NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

"Lancang kau, Savea!"

Suara Arthur menggelegar membelah keheningan halaman Istana Sayap Barat. Nada suaranya yang rendah namun sarat akan otoritas absolut membuat udara pagi terasa makin mencengkam. Matanya menatap tajam ke arah istrinya yang masih menangis histeris.

"Kau meneriakiku di depan para pelayan! Di mana letak akal sehatmu?!" lanjut Arthur dengan rahang mengetat keras, menahan amarah yang membakar dadanya. "Kau tidak malu meneriaki kegilaan ini di tempat terbuka?!"

Savea menyapu air matanya kasar dengan punggung tangan, tertawa sumbang yang terdengar memilukan sekaligus mengerikan. "Malu?! Untuk apa aku malu, Arthur?! Yang seharusnya malu adalah dirimu! Kau membiarkan tubuhmu disentuh oleh wanita lain di belakangku!"

Tatapan mata Savea yang kalap bergeser melintasi tubuh Arthur. Namun, bukannya tertuju pada Snow yang berdiri tenang menundukkan kepala, pandangan Savea justru terkunci rapat pada Ava—pengasuh muda yang berdiri dengan wajah pucat pasi dan tubuh bergetar hebat.

Di mata Savea yang diselimuti cemburu gila dan prasangka, Snow sama sekali tidak masuk dalam daftar kecurigaannya. Semalam, Savea menyaksikan sendiri bagaimana Arthur sama sekali tidak menunjukkan pendar gairah atau ketertarikan sedikit pun pada Snow, padahal Snow sudah mengenakan gaun sutra minim yang sengaja dipasangnya sebagai umpan.

Bagi Savea, Snow hanyalah ibu susu miskin yang pasif dan tak menarik.

Tapi Ava?

Gadis pengasuh muda itu mengenakan pakaian kerja ketat yang memang menjadi seragam standar pelayan muda istana. Dan yang membuat darah Savea mendidih hingga ke ubun-ubun: di leher jenjang Ava, tepat di atas kerah bajunya, tercetak bekas kemerahan yang mungkin saja akibat gigitan serangga pagi—namun di mata Savea yang dipenuhi paranoia, itu terlihat persis seperti bercak merah di leher Arthur.

"Kau..." bisik Savea dengan nada suara mendingin yang teramat berbahaya, menunjuk lurus ke wajah Ava. "Rupanya kau pelacur kecilnya!"

"N-Nyonya... demi Tuhan, bukan saya, Nyonya!" jerit Ava ketakutan, merapat ke dinding granit dengan lutut yang gemetar hebat. "Saya tidak berani, Nyonya! Saya hanya bertugas mengawasi Tuan Muda Ocean!"

"Tutup mulutmu, pelacur rendahan!" murka Savea melangkah cepat hendak menerjang Ava. "Pantas saja kau selalu berdandan rapi dan memakai baju ketat ini di sekitar suamiku! Kau memanfaatkan kesempatan saat membawa Ocean keluar, kan?! Kau memberikan tubuh murahanmu pada suamiku di belakangku?!"

"CUKUP, SAVEA!"

Arthur melangkah lebar, memotong jalur Savea dan berdiri tegap bagai dinding batu yang tak tertembus. Meskipun amarah Savea meledak-ledak, martabat dan harga diri Arthur sebagai seorang Duke serta calon penguasa tak tergoyahkan sedikit pun. Pria itu menatap Savea dengan pandangan menghina dan jijik yang teramat dingin.

"Jaga lidahmu sebelum aku memotong mu dan melemparnya keluar dari istana," desis Arthur dengan penekanan kata yang dingin dan mematikan, menghentikan langkah Savea seketika. "Pikiranmu sudah membusuk oleh kegilaanmu sendiri. Pelayan Ava tidak ada hubungannya dengan apa pun yang terjadi padaku."

"Lalu siapa, Arthur?! SIAPA?!" jerit Savea, dadanya naik turun memburu. "Kau menolakku selama tiga tahun! Kau membuatku merasa seperti wanita paling tak berguna di dunia ini! Tapi dengan pelayan rendahan di istana ini, kau bisa berbagi kehangatan?!"

Di tengah makian dan tuduhan yang dilontarkan Savea pada Ava, Arthur memilih untuk sepenuhnya mengabaikan suara istrinya. Pria itu sedikit memiringkan tubuhnya, menatap ke arah Snow yang berdiri anggun beberapa langkah di belakangnya.

Di bawah pendar sinar matahari yang lembut, mata kelabu Arthur bertemu dengan manik mata Snow. Ada kerlingan tajam dan curi-curi pandang yang membakar di antara mereka—sebuah rahasia panas yang hanya diketahui oleh mereka berdua.

Arthur menatap bibir Snow yang sedikit membengkak bekas hisapan liarnya semalam, sementara Snow memberikan senyum tipis yang hampir tak terlihat, menyiratkan kepuasan atas kekacauan yang melanda Savea.

Dada Arthur bergemuruh oleh rasa malu yang mendalam. Sungguh, ia merasa sangat malu jika para menteri kerajaan atau petinggi militer sampai mengetahui betapa gila dan tak terkendalinya wanita yang menyandang gelar sebagai istrinya ini. Kehormatan Blackwood yang dijaganya bertahun-tahun seolah tercoreng oleh histeria murahan Savea di halaman terbuka.

"Ava, bawa Ocean kembali ke dalam kamar," perintah Arthur tegas tanpa memandang Savea lagi. "Dan kau, Savea... kembali ke kamarmu sebelum aku memanggil pengawal untuk menguncimu dari luar."

"Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini, Arthur! Aku istrimu!" jerit Savea saat dua pengawal pribadi Arthur mendekat dengan hormat namun sigap membatasi pergerakannya.

Tanpa memedulikan jeritan dan tangisan histeris Savea yang makin menjauh karena digiring kembali ke dalam sayap timur, Arthur membalikkan badannya. Dengan langkah mantap dan wajah yang masih menyimpan rona amarah, ia melangkah menyusuri lorong taman yang sepi, dibimbing oleh ketenangan pagi.

Snow melangkah pelan di belakangnya, menjaga jarak beberapa tapak sesuai batas kesopanan di hadapan publik.

Namun, begitu mereka memasuki koridor tertutup Sayap Barat yang sepi dari jangkauan pelayan lain, Snow mempercepat langkah kakinya hingga berjalan bersisian di sebelah Arthur.

Snow menatap dada tegap Arthur yang hanya dibalut kaus ketat berpeluh, memperlihatkan lekuk otot yang terbentuk sempurna. Ia memiringkan kepalanya tipis, lalu berbisik dengan nada suara pelan namun sarat akan ketegangan yang provokatif.

"Bisakah lain kali kau memakai pakaian olahraga yang lebih tertutup?" cetus Snow santai namun tajam. "Aku tidak suka melihat dada bidangmu terekspos dan menjadi konsumsi pandangan mata wanita lain."

Deg.

Langkah kaki Arthur terhenti seketika di tengah koridor.

Pria tegap yang biasanya selalu bersikap dingin dan tak tersentuh itu mendadak terpaku. Rona merah hangat menjalar cepat dari ceruk lehernya, naik membasahi cuping telinga hingga memerah pekat di kedua dadanya yang bergetar. Jantungnya berdegup kencang hanya karena satu kalimat sederhana dari wanita di sampingnya.

Arthur menyapu pandangan ke sekeliling koridor, memastikan tidak ada pelayan atau pengawal yang memperhatikan mereka. Setelah merasa aman, ia memajukan tubuhnya, meraih pinggang halus Snow secara impulsif dan menarik wanita itu merapat ke dinding marmar yang dingin.

"Kau..." bisik Arthur dengan suara serak yang amat dalam, menatap lurus ke dalam mata Snow dengan binar gairah yang tersembunyi. "...kau cemburu, honey?"

Snow tidak mundur. Ia justru menegakkan dagunya, membiarkan dadanya bersentuhan halus dengan dada tegap Arthur yang hangat dan berpeluh tipis.

"Tentu saja aku cemburu," bisik Snow tanpa ragu, jemarinya terangkat dan dengan berani mengelus dada bidang Arthur di balik kain kausnya yang tipis, merasakan detak jantung pria itu yang memburu. "Milikku tetaplah milikku, Arthur. Pria yang semalam merintih menyebut namaku di atas ranjang tidak boleh membiarkan tubuhnya dipamerkan secara cuma-cuma pada pelayan atau istri gilamu itu."

Deg.

Napas Arthur tertahan. Bisikan nakal dari Snow meruntuhkan seluruh sisa pertahanan dirinya. Bisikan itu membawanya kembali pada memori percintaan panas mereka beberapa jam lalu di kamar Ocean.

"Snow..." desis Arthur berat, menyandarkan dahi tegapnya pada dahi Snow. Jemari tangannya meremas pinggang wanita itu makin erat, seolah ingin menyerap seluruh keberadaan Snow ke dalam tubuhnya. "Jangan memprovokasiku di sini... atau aku akan menyeretmu kembali ke kamar sekarang juga tanpa peduli siang atau malam."

Snow menyunggingkan senyum tipis yang amat memikat, mengusap bekas ruam merah di leher Arthur dengan ibu jarinya. "Lakukan saja jika kau berani, Tuan Duke. Tapi aku pastikan kali ini aku menandaimu di tempat yang lebih tersembunyi... agar istrimu tidak makin kehilangan akal sehatnya."

Arthur terkekeh rendah di tenggorokannya, sebuah tawa lepas yang sudah bertahun-tahun tak pernah terdengar dari bibirnya. Ia mendaratkan ciuman singkat namun sangat pekat di bibir Snow sebelum melepaskan kuncian tangannya dengan berat hati.

"Kau benar-benar berbahaya, Snow," gumam Arthur seraya merapikan kembali pakaiannya, matanya berkilat penuh cinta dan ketagihan yang tak terselamatkan. "Tapi aku berjanji... mulai esok, tubuh ini hanya akan tertutup rapat khusus untuk matamu saja."

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Rosdianah 🌷: hahah🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!