Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Kesempatan
Norman membeku di tempat. Matanya terpaku pada senjata api di tangan Grace, sementara Mona bersembunyi di belakang tubuh pria itu dengan wajah pucat.
"Keluar kau dari sini atau aku akan membunuhmu!" seru Grace.
"Tapi Grace—"
Dor!
Grace langsung melepaskan tembakan ke langit-langit.
Mona menjerit dan mencengkeram lengan Norman. Beberapa karyawan sontak tersentak melihat lubang kecil di langit-langit butik.
"Norman!" Mona bersembunyi semakin rapat di belakangnya.
"Masih mau menunggu sampai peluru berikutnya kutembakkan?" Grace mengarahkan senjatanya ke atas, menatap Norman dengan dingin.
Norman menelan ludah. Ia akhirnya menarik tangan Mona dan membawanya keluar dari butik tanpa berani membantah lagi.
Mona sempat menoleh kepada Grace dengan tatapan penuh kebencian, tetapi Grace sama sekali tidak memedulikannya.
Begitu keduanya pergi, Grace menurunkan senjatanya.
Ben yang menyaksikan kejadian itu melirik lubang pada langit-langit, lalu menoleh kepada Grace. "Bos keren."
Grace melirik Ben, sekilas.
Ben langsung merapatkan bibirnya dan berpura-pura sibuk merapikan lengan kemejanya.
Grace menggeleng kecil sebelum masuk ke ruang kerjanya. Baginya, urusannya dengan Norman sudah jelas. Ia ingin bercerai.
Di dalam mobil, Norman menoleh kepada Mona yang masih memegangi pipinya.
"Untuk apa kau datang ke butik Grace dan membuat keributan seperti itu? Grace bisa saja membunuhmu!"
Mona membelalakkan mata. "Memangnya kenapa? Kau pikir aku takut kepadanya?"
"Jangan meremehkan Grace, Mona!"
Norman ingat betul ketika mereka masih berpacaran, Grace beberapa kali mengajaknya berlatih menembak saat mereka memiliki waktu luang. Perempuan itu juga pandai bela diri dan bukan orang yang sembarangan menggunakan senjata.
Norman tahu Grace tidak akan mengarahkan senjata kepada seseorang tanpa alasan. Namun, ketika emosinya benar-benar memuncak, ia juga tidak bisa memastikan apa yang akan dilakukan istrinya.
"Bagaimana kalau dia sampai lepas kendali? Kau pikir nyawamu tidak bisa terancam?" Norman mengeraskan suara.
Mona mendengus lalu berkata,"Jadi, sekarang kau malah membela Grace?"
"Aku sedang memperingatkanmu!" balas Norman.
"Seharusnya kau membelaku tadi! Dia menamparku, Norman!" Mona terlihat kesal dengan tanggapan Norman.
Norman mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau sendiri yang datang dan memancing keributan!"
"Itu karena kau tidak kunjung menceraikan Grace!"
Norman mendadak terdiam.
Mona menatap Norman, tajam. "Sampai kapan kau akan terus mempertahankan pernikahan itu? Aku mencintaimu, Norman. Aku tidak mau terus bersembunyi!"
"Mona, aku tidak ingin bercerai dengan Grace."
Mona langsung menoleh dengan mata membelalak. "Apa?"
"Aku masih ingin memperbaiki pernikahanku dengan Grace."
"Jadi, setelah semua yang terjadi di antara kita, kau masih ingin mempertahankan istrimu?" Mona mengepalkan tangannya. "Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan Ellian?"
"Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak menyayangimu."
"Lalu apa maksudmu? Kau ingin mempertahankan Grace sekaligus tetap bersamaku?"
Norman tidak menjawab.
Mona tertawa getir. "Baiklah! Tapi jangan salahkan aku kalau suatu hari nanti semua orang mengetahui bahwa kau memiliki anak denganku!"
Norman langsung menoleh tajam. "Mona, jangan melibatkan Elian dalam masalah ini!"
"Kalau begitu, ceraikan Grace!"
Norman mengepalkan tangannya pada kemudi. Ia tidak menyukai ancaman Mona, tetapi ia juga tidak tahu bagaimana menghentikan perempuan itu tanpa membuat keadaan semakin rumit.
"Sudahlah. Aku akan mengantarmu pulang."
Mona memalingkan wajah ke jendela. Ia tidak menjawab lagi, tetapi dalam pikirannya, Norman harus segera mengakhiri pernikahannya dengan Grace.
Malam harinya, Norman duduk sendirian di ruang kerjanya. Ia mengambil ponsel, membuka kontak Grace, lalu mengetik sebuah pesan.
"Grace, aku tahu kau tidak ingin bertemu denganku. Namun, kumohon, beri aku satu kesempatan untuk berbicara denganmu sebelum kita benar-benar bercerai."
Setelah membaca ulang pesannya, Norman menekan tombol kirim.
Di tempat lain, Grace baru saja membaca pesan tersebut. Ia mengembuskan napas berat, jelas tidak bersemangat untuk kembali menginjakkan kaki di rumah itu.
Namun, pada akhirnya, ia tetap membalas pesan Norman.
"Baiklah. Aku akan ke rumah sebentar lagi."
Tak lama kemudian, mobil Grace berhenti di depan rumah yang dahulu menyimpan begitu banyak kenangan baginya.
Grace turun dari mobil dan menatap bangunan itu sekilas. Rumah yang pernah menjadi tempatnya berbagi kebahagiaan bersama Norman kini justru terasa asing.
Ia menarik napas sebelum melangkah masuk.
Begitu melihat Grace, wajah Norman langsung berbinar. Ia segera menghampiri perempuan itu tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Ada apa?" tanya Grace, datar.
"Aku mencintaimu, Grace. Aku tidak ingin kehilanganmu," kata Norman sambil berusaha memeluk Grace.
Bodyguard pun tak ada bwt Grace ☹️
Hati² sama Norman ya Grace
Mungkin Julian menjadi tau arti kesetiaan setelah kematian Johan anak tunggalnya
Bagaimana nasib Omar yang menembak Johan? Matikah atw dipenjara?
Belum lagi pasukan bayangan Kevin Cloud & Mia dan jangan lupakan Carmen meski berkhianat pada Grace tapi Carmen berniat menebus kesalahannya dengan membantu Grace menghadapi Norman meski tak harus tampil di depan Grace