NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

BAB 13: Kertas Putih Bernoda

[Sudut Pandang: KIAN]

Kian tahu ada yang salah saat ia melihat pintu studio seni Ren terbuka lebar.

Biasanya, Ren mengunci pintu itu dengan tiga gembok berbeda. Ren adalah makhluk yang paranoid; dia takut angin akan merusak kertasnya atau cahaya matahari akan memudarkan tintanya. Pintu yang terbuka artinya bencana.

"Sura!" panggil Kian, mempercepat langkahnya menaiki tangga loteng.

Sura sudah ada di dalam. Dia berdiri diam di tengah ruangan yang hancur berantakan.

Kanvas-kanvas dirobek. Cat minyak tumpah di lantai kayu, merah dan hitam bercampur seperti darah kering. Kuas-kuas patah berserakan. Dan di tengah kekacauan itu, Ren tidak ada.

Hanya ada selembar kertas tertancap pisau di meja kerja Ren. Itu adalah surat resmi Dewan Disiplin.

PERINTAH PENAHANAN

Tersangka: Ren (Fakultas Seni, Penerima Beasiswa)

Tuduhan: Pencurian Dokumen Rahasia Negara (Soal Ujian Nasional).

Lokasi Penahanan: Menara Penghakiman.

Kian meremas kertas itu hingga remuk.

"Ini bukan tentang soal ujian," geram Kian. "Ren tidak sebodoh itu mencuri soal ujian Nasional. Itu bunuh diri."

"Ini pesan," suara Sura terdengar dingin. Gadis itu memungut kacamata bulat Ren yang pecah di lantai. "Kakakmu tidak main-main, Kian. Dia menyerang pion kita."

Kian merasakan rasa bersalah yang menusuk. Dia yang menyeret Ren masuk ke dalam ini. Ren hanya ingin melukis.

"Ayo," kata Kian, berbalik badan. "Kita ke Menara Penghakiman."

"Dan melakukan apa?" tanya Sura. "Menyerang Valius? Itu yang Lysander inginkan. Agar kita membuat keributan dan didiskualifikasi dari turnamen."

"Lalu aku harus diam saja?!" bentak Kian. Emosinya pecah. "Hukuman untuk mencuri Dokumen Negara adalah pematahkan jari, Sura! Mereka akan menghancurkan tangan Ren! Dia tidak akan bisa melukis lagi seumur hidupnya!"

Sura menatap Kian. Dia tidak mundur dibentak. Dia justru berjalan mendekat dan menampar pipi Kian.

PLAK!

Tamparan itu tidak keras, tapi cukup untuk menghentikan histeria Kian.

"Jangan panik," kata Sura tegas. "Simpan amarahmu untuk nanti. Sekarang, gunakan otakmu. Kita butuh rencana."

Kian menarik napas panjang, menekan rasa paniknya. Sura benar. Emosi adalah musuh.

"Valius memegang aturan," gumam Kian, otaknya mulai berputar cepat. "Jika Ren dituduh mencuri, harus ada barang bukti."

"Dan barang buktinya pasti sudah ditanam di kamar Ren," sambung Sura.

"Kita harus melihat barang bukti itu," kata Kian. Matanya kembali tajam. "Jika itu pemalsuan... Ren adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa membuktikannya."

[Sudut Pandang: SURA]

Menara Penghakiman adalah tempat yang suram. Dinding batunya lembap, dan udaranya berbau jamur.

Di ruang interogasi, Ren duduk terikat di kursi kayu. Wajahnya lebam. Matanya bengkak menangis. Di hadapannya, Valius berdiri dengan tangan bersedekap, sementara Lysander duduk santai di kursi sudut sambil membaca buku, seolah sedang menunggu pertunjukan opera dimulai.

"Akui saja," kata Valius berat. "Kami menemukan draf Soal Ujian Nasional di bawah kasurmu. Tanda tangan Menteri Pendidikan ada di sana. Stempel Kerajaan ada di sana."

"S-saya tidak mengambilnya..." isak Ren. "S-sumpah..."

Pintu terbanting terbuka. Kian dan Sura masuk.

"Hentikan lelucon ini," kata Kian lantang.

Valius berbalik. "Ini ruang tertutup, Arselio. Keluar."

"Saya di sini sebagai Penasihat Hukum tersangka," Kian melangkah maju, menghalangi pandangan Valius ke arah Ren. "Sesuai Pasal 12 Buku Panduan Siswa: Setiap murid berhak didampingi perwakilan Dewan Siswa."

Lysander menutup bukunya. Dia tersenyum tipis. "Ah, pahlawan kesiangan datang. Cepat sekali kau datang, Adikku. Apakah kau begitu takut kehilangan... peliharaanmu?"

"Lepaskan dia, Lysander," desis Kian. "Kita berdua tahu Ren tidak mencuri apa pun. Kau yang menanam kertas itu."

"Tuduhan serius tanpa bukti," Lysander berdiri. Dia mengambil sebuah gulungan kertas dari meja bukti. "Lihat sendiri. Ini dokumen asli. Kertas linen kualitas tertinggi. Tinta emas. Ren mencurinya untuk dijual di pasar gelap."

Lysander berjalan mendekati Ren, meletakkan tangannya di bahu pemuda kurus itu. Ren gemetar hebat.

"Hukuman untuk ini sudah jelas," kata Lysander. "Keluarkan dia dari akademi. Dan sesuai tradisi kuno untuk pencuri seni... hancurkan sepuluh jarinya."

Kian mengepalkan tangan. Lysander menyudutkannya.

"Tapi..." lanjut Lysander, menatap Kian. "Aku orang yang murah hati. Aku bisa meminta Valius meringankan hukuman menjadi sekadar skorsing... jika."

"Jika apa?" tanya Kian parau.

"Jika kau mundur dari Turnamen Debat," kata Lysander. "Sekarang."

Itu dia. Skakmat.

Kian menatap Ren yang ketakutan. Lalu menatap Sura. Mimpi mereka untuk bertemu Raja... ambisi mereka untuk menguasai sekolah... semuanya harus ditukar dengan jari Ren.

Kian membuka mulutnya, siap menyerah. "Aku ak—"

"Boleh saya lihat dokumennya?" potong Sura.

Semua orang menoleh ke arah Sura.

"Apa?" tanya Valius.

"Dokumen yang katanya dicuri," Sura menunjuk gulungan di tangan Lysander. "Jika itu asli, maka Ren tamat. Tapi saya ingin melihatnya."

"Kau tidak punya hak," kata Lysander.

"Kalau Anda menolak, berarti Anda takut dokumen itu diperiksa," tantang Sura. "Ayolah. Hanya melihat."

Lysander mendengus remeh. Dia melempar gulungan itu ke meja. "Silakan. Nikmati kebodohan kalian."

Sura membuka gulungan itu. Dia tidak melihat isinya. Dia melihat bentuknya. Lalu dia menoleh pada Ren.

"Ren," panggil Sura lembut. "Lihat ini."

Ren mengangkat kepalanya yang berat.

"Fokus, Ren," perintah Sura. "Lupakan rasa takutmu. Jadilah seniman. Lihat kertas ini. Apakah ini Dokumen Negara asli?"

Ren menyipitkan mata di balik kacamatanya yang retak. Dia menatap lengkungan huruf di dokumen itu. Napasnya yang tadi memburu perlahan menjadi teratur. Ketakutan di matanya lenyap, digantikan oleh ketelitian obsesif.

"Itu... palsu," bisik Ren.

"Apa?" Valius mengerutkan kening.

"Itu palsu," suara Ren makin tegas. Dia menegakkan tubuhnya sedikit. "Lihat huruf 'A' di kop surat 'AKADEMI'. Kaki kirinya lebih tebal 0,2 milimeter dari kaki kanan. Font resmi kerajaan menggunakan keseimbangan simetris sempurna."

Ren menunjuk lagi dengan dagunya.

"Dan stempel emas itu... warnanya terlalu kuning. Emas kerajaan menggunakan campuran tembaga 5% yang memberikan rona kemerahan. Ini tinta emas sintetik murahan yang dijual di Toko Buku Bawah."

"Omong kosong!" bentak Valius. "Ini dokumen resmi!"

"Tunggu," potong Kian. Matanya berbinar. Dia menangkap bolanya. "Valius, kau punya kaca pembesar?"

Valius dengan enggan menyerahkan kaca pembesar dari sakunya.

Kian memeriksa huruf 'A' yang dimaksud Ren. Dia tersenyum lebar.

"Ren benar," kata Kian. "Tidak simetris. Dan lihat serat kertasnya... ini kertas linen buatan pabrik Ostand Selatan, bukan kertas impor Utara yang dipakai istana."

Kian berbalik menghadap Lysander.

"Jadi, Kak," kata Kian, suaranya penuh kemenangan. "Ada dua kemungkinan. Pertama, Menteri Pendidikan menggunakan barang palsu. Atau kedua... seseorang memalsukan dokumen ini dan menanamnya di kamar Ren."

Wajah Lysander tetap datar, tapi matanya menjadi dingin sedingin kutub utara.

"Dan jika dokumen ini palsu," lanjut Sura, "Maka Ren bukan mencuri Dokumen Negara. Dia paling banter hanya menyimpan... sampah coretan kertas."

Sura menatap Valius.

"Ketua Valius, apakah menyimpan kertas palsu adalah kejahatan yang pantas dihukum patah jari?"

Valius terdiam. Wajahnya merah padam. Dia sadar dia telah dimanfaatkan oleh Lysander untuk menangkap orang yang salah dengan bukti palsu. Integritasnya sebagai Ketua Disiplin tercoreng.

"Tidak," geram Valius. Dia menatap Lysander tajam. "Bukti tidak valid. Kasus ditutup."

Valius mengambil pisau, memotong tali yang mengikat Ren.

"Keluar dari sini sebelum aku berubah pikiran," usir Valius.

Kian dan Sura segera memapah Ren berdiri. Ren masih gemetar, tapi kali ini karena lega.

Saat mereka melewati Lysander di pintu keluar, Kian berhenti sejenak.

"Kau ceroboh, Kak," bisik Kian. "Kau lupa satu hal: Kau mungkin punya kekuasaan, tapi kau tidak punya mata seniman. Detail kecil selalu membunuh raksasa."

Lysander tidak menjawab. Dia hanya menatap dokumen palsu itu, lalu perlahan merobeknya menjadi dua.

Di luar menara, udara malam terasa sangat segar.

Ren jatuh terduduk di rumput, menangis lega. "Aku pikir tanganku akan habis... aku pikir aku tidak bisa melukis lagi..."

Sura berlutut, memeluk bahu kurus Ren. "Kau menyelamatkan dirimu sendiri, Ren. Matamu itu... itu senjata."

Kian berdiri mengawasi mereka. Dia masih merasa gemetar sisa adrenalin.

"Maafkan aku, Ren," kata Kian pelan. "Ini salahku."

Ren menghapus air matanya. Dia mendongak menatap Kian.

"Tidak," kata Ren. Suaranya serak tapi yakin. "Dulu aku melukis dalam ketakutan. Hari ini... hari ini aku menggunakan bakatku untuk melawan Lysander Arselio. Dan aku menang."

Ren tersenyum lemah. Dia mengangkat tangannya yang kotor ke arah bulan.

"Tangan ini masih milikku."

Sura berdiri, membantu Ren bangkit.

"Ayo pulang ke The Sanctum," kata Sura. "Lila sudah menyiapkan makan malam. Dan kurasa kita butuh minum untuk merayakan kegagalan Lysander."

Mereka berjalan bertiga menjauhi menara.

Malam itu, Faksi Golden Key tidak hanya selamat. Mereka menjadi lebih kuat. Mereka belajar bahwa serangan Lysander bisa dipatahkan, bukan dengan kekuatan, tapi dengan keahlian mereka masing-masing.

Tapi Sura tahu, ini baru permulaan. Lysander baru saja kehilangan satu pion. Dia tidak akan membuat kesalahan yang sama dua kali.

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!