Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.
Berita tentang kedatangan Kahiyang di kantor pusat Rafsanjani Holdings akhirnya sampai juga ke telinga orang nomor wahid di perusahaan tersebut. Wajah yang selama ini begitu dingin dan berwibawa itu, mengulas senyum tipis kala menyaksikan rekaman kamera CCTV yang Ardan kirimkan padanya.
Beliau pun segera membuka ponselnya, menekan nomor sang istri lalu menelponnya.
Di kediaman mewah nan nyaman, Nyonya Kirana yang baru saja pulang dari kegiatan sosialnya langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya begitu terdengar benda tersebut berdering.
"Papa...?" gumamnya pelan lalu menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum, Pa?" jawab Nyonya Kirana. "Tumben telepon mama siang-siang begini? Ada apa?"
"Waalaikumsalam," balas Tuan Bahtiar. “Papa mau kasih kabar. Pasti Mama suka,” imbuhnya, terdengar begitu santai.
Nyonya Kirana yang semula hendak meletakkan tasnya langsung mengernyit heran. “Kabar apa sih, Pa? Jangan bikin mama penasaran, deh," desaknya penuh rasa ingin tahu.
“Menantu kita baru saja datang ke kantor pusat,” jawab Tuan Bahtiar sambil menahan senyum.
Wanita paruh baya itu langsung terdiam sesaat. Senyum tampak merekah menghiasi wajahnya yang masih cantik karena terawat dengan baik. “Serius? Berarti dia sudah ketemu langsung sama Sultan, dong?”
Tuan Bahtiar terkekeh kecil. “Sepertinya penyamaran anak kita sudah terbongkar.”
“Hahhh?” Nyonya Kirana spontan tertawa kecil. “Jadi Kahiyang akhirnya sudah tahu kalau ternyata Rafa itu Sultan?”
“Sepertinya begitu,” jawab Tuan Bahtiar sambil tersenyum tipis. “Tadi papa lihat dari rekaman CCTV. Kahiyang mengejar Sultan sampai ke lift sambil meneriakkan nama Rafa.”
Netra Nyonya Kirana tampak berbinar. “Oh, ya ampun... pasti kaget sekali dia.”
“Papa rasa begitu,” sahut Tuan Bahtiar tenang. “Tapi setelah itu Sultan membawanya ke ruangannya.”
Beberapa saat Nyonya Kirana terdiam, tetapi kemudian senyumnya semakin lebar. “Berarti selama ini yang Papa harapkan akhirnya terjadi juga.”
“Ya,” jawab Tuan Bahtiar sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Sekarang Kahiyang sudah tahu siapa Rafa sebenarnya.”
Nyonya Kirana menghela napas lega. “Mama justru penasaran bagaimana reaksi Kahiyang setelah tahu.”
“Kalau melihat cara dia mengejar Sultan tadi...” Tuan Bahtiar kembali tertawa kecil. “Sepertinya bukan mau kabur.”
“Mama yakin dia cuma syok,” terka ibu mertua Kahiyang ikut tertawa.
“Papa juga berpikir begitu,” timpal Tuan Bahtiar.
Nyonya Kirana kemudian menggelengkan kepala. “Anak itu benar-benar mirip papanya. Menyimpan sesuatu sampai akhirnya ketahuan sendiri.”
Tuan Bahtiar terdiam sebentar lalu menjawab datar, “Jangan samakan Papa dengan Sultan.”
“Lho, memangnya salah?” goda Nyonya Kirana sambil terkekeh.
Tuan Bahtiar hanya menghela napas, tetapi senyum tipis masih terlihat di wajahnya. “Yang penting sekarang Mama tahu. Menantu kita sudah mengetahui semuanya.”
“Mama senang mendengarnya. Semoga setelah ini hubungan mereka justru semakin dekat,” ucap sang istri penuh harap.
“Aamiin,” jawab Tuan Bahtiar singkat.
"Mama jadi berpikir untuk percepat resepsi pernikahan mereka. Supaya semua orang tahu bahwa dia adalah menantu kita. Biar si bibinya yang sok kaya itu terbungkam mulutnya, nggak bisa merendahkan mereka lagi," ujar Nyonya Kirana penuh semangat.
"Sepertinya bukan ide yang buruk," sambung sang suami seolah tanda sinyal persetujuan.
"Baiklah, kalau Papa setuju kita harus membicarakan masalah ini dengan orangtua Kahiyang," pungkas sang istri.
Beberapa saat kemudian panggilan terputus setelah keduanya setuju untuk mempercepat resepsi pernikahan Sultan Kahiyang.
.
.
.
Kekehan pelan Sultan seketika berubah menjadi tawa geli ketika mendengar perut Kahiyang berbunyi.
"Kamu lapar, hmmm?" Pria itu pun lantas mengusap pucuk kepala istrinya dengan gemas.
Tubuh Kahiyang langsung membeku. Wajahnya seketika memerah padam karena malu. “Nggak...!” bantahnya cepat sambil memalingkan wajah.
Sultan semakin tak bisa menahan tawanya melihat reaksi sang istri. “Tapi perutmu berkata sebaliknya, Ay. Mbak Ayang, aku lapar ... Ayo, kasih aku nutrisi," katanya sembari tangannya memainkan kedua pipi istrinya.
"Aaahh...jangan godain aku terus!" Kahiyang semakin salah tingkah, lalu menurunkan tangan suaminya.
Namun, sesaat kemudian ia seakan teringat sesuatu dan langsung menepuk keningnya. “Ya ampun, bekalku!”
Sultan mengernyit heran melihat kepanikan istrinya. “Kenapa dengan bekalmu?”
“Tas bekalku masih di resepsionis,” jawab Kahiyang sambil menggaruk pelipisnya. “Tadi aku buru-buru mengejarmu sampai lupa membawanya.”
Sultan menggeleng kecil sambil tersenyum. “Sampai segitunya...?”
“Ya, mau bagaimana lagi? Aku baru tahu kalau suami culunku ternyata CEO,” gerutu Kahiyang sambil menatapnya. “Siapa yang nggak kaget, coba?”
Sultan hanya terkekeh, lalu meraih telepon internal di atas meja kerjanya.
“Ya sudah, biar aku minta mereka mengantarkannya ke sini,” ujarnya sambil mencari nomor bagian resepsionis.
“Jangan merepotkan mereka,” cegah Kahiyang.
“Itu salah satu tugas mereka,” jawab Sultan santai sambil menekan nomor resepsionis.
Tak lama kemudian, panggilan tersambung.
“Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?” sapa Reni, suaranya terdengar gugup.
“Saya ingin meminta bantuan. Tas bekal istri saya tertinggal di meja resepsionis. Tolong antarkan ke ruangan saya,” pinta Sultan terdengar tenang.
“Ba-baik, Tuan. Akan segera saya antarkan,” jawab resepsionis lebih gugup lagi.
Sultan memutuskan panggilan, lalu kembali menghampiri istrinya.
“Sekarang duduk dulu. Sebentar lagi bekalmu sampai,” ujarnya sambil menggandeng tangan Kahiyang menuju sofa.
Kahiyang menurut dan duduk di sana. Ia masih terlihat sedikit malu setiap kali teringat suara perutnya tadi.
Sementara itu, di meja resepsionis, Reni tampak membeku beberapa saat setelah panggilan berakhir. Ia masih mencerna ucapan pria yang baru saja meneleponnya.
'Jadi benar ibu tadi istri Tuan Sultan? Dan tas bekalnya tertinggal di meja resepsionis?'
Reni menoleh ke arah tas bekal yang ada di ujung meja. Ia segera berdiri dari kursinya lalu mengambilnya.
Dengan langkah sedikit tergesa, Reni membawa tas tersebut menuju ruangan Sultan. Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk beberapa kali sebelum membukanya.
“Masuk,” ujar Sultan sambil menoleh.
Reni bergegas masuk membawa tas bekal Kahiyang. “Ini tas bekalnya, Tuan," ujarnya lalu meletakkannya di atas meja. Ia menundukkan kepala dengan sedikit gugup.
“Terima kasih,” jawab Sultan sambil mengangguk.
Reni pun segera pamit dan keluar kembali, meninggalkan ruangan tersebut. Begitu berada di luar ruangan Sultan, gadis itu lantas mengembuskan napas lega sambil memegang dadanya.
"Alhamdulillah, selamat," gumamnya pelan, lalu kembali melangkah menuju tempat kerjanya.
Di dalam ruangan, Kahiyang segera membuka tas bekalnya lalu mengeluarkan dua kotak dari dalam tas tersebut.
“Nah, sekarang baru bisa makan,” ujarnya dengan mata berbinar.
Sultan tersenyum melihat binar di mata istrinya. “Kelihatannya kamu sudah lapar sekali, ya?” tanyanya sambil memperhatikan Kahiyang yang mulai membuka salah satu kotak bekal.
Kahiyang menatapnya sambil mengerucutkan bibir. “Jangan bahas itu lagi."
"Ini buat kamu," ucapnya seraya mengeser satu kotak bekal ke hadapan Sultan.
"Loh... kok, buat aku?" Sultan menatap Kahiyang heran.
"Emang kamu pikir buat apa, aku sampai bela-belain ke sini? Kalau bukan untuk mengantar bekalmu yang tertinggal di tas ini? Supaya kamu bisa makan dengan benar dan sehat. Setidaknya itulah harapanku."
Sultan langsung speechless mendengar ucapan istrinya. Lalu, sesaat kemudian...?
lanjuut thor
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan