Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Sang Raja Es dan Masa Lalu Lion
Suara angin badai di puncak Puncak Abadi Frostpeak mendadak terdengar kian mencekam. Kayla, yang tanpa sengaja melangkah terlalu dekat ke sebuah bongkahan es raksasa di tepi tebing, mengulurkan tangannya untuk menyeka butiran salju yang menempel di permukaannya. Tanpa ia sadari, sisa-sisa percikan Petir Merah dari ujung jarinya meresap masuk melalui celah-celah retakan es kuno tersebut.
CRAAAK!
Suara retakan yang amat keras mengguncang seluruh dinding tebing. Bongkahan es raksasa itu tidak sekadar meleleh atau pecah, melainkan mulai bergerak, merentangkan sayap kristal esnya yang berukuran selebar sepuluh meter, dan menegakkan tubuh kolosalnya. Sepasang mata raksasa berwarna biru terang menyala terang di balik wajah es yang dipenuhi pahatan kuno.
Itu bukan sekadar Frost Guardian biasa. Itu adalah Ice Guardian King—penguasa abadi dari puncak es tertinggi yang telah tertidur lebur selama ribuan tahun!
"Sial! Itu bukan penjaga biasa!" seru Ken kaget sambil melompat mundur sejauh tiga meter.
ROAAAAARGH!
Raungan mengerikan menggelegar, menciptakan gelombang kejut suhu dingin mutlak yang langsung membekukan area di sekitar mereka dalam hitungan detik. Tanpa memberi waktu jeda, Ice Guardian King mengayunkan tinju es raksasianya dengan kecepatan yang luar biasa ke arah kelompok Zass.
"Tahan bersama!" teriak Okta.
Okta dan Ryu langsung melesat ke depan, melepaskan kombinasi perisai Petir Biru dan hantaman Petir Oren untuk meredam hantaman tinju es tersebut. Benturan elemen petir dan es menciptakan ledakan energi dahsyat yang menyebarkan serpihan kristal tajam ke segala arah.
Kayla melayang lincah, menghujani mata sang raja es dengan rentetan panah Petir Merah, sementara Ken bergerak cepat menebas sela-sela es di kaki makhluk kolosal itu. Namun, pertahanan tubuh Ice Guardian King terlampau keras; serangan mereka hanya meninggalkan goresan tipis di permukaan tubuh kristalnya.
Sang Raja Es mengamuk. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memanggil badai salju berputar untuk menghantam seluruh anggota party sekaligus.
Zass menyadari bahwa jika pertempuran fisik ini terus dilanjutkan, stamina rekan-rekannya akan terkuras habis oleh suhu dingin ekstrem. Zass menarik pedang hitamnya, membiarkan aura Petir Ungu Legendaris memancar keluar dengan intensitas penuh, siap melepaskan tebasan pemungkas untuk menghentikan sang raja es.
Melihat Zass melompat ke udara dengan pendaran cahaya ungu yang luar biasa, Ice Guardian King tiba-tiba menghentikan ayunan tinjunya di udara. Sosok raksasa itu tertegun kaku. Matanya yang menyala biru terang menatap lurus ke arah dada Zass—tepat di mana liontin belah ketupat peninggalan ayahnya tergantung dan berdenyut hangat.
"Tunggu..." suara menggema bagaikan gemuruh gletser pecah keluar dari mulut sang raja es, terdengar tua, berat, namun dipenuhi keterkejutan yang mendalam. "...Lion? Itukah kau? Huahahaha! Kau akhirnya kembali setelah sekian lama, kawan!"
Kelima anggota party petualang Tier SSS seketika terdiam kaku di udara dan tanah. Zass mendarat perlahan dengan ekspresi kebingungan di wajahnya.
"Kau... mengenalku?" tanya Zass dengan suara hati-hati, menurunkan sedikit kewaspadaannya. "Atau yang kau maksud adalah ayahku, Lion?"
Mendengar nama Lion disebut, mata Ice Guardian King yang bersinar terang mendadak meredup. Tubuh raksasanya bergetar hebat, bukan karena amarah, melainkan karena kesedihan yang amat mendalam. Dari sudut mata bongkahan esnya, tetesan air mata yang langsung membeku menjadi kristal permata es berjatuhan ke tanah.
"Oh... jadi kau anaknya?" suara sang raja es melunak, terdengar sangat getir. "Kemana Lion? Di mana pandai besi bodoh itu sekarang?"
Zass menatap sendu makhluk es di hadapannya. Ia mengepalkan tangannya perlahan sebelum menjawab, "Ayahku... sudah meninggal beberapa tahun lalu."
Suasana di puncak gunung mendadak menjadi sangat sunyi. Hembusan angin badai seolah berhenti berputar.
Untuk sesaat, Ice Guardian King terdiam kaku. Lalu, makhluk kolosal itu menangis dengan suara yang jauh lebih keras dan memilukan—sebuah raungan duka yang mengguncang seluruh puncak salju, mencerminkan ketidakpercayaan dan kepedihan yang teramat sangat atas kepergian sahabat lamanya.
"Meninggal...?" gumam sang raja es terbata-bata di tengah isak tangisnya. "Manusia bodoh itu... dia berjanji akan kembali menemuiku setelah menempa petir ungunya hingga sempurna! Bagaimana mungkin makhluk sekuat dia bisa mati?!"
Okta, yang sejak tadi berdiri di barisan depan dengan perisai petir birunya, perlahan meredupkan petir di tangannya. Ia maju beberapa langkah, menatap sang raja es dengan penuh rasa penasaran bercampur empati.
"Hei, batu es raksasa," panggil Okta dengan nada tegas namun ramah. "Jika kau mengenal Paman Lion sedekat itu, berhentilah menangis dan ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian di masa lalu. Ikatan apa yang kalian miliki?"
Ice Guardian King menundukkan kepalanya yang sebesar rumah, menatap Okta, lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada Zass yang berdiri tegak mengenakan jubah goni usang. Makhluk itu menarik napas panjang, mengumpulkan serpihan es di sekitarnya untuk menenangkan emosinya.
"Namaku Vulgath," ucap sang raja es memperkenalkan diri, suaranya kini terdengar tenang namun berwibawa. "Aku adalah penjaga inti es abadi ini, dan ratusan tahun lalu, sebelum kerajaan-kerajaan manusia berdiri di daratan Magical World, aku adalah musuh sekaligus satu-satunya makhluk yang setara dengan ayahmu."
Vulgath mulai bercerita, membawa Zass dan rekan-rekannya masuk ke dalam kenangan masa lalu yang telah terkubur berabad-abad.
"Dulu, Lion datang ke tempat ini seorang diri," lanjut Vulgath, sementara pendar biru di matanya memancarkan bayangan masa lalu. "Dia tidak datang untuk menaklukkan atau menghancurkan, melainkan untuk mencari bahan tempaan terkeras di bumi—Core of Thunder Tempest. Saat itu, aku menganggapnya remeh dan menyerangnya dengan kekuatan penuh pembeku jiwa."
Vulgath menghela napas, sebuah uap dingin mengepul dari mulut batunya. "Namun, pertarungan itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Di tengah badai salju paling ekstrem di puncak ini, Lion tidak menggunakan amarah untuk melawanku. Ia menggunakan ketenangan jiwa dan api penempaan yang menyatu dengan Petir Ungu miliknya untuk menahan suhu mutlakku."
"Di akhir pertarungan itu, alih-alih saling membunuh, kami justru duduk bersanding di atas es abadi ini. Kami berbagi cerita, meminum anggur hangat yang dibawanya dari dataran rendah, dan mengikat sebuah sumpah persahabatan di bawah langit malam Frostpeak," kenang Vulgath dengan nada penuh kebanggaan. "Lion adalah satu-satunya manusia yang berhasil membuatku takluk bukan karena kekuatan fisiknya, tetapi karena kemurnian hatinya sebagai seorang penempa sejati."
Zass mendengarkan setiap patah kata dari sang raja es dengan saksama. Bayangan ayahnya yang selama ini ia kenal sebagai pria sederhana di gubuk kecil mendadak tampak begitu megah dan melampaui batas imajinasinya.
"Dan sekarang..." Vulgath menundukkan kepalanya, mendekatkan wajah esnya hingga berjarak hanya beberapa meter dari Zass. "...melihatmu berdiri di sini, mengenakan liontin yang sama, membawa pedang dengan frekuensi energi yang identik, aku bisa merasakan kehadiran Lion di dalam aliran darahmu, Nak."
Vulgath membuka telapak tangan esnya yang berukuran raksasa, mengarahkannya tepat di depan Zass. Di tengah telapak tangan tersebut, sebutir bola cahaya biru keputihan yang memancarkan energi murni Core of Thunder Tempest melayang perlahan, berdenyut selaras dengan irama liontin belah ketupat di dada Zass.
"Lion pernah berjanji bahwa suatu hari nanti, keturunannya akan datang untuk mengambil warisan terakhir dari tempat ini," ucap Vulgath tulus. "Ambillah, Zass. Buktikan pada dunia bahwa warisan Petir Ungu dan persahabatan kami tidak akan pernah padam oleh waktu."