Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukungan Penuh Semangat Livy 03.
Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai lapangan indoor bergaung memenuhi seisi arena. Bau keringat, minyak urut, dan ketegangan berbaur menjadi satu di udara. Galang mengatur napasnya yang memburu. Keringat bercucuran dari pelipis, membasahi jersei bernomor punggung 07 milik SMA WIJAYA.
Skor di papan digital menunjukkan angka 58-57. Tipis.
Sisa waktu di kuarter keempat tinggal dua menit lagi. Tim lawan, SMA Karisma, terkenal dengan permainan mereka yang kasar dan provokatif.
"Galang! Fokus!" teriak Pelatih Danu dari pinggir lapangan.
Galang mengangguk. Ia mengoper bola ke arah Restu, shooting guard timnya. Mata Galang melirik ke arah tribun penonton yang dipenuhi lautan manusia. Hampir seluruh siswa SMA WIJAYA datang untuk memberikan dukungan. Namun, ada satu pemandangan di sudut tribun tengah yang mendadak membuat jantung Galang mencelos. Bukan karena tegang akibat pertandingan, melainkan rasa ngeri yang teramat sangat.
Di sana, di barisan paling depan, berdiri seorang gadis dengan bando lampu LED berkedip-kedip bertuliskan nama "GALANG".
'Livy!!!!!!' Galang geram dalam hati
Gadis itu tersenyum lebar, sangat lebar, hingga deretan giginya yang rapi terlihat jelas. Kedua tangannya memegang ujung kain spanduk besar yang masih tergulung. Di sampingnya, dua orang adik kelas kelas sepuluh tampak gemetar memegangi ujung kain yang lain. Mereka jelas dipaksa.
'Jangan sekarang, Ly. Please, jangan bikin ulah' batin Galang berdoa dalam hati.
Bagai mendengar bisikan batin Galang, Livy justru memberikan kedipan mata yang genit.
PRRREEEEET!
Peluit tanda time-out berbunyi.
Kedua tim berjalan menuju bangku cadangan masing-masing untuk menyusun strategi terakhir. Saat atmosfer arena sedikit melandai, tiba-tiba terdengar suara lengkingan nyaring dari arah tribun.
"SATU... DUA... TIGA... BENTANGKAN, DEK!"
Itu suara Livy. Menggunakan megator mini warna merah muda yang entah sejak kapan ia selundupkan ke dalam arena.
Detik berikutnya, sebuah spanduk kain putih sepanjang lima meter dibentangkan dengan sempurna tepat di tengah-tengah tribun SMA WIJAYA. Spanduk itu tidak berisi kalimat standar seperti "Ayo SMA WIJAYA Juara!" atau "Galang Semangat!".
Isi spanduk itu adalah foto wajah Galang saat sedang tidur mangap—yang entah kapan diambil oleh Livy—dikelilingi oleh hiasan gambar hati berwarna merah darah yang digambar manual menggunakan cat semprot.
Di bawah foto memalukan itu, tertulis untaian kalimat dengan huruf kapital berukuran raksasa:
"SEMANGAT TANDINGNYA, GALANG SAYANGKU, PACAR MASA DEPANKU! KALAU KAMU KALAH, TETEP GAK APA-APA, SOALNYA KAMU UDAH MENANG DI HATIKU. YANG BERANI NYENGGOL GALANG HARI INI, BAKAL SAYA CARI RUMAHNYA SANGGUP PACARAN SAMA MAUT?!"
Seketika, seisi arena basket mendadak hening.
Restu yang sedang minum air mineral langsung tersedak hebat hingga airnya keluar dari hidung. Pelatih Danu membeku dengan papan strategi yang masih menggantung di udara.
Di seberang lapangan, tim lawan dari SMA Karisma mulai kasak-kusuk, lalu sedetik kemudian tawa mereka pecah berderai.
Kapten tim lawan, Januar, tertawa paling keras sambil menunjuk-nunjuk ke arah spanduk, lalu menatap Galang dengan pandangan mengejek.
"Woi, Lang! Ternyata pawang kamu ngeri juga ya! Main basket apa main nyawa kita hari ini?" teriak Januar sinis, memprovokasi.
Wajah Galang langsung memanas. Merah padam sampai ke telinga. Rasanya ia ingin bumi runtuh saat itu juga dan menenggelamkannya ke inti bumi yang paling dalam.
Malu.
Benar-benar dipermalukan di depan musuh bebuyutan. Harga dirinya sebagai kapten tim basket hancur berkeping-keping dalam hitungan detik akibat ulah ajaib gadis obsesif itu.
Galang menatap tajam ke arah tribun. Livy sama sekali tidak merasa bersalah.
Dengan bangga, gadis itu melambaikan tangan tinggi-tinggi, memegang megafonnya lagi, lalu berteriak, "GALANG! LIHAT SPANDUKNYA NGGAK? BAGUS KAN? SAYA BEGADANG SEMALEM BUAT NYETAK ITU! I LOVE YOU!!"
Beberapa penonton di tribun mulai berbisik-bisik, sebagian menahan tawa, sebagian lagi menatap Livy dengan pandangan ngeri. Karakter 'cegil' seorang Livy memang sudah melegenda di sekolah, tapi Galang tidak menyangka kegilaannya akan dibawa sampai ke turnamen resmi antar-sekolah seperti ini.
"Lang... sabar, Lang. Muka kamu udah kayak mau bunuh orang," bisik Restu sambil menepuk bahu Galang, mencoba menenangkan.
Galang mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Matanya beralih dari Livy ke arah Januar yang masih senyam-senyum meremehkannya di tengah lapangan.
Rasa malu yang luar biasa itu perlahan berubah menjadi pasokan adrenalin yang membakar dada.
"Pelatih," suara Galang terdengar rendah dan dingin. "Nggak usah ganti strategi. Kasih semua bola ke saya di sisa waktu ini."
Pelatih Danu menelan ludah, lalu mengangguk pelan. "Oke. Selesaikan ini, Galang."
Peluit kembali berbunyi. Pertandingan dimulai lagi. Galang masuk ke lapangan tanpa melirik sedikit pun ke arah tribun tempat Livy berada. Fokusnya kini hanya satu: melampiaskan seluruh kekesalan, rasa malu, dan amarahnya pada ring basket SMA Karisma.
Januar mencoba menghadang Galang dengan seringai mengejek. "Gimana, pacar masa depan? Mau saya senggol nggak nih? Takut diculik saya."
Galang tidak membalas dengan kata-kata. Dengan gerakan crossover yang sangat cepat dan tidak terduga, Galang mengecoh Januar hingga kapten lawan itu kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh di lantai. Sebelum pemain lawan yang lain sempat menutup ruang, Galang melompat tinggi di udara, melakukan lay-up mulus yang berbuah poin.
Sorak-sorai penonton bergemuruh.
Di sisa waktu tiga puluh detik terakhir, Galang benar-benar menggila. Ia merebut bola (steal) dari tangan Januar, menggiringnya kilat ke area pertahanan lawan, dan melakukan tembakan tiga angka tepat sebelum bel akhir pertandingan berbunyi.
BUZZER!
Bola masuk dengan sempurna.
Skor akhir 62-58. SMA Wijaya menang.
Seluruh anggota tim langsung berlari berhamburan memeluk Galang.
Namun, Galang segera melepaskan diri dari kerumunan. Napasnya terengah-engah. Alih-alih merayakan kemenangan, tatapan matanya langsung tertuju lurus ke satu titik di tribun yang kini mulai sepi karena penonton perlahan membubarkan diri.
Livy masih di sana. Gadis itu sedang sibuk melipat spanduk raksasanya dengan rapi, seolah kain itu adalah harta karun paling berharga di dunia.
Dengan langkah lebar dan rahang yang mengeras, Galang berjalan meninggalkan lapangan menuju koridor belakang tribun.
Ia tahu Livy pasti akan turun lewat sana untuk menemuinya.
Benar saja. Begitu Galang sampai di koridor yang agak sepi, sosok Livy muncul dari balik tangga sambil mendekap spanduk kainnya. Begitu melihat Galang, mata gadis itu berbinar cerah.
"Galang! Kamu keren banget tadi! Tembakan terakhirnya itu pasti karena dapet energi dari spanduk saya, kan? Saya tahu kamu pasti te—"
"Livy, stop." Suara Galang memotong ucapan Livy dengan nada yang sangat dingin dan tajam.
Livy menghentikan langkahnya, mengerjapkan mata polos. "Kenapa, Lang? Kamu capek ya? Ini saya bawa air minum—"
"Saya bilang stop!" Galang maju satu langkah, merebut spanduk dari dekapan Livy, lalu melemparnya ke lantai koridor. "Kamu punya otak nggak sih, Ly? Kamu mikir nggak sebelum bertindak?!"
Livy tersentak melihat spanduk buatannya dilempar begitu saja.
Alih-alih takut karena bentakan Galang, matanya justru mulai berkaca-kaca karena kecewa. "Saya cuma mau semangatin kamu, Lang... Kenapa kamu marah?"
"Semangatin saya? Dengan cara bikin saya jadi bahan ketawaan satu stadion? Kamu pajang foto aib saya, kamu tulis kalimat-kalimat gila kayak gitu di depan tim lawan! Kamu tahu gak Januar tadi ngomong apa ke saya? Saya dipermalukin, Ly! Harga diri saya jatuh!" bentak Galang, meluapkan seluruh emosi yang ditahannya sejak di lapangan.
Livy menatap spanduk di lantai, lalu menatap Galang kembali. Nada suaranya mendadak berubah, tidak lagi manja, melainkan terdengar datar dan obsesif, ciri khasnya jika egonya mulai terusik.
"Terus kenapa kalau mereka ketawa? Yang penting kita menang, kan? Lagian, saya nggak peduli sama harga diri kamu di depan mereka, Lang. Saya cuma peduli kamu itu punya saya. Biar semua orang tahu, biar nggak ada cewek lain yang berani deket-deket kamu di turnamen ini." Livy melangkah mendekat, menatap lurus ke dalam manik mata Galang tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Kenapa kamu harus peduli sama omongan Januar? Apa perlu saya samperin rumahnya malam ini biar dia minta maaf sama kamu?"
Galang memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.
Menghadapi Livy selalu menguras energinya dua kali lipat daripada bermain basket empat kuarter penuh. Logika gadis ini sudah benar-benar bergeser.
"Gila. Kamu bener-bener sakit, Ly," bisik Galang frustrasi. Ia berbalik badan, berniat meninggalkan Livy sebelum ia mengatakan hal yang jauh lebih kasar.
Namun, baru dua langkah Galang berjalan, tangan Livy sudah menahan lengan jerseinya dengan cengkeraman yang sangat kuat untuk ukuran seorang perempuan.
"Jangan pergi, Galang," ucap Livy pelan, suaranya kini kembali melembut, namun ada nada tuntutan yang mutlak di dalamnya. "Kamu boleh marah, kamu boleh benci sama spanduknya. Tapi kamu nggak boleh tinggalin saya. Kalau kamu pergi sekarang, saya bakal pasang spanduk yang lebih besar di depan rumah kamu besok pagi. Kamu mau?"
Galang mematung. Ia menoleh perlahan, menatap gadis di sampingnya yang kini tersenyum manis seolah baru saja menawarkan permen, padahal kalimatnya barusan adalah ancaman nyata. Galang menghela napas panjang, menyadari bahwa sekeras apa pun ia mencoba lari, jaring-jaring kegilaan Livy sudah mengikatnya terlalu kuat.
......................
...****************...
To be continue,