NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Rahasia yang Terkubur Turun-Temurun

Hening menyelimuti ruang makan lama setelah pintu tertutup di belakang Damar. Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan tirai jendela, dan seakan membawa serta hawa dingin yang tak kasat mata. Gelas-gelas anggur yang tadi sempat terangkat kini kembali diletakkan di meja — tanpa suara, tanpa tawa.

Ibu Arga duduk kembali di kursinya, tangannya gemetar hebat saat mencengkeram tepi meja. Wajahnya yang tadi bersinar penuh kebahagiaan kini pucat pasi, seakan semua darah di tubuhnya tersedot keluar.

"Ibu..." panggil Arga pelan, mendekat dan menyentuh bahu ibunya. "Ibu tahu siapa dia, bukan? Keluarga Suryawijaya... apa sebenarnya yang terjadi dulu?"

Ibu Arga menghela napas panjang — napas yang berat, penuh beban yang ditanggungnya puluhan tahun. Ia menatap kami bergantian, lalu mengangguk pelan.

"Duduklah," ucapnya lirih. "Kalian berhak tahu. Semua ini... sebenarnya bermula dari dua ratus tahun yang lalu. Dua leluhur kita — Pratama dan Suryawijaya — adalah sahabat sekaligus saudara angkat yang tak terpisahkan. Mereka membangun kekayaan bersama, berjanji untuk saling menjaga keturunan selamanya."

Ia berhenti sejenak, menelan ludah seakan kata-kata berikutnya terasa pahit.

"Namun Pratama memiliki pengetahuan yang dilarang — ilmu yang bisa menghubungkan dunia manusia dengan dunia lain. Suatu hari, ia jatuh cinta pada seorang wanita yang bukan berasal dari dunia ini. Suryawijaya memperingatkannya, tapi Pratama tak mendengarkan. Mereka tetap bersatu, dan dari situlah perjanjian itu lahir."

"Perjanjian yang Damar maksud?" tanyaku pelan.

"Ya. Suryawijaya bersedia merahasiakan hal itu, dengan satu syarat: jika suatu hari keturunan Pratama mengulangi kesalahan yang sama — membawa jiwa dari dunia lain ke sini — maka seluruh harta dan kekuasaan keluarga Pratama harus diserahkan kepada keturunan Suryawijaya. Sebagai ganti, Suryawijaya berjanji akan menahan kekuatan gelap yang terbangun akibat pelanggaran itu. Jika tidak... dunia ini bisa terancam bahaya."

Arga menggeleng tak percaya. "Itu tidak masuk akal. Mengapa kakek tak pernah menceritakan hal ini padaku?"

"Karena ia berharap hal itu takkan pernah terjadi," jawab Ibu Arga sedih. "Ia menyembunyikan semua catatan itu, berusaha melupakan masa lalu kelam itu. Tapi takdir... takdir sering kali menemukan cara untuk kembali."

Pagi harinya, kami bertiga pergi ke arsip kota — tempat dokumen asli perjanjian itu disimpan. Arga berjalan dengan langkah tegas, meski wajahnya tampak semakin lelah. Ikatan yang ia buat denganku ternyata bukan hanya menyatukan kami — ia juga membuka pintu bagi masa lalu yang sudah lama dikunci rapat.

Di ruang arsip yang sejuk dan berdebu, petugas mengeluarkan sebuah bungkusan kain berwarna cokelat tua, tersegel dengan lilin bertanda bintang berujung lima. Saat Arga membukanya, kami melihat dokumen itu — kertas yang tebal, tulisan tangan yang tegas, dan dua tanda tangan yang kini menjadi saksi bisu atas semua yang terjadi.

"Damar benar..." gumam Arga, suaranya penuh kepahitan. "Perjanjian itu nyata."

"Tapi ada satu hal yang aneh," kataku, menunjuk baris tertentu di bagian bawah. "Lihat — perjanjian itu menyebutkan penyerahan harta sebagai jaminan agar keturunan Suryawijaya bisa 'menahan kekuatan yang terbangun'. Tapi kenapa itu harus dengan mengambil alih semuanya? Dan bagaimana jika dia justru bukan menahannya, melainkan menggunakannya?"

Arga menatapku, matanya melebar. "Kau bermaksud..."

"Dia datang bukan untuk melindungi dunia ini," potongku pelan namun tegas. "Dia datang untuk mengambil kekuatan yang baru saja kita bangun. Ikatan kita — itu sumber kekuatan yang dia inginkan."

Kami pulang dengan perasaan semakin gelisah. Tiga hari yang diberikan Damar terasa begitu singkat. Di rumah, kami kembali membuka buku hitam peninggalan leluhur — mencari cara untuk membatalkan perjanjian itu, atau setidaknya melindungi diri dari apa yang akan datang.

Di halaman yang hampir tak terbaca, aku menemukan satu baris yang membuat jantungku berhenti berdetak sejenak:

"Jika dua hati bersumpah di bawah bulan purnama dengan pengorbanan sejati, ikatan itu tak bisa dibatalkan oleh siapa pun — kecuali oleh kematian. Dan perjanjian lama yang bertentangan dengannya... gugur dengan sendirinya."

Arga membaca baris itu berulang kali, lalu menatapku dengan mata yang berbinar harapan sekaligus takut.

"Kesumpahan kita..." bisiknya. "Itu lebih kuat dari perjanjian mereka. Karena itu bukan perjanjian antar keluarga — itu janji antar jiwa."

"Tapi Damar tahu hal itu," ingatku cemas. "Itulah sebabnya dia memberi waktu tiga hari. Dia tahu setelah itu... dia takkan bisa lagi menuntut apa pun."

"Jadi tiga hari ini bukan sekadar tenggat waktu," kata Arga, berdiri tegak dan menggenggam tanganku erat. "Dia akan mencoba segala cara untuk memaksa kita sebelum bulan purnama berikutnya terbit."

Sore itu, Arga memanggil seluruh pengawal dan orang kepercayaan keluarga. Ia memperketat keamanan di setiap sudut rumah, memasang pengaman tambahan, dan memastikan tak ada satu pun celah yang bisa dimasuki.

"Siap untuk apa pun," ucapnya pada mereka. "Malam ini, dan dua malam berikutnya — tak ada yang boleh tidur. Tak ada yang boleh lengah."

Namun saat malam tiba, hal pertama yang terjadi bukanlah serangan dari luar — melainkan mimpi yang sama datang kepadaku dan Arga secara bersamaan. Kami berdua terbangun dengan napas memburu, keringat dingin, dan mendengar suara yang berbisik di telinga:

"Kalian pikir janji cinta cukup untuk melawan takdir yang sudah ditulis ratusan tahun? Tunggu saja... malam kedua, aku akan datang. Dan kali ini, aku takkan mengetuk pintu."

 

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!