NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Mas Duda

Kepincut Cinta Mas Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AzZura02

Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.

Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.

Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.

Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 - Sisi Lain Alvaro (2)

Setelah memandikan anaknya, Alvaro langsung memakaikan pakaian kepada Lyra. Sebuah gaun selutut berwarna biru lengkap dengan gambar bunga-bunga. Setelah selesai terpakai di tubuh Lyra, gadis kecil itu tiba-tiba merengek.

“Ira tak mau ini Papa.” ucapnya sembari geleng-geleng kepala.

Alvaro yang peka dengan maksud Lyra pun langsung bertanya untuk memastikan, “Ira gak mau pakai baju ini?”

Lyra menatap wajah Alvaro dengan memelas. Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya.

Alvaro menghela nafas, Lyra memang sering begini semenjak umurnya bertambah dan mulai bisa memahami sekitarnya. Lyra sering menolak memakai baju yang tidak ia suka ataupun menolak makanan yang tidak ingin ia makan. Sebagai orang tua, Alvaro hanya menuruti keinginan Lyra agar anaknya tidak sedih.

Alvaro memegang kedua pundak Lyra, “Ira mau pake baju yang mana Nak?”

Lyra menunjuk sebuah gaun berwarna kuning dengan gambar Princess Belle di depannya. “Mau itu Papa.” pintanya lembut.

Tanpa menunggu waktu lama, Alvaro segera mengambil gaun yang Lyra inginkan lalu memakaikannya kepada Lyra. Kini Alvaro tahu bahwa puteri kecilnya sangat menyukai gaun princess. Hal tersebut dikarenakan Lyra selalu meminta gaun princess yang serupa untuk ia kenakan. Alvaro berpikir untuk membeli gaun princess lebih banyak karena Lyra menyukainya.

Setelah memakaikan Lyra baju, Alvaro menyisir rambut Lyra. Ia menyisir rambut itu dengan lembut sedangkan Lyra fokus bermain dengan boneka barbie di tangannya. Hari ini Alvaro menguncir kuda rambut Lyra. Lalu ia mengambil kotak di dekatnya dan membukanya. Kotak itu berisi banyak sekali jepit rambut lucu dengan bentuk yang bermacam-macam.

“Ira mau pake jepit rambut yang mana?” ucap Alvaro menawarkan.

Lyra tersenyum antusias ketika diminta untuk memilih jepitan rambut. Pilihan gadis kecil itu jatuh kepada jepitan berbentuk love berwarna pink dengan bulu-bulu lembut di sekitarnya.

Alvaro memakaikan jepit rambut sesuai dengan keinginan Lyra. Ia memasangkan dua buah jepit di atas telinga kanan dan kiri.

“Udah cantik. Anak Papa cantik sekali.” puji Alvaro sembari melihat Lyra.

Mendengar pujian dari Papanya membuat Lyra tersenyum malu-malu. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

Alvaro ikut tersenyum, “Yuk, kita beresin mainnya terus turun ke bawah buat makan.” ajak Alvaro yang dibalas anggukan oleh Lyra.

Tangan mungil Lyra langsung membereskan bonekanya dan meletakkannya ke dalam sebuah kotak besar. Kotak besar itu merupakan tempat Lyra menyimpan semua mainnya.

Alvaro mengelus kepala anaknya bangga, “Anak pintar.”

“Macihh Papa” (makasih Papa) “Ayo.” kata Lyra sembari tersenyum sangat manis.

Alvaro menggendong Lyra lalu berjalan menuruni tangga rumahnya untuk menuju meja makan. Di atas meja makan sudah tersedia nasi goreng dengan telur dadar yang ia masak tadi pagi. Alvaro mendudukkan Lyra di kursi sebelahnya. Kemudian memasangkan celemek anak pada Lyra untuk melindungi pakaian agar tidak kotor saat makan.

Lyra menyendokkan makanan ke mulut mungilnya. Ia mengunyah pelan. Sedetik kemudian gadis kecil itu menggoyangkan kepalanya yang artinya ia sangat menyukai makanan yang Alvaro buat. “Wahhh. Enyakkk Papa!” serunya dengan mulut yang penuh.

Alvaro terkekeh pelan, “Makasih sayang. Makanannya di telan dulu ya kalau bicara supaya tidak tersedak. Okay?”

Lyra langsung menelan makannya dan mengangguk tanda paham dengan perkataan Alvaro. Melihat Lyra yang makan dengan lahap membuat Alvaro merasa senang. Cowok itu juga sedang menghabiskan nasi goreng serupa di piringnya.

Saat sedang makan, sesekali Alvaro memperhatikan ke arah Lyra. Ia tersenyum dengan hangat ketika melihat puterinya yang makan dengan pintar. Di usia Lyra yang masih kecil, ia sudah bisa makan sendiri tanpa harus disuapi. Alvaro sangat bangga melihatnya. Namun tiba-tiba ia teringat kepada Silva, Ibu kandung Lyra.

‘Lihat anak kita Sil. Dia tumbuh dengan sangat pintar. Andai kamu masih di sini.. seiring berjalannnya waktu saat Lyra sudah mulai dewasa, apa aku bisa jadi orang tua yang baik buat Lyra?’ Lirih Alvaro dalam hati. Matanya berkaca-kaca sembari memandang Lyra.

Alvaro merasa nyeri di hatinya. Seperti ada ruang hampa di sana. Rasa rindu kepada sosok Silva terasa seperti menusuk dirinya. Sakit.

Alvaro melihat ke depan dan membayangkan saat dulu dia dan Silva masih hidup bersama. Gadis cantik itu akan menyapanya setiap pagi, memeluknya dan menghidangkan masakannya yang sangat enak. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipi Alvaro. Ah, ia rindu dengan suasana itu. Dengan cepat Alvaro langsung menghapus air matanya. Ia tidak ingin Lyra tahu bahwa ia sedang menangis.

Sudah lebih dari dua tahun di mana ia kehilangan sosok Silva, tapi perasaan Alvaro masih sama dan tidak berubah sedikit pun. Ia bertekad menjadikan Silva wanita terakhir di dalam hidupnya. Ia tidak ingin menggantikan Silva oleh siapapun. Ia tidak ingin membuka hatinya. Fokusnya sekarang hanyalah membesarkan Lyra dengan baik.

“Papa, sudah.” Kata Lyra sambil menunjukkan piringnya yang kosong.

Lamunan Alvaro buyar begitu mendengar ucapan Lyra. “Pinter sayang.” Puji Alvaro lalu membersihkan mulut Lyra dengan tisu dan membersihkan beberapa nasi yang jatuh di meja makan.

Setelah membereskan meja makan dan mencuci piring, Alvaro memasangkan tas ransel kepada Lyra. Di tas ransel berwarna pink itu tergantung gantungan kunci bebek dari Sheyra. Lyra yang menginginkan gantungan kunci itu di pasang di sana.

“Yuk berangkat.” ajak Alvaro sembari menggendong Lyra menuju ke luar rumah.

“Iya Papa!” seru Lyra riang.

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, saatnya mengantarkan Lyra ke daycare. Setelah mengantar Lyra, ia harus pergi ke cafe milik saudaranya untuk bekerja part time. Kemudian nanti di jam 14.00 ia akan datang ke kampus untuk mengikuti mata kuliah. Sungguh jadwal harian yang padat.

Setelah berkendara hampir 20 menitan, akhirnya mobil Alvaro sampai di depan daycare. Alvaro menatap Lyra yang duduk di sampingnya. “Ingat ya. Dengerin kata Bu guru. Jangan berantem sama teman-teman dan berteman sama semuanya ya.” nasehat Alvaro yang selalu ia ulang ketika mengantarkan Lyra.

“Iya Papa!”

Alvaro menurunkan Lyra dari mobil kemudian mengantar gadis kecil itu sampai pintu masuk daycare.

“Dadahhh Papa!” seru Lyra sambil melambaikan tangannya sebelum ia berlari masuk ke dalam ruang kelas.

Alvaro menghela nafas lega. Rasa khawatir yang ia rasakan saat pertama kali mengantarkan Lyra ke daycare sudah hilang ketika melihat Lyra kini ceria. Ia ingat sekitar 3 minggu yang lalu, Lyra terlihat begitu takut saat datang ke daycare yang asing baginya. Apalagi setiap pulang dari daycare, Lyra terlihat tidak antusias untuk bercerita. Di wajah Lyra selalu terlihat tidak senang.

Alvaro ingat perkataan Lyra saat itu. Dia bilang ingin di rumah saja bersama Alvaro. Ia tidak ingin pergi ke daycare. Alvaro merasa wajar dengan respon Lyra, dikarenakan pergi ke daycare dan bertemu banyak orang asing adalah pertama kali dalam hidup Lyra. Sebelumnya, Lyra hanya berada di rumah saja bersama dirinya. Orang lain selain Alvaro yang Lyra temui hanyalah kakek dan neneknya. Sehingga saat tiba-tiba di kirim ke daycare, gadis kecil itu merasa kesulitan untuk berinteraksi dengan teman-teman seusianya.

Tapi melihat ekspresi Lyra yang sekarang, Alvaro merasa lega. Sepertinya Lyra sudah mulai merasa nyaman di daycare. Pasti ia sudah memiliki teman dan sudah terbiasa di tempat ini.

Saat Lyra lahir sampai usianya menginjak 2 tahun 5 bulan, Alvaro mengambil cuti kuliah karena ingin fokus mengurus Lyra di rumah. Saat itu ia mengurus Lyra sembari bekerja freelance. Lalu ketika usia Lyra sudah cukup untuk dititipkan di daycare, Alvaro memutuskan untuk kembali kuliah sambil bekerja part time di rumah saudara. Bagaimanapun juga, ia sendiri juga harus menata hidup dan masa depannya. Demi Lyra.

^^^Bersambung…^^^

1
Cici Sri Yunita
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!