menyilaukan meledak dari ujung tongkatnya, menyelimuti seluruh tubuh Galih dalam sekejap, begitu terang hingga Sekar yang masih terbaring lemas terpaksa memicingkan matanya menahan silau yang luar biasa itu, cahaya yang jauh lebih terang dari buff mana pun yang pernah mereka saksikan sepanjang pertarungan panjang ini.
Galih merasakan lonjakan energi yang jauh melampaui apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan dibanding buff biasa yang selama ini menopang Sekar dalam pertarungan. Kakinya terasa seringan bulu, ototnya berdenyut dengan kekuatan yang berlipat ganda, seolah setiap sel dalam tubuhnya baru saja diberi kehidupan baru. Ia bisa merasakan darahnya sendiri mengalir lebih cepat, jantungnya berdegup dalam ritme yang selaras sempurna dengan langkah kakinya yang mulai bergerak maju.
Gandaruka, menyadari bahaya yang mendekat, mengangkat gada batunya tinggi-tinggi, mengayunkannya dengan seluruh kekuatan yang tersisa dalam usaha terakhir mempertahankan diri. Namun Galih sudah bergerak lebih dulu, tubuhnya melesat dengan kecepatan yang jauh melampaui batas kemampuan manusia biasa, meliuk gesit menghindari ayunan gada yang menyapu udara tepat di belakangnya. Debu dan serpihan batu beterbangan dari hantaman yang meleset itu, namun Galih sudah jauh melampaui titik itu, terus melesat tanpa menoleh sekali pun ke belakang.
Ia meluncur lurus, matanya tidak sekali pun lepas dari titik cahaya yang berdenyut di balik iga sebelah kiri Gandaruka, satu-satunya tujuan yang mengisi seluruh pikirannya saat ini, mengabaikan segala hal lain di sekelilingnya.
Kirana, yang menyaksikan semuanya dari sudut aman, menahan napas, kedua tangannya mencengkeram erat kain roknya sendiri, matanya terbelalak lebar tidak berkedip sedikit pun menyaksikan pemuda yang baru saja menyelamatkannya kini melesat seperti anak panah menuju sang boss. Bibirnya bergetar merapal doa kecil tanpa suara, berharap keajaiban yang sedang terjadi di depan matanya ini benar-benar akan mengakhiri mimpi buruk yang sudah berlangsung terlalu lama.
Sekar, meski tubuhnya masih lemas tak berdaya, memaksakan diri sedikit terangkat dari posisinya, matanya mengikuti setiap gerakan Galih dengan jantung berdebar kencang, campuran harapan dan kecemasan yang begitu besar hingga terasa menyesakkan dadanya sendiri. Ia ingin sekali berteriak memberi semangat, namun tenggorokannya terlalu kering dan tenaganya terlalu habis untuk sekadar mengeluarkan suara lebih dari bisikan lemah.
Gandaruka meraung marah, mencoba menarik kembali gadanya untuk melancarkan serangan kedua, namun gerakannya sudah terlalu lambat dibanding kecepatan Galih yang kini melesat tanpa hambatan menembus jarak yang tersisa di antara mereka berdua.
Keris kecil di tangan Galih terangkat tinggi, cahaya putih yang menyelimuti tubuhnya berkumpul terpusat di ujung bilah tajam itu, seolah seluruh kekuatan yang baru saja ia terima dari Larasati menyatu sempurna dengan senjata sederhana yang selama ini dianggap tidak berarti oleh siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
Dengan satu hentakan penuh tenaga, Galih menghujamkan kerisnya tepat ke titik cahaya yang selama ini menjadi fokusnya, menembus lapisan kulit tebal yang selama ini tidak tertembus oleh tebasan parang Sekar sekalipun sepanjang pertarungan panjang mereka.
Bilah keris itu meluncur masuk tanpa hambatan berarti, seolah daging dan tulang Gandaruka berubah menjadi tidak lebih keras dari mentega di hadapan senjata yang kini dialiri kekuatan mata dewa Galih. Ujung keris menembus jauh ke dalam, tepat menghujam pusat Inti Kristal yang selama ini tersembunyi rapat di balik pertahanan alami tubuh raksasa itu. Getaran hebat menjalar dari gagang keris ke seluruh lengan Galih, seolah ia baru saja menyentuh sumber energi purba yang tersembunyi selama berabad-abad lamanya di dalam tubuh monster raksasa itu.
Untuk sesaat, waktu seolah membeku total di seluruh penjuru ruangan bawah tanah itu.
Gandaruka membatu di tempatnya, tubuh raksasanya kaku tak bergerak, matanya yang tadi menyala merah perlahan meredup kehilangan cahaya. Retakan tipis mulai muncul di sekujur kulitnya, bercahaya merah terang seperti lava yang menyusup keluar dari celah batu, menjalar cepat ke seluruh permukaan tubuhnya yang besar. Raungan yang tadi begitu mengancam kini berubah menjadi rintihan pelan yang perlahan meredup, seolah kehidupan makhluk itu sendiri sedang terkuras keluar bersama cahaya yang meninggalkan tubuhnya.
"Dia... berhasil," bisik Sekar, suaranya tercekat menahan napas, matanya membelalak tidak percaya menyaksikan keajaiban mutlak yang terjadi tepat di depan matanya sendiri. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos begitu saja tanpa bisa ditahan lagi, bercampur debu dan keringat yang mengotori pipinya.
Kirana juga menahan napas bersamaan, tubuhnya membeku di tempat, tidak berani sekali pun berkedip khawatir melewatkan detik-detik penting yang sedang berlangsung di hadapannya. Ketika akhirnya ledakan cahaya itu mereda, ia merasakan air mata haru mengalir deras tanpa bisa ia tahan, campuran syok dan kelegaan yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya yang singkat.
Retakan bercahaya itu semakin melebar, menyebar ke seluruh tubuh Gandaruka dalam hitungan detik, sebelum akhirnya tubuh raksasa itu meledak dalam ledakan cahaya merah yang menyilaukan, pecah berkeping-keping menjadi serpihan debu magis yang berhamburan memenuhi udara ruangan, berkilauan sesaat sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya, menyisakan keheningan total yang menggantikan gemuruh pertarungan yang sudah berlangsung selama dua hari penuh tanpa henti itu. Gelombang angin dari ledakan itu sempat menerbangkan rambut dan pakaian mereka semua, sebelum akhirnya reda perlahan menyisakan udara yang terasa jauh lebih ringan.
Galih berdiri terpaku di tengah reruntuhan debu yang masih mengambang, kerisnya masih terangkat di tangan, napasnya tersengal hebat, namun senyuman kecil perlahan terukir di wajahnya, sebuah kelegaan yang begitu besar hingga hampir tidak sanggup ia percaya sendiri bahwa mereka akhirnya berhasil menaklukkan boss yang selama dua hari terakhir hampir merenggut nyawa mereka bertiga. Pendar cahaya merah di matanya perlahan meredup, digantikan warna cokelat gelap yang biasa, tanda bahwa mata dewa itu sudah kembali beristirahat jauh di dalam dirinya sendiri.