Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Alasan yang Tersembunyi & Kecurigaan yang Tumbuh
Keesokan paginya, suasana di rumah itu terasa berbeda. Tidak ada pertengkaran terang-terangan, namun keheningan yang menyelimuti ruang-ruangnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Yb bangun lebih awal, duduk di meja makan dengan wajah yang tampak serius, seakan menyusun kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Di ruang lain, Karen muncul dengan wajah yang masih tampak lelah — matanya sedikit bengkak, tatapannya tak tenang, dan setiap kali ia menatap Yb, ada keraguan yang tak bisa ia sembunyikan. Sementara Cynthia, yang keluar dari kamar terakhir, bergerak dengan tenang, seakan tidak ada beban yang dipikulnya, padahal hatinya penuh menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Saat sarapan tersaji di meja, Yb menarik napas panjang, lalu menatap Karen dengan wajah yang sengaja dibuat setenang mungkin.
"Karen..." ucapnya pelan, namun cukup jelas terdengar. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu soal dokumen rumah kita."
Karen berhenti mengaduk makanannya, menatap suaminya dengan tatapan yang langsung waspada. "Dokumen rumah? Apa maksudnya?"
Yb mengangguk pelan, menyusun alasan yang sudah dipikirkannya semalaman. "Kemarin aku teringat sesuatu. Saat pengurusan sertifikat waktu itu, ada beberapa berkas yang ternyata belum lengkap. Petugas di kantor terkait mengingatkanku — ada kesalahan penulisan data, dan beberapa tanda tangan yang seharusnya ada ternyata belum terisi dengan benar. Kalau dibiarkan, bisa menimbulkan masalah di kemudian hari. Jadi aku berencana mengurus perbaikannya. Sedikit demi sedikit, agar semuanya sah dan tidak ada yang bisa dipersoalkan."
Karen mendengarkan, namun keraguan di matanya tak berkurang. Ia menatap Yb lekat-lekat, lalu melirik sekilas ke arah Cynthia yang duduk diam menunduk di seberang meja. "Kesalahan data? Sejak kapan ada hal seperti itu? Bukankah semuanya sudah beres sejak awal?"
"Sepertinya ada yang terlewat saat proses pemindahan nama," jawab Yb dengan suara yang tetap tenang, berusaha terlihat meyakinkan. "Aku sendiri baru menyadarinya kemarin saat memeriksa berkas-berkas lama. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini hanya urusan administrasi biasa. Aku akan mengurusnya sendiri, tidak akan memakan waktu lama."
Karen terdiam, menggigit bibirnya. Sesuatu di dalam hatinya berbisik bahwa ada hal lain di balik ini semua. Mengapa tiba-tiba sekarang? Mengapa tepat setelah pertengkaran kemarin? Dan mengapa wajah Yb terlihat begitu serius, seakan menyembunyikan sesuatu yang besar? Namun ia tak punya bukti apa pun. Ia hanya bisa menatap suaminya, menahan rasa curiga yang mulai membara.
"Baiklah..." jawabnya pelan, namun nada suaranya dingin dan tertutup. "Kalau memang hanya urusan administrasi, laksanakan saja. Tapi beritahu aku setiap ada perkembangannya. Aku ingin tahu semuanya."
"Tentu," jawab Yb singkat, lalu kembali makan, meski makanannya terasa hambar di lidahnya.
Di sisi lain meja, Cynthia hanya diam. Ia tidak ikut berbicara, tidak ikut menambahkan apa pun. Ia tahu — semakin tenang ia bersikap, semakin tidak terlibat secara langsung, semakin sulit bagi Karen untuk menuduh apa pun. Namun di dalam hatinya, ia menyadari bahwa langkah pertama telah diambil. Dan setiap langkah selanjutnya harus dilakukan dengan kehati-hatian yang jauh lebih besar.
Hari-hari berikutnya, Yb mulai pergi lebih awal dan pulang sedikit lebih lambat dari biasanya. Setiap kali Karen bertanya ke mana ia pergi, jawabannya selalu sama — mengurus berkas, melengkapi tanda tangan, berbicara dengan petugas. Penjelasannya masuk akal, terdengar wajar, namun justru keteraturan itulah yang membuat Karen semakin curiga. Ia mulai memperhatikan setiap gerak-gerik suaminya: ponsel yang selalu dijaga terbalik, percakapan yang berhenti saat ia masuk ruangan, tatapan yang sesekali terarah ke arah Cynthia dengan makna yang tak dapat dijelaskan.
Suatu sore, saat Yb sedang mandi, ponselnya di atas meja bergetar pelan. Sebuah pesan masuk, layarnya menyala sesaat. Karen melirik — bukan niatnya untuk mengintip, namun nama yang tertera di layar membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak. Bukan nama orang asing, bukan nama rekan kerja. Itu nama Cynthia.
Tangan Karen gemetar. Ia tahu ia seharusnya tidak melakukannya, namun rasa ingin tahu yang bercampur ketakutan mendorongnya. Ia mengambil ponsel itu, namun kuncinya terkunci. Napasnya tercekat. Ia meletakkannya kembali secepat mungkin, seakan benda itu terbakar, lalu duduk diam di tempatnya, dadanya sesak oleh pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Mengapa mereka berdua berkomunikasi secara terpisah? Dan mengapa pesan itu datang tepat saat Yb sedang mengurus urusan rumah itu?
Malam harinya, saat mereka bertiga duduk di ruang tengah, Karen menatap Cynthia tajam.
"Cynthia..." panggilnya tiba-tiba, suaranya terdengar menantang. "Kau tahu apa yang sedang diurus Yb soal rumah ini, bukan?"
Cynthia menoleh, wajahnya tampak tenang meski hatinya berdebar kencang. "Aku tidak tahu secara pasti," jawabnya dengan lembut namun tegas. "Yb hanya bilang ada urusan berkas yang harus diperbaiki. Itu saja yang kudengar."
Karen tidak melepaskan pandangannya. "Hanya itu? Kau yakin tidak ada hal lain yang kau sembunyikan dariku?"
Cynthia menggeleng pelan, menatap lurus ke mata Karen — adiknya sendiri. "Aku tidak menyembunyikan apa pun. Seandainya aku tahu sesuatu yang penting, aku akan mengatakannya. Aku tinggal di sini hanya untuk membantumu selama masa kehamilanmu. Tidak lebih dari itu."
Jawaban itu terdengar begitu tenang, begitu tulus, sehingga Karen sempat ragu sejenak. Namun rasa curiga yang sudah tertanam tak mudah hilang begitu saja. Ia menatapnya lama, lalu beralih menatap Yb yang duduk diam di sisi lain ruangan. Suaminya tidak membela siapa pun, hanya diam, menatap lurus ke depan seakan memikirkan sesuatu yang berat.
Karen berdiri perlahan. "Baiklah. Aku harap memang begitu saja. Tapi ingat... jika ada sesuatu yang disembunyikan di belakangku, aku tidak akan tinggal diam. Rumah ini adalah tempat tinggalku, tempat di mana anakku akan lahir. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya dariku."
Dengan itu, ia berbalik menuju kamar, meninggalkan Yb dan Cynthia yang saling bertukar pandang sejenak — satu tatapan yang penuh kekhawatiran, namun juga penuh tekad. Rencana ini belum selesai. Sertifikat belum berpindah sepenuhnya. Dan Karen... Karen mulai mencium bau ketidakberesan.
Malam itu, setelah semua terlelap, Yb mengirim pesan singkat kepada Cynthia: "Ia mulai curiga. Kita harus lebih berhati-hati. Urusan ini butuh waktu lebih lama dari yang kubayangkan."
Cynthia membaca pesan itu, lalu mengetik balasannya dengan jari yang sedikit gemetar: "Aku tahu. Tetap tenang. Jangan terlihat terburu-buru. Semakin pelan, semakin aman."
Namun di kamar yang lain, Karen terjaga, menatap langit-langit gelap di atasnya. Ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan, namun ia merasakannya — ada sesuatu yang bergerak di belakang punggungnya, sesuatu yang perlahan mengambil apa yang ia miliki. Dan ia tidak akan membiarkannya terjadi tanpa perlawanan.
Tujuh tahun kesetiaan, tujuh tahun menunggu, namun pada akhirnya semua pengorbanan seakan tak pernah dilihat. Alurnya begitu menyentuh, setiap kalimat terasa hidup dan menusuk sampai ke hati. Cerita ini bukan sekadar kisah cinta, tapi tentang dihargai atau diabaikan, tentang berjuang lalu terluka. Kalau kalian mampir ke sini, jangan lewatkan untuk membacanya dari awal sampai akhir — kalian pasti akan ikut merasakan setiap perasaan tokohnya. Karya yang luar biasa indah dan berharga! Semangat terus menulisnya Kak! ❤️⭐⭐⭐⭐⭐