Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Tingkat SSS dan Nama Brave
Suasana di aula utama Istana Kerajaan Molten mendadak berubah tegang. Di atas meja panjang berbahan kayu jati tua, terbentang sebuah peta wilayah selatan yang dipenuhi simbol-simbol bahaya bercat merah pekat. Raja Molten, bersama Raja David dari Kerajaan Imperial, duduk berhadapan dengan raut wajah yang amat tertekan.
Sebuah ancaman skala besar baru saja menguncang perbatasan. Seekor naga kuno bersisik baja yang telah tertidur selama ratusan tahun di Puncak Gunung Vulkanik mendadak terbangkitkan. Hawa panas dari monster tingkat bencana itu mulai mengeringkan sumber air dan mengancam keselamatan ribuan rakyat di dua kerajaan.
"Kita tidak punya pilihan lain," ujar Raja Molten dengan suara berat. "Ini adalah ancaman tingkat bencana tertinggi. Kita harus mengerahkan party petualang peringkat teratas untuk menundukkan makhluk itu sebelum ia meratakan kota. Saya akan menerbitkan Misi Tingkat SSS secara resmi hari ini."
Raja David mengangguk setuju dengan raut wajah serius. "Kerajaan Imperial akan menanggung separuh dari total biaya imbalan misi ini. Pastikan petualang terbaik yang mengambilnya."
Berita tentang penerbitan Misi Tingkat SSS menyebar cepat ke seluruh penjuru Kerajaan Molten. Di dalam Bar Gurun Perbatasan, suasana menjadi begitu riuh saat Ryu meletakkan dokumen misi berstempel emas khusus dari istana di atas meja.
Robert menatap seluruh anggota timnya—Ryu, Ken, Okta, Kayla, dan Zass.
"Ini adalah misi paling berbahaya yang pernah kita terima sejak dibentuknya party ini," kata Robert dengan nada rendah penuh penekanan. "Naga kuno itu bukan sekadar monster batu atau binatang buas biasa. Perempuran ini akan melibatkan seluruh Kerajaan Molten dan rombongan Kerajaan Imperial yang sedang berkunjung."
Zass yang sedang mengasah pedang besinya menghentikan gesekan pisaunya sejenak. Tatapan matanya yang tajam menatap dokumen berselubung stempel emas tersebut. Kehadiran rombongan Kerajaan Imperial di kota ini membuat dadanya bergemuruh. Peristiwa di pasar kemarin, di mana ia melihat kembali wajah Celestia, masih membakar pikirannya.
"Paman," panggil Zass dengan suara tenang namun tegas. "Aku punya satu permintaan khusus untuk misi ini."
Semua anggota party menoleh menatap Zass dengan rasa penasaran.
"Sebutkan saja, Zass," jawab Robert.
"Selama misi ini berlangsung—terutama di hadapan para pejabat istana, Raja David, dan Putri Celestia—aku meminta kalian semua untuk tidak memanggilku dengan nama Zass," tutur pemuda 17 tahun itu. "Panggil aku dengan nama alias: Brave."
Ryu dan Ken saling berpandangan sejenak, sementara Kayla menatap Zass dengan rasa simpati yang mendalam. Mereka semua tahu betul kisah masa lalu Zass yang dibuang secara kasar oleh Raja David. Zass belum ingin identitas aslinya terungkap sebelum ia benar-benar membuktikan dirinya sebagai sosok terkuat yang tak bisa lagi diremehkan atau diusir begitu saja.
"Baik," Robert memegang bahu Zass dengan genggaman mantap. "Mulai detik ini, di depan publik dan pihak istana, kau adalah Brave, anggota inti dari party petualang Tier SSS."
Keesokan harinya, di pelataran luas di depan istana Kerajaan Molten, ratusan prajurit dan warga berkumpul untuk menyaksikan pelepasan party petualang yang akan mengeksekusi Misi Tingkat SSS. Di atas panggung utama, Raja Molten berdiri berdampingan dengan Raja David. Di sisi kanan Raja David, Putri Celestia berdiri anggun bergaun sutra biru muda, meski wajahnya masih memancarkan kedukaan dan kecemasan yang mendalam setelah kejadian di pasar kemarin.
Tepat saat lonceng istana berdentang lima kali, lima sosok berjalan tenang memasuki area pelataran.
Mereka adalah party petualang Tier SSS: Okta yang memancarkan aura Petir Biru, Kayla dengan pendar Petir Merah, Ken dengan kilatan Petir Kuning, Ryu dengan samaran Petir Oren, serta seorang pemuda bertubuh tegap yang berjalan paling depan, mengenakan jubah goni tebal dengan wajah yang sebagian tertutup oleh kerah tingginya. Di pinggang pemuda itu, terikat sebuah pedang besi sederhana, dan dari dadanya terpancar pendar halus Petir Ungu.
Mata Celestia seketika membelalak lebar. Tangannya mencengkeram erat pinggiran gaunnya saat melihat jubah karung goni dan pemuda berpotongan tubuh yang sangat familiar itu. Jantungnya berdegup sangat kencang.
"Dialah pemuda yang menyelamatkanku di pasar kemarin..." bisik Celestia dengan suara gemetar, matanya tak berkedip menatap pemuda di depan panggung.
Raja David yang mendengar bisikan putrinya menoleh, menatap pemuda berjubahkan goni itu dengan dahi berkerut. Ada rasa asing sekaligus kejanggalan di dalam hatinya saat melihat pemuda itu, namun sang raja sama sekali tidak menyadari atau mengenali bahwa pemuda berpostur tegap dan berhawa intimidatif itu adalah Zass—anak penempa besi yang dulu ia lempar keluar dari gerbang kerajaannya beberapa tahun silam. Perubahan fisik, tatapan mata yang dingin, serta energi petir yang menyelimuti tubuh Zass telah mengubah sosoknya secara total.
"Wahai para petualang Tier SSS!" seru Raja Molten dari atas panggung, suaranya menggema di seluruh lapangan. "Kerajaan Molten dan Kerajaan Imperial mempercayakan keselamatan wilayah ini di tangan kalian! Siapakah pemimpin serangan yang akan mengeksekusi misi ini?"
Ryu melangkah satu tingkat ke depan, lalu menunjuk ke arah pemuda berjubah goni di sampingnya.
"Garis depan dan eksekutor utama kami dalam Misi Tingkat SSS ini adalah pemuda ini," kata Ryu dengan suara lantang yang terdengar oleh seluruh hadirin. "Namanya adalah Brave."
Kata nama itu bergema jelas di telinga semua orang.
Brave?
Mendengar nama tersebut diucapkan secara resmi, tubuh Putri Celestia seketika membeku. Binar harapan yang tadinya membakar matanya mendadak padam total, berganti menjadi rasa kecewa dan hampa yang sangat menyakitkan.
"Brave...?" gumam Celestia dengan bibir gemetar, langkah kakinya mundur setengah tindak. "Bukan... bukan Zass...?"
Rasa sesak yang teramat sangat menghantam dada Celestia. Selama seharian ini, ia telah membohongi dirinya sendiri dengan keyakinan kuat bahwa penolongnya di pasar adalah Zass, cinta pertamanya yang selalu ia nantikan. Namun, mendengar nama Brave diumumkan secara resmi di hadapan dua raja dan ratusan saksi, Celestia merasa seluruh harapannya hancur berkeping-keping. Ia berpikir bahwa dirinya telah salah melihat orang. Pemuda berjubah goni ini hanyalah seorang petualang hebat berwajah mirip, bukan anak penempa besi yang ia cintai.
Tanpa sadar, celoteh kekecewaan itu terlepas dari bibirnya dengan nada yang cukup keras di atas panggung. "Jadi dia bukan Zass... Kenapa dia bukan Zass...?"
Mendengar nama 'Zass' kembali terucap dari bibir putri kesayangannya, raut wajah Raja David seketika berubah menjadi sangat kesal dan merah padam. Sang raja mencengkeram tangan tahtanya dengan geram, merasa harga dirinya tersenggol oleh nama seorang anak jelata yang telah ia usir bertahun-tahun lalu.
"Celestia!" tegur Raja David dengan nada suara kencang yang dipenuhi rasa jengkel dan ketidaksenangan. "Berhentilah menyebut nama anak jelata kotor itu! Kau adalah Putri Kerajaan Imperial! Tidak pantas bagimu untuk terus meratapi nama seorang anak penempa besi yang sudah tidak jelas keberadaannya di depan umum seperti ini!"
Celestia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan air mata kekecewaannya menetes diam-diam membasahi lantai panggung. Rasa sakit di hatinya makin berlipat ganda—kecewa karena mengira penolongnya bukan Zass, sekaligus tertekan oleh amarah ayahnya.
Di bawah panggung, Zass—yang kini berdiri tegak di bawah nama alias Brave—mendengar dengan sangat jelas teguran keras Raja David serta tangisan lirih Celestia.
Di balik kerah jubah goninya, Zass mengepalkan tangannya amat rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Percikan Petir Ungu menyala tipis di sekeliling pedangnya, merespons emosi dahsyat yang bergejolak di dalam dadanya. Rasa bersalah karena harus membuat Celestia kecewa menyiksa batinnya, namun amarah terhadap sikap sombong Raja David semakin membakar semangatnya.
Zass mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Raja David dan Celestia di atas panggung dengan tatapan mata yang amat tajam dan dingin bagaikan belati baja.
Tunggulah sebentar lagi, Celestia... batin Zass dengan tekad yang tak tergoyahkan. Setelah Misi Tingkat SSS ini selesai, setelah naga kuno itu tumbang di bawah pedangku... aku sendiri yang akan mendatangi mereka dan mengungkap siapa sosok Brave sebenarnya.
Zass berbalik badan, memimpin anggota party-nya melangkah meninggalkan pelataran istana menuju Puncak Gunung Vulkanik. Di balik nama terasing yang ia sandang hari ini, sang penguasa Petir Ungu siap melukis sejarah baru yang akan memaksa seluruh kerajaan tunduk pada kekuatannya.