NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Sebelum pertemuan

Bayang keunguan mulai merayap di ufuk barat, berbarengan dengan usainya jadwal latihan Airyn hari ini. Kelas dansa sore ini ditiadakan karena sang instruktur tampaknya butuh waktu ekstra untuk merehatkan kakinya yang berulang kali terinjak selama beberapa hari terakhir.

Airyn tak membuang waktu. Ia segera melangkah cepat menemui para utusan Asteria.

"Tuan Utusan, aku punya rencana agar Pamanku mau ikut," bisik Airyn penuh keseriusan.

Para utusan itu saling pandang, memancarkan rasa penasaran sekaligus ragu. "Rencana apa, Tuan Putri?"

"Aku akan meninggalkan surat seolah-olah aku sudah pergi duluan bersama kalian. Paman pasti akan panik dan menyisir seluruh penjuru istana. Saat dia mendekati balairung, kita langsung aktifkan portalnya. Paman Kaelen pasti mengejar, kita hanya perlu memastikan timing-nya tepat!" ujar Airyn mantap.

Para utusan itu menelan ludah, membayangkan reaksi sang Raja Tidebay.

"Apakah Tuan Putri yakin?" tanya pimpinan utusan ragu. "Ini... cukup berisiko."

"Tenang saja, aku yakin ini berhasil!" tegas Airyn mengangguk yakin.

Melihat tekad sang putri mahkota, para utusan hanya bisa menghela napas pasrah. Lagi pula, tidak ada cara lain yang lebih efektif untuk membujuk sang Raja.

SWOOOSH!

Pandangan Kaelen seketika silau oleh pendar cahaya putih keemasan. Begitu kakinya menerjang keluar dari portal, ia mendapati dirinya berdiri di sebuah ruangan megah beratap tinggi. Lampu-lampu kristal raksasa menggantung anggun, memancarkan cahaya terang yang jauh lebih mewah ketimbang Istana Tidebay di wilayah tenggara.

Kaelen segera menguasai diri, menyapu pandangan hingga matanya menangkap sosok Airyn yang berdiri tak jauh dari sana.

"Airyn! Anak nakal ini!" seru Kaelen gusar seraya menghampiri keponakannya.

Niat hati ingin meluapkan kemarahan, namun Airyn dengan cepat merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, menatap sang paman dengan cengiran tanpa dosa.

"Heheh... Aduh, Paman, maafkan aku! Lagian kita sudah sampai di sini, kan?" goda gadis itu santai.

Kaelen menepuk dahi, menghela napas berat melihat betapa nekatnya gadis di hadapannya ini.

"Paman baik-baik saja?" tanya Airyn memastikan.

"Aku baik-baik saja... cuma pusing menghadapi tingkahmu yang tidak ada habisnya," keluh Kaelen seraya memijat pelipisnya.

"Anda akan aman, Yang Mulia," sela salah satu utusan yang mendampingi mereka.

"Portal Aether-Gate hanya dapat dilalui oleh para Aetherist. Orang biasa hanya bisa menembusnya jika membawa token kristal pelindung."

"Selamat datang, Yang Mulia."

Sebuah suara lembut menyapa dari balik pintu lorong. Seorang wanita melangkah mendekat. Dari gaun tidur putih bernuansa rumahan serta selendang yang hanya sempat dibalutkan secara tergesa di bahu dan dadanya, terlihat jelas kalau ia baru saja terbangun dan terburu-buru.

"Mohon maaf atas sambutan yang kurang pantas ini. Anda berdua adalah tamu terakhir yang tiba, Yang Mulia," tutur wanita bersurai hitam indah dengan manik mata biru jernih itu seraya membungkuk hormat.

"Sudahlah, justru kami yang minta maaf karena bertamu di larut malam begini," ujar Kaelen, lalu melirik Airyn secara sinis. Gadis itu hanya membalasnya dengan senyuman sumringah.

"Tentu tidak apa-apa, Yang Mulia. Perkenalkan, nama saya Seraphina. Saya adalah Kepala Divisi Medis dan Pengobatan di Asteria. Profesor Kepala Alistair sedang ada keperluan lain, jadi saya yang diutus untuk menyambut Anda. Saya harap perjalanan Anda berdua lancar," terang Seraphina penuh keramahan dan keanggunan.

"Hari sudah makin malam. Mari, Yang Mulia, saya antarkan ke peraduan agar bisa beristirahat," lanjut Seraphina seraya membimbing jalan. Sedangkan para utusan Asteria membungkuk pamit undur diri.

Seraphina menuntun mereka menyusuri lorong raksasa bernuansa serba putih. Meski malam di luar jendela tampak makin pekat, interior bangunan ini tetap diterangi pendar sihir yang lembut. Setelah melewati beberapa persimpangan, Seraphina mengambil jalur kiri menuju deretan pintu kayu berukir. Airyn secara spontan menghitung dalam hati, hingga Seraphina berhenti tepat di pintu kelima.

Saat pintu dibuka, sebuah kamar luas bernuansa biru bahari langsung menyambut mereka.

"Kami telah menyiapkan kamar yang didekorasi sedemikian rupa agar menyamai suasana kampung halaman masing-masing Aetherist," jelas Seraphina.

Airyn terpana. Ornamen ukiran, warna dinding, bahkan aroma ruangan ini benar-benar identik dengan istana mereka. Di tengah ruangan, terdapat kolam hias kecil dengan air mancur yang memancarkan pendar air jernih.

"Paman, lihat! Roti panggang yang biasa kita buat dulu!" seru Airyn gembira saat mendapati hidangan penyambut di atas meja.

"Ini sungguh luar biasa..." gumam Kaelen terkesima.

Seraphina tersenyum lega. "Silakan beristirahat, Yang Mulia. Besok pagi, utusan akan datang menjemput Anda untuk menghadiri diskusi agung."

"Ah... Nona Seraphina," panggil Kaelen sedikit canggung.

"Apakah ada pakaian ganti? Jujur saja, saya bahkan tak sempat mengemas barang karena terburu-buru."

Kaelen meremas ujung pakaian tidurnya, menahan malu setengah mati. Bagaimana mungkin seorang raja bertamu hanya dengan piyama?

"Paman! Aku kan sudah mengemas semua barang kita! Tadi para utusan bilang mereka yang akan membawakannya ke kamar!" seru Airyn dari balik meja, santai mengunyah roti panggangnya.

Seketika, wajah Kaelen berubah merah padam seperti tomat matang. Rasanya ingin sekali ia menghilang ditelan bumi saat itu juga.

"M-maafkan saya, Nona Seraphina... Keponakanku ini memang... agak teliti," ujar Kaelen terbata-bata, sudah tak punya muka lagi di hadapan wanita cantik itu.

Seraphina terkekeh pelan, menganggap tingkah paman dan keponakan itu sangat menggemaskan.

"Kalau begitu, saya pamit undur diri, Yang Mulia." Seraphina membungkuk anggun, lalu melangkah keluar dan menutup pintu dengan rapat.

Cklek.

"PUTRI AIRYN OF TIDEBAY!"

Airyn tersentak hingga hampir tersedak rotinya saat Kaelen menyebut nama lengkapnya dengan nada menekan. Gadis itu segera meletakkan rotinya dan menghampiri sang paman.

Dari wajah Kaelen yang menegang, Airyn tahu sang paman sedang menahan kedengkian luar biasa.

"Bisa-bisanya kau membuatku mempermalukan diri sendiri?!" bisik Kaelen geregetan.

"Kenapa Paman harus malu?" tanya Airyn polos tanpa dosa.

"Aku tidak tahu kalau kau sudah mengemas barang! Dan aku malah bertanya soal pinjaman baju pada Nona Seraphina! Aku ini Raja, Airyn! Mau ditaruh di mana mukaku?!" Oceh Kaelen frustrasi.

Airyn mengibaskan tangannya santai. "Sudahlah, Paman, lupakan saja. Toh, pakaian Paman aman, kan?"

Kaelen kehabisan kata-kata.

"Ya Tuhan... kenapa Engkau memberiku keponakan yang tidak punya rasa malu seperti ini?" Gumam Kaelen meratapi nasibnya.

Sementara Kaelen terus mendumel sendiri, Airyn kembali menyantap rotinya hingga kandas.

Pasrah dengan keadaan, Kaelen memilih merebahkan tubuhnya di salah satu dari dua tempat tidur yang disediakan. Kamar itu memiliki dua ranjang berseberangan yang dipisahkan oleh sebuah jendela bundar besar yang menampilkan langit malam Asteria yang ditaburi bintang.

"Paman, kau sudah tidur?" bisik Airyn.

Tidak ada jawaban. Kaelen terlalu lelah secara fisik dan mental untuk melayani keponakannya lagi.

Mengira sang paman sudah terlelap, Airyn mematikan lampu kristal dengan menekan sakral di dinding. Tak lama kemudian, para utusan mengantarkan barang-barang mereka. Airyn menata seluruh pakaian dan perlengkapan mereka ke dalam lemari dengan rapi.

Di dalam hatinya, Airyn sebenarnya merasa bersalah karena telah memaksakan kehendaknya. Namun, rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia sungguh ingin melihat seperti apa sosok para Aetherist murni lainnya di benua ini.

Airyn melangkah pelan mendekati ranjang Kaelen. Ia membungkuk sedikit, lalu berbisik halus, "Paman... maafkan aku ya. Aku janji akan jadi gadis yang lebih penurut."

Cup.

Airyn mendaratkan kecupan hangat di pipi sang paman, lalu berjingkat kembali ke ranjangnya sendiri.

Kaelen yang sebenarnya belum tidur sepenuhnya hanya bisa menghela napas dalam diam. Ia mengusap pipinya, berharap dalam hati agar ucapan keponakannya itu bukan sekadar angin lalu.

Sebab besok, sebuah hari yang panjang telah menanti mereka, sebuah pertemuan agung yang bisa saja berubah menjadi panggung unjuk gigi antar penguasa elemen Astergald.

1
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!