Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Edo masih mencengkeram leher Mia dengan kedua tangannya. Namun, ketika tubuh perempuan itu mulai melemas, napasnya tersengal dan matanya perlahan terpejam, kesadaran Edo seakan tersentak kembali. "Eh...!" Tatapan Edo turun pada wajah Mia yang pucat. Tangannya mendadak mengendur. Ia menarik kedua tangannya dari leher Mia dan mundur satu langkah.
Mia langsung terbatuk-batuk hebat. "Uhuk! Uhuk!" Tubuhnya meringkuk di atas kasur. Satu tangan memegangi leher, sementara tangan lainnya menopang tubuhnya yang gemetar. "Hah... hah..." Mia membuka mulut lebar-lebar, berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya. Dadanya naik turun dengan cepat. Setiap tarikan napas terasa kasar dan menyakitkan.
Edo hanya berdiri di hadapannya. Napas lelaki itu masih memburu. Wajahnya tegang. Beberapa detik ia menatap Mia yang sedang berusaha memulihkan napas.
Mia perlahan mengangkat wajah. "Dasar lelaki jahat... kamu sengaja mau membunuhku..." Suaranya serak dan nyaris tak terdengar.
Edo mengusap kasar wajahnya sendiri. "Ini semua gara-gara lo, Mia," desisnya. "Lo yang buat gue nekat kayak tadi! Gue muak sama lo, Setan!" Edo menunjuk wajah Mia dengan telunjuknya. "Gue udah nggak tahan hidup sama lo!" geramnya.
Mia menatap nyalang wajah Edo. "Gue juga udah nggak mau hidup sama lo!" balas Mia menjerit sekuat tenaga.
"Kalau begitu...!" Edo berteriak tepat di depan wajah Mia. Dadanya naik turun penuh amarah.
"Kalau begitu apa?!" balas Mia berteriak juga.
"Malam ini juga...!" Suara Edo menggelegar, sampai membuat para penghuni lain keluar. "Gue jatuhkan talak tiga ke lo, Mia Anggia!"
Mia membeku. Untuk beberapa detik, perempuan itu hanya menatap Edo tanpa berkedip. Seolah-olah otaknya membutuhkan waktu untuk memahami kalimat yang baru saja keluar dari mulut suaminya.
"Gue jatuhkan talak tiga ke lo, Mia Anggia!"
Dada Mia terasa sesak. Ia berkali-kali berdoa agar Tuhan menunjukkan jalan keluar dari rumah tangga yang hanya dipenuhi kebohongan dan luka?
Namun, ketika kata-kata itu benar-benar terlontar, hatinya justru terasa seperti diremas.
Air mata menggenang di sudut matanya, tetapi bukan semata-mata karena kesedihan. Ada rasa lega yang begitu besar. Tidak akan ada lagi kewajiban menunggu Edo pulang. Tidak akan ada lagi rasa curiga setiap kali lelaki itu memegang ponselnya. Tidak akan ada lagi perasaan harus mempertahankan rumah tangga yang bahkan tidak lagi diperjuangkan oleh suaminya sendiri.
Namun, di balik rasa lega itu, ada luka yang belum sempat ia pahami.
Mia menelan ludah. Tenggorokannya masih terasa perih akibat cekikan Edo. "Lo... benar-benar menjatuhkan talak ke gue?" tanyanya lirih.
Edo mendengus. "Udah jelas gue bilang apa."
Mia menatap lelaki itu lekat-lekat. "Jadi... kita benar-benar selesai?"
"SELESAI!" bentak Edo.
Mia terdiam. Satu tetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia mengusapnya dengan punggung tangan. Ada sesak di dada, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sesak itu bercampur dengan sesuatu yang menyerupai kebebasan.
Mia menarik napas panjang. "Kalau begitu..." Suaranya bergetar. "Semoga setelah ini kita benar-benar bisa menjalani hidup masing-masing."
Edo tertawa sinis. "Jangan sok bijak, anjing!" Ia membungkuk mengambil jaketnya yang tergeletak di lantai. Setelah mengenakannya, tangannya mengambil ponsel yang layarnya sudah retak akibat dibanting Mia.
Edo memeriksa ponselnya sekilas, lalu memasukkannya ke saku jaket. Sebelum pergi, ia menoleh kepada Mia. "Lo pikir hidup lo bakal lebih baik setelah pisah sama gue?" Mia tidak menjawab. "Jangan mimpi, Mia!" Edo menunjuk wajah Mia dengan telunjuknya. "Lo nggak akan pernah punya suami sesempurna gue lagi. Dengar baik-baik! Nggak akan pernah!" Edo makin emosi.
"Lo pikir gampang cari laki-laki yang mau sama perempuan kayak lo? Tua, cungkring, pelit, nggak bisa dandan, cerewet, jelek lagi." Tertawa sinis Edo di akhir ucapannya. "Lo bakal nyesel, Mia!" lanjut Edo. "Setelah kita berpisah, hidup lo bakal sengsara. Lo bakal kelabakan sendirian. Lo bakal nangis-nangis minta gue balik!" Ia menyeringai meremehkan. "Suatu hari nanti lo bakal sadar, kalau lo nggak akan bisa hidup tanpa gue! Tanpa seorang Edo Perwira!"
Mia mengangkat wajah, menatap Edo dengan mata basah. "Kita lihat saja nanti, Do. Siapa yang akan hidup sengsara dan bahagia. Yang jelas, talakmu... adalah kebebasanku," ujar Mia dengan suara lantang.
"Hahaha!" Edo tertawa sumbang. "Terserah lo, Deh, wanita tua! Makan tuh talak tiga dari gue!" Edo membalik badan, berjalan keluar dari kamar dan membuka pintu depan dengan kasar. Ketika mengangkat wajah, Edo baru menyadari beberapa pintu kontrakan di seberang telah terbuka.
Sejumlah penghuni berdiri berkerumun di teras kontrakan Rifki yang tepat berada di seberang kontrakannya dan Mia. Wajah mereka tampak tegang.
Tatapan Edo berkeliling sebentar. Tak ada satu pun dari mereka yang berani berkata-kata. Edo mendengus kesal. Tanpa mengatakan apa pun, ia langsung membanting pintu kontrakannya hingga menimbulkan suara keras. Tubuhnya melesat menuju garasi yang berada di pinggir. Tangannya meraih stang motor, lalu menarik kendaraan itu keluar. Beberapa detik kemudian, Edo sudah menaiki motornya. Suara mesin meraung keras di tengah malam.
Edo memutar gas dalam-dalam. Motor itu melesat meninggalkan kawasan kontrakan dengan kecepatan tinggi. Bahkan setelah melewati tikungan, suara raungan mesinnya masih terdengar samar.
Rifki menatap ke arah motor Edo yang semakin menjauh.
"Edan itu orang..." gumam Jamal.
Tarmi yang sejak tadi tampak gelisah langsung menoleh ke arah pintu kontrakan Mia. "Kita harus melihat keadaan Mia!" serunya.
Tarjo menelan ludah. "Iya, ayo! Takutnya Mia dipukuli lagi sama si Edo."
"Teh Mia suka dipukuli sama si Edo?!" serobot Rifki dengan mata membola.
Tarmi mengangguk. "Iya, Ki. Beberapa waktu lalu juga Mia bertengkar dengan si Edo, dan dia ditendang sama ditampar."
"Astagfirullah." Hati Rifki langsung terasa nyeri. Rifki segera turun dari teras. "Kalau begitu, buruan kita cek keadaan Teh Mia." Tanpa menunggu jawaban, lelaki itu berlari menuju kontrakan Mia. Tarmi dan Tarjo menyusul. Jamal serta Pak Udin juga ikut mendekat.
"Teh Mia!" panggil Rifki sambil mengetuk pintu. "Teh Mia! Bolehkah kami masuk?" Tidak ada jawaban. Rifki mengetuk lebih keras. "Teh Mia!"
Tetap sunyi.
Tarmi mulai panik. "Kita langsung masuk saja yuk!" ajaknya pada keempat lelaki itu.
"Ayo!" seru keempatnya kompak.
Tarmi mendorong pintu. "Mia!" panggilnya. Perempuan itu langsung masuk.
Rifki, Tarjo, Jamal, dan Pak Udin ikut menyusul.
"Mia?" Tarmi berjalan cepat menuju kamar. Begitu tirai kamar dibuka, langkahnya mendadak terhenti. Semua orang di belakangnya ikut terdiam.
Mia duduk di atas kasur. Tubuhnya meringkuk. Kedua lutut dipeluk erat ke dada, sementara dagunya hampir menempel di lutut. Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat. Matanya sembap dan basah. Satu tangannya masih sesekali menyentuh leher yang memerah.
Pemandangan itu membuat dada Rifki terasa mencelos. "Teh Mia..." lirihnya.
Mia perlahan mengangkat wajah. Tatapannya kosong selama beberapa detik sebelum akhirnya mengenali orang-orang yang berdiri di ambang pintu.
Tarmi langsung mendekat. "Ya Allah, Mia..." Suaranya bergetar. "Kamu kenapa?" Mia tidak menjawab. Bibirnya bergetar. Tarmi duduk di tepi kasur dan meraih bahunya. "Kamu diapain sama si Edo?" Pertanyaan itu justru membuat pertahanan Mia runtuh. Air matanya kembali mengalir. Tarmi memeluk tubuh Mia. "Sudah... sudah, jangan takut." Mia akhirnya menangis tanpa suara di pelukan Tarmi.
Rifki berdiri beberapa langkah dari kasur. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Tatapannya jatuh pada bekas kemerahan di leher Mia. Rahangnya mengeras. "Teh, apa si Edo memukuli Teteh?" tanyanya pelan.
Dalam pelukan Tarmi, Mia akhirnya membuka suara, "I-Iya..."
Semua yang mendengar langsung terdiam. Wajah mereka seketika berubah tegang.
"Astagfirullah hal adzim..." ucap Pak Udin.
"Astagfirullah..." Jamal ikut beristigfar, sementara Tarjo menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.
Tarmi yang masih memeluk Mia tampak semakin geram. "Mia, kamu diapain aja sama si Edo?" tanyanya dengan suara bergetar menahan amarah.
"Mbak..." Suara Mia nyaris menghilang. Tenggorokannya masih terasa perih setiap kali digunakan untuk berbicara.
Pak Udin segera menyela. "Sudah, jangan ditanya dulu. Ambilkan minum. Kasihan Mia."
Jamal sigap berbalik. "Iya, Pak!" Lelaki itu bergegas menuju dapur. Tak sampai semenit kemudian, ia kembali membawa segelas air putih. "Ini, Teh Mia." Jamal menyodorkan gelas tersebut.
Tangan Mia bergerak hendak menerimanya, tetapi jemarinya masih gemetar. Tarmi segera membantu memegang gelas itu. "Pelan-pelan, Mia. Minum sedikit-sedikit," ujar Tarmi lembut.
Mia mengangguk kecil. Ia menyesap air tersebut perlahan. Begitu air melewati tenggorokannya, wajahnya sedikit meringis karena rasa perih masih terasa.
"Masih sakit?" tanya Tarmi.
Mia hanya mengangguk.
Tarmi mengusap punggungnya pelan. "Sudah, nggak usah banyak bicara dulu."
Mia kembali meminum beberapa teguk sampai air di dalam gelas tersisa sedikit. Setelah itu, ia menarik napas panjang. Tangis yang sejak tadi pecah perlahan mulai mereda.
Rifki yang sejak tadi berdiri beberapa langkah dari kasur akhirnya kembali bertanya. Suaranya terdengar lebih hati-hati. "Teh... apa ada bagian tubuh Teteh yang luka?"
Mia terdiam sejenak. Ia mencoba menggerakkan kedua bahunya, kemudian tangannya menyentuh lengan dan pinggangnya sendiri. "Seluruh badanku sakit semua, A..." jawabnya lirih. Rifki menatapnya lekat-lekat. Mia menyentuh lehernya yang memerah. "Yang paling sakit leher..." katanya dengan suara serak. "Tadi Edo mencekikku."
"Astagfirullah hal adzim!" Pak Udin langsung mengucapkannya dengan suara berat.
"Astagfirullah..." Jamal menundukkan kepala.
Tarjo yang sejak tadi menahan emosi akhirnya tak mampu lagi menahan diri. "Kurang ajar banget sih itu orang!" umpatnya kasar. "Istri sendiri dicekik!"
"Edan!" Jamal ikut geram. "Kalau sampai terlambat dilepas, bisa fatal!"
"Astaghfirullah..." Pak Udin kembali beristigfar. Wajah lelaki tua itu tampak prihatin.
Tarmi langsung merangkul Mia lebih erat. "Ya Allah, Mia..." bisiknya. "Kok bisa-bisanya dia melakukan itu sama kamu?"
Mia tidak menjawab. Ia hanya kembali menundukkan wajah di dada Tarmi.
Rifki mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Urat di punggung tangannya terlihat menegang. Rahangnya mengeras. Tatapannya tertuju pada leher Mia yang memerah. Lelaki itu menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan amarah yang semakin membakar dadanya. "Teh Mia..." panggilnya kemudian. Mia perlahan mengangkat wajah. "Demi kebaikan Teteh, lebih baik jangan biarkan si Edo kembali ke kontrakan ini lagi. Dan Teteh jangan diam saja, laporkan KDRT yang dilakukan si Edo ke polisi. Aku bersedia mengantar Teteh," usulnya.
"Iya, Mia. Laporkan saja lelaki gendeng itu!" timpal Tarjo ikut murka.
"Betul, Mia. Tapi sebelum ke kantor polisi, lebih baik kamu periksakan dulu keadaanmu ke rumah sakit. Takutnya ada luka dalam." Pak Udin menyampaikan usul.
Mata Mia berkaca-kaca lagi, ia sungguh terharu karena masih banyak orang yang peduli padanya. "Semuanya... terima kasih atas kepedulian kalian. Aku bersyukur punya tetangga sebaik dan sepeka kalian semua." Suara Mia terbata-bata.
"Sama-sama, Mi!" sahut Tarmi. "Itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama manusia."
Mia mengangguk. "Iya. Sekali lagi terima kasih. Dan tentang si Edo, kalian tidak usah khawatir. Dia tidak akan berani datang ke sini lagi. Karena sekarang... aku dan dia sudah tidak punya hubungan apa pun," tutur Mia dengan suara serak.
Semua saling menukar pandangan, dan bertanya secara bersamaan, "Maksudnya?!"
Mia menarik napas dalam-dalam, membuangnya pelan sebelum menjawab, "Karena Edo sudah menjatuhkan talak tiga kepadaku"
Kelima orang itu kompak membeliakan mata.
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪