NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Informasi yang di dapat alex tentang lauren dan zara

******

Beberapa menit kemudian, Alex sudah sampai di gedung Nozer Holdings.

Alex baru tiba di lantai tiga puluh delapan menjelang tengah hari, setelah dari gudang tua di pinggiran kota tempat ia menghabiskan sebagian besar paginya, untuk menyelesaikan urusan yang tidak bisa ditangani lewat telepon.

Ia melepas jasnya yang sedikit kusut, menyampirkannya ke sandaran kursi, lalu duduk di balik meja kerja, membuka laptopnya untuk memeriksa apa saja yang tertinggal selama ia pergi.

Belum sempat ia membuka email pertamanya, pintu ruangan diketuk pelan, lalu terbuka. Sebastian, sekretaris pribadinya, melangkah masuk dengan map tebal di tangannya, kacamata tipisnya sedikit merosot di ujung hidung.

"Selamat siang, Pak Alex," sapa Sebastian, menutup pintu di belakangnya. "Rapat dengan investor Jerman sudah saya undur ke pukul dua, dan panggilan tim legal pagi tadi terpaksa saya wakilkan ke pengacara senior kita, karena Anda belum bisa dihubungi."

"Bagus," kata Alex singkat, matanya mulai menyapu deretan email yang menumpuk sejak semalam. "Masih ada waktu sebelum rapat direksi jam tiga?"

"Masih cukup, Pak," jawab Sebastian, mengecek jadwalnya sekilas di tablet. "Tapi ada satu hal lagi. Mungkin bukan urusan penting, tapi saya rasa Anda perlu tahu."

Alis Alex terangkat sedikit, menunggu.

"Nona Zara sedang makan siang dengan salah satu karyawan baru saat ini," lanjut Sebastian, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Namanya Lauren Varles, dari divisi administrasi lantai dua puluh dua. Di ruang eksekutif lantai empat puluh, sejak beberapa menit lalu."

Tangan Alex yang tadi masih bergerak di atas keyboard laptop berhenti seketika. Ekspresinya tidak banyak berubah, tapi ada sesuatu yang mengeras di rahangnya, sesuatu yang tidak luput dari pengamatan Sebastian yang sudah bertahun-tahun mempelajari setiap perubahan sekecil apa pun dari atasannya.

Alex tidak langsung menjawab, hanya menatap layar laptopnya tanpa benar-benar melihatnya, pikirannya sudah melayang jauh ke lantai empat puluh. "Kau dapat kabar ini dari siapa?" tanyanya akhirnya, suaranya tetap terkendali meski nadanya lebih dingin dari biasanya.

"Dari asisten pribadi Nona Zara, Pak," jawab Sebastian. "Kartu undangannya sudah dikirim sejak pagi, tapi kabar itu baru sampai ke telinga saya belum lama ini."

Alex bersandar ke kursinya, jarinya mengetuk pelan tepi meja, pikirannya berputar cepat mencoba menebak apa yang mendorong Zara melakukan hal itu tepat di hari yang sama ia sibuk di luar gedung. Ia tahu betul tunangannya bukan orang yang bertindak tanpa alasan, apalagi terhadap seseorang yang baru dua hari bekerja di perusahaannya.

"Panggil Damian," kata Alex akhirnya, suaranya lebih tajam dari biasanya.

"Baik, Pak." Sebastian mencatat instruksi itu, sedikit heran tapi tidak bertanya lebih jauh, lalu berpamitan dan melangkah keluar.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Damian sudah berdiri di depan meja kerja Alex, sikapnya tetap tenang seperti biasa meski jelas menangkap ketegangan yang tidak biasa dari raut wajah atasannya.

"Apa ada staf di rumah yang mungkin melapor kepada Zara soal makan malam kemarin?" tanya Alex langsung, tanpa basa-basi.

Damian terdiam sejenak, mempertimbangkan jawabannya dengan hati-hati. "Saya tidak bisa memastikan, Pak. Tapi saya tidak akan terkejut kalau memang ada. Beberapa staf di kediaman sudah bekerja di sana sejak sebelum Anda mengambil alih rumah itu, warisan dari kesepakatan lama keluarga dengan pihak Whitmore."

Rahang Alex mengeras lebih jelas kali ini. Ia sudah menduga sejak awal bahwa beberapa staf di kediamannya mungkin melapor kepada Zara, bagian dari kesepakatan tidak tertulis antara dua keluarga yang mengatur pertunangan mereka sejak awal. Tapi mengetahuinya secara teori dan menghadapinya secara langsung, apalagi tepat saat makan siang itu sedang berlangsung, terasa jauh berbeda.

"Cari tahu siapa orangnya," kata Alex, suaranya rendah dan dingin. "Dan awasi apa yang terjadi di lantai empat puluh sekarang. Aku ingin tahu persis apa yang dibicarakan begitu makan siang itu selesai."

"Baik, Pak." Damian mengangguk singkat, lalu berbalik dan melangkah keluar tanpa suara, meninggalkan Alex sendirian dengan pikirannya yang kini terganggu oleh sesuatu yang jarang sekali mengusik ketenangannya, kekhawatiran atas seseorang selain dirinya sendiri.

Alex menatap layar laptopnya lagi, mencoba kembali fokus pada pekerjaan yang menumpuk sebelum rapat pukul tiga nanti, tapi pikirannya terus melayang ke lantai empat puluh, ke bayangan Lauren duduk berhadapan dengan Zara saat ini juga, tanpa perlindungan apa pun dari lidah tajam wanita yang selama ini terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan.

*****

Zara tersenyum kecil, senyum yang tampak dipaksakan. Tatapannya kemudian beralih kepada Lauren yang duduk di hadapannya. Sejenak, ia hanya memperhatikan Lauren tanpa mengatakan apa pun, seolah sedang mencari cara untuk memulai percakapan.

Lauren yang menyadari tatapan itu akhirnya mengangkat wajahnya.

"Kita sebenarnya sudah pernah bertemu, kau ingat?" tanya Zara, memulai obrolan sambil mengaduk pelan saladnya. "Kemarin pagi, di lorong lantai direksi."

"Aku ingat, Nona," jawab Lauren, sedikit tegang mengingat momen canggung itu. "Maaf soal waktu itu. Aku salah tekan tombol lift, aku belum hafal betul tombolnya karena baru pertama kali naik lift di gedung ini."

Zara tertawa kecil, suaranya ringan namun tetap terjaga dalam batas keanggunan yang terlatih. "Tidak apa-apa. Tapi sejujurnya, cukup lucu melihat wajahmu waktu itu. Kau terlihat begitu takut melihatku, seperti melihat hantu."

Lauren tersenyum kikuk, tidak tahu harus menjawab apa selain mengangguk kecil. "Aku... memang sedikit kaget, Nona. Semuanya terjadi begitu cepat hari itu."

"Wajar," kata Zara, menyesap air lemonnya sekali, meletakkan gelas itu dengan gerakan anggun yang terlatih. "Lantai direksi memang jarang kedatangan orang baru. Kebanyakan karyawan bahkan tidak pernah tahu ruangan di sana seperti apa."

Mereka mengobrol beberapa saat lebih lama dari yang Lauren duga, membahas hal-hal ringan seputar gedung, ritme kerja divisi Lauren, bahkan sedikit tentang cuaca London yang tidak menentu akhir-akhir ini. Zara pandai menjaga obrolan tetap mengalir santai, meski Lauren tidak pernah benar-benar bisa melepas kewaspadaannya sepenuhnya.

"Kau tahu," kata Zara akhirnya, nadanya berubah sedikit lebih pelan, lebih personal, "aku mengundangmu bukan tanpa alasan."

Lauren menegang, menunggu kalimat berikutnya dengan jantung berdebar.

"Aku akan memberimu satu saran, Lauren," lanjut Zara, bersandar ke kursinya, matanya menatap lurus ke arah Lauren tanpa berkedip, semua nada ramah di permukaan tadi perlahan meluntur. "Apa pun yang kau kira sedang terjadi antara kau dan Alex, sebaiknya kau hentikan sekarang juga. Dia akan menikah denganku, dan tidak ada karyawan baru mana pun yang akan mengubah itu."

Lauren duduk membeku, kata-kata Zara masih menggantung berat di udara. Wajar rasanya kalau Zara bersikap seperti ini, mengingat Alex memang sudah bertunangan dengannya sejak dua tahun lalu, kabar yang baru saja Lauren ketahui pagi ini dari Della. Tapi yang membuat Lauren bingung bukan soal itu.

"Kenapa dia bicara seolah aku sudah melakukan sesuatu?" pikirnya, jantungnya berdebar kencang meski wajahnya berusaha tetap tenang. "Selama aku bekerja di sini, aku bahkan tidak pernah sekali pun mendekati Alex. Kami hanya berpapasan sekali di lorong, itu pun karena aku salah lantai."

"Aku tidak mengerti maksud Nona," kata Lauren akhirnya, memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati, suaranya dijaga setenang mungkin. "Tidak ada apa-apa antara aku dan Pak Alex. Aku hanya karyawan baru di sini, aku bahkan baru dua hari bekerja."

Zara tersenyum tipis, mengangguk pelan seolah menerima jawaban itu, meski matanya sama sekali tidak melunak. "Karyawan baru," ulangnya perlahan, seperti mengecap kata itu satu per satu. "Karyawan baru yang makan malam berdua saja di kediaman pribadi Alex, sepulang kerja di hari pertamanya?"

Lauren membeku, wajahnya seketika kehilangan warna. Baru sekarang ia sadar, kekhawatiran Zara ternyata tidak ada hubungannya dengan apa pun yang terjadi selama ia bekerja di kantor ini, melainkan malam itu, malam ketika Damian menjemputnya langsung dari trotoar depan gedung sepulang kerja.

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!