Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Di Antara Dua Kebenaran
Gue duduk tegak di tepi ranjang, jantung berdebar kencang banget. "Halo? Ibu... Ibu Farhan?"
"Panggil saya Bu Sari, boleh," suaranya bergetar di seberang. "Saya tahu ini mendadak. Saya tahu kalian pasti banyak bertanya."
"Tante Ratna bilang... Ibu pergi karena sakit dan tidak sanggup. Tapi Tante bilang Ibu diancam?"
"Benar. Itu yang tidak boleh diketahui siapa pun." Napasnya terdengar berat dan takut. "Saat ayahnya Raka — maksud saya, Farhan — meninggal, ada seseorang yang mendekati saya. Orang yang sama yang kemudian juga membantu mengurus pemakaman dan semua urusan."
"Siapa, Bu?"
"Dia bilang... kalau saya tetap di sini, nyawa Farhan tidak akan aman. Dia bilang dia punya kuasa di mana pun saya pergi. Jadi saya berpura-pura meninggalkan Farhan karena tidak mampu. Padahal saya lari menyelamatkan nyawanya."
Gue telan ludah susah. "Terus sekarang Ibu di mana? Kenapa baru berani bilang sekarang?"
"Karena orang itu mulai gelisah. Dia tahu kebenaran mulai terbuka. Saya mendengar kabar dari Tante Ratna... dia ikut campur urusan sekolah, ikut campur soal Dimas, bahkan yang soal kecelakaan itu pun dia tidak lepas tangan." Bu Sari berhenti, suaranya turun jadi bisik. "Orang itu sering ke rumah yang merawat Farhan. Dia sering menanyakan perkembangan Farhan. Seakan mengawasi."
Darah di tubuh gue terasa dingin pelan-pelan. "Siapa, Bu? Tolong bilang namanya."
"Dia..."
Tiba-tiba suara terputus. Bukan ditutup pelan — terputus kasar, seakan sinyal diputus dari luar.
"Bu Sari? Bu Sari?!"
Hening. Tidak ada jawaban.
Gue pegang HP erat di tangan, napasnya gak teratur. Jam di dinding nunjuk pukul dua pagi. Gue gak bisa tidur lagi. Langsung ketik pesan ke Farhan, tangan gemetar:
"Besok pagi jangan ke mana-mana sebelum ketemu gue. Ada hal sangat penting."
Pagi itu udara terasa beda — dingin, padahal matahari udah muncul. Gue keluar rumah lebih awal dari biasanya. Farhan udah nunggu di tempat biasa, di bawah pohon. Pas lihat gue, dia langsung sadar ada yang salah.
"Mir? Lo pucat banget. Ada apa?"
Gue langsung ceritakan semuanya. Dari telepon tengah malam, dari ancaman itu, dari orang yang selama ini mengawasi dia tanpa dia sadari. Farhan diam mendengarkan, wajahnya makin kaku tiap kata yang gue ucap.
"Jadi..." dia menelan ludah, "selama ini ada orang yang tau segalanya. Yang mengatur semuanya. Dan yang sekarang... mungkin ikut campur urusan Dimas juga?"
"Kelihatannya begitu." Gue pegang lengannya pelan. "Dan orang itu dekat sama keluarga lo, Han. Sering ke rumah, tau perkembangan lo, bahkan mungkin ikut campur waktu kecelakaan itu."
Dia hening lama, matanya kosong menatap jalanan. "Gue harus tanya ke Bapak dan Ibu. Sekarang juga."
"Gue ikut."
Sesampainya di rumah, Bapak dan Ibu sedang duduk di ruang tengah, wajahnya sudah tampak cemas sebelum kami bicara. Seperti mereka sudah tahu kami datang membawa hal berat.
"Farhan... Amira," sapa Bapak pelan. "Ada yang ingin kalian tanyakan?"
Farhan berdiri tegak di depan mereka, napas dalam-dalam. "Saya baru saja menerima telepon. Dari Ibu kandung saya."
Wajah mereka berdua langsung berubah pucat.
"Beliau tidak pergi karena sakit atau tidak mampu," lanjut Farhan, suaranya tenang tapi bergetar. "Beliau pergi karena diancam. Ada orang yang bilang akan mencelakai saya kalau beliau tetap di sini. Dan orang itu... dekat sama Bapak dan Ibu. Sering ke rumah. Mengawasi saya dari jauh."
Ibu menutup wajah dengan tangan, air mata langsung jatuh. "Kami tidak berani bilang, Nak. Kami takut untukmu."
"Siapa orang itu?" tanya Farhan tegas. "Saya berhak tahu siapa yang selama ini mainkan hidup saya dan orang-orang yang saya sayangi."
Bapak berdiri pelan, matanya berkaca-kaca dan penuh rasa bersalah. "Kami tidak menyangka akan sejauh ini. Kami pikir setelah bertahun-tahun... dia akan berhenti."
"Siapa, Pak?" desak Farhan.
Bapak menunduk, suaranya berat sekali. "Paman Budi. Saudara jauh dari pihak ayahmu."
Gue menahan napas. Nama itu tidak asing. "Yang sering datang bawa buah? Yang tanya soal nilai, soal teman, soal kegiatan Farhan?"
"Iya," jawab Bapak lemah. "Dia yang membantu mengurus semua administrasi saat ayahmu meninggal. Dia yang menyarankan mengganti namamu. Dia yang datang setiap bulan dengan alasan menengok, padahal..."
"Memastikan saya tidak tahu apa-apa," potong Farhan. "Memastikan saya tetap di bawah kendalinya."
"Dia juga yang mendesak agar nama Dimas disalahkan sepenuhnya," tambah Ibu cepat. "Bukan karena marah. Tapi supaya tidak ada yang menggali lebih dalam. Takut rahasia ayahmu terbawa keluar."
"Jadi kecelakaan itu..." Farhan mundur selangkah. "Ada campur tangan dia?"
"Kami tidak yakin," kata Bapak. "Tapi setelah kejadian itu, dia datang dan berkata: 'Bagus. Semua tertutup rapat.' Seakan dia sudah menyiapkan semuanya."
Farhan duduk di tepi kursi, menutup wajah dengan kedua tangan. Selama ini orang yang dianggap keluarga, orang yang sering dia sapa dengan sopan, orang yang dipercaya orang tuanya — ternyata orang yang sama yang merusak hidup semua orang di sekitarnya.
"Han..." Gue duduk di sebelahnya, pegang bahu pelan. "Lo gak sendirian."
Dia angkat muka, matanya merah tapi tidak menangis. "Saya harus hadapi dia."
"Jangan gegabah, Nak," kata Bapak cemas. "Dia orang yang punya koneksi luas. Bisa berbahaya."
"Justru karena itu harus dihentikan sekarang." Farhan berdiri, tatapannya tegas sekali. "Kalau tidak, besok lusa dia bisa rusak lebih banyak lagi hidup orang. Termasuk Dimas. Termasuk Amira."
Saat itu juga pintu diketuk. Ketukan yang gak asing — pelan, berat, berirama.
Bapak dan Ibu saling pandang, wajah mereka ketakutan.
"Dia datang," bisik Ibu.
Farhan langsung menatap gue, matanya tajam dan cepat. "Lo ke belakang. Sembunyi di ruang makan. Dengar aja. Jangan keluar sampai gue panggil lo."
"Tapi lo..."
"Gue bisa hadapi." Dia pegang tangan gue erat sekali. "Tolong percaya sama gue. Sekarang jalan."
Gue bergegas masuk ke bagian belakang rumah, sembunyi di balik dinding ruang makan yang masih bisa melihat pintu depan dari celah.
Pintu terbuka.
Seorang laki-laki berbadan tegap masuk, tersenyum lebar tapi matanya dingin banget. Bawa tas kulit di tangan.
"Selamat pagi semua," suaranya terdengar ramah, tapi ada nada mengancam di ujungnya. "Saya dengar... banyak hal yang mulai terbongkar akhir-akhir ini."
Dia menatap Farhan langsung.
"Kamu sudah besar, Raka. Atau harus saya panggil Farhan?"
Farhan berdiri tegak, tidak mundur selangkah pun. "Panggil saya apa saja. Tapi hari ini selesai, Paman. Semua rahasia, semua kebohongan — hentikan sekarang."
Paman Budi tertawa kecil, tidak ramah sama sekali. "Kamu pikir begitu mudah? Semua ini saya bangun bertahun-tahun. Untuk menjaga nama baik keluarga."
"Untuk menjaga kepentingan Paman sendiri," potong Farhan tajam. "Uang, kuasa, semua yang Paman dapat dari kematian ayah saya. Dan sekarang Paman mau tutup semua dengan menyalahkan orang lain?"
Wajah Paman Budi berubah keras. "Hati-hati bicaramu, Nak. Kamu tidak tahu seberapa besar kuasa yang saya punya."
"Saya tidak takut." Farhan maju selangkah. "Karena saya tidak sendirian. Banyak orang sudah tahu. Dan kalau sesuatu terjadi pada saya, pada Amira, pada Dimas... semua cerita ini langsung tersebar luas. Termasuk bukti yang saya simpan."
Gue menahan napas. Bukti? Farhan tidak pernah bilang soal itu ke gue.
Paman Budi diam. Matanya menyipit, menimbang. "Kamu berani mengancam saya?"
"Saya melindungi diri saya dan orang-orang yang saya sayangi."
Keheningan berat menyelimuti ruangan. Paman Budi menatap Farhan lama, lalu perlahan mundur ke arah pintu.
"Kita lihat saja nanti," katanya dingin. "Ini belum selesai."
Dia keluar dan membanting pintu.
Gue langsung berlari ke ruang depan. Farhan masih berdiri di tempat, napasnya berat, tangan sedikit gemetar. Tapi dia tetap tegak.
"Lo baik-baik saja?" Gue pegang lengannya.
Dia menoleh, senyum lega muncul pelan. "Dia takut. Itu yang penting."
"Tapi dia bilang belum selesai..."
"Biarkan." Farhan menarik napas panjang, lalu menatap Bapak dan Ibu. "Sekarang kita lapor ke pihak berwenang. Bersama-sama. Semua cerita. Semua bukti."
Bapak mengangguk mantap. "Iya. Kami ikut. Kali ini kami tidak akan diam lagi."
Saat kami bersiap berangkat, HP gue bergetar. Pesan masuk dari nomor yang sama — Bu Sari.
"Saya sudah di depan rumah. Saya membawa bukti tertulis dan saksi. Tapi... ada hal lain yang harus kalian ketahui. Paman Budi tidak sendirian. Ada orang di sekolah kalian yang membantu dia."
Gue menatap Farhan, darah terasa berhenti mengalir.
"Di sekolah..." bisik gue. "Di antara kita."