Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Kesatria Menyimpan Taringnya
Anak itu belum satu jam menjadi pengantin, tetapi sudah mengenakan penyamarannya seolah lahir dengan wajah tersebut.
Keyakinan Wisnu makin kuat ketika jamuan dimulai.
Arya memegang gelas jus dengan cara yang sengaja terlalu santai. Saat kepala rumah tangga memperkenalkan seorang komisaris cabang teknologi, Arya malah bertanya apakah pria itu tahu letak meja sate. Kepada pengusaha properti yang ingin membicarakan proyek, ia mengeluh sepatu pengantin membuat kakinya sakit.
Tawa kecil mengikuti ke mana pun ia berjalan.
"Putra Pak Wisnu ternyata lucu juga."
"Lucu atau tidak tahu tata krama?"
"Untung hanya jadi wali saham perusahaan hiburan."
Anindya mendengar komentar terakhir. Gelas di tangannya berhenti sebelum menyentuh bibir.
Arya justru menoleh kepada kepala rumah tangga. "Pak, meja sate di mana? Dari tadi saya tanya tidak ada yang menjawab."
Pria tua itu menahan senyum. "Di teras timur, Den Arya."
"Akhirnya ada orang berguna di rumah ini."
Beberapa tamu terbahak. Kepala rumah tangga membungkuk sambil menggeleng, paham bahwa ejekan itu tidak sungguh-sungguh. Namun Anindya memperhatikan hal lain: Arya telah menyapa setiap pelayan dengan nama setelah hanya mendengarnya sekali, sementara ia pura-pura lupa jabatan para eksekutif yang mencoba mendekat.
Ia tidak ceroboh.
Ia sedang memilih siapa yang layak diingat secara terbuka.
"Nak Arya."
Seorang pria berusia enam puluhan dengan syal tipis menghampiri mereka. Wajahnya dikenal hampir semua orang di industri film.
"Om Wira." Arya langsung menjabat tangannya. "Saya kira orang terkenal datang paling akhir."
Sutradara Wira tertawa. "Saya datang untuk melihat putra Wisnu yang katanya lebih sulit diarahkan daripada aktor amatir. Rupanya benar."
"Kalau bayarannya bagus, saya bisa belajar."
"Datang ke acara ulang tahun saya minggu depan. Kita bicara soal bayaran di sana."
Anindya menoleh. Sutradara Wira terkenal sulit ditemui, bahkan oleh direktur rumah produksi besar. Namun kepada Arya, ia berbicara seperti seorang paman yang sudah lama mengenal kenakalan keponakannya.
"Graha Swarna, malam hari," lanjut Wira. "Bawa istrimu. Jangan membuat Bu Anindya menyesal lebih cepat dari jadwal."
Anindya memanfaatkan celah itu. "Pak Wira, PE sedang menyiapkan dua wajah baru. Kalau Bapak punya waktu setelah acara, saya ingin memperlihatkan profil mereka."
Wira belum sempat menjawab ketika seorang produser memanggilnya dari seberang ruangan.
"Bawa saja," katanya sambil melangkah mundur. "Tapi jangan mengharapkan saya bersikap lunak. Kamera tidak peduli siapa pemilik perusahaan."
"Saya juga tidak meminta belas kasihan. Hanya kesempatan diuji."
Wira memberi anggukan setuju, lalu menunjuk Arya. "Kalau suamimu bisa datang tepat waktu."
"Saya akan menyeretnya bila perlu," jawab Anindya.
Arya menoleh dengan ekspresi terluka. "Baru menikah, sudah ada ancaman penculikan."
Namun ia mencatat satu hal: bahkan pada hari pernikahan yang tidak diinginkannya, Anindya tetap mencari ruang bagi orang-orang di bawah tanggung jawabnya. Ia tidak meminta peran gratis. Ia meminta pintu audisi.
"Itu sudah terjadi sebelum upacara," jawab Anindya datar.
Wira tertawa lebih keras. "Bagus. Berarti kalian cocok."
Setelah Wira pergi menyapa tamu lain, Anindya berbisik, "Seberapa dekat Anda dengannya?"
"Cukup dekat untuk diundang makan. Belum cukup dekat untuk meminjam uang."
"Tidak bisakah Anda menjawab satu pertanyaan dengan serius?"
"Bisa. Pilih pertanyaannya dengan hati-hati."
Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, ekspresi main-main Arya hilang. Anindya melihat kedalaman yang sama seperti ketika pria itu menolak pose rangkulan di depan kamera.
Lalu Arya mengangkat piring. "Mau sate?"
Pintu itu tertutup lagi.
Malam turun cepat di Prigen. Setelah tamu terakhir meninggalkan bangunan penerima, seorang staf mengantar Arya dan Anindya ke kamar suite yang telah disiapkan. Ranjang dihiasi kelopak bunga, dan dua jubah mandi terlipat rapi di ujungnya.
Anindya menutup pintu, lalu segera mengambil bantal dan meletakkannya di sofa.
"Anda tidur di sana."
Arya memeriksa panjang sofa. "Tinggi saya seratus delapan puluh dua. Sofa ini seratus tujuh puluh."
"Lipat kaki Anda."
"Pernikahan baru beberapa jam, hak dasar saya sudah dipotong sepuluh sentimeter."
Anindya melepas anting dan menaruhnya di meja. "Dengarkan baik-baik, Mas Arya. Ini pernikahan di atas kertas. Kita menjalankan fungsi untuk dua keluarga dan perusahaan. Tidak ada hak suami-istri di luar yang tertulis."
"Saya sudah membaca perjanjian."
"Bagus. Kamar terpisah mulai besok. Di depan publik kita bertindak wajar. Di dalam rumah, jangan menyentuh saya tanpa izin. Jangan mencampuri keputusan pribadi saya."
Arya berhenti bercanda. "Baik."
Jawaban sederhana itu membuat Anindya sedikit ragu. Ia menyiapkan serangkaian penolakan, tetapi Arya tidak menawar satu pun batas.
"Ada lagi?" tanya Arya.
"Jangan membuat skandal yang merugikan PE."
"Yang itu berlaku untukmu juga."
Anindya mengangkat dagu. "Saya tidak membuat skandal."
"Semua orang berkata begitu sebelum masuk berita."
Ia membawa bantal ke sofa. Anindya masuk kamar mandi tanpa membalas, tetapi pintunya ditutup tidak sekeras sebelumnya.
Setengah jam kemudian, ketukan terdengar. Wisnu berdiri di luar dan menggerakkan dagu meminta Arya mengikutinya ke ruang duduk pribadi.
Di sana, ia melempar sebuah kartu hitam ke meja.
Arya menangkapnya dengan dua jari.
"Kartu korporat," kata Wisnu. "Tidak ada batas transaksi harian. Gunakan untuk membangun citra putra boros yang baru pulang."
"Kamu membiayai kebiasaan buruk yang belum saya punya."
"Belajarlah."
Wisnu duduk dan menatapnya serius. "Keluarga ini menilai orang dari apa yang ditunjukkan. Jangan tunjukkan semua senjatamu. Ada pepatah lama: kesatria menyimpan taring sampai waktunya menggigit."
"Saya kira kesatria membawa keris."
"Itulah sebabnya kau tidur di sofa malam ini."
Suara langkah kecil berlari dari koridor.
Pintu terbuka tanpa ketukan. Seorang gadis kecil dengan piyama kuning masuk sambil membawa boneka kelinci. Ia langsung memanjat ke pangkuan Wisnu.
"Papa, kenapa pestanya selesai? Sasa belum dapat kue kedua."
"Karena anak kecil harus tidur."
Sasa menatap Arya penuh rasa ingin tahu. "Ini Kak Arya?"
"Katanya begitu," jawab Arya.
Gadis itu turun dan berdiri di depannya. "Kak Arya yang dikejar Papa pakai tongkat?"
"Iya. Papamu tidak bisa menangkap saya."
"Papa sudah tua."
Wisnu terbatuk. Arya tertawa untuk pertama kalinya hari itu tanpa berpura-pura.
Sasa menunjuk kartu hitam di tangannya. "Itu buat beli kue?"
"Bisa."
"Beli besok. Jangan kasih Papa."
"Sepakat."
Seorang pengasuh datang meminta maaf dan membawa Sasa pergi. Gadis itu melambaikan bonekanya dari pintu.
Suasana ruang duduk menjadi sunyi lagi, tetapi tidak sedingin sebelumnya.
Wisnu memandang kartu di tangan Arya. "Kau punya satu minggu sebelum rapat pertama di PE. Hari Senin, pernikahan dicatat dan perwalian saham mulai berlaku. Sampai saat itu, nikmati peranmu."
Arya memasukkan kartu ke dompet. "Saya selalu menikmati peran yang diremehkan orang."
Ketika ia kembali ke suite, Anindya sudah keluar dari kamar mandi dan bekerja di depan laptop. Arya berhenti di dekat sofa.
"Sutradara Wira benar-benar mengundang kita minggu depan," katanya. "Kamu mau datang?"
Anindya tidak mengangkat kepala. "Saya datang karena urusan perusahaan, bukan sebagai istri Anda."
"Tentu."
Ponsel Arya bergetar. Pesan singkat dari Wira muncul dengan alamat Graha Swarna dan satu kalimat tegas.
Minggu depan. Jangan berani tidak datang.