Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Seminggu setelah wisuda, Keira masuk ke Lim Group sebagai peserta magang.
Ia datang dengan CV satu halaman, map tipis, dan blus putih yang sengaja tidak terlalu mahal. Kalau ia tampil seperti cucu Tan yang ingin bermain-main di kantor orang, semua orang akan membencinya sejak hari pertama. Kalau ia tampil terlalu sederhana, mereka akan mengira ia pura-pura rendah hati.
Maka Keira memilih tengah.
Cukup rapi untuk dihormati.
Cukup tenang untuk diremehkan.
Ruang wawancara berada di lantai dua puluh enam. Tiga pewawancara duduk di seberang meja. Dua dari HR, satu dari divisi proyek. Pria dari divisi proyek memperkenalkan diri sebagai Pak Dharma. Usianya sekitar empat puluhan, rambutnya disisir rapi, senyumnya terlalu lama menempel di wajah Keira.
"Tan Keira," katanya sambil membolak-balik CV. "Wisudawan terbaik UI."
"Iya, Pak."
"Pengalaman kerja belum banyak."
"Belum, Pak. Karena itu saya melamar magang."
Salah satu staf HR menahan senyum.
Pak Dharma menatapnya lebih lama. "Kamu terbiasa dengan tekanan?"
"Cukup terbiasa."
"Di sini bukan kampus. Tidak semua bisa diselesaikan dengan nilai bagus."
"Saya mengerti."
Wawancara berjalan dua puluh menit. Keira menjawab pertanyaan teknis dengan rapi. Analisis proyek properti, risiko supply chain, pemetaan stakeholder, sampai simulasi sederhana yang membuat staf HR saling pandang. Ia tidak bicara terlalu banyak. Cukup untuk menunjukkan ia bukan pajangan.
Pak Dharma mengetuk CV dengan ujung pena. "Siapa yang merekomendasikan kamu?"
Pintu ruang wawancara terbuka sebelum Keira menjawab.
Semua orang berdiri hampir bersamaan.
Richard masuk tanpa terburu-buru. Jas gelap, kemeja abu, manset jade di pergelangan. Matanya melewati ruangan, berhenti sebentar pada Keira, lalu pindah ke Pak Dharma.
"Yang merekomendasikan dia, saya."
Keheningan jatuh.
Pak Dharma langsung tersenyum lebih lebar. "Pak Lim. Kami tidak tahu Bapak akan..."
"Lanjutkan proses sesuai standar."
"Tentu, Pak."
Richard menatap Keira. "Setelah selesai, ke ruangan saya."
"Baik, Pak Lim."
Keira sengaja memakai panggilan itu.
Mata Richard berhenti sepersekian detik, lalu ia keluar.
Wawancara setelah itu menjadi jauh lebih mudah dan jauh lebih tidak jujur. Semua orang lebih sopan. Pak Dharma tidak lagi menatapnya seperti benda yang bisa disentuh, tetapi Keira melihat sesuatu yang lain di matanya.
Tidak suka.
Pria seperti Pak Dharma tidak suka diingatkan bahwa ada orang di atasnya yang bisa masuk kapan saja.
Keira diterima hari itu juga.
Di lift menuju lantai atas, Keira berdiri di samping Richard. Jason berada satu langkah di belakang mereka, pura-pura membaca tablet dengan sangat serius.
"Orang-orang akan bilang Om pilih kasih," kata Keira pelan.
Richard menatap angka lantai yang naik. "Memang."
Keira menoleh. "Om?"
"Aku memang pilih kasih padamu."
Kalimat itu diucapkan datar, seolah ia baru menyebut cuaca. Namun bagi Keira, lift yang dingin itu mendadak terasa kekurangan udara.
Jason batuk kecil di belakang mereka.
Keira menunduk, tetapi sudut bibirnya naik. "Nanti saya jadi dibenci."
"Kalau kamu tidak mampu, mereka boleh membencimu."
"Kalau saya mampu?"
"Mereka tetap akan membencimu. Tapi mereka tidak bisa mengusirmu."
Keira terdiam.
Itu bukan penghiburan manis. Justru karena tidak manis, kalimat itu terasa nyata.
Ia masuk ke divisi proyek sore itu. Meja kecil disiapkan di sudut ruangan terbuka. Beberapa staf menyapanya sopan, sebagian lain menatap terlalu lama. Dalam satu jam, Keira sudah mendengar tiga bisikan tentang "orang titipan Pak Lim".
Ia tidak peduli.
Yang ia pedulikan adalah Pak Dharma.
Pria itu datang pukul lima lewat, membawa tumpukan file setinggi hampir tiga puluh sentimeter. Ia meletakkannya di meja Keira sampai permukaan meja bergetar.
"Ini data pendukung proyek lama," katanya. "Rapikan hari ini."
Keira melihat judul file teratas. Beberapa berasal dari tahun yang tidak relevan. Ada invoice kantin, laporan vendor usang, bahkan fotokopi dokumen yang sudah buram.
Sampah.
Sengaja.
Staf di sekitar mereka pura-pura sibuk, tetapi telinga mereka jelas terbuka.
Keira mengangkat wajah dengan senyum sopan. "Baik, Pak Dharma. Formatnya mengikuti template divisi?"
Pak Dharma tampak sedikit kecewa karena ia tidak mengeluh. "Kamu cari sendiri."
"Baik."
"Jangan pulang sebelum selesai."
"Baik, Pak."
Pak Dharma berjalan pergi.
Keira menatap tumpukan file itu, lalu membuka laptop. Di layar hitam sebelum menyala, ia melihat pantulan wajahnya sendiri.
Ia tidak langsung mengeluh kepada Richard.
Itu yang diharapkan Pak Dharma. Gadis titipan akan mengadu. Gadis manja akan menangis. Gadis bodoh akan mengerjakan semuanya tanpa bertanya dan tenggelam di bawah kertas tidak berguna.
Keira melakukan hal keempat.
Ia memotret seluruh tumpukan file, mencatat judul dokumen, memisahkan mana yang relevan dan mana yang sengaja diselipkan untuk membuang waktu. Dalam satu jam, ia menemukan bahwa sebagian file sudah pernah diarsipkan digital tiga tahun lalu. Dalam dua jam, ia membuat daftar ringkas berisi kategori, status, dan rekomendasi pembuangan arsip.
Pukul delapan malam, staf lain sudah mulai pulang. Pak Dharma lewat di depan mejanya, jelas ingin melihat Keira tenggelam.
"Sudah selesai?" tanyanya dengan senyum tipis.
"Sudah saya klasifikasikan, Pak. File yang relevan ada delapan belas. Sisanya duplikasi atau dokumen non-proyek. Saya kirim ringkasannya ke email Bapak."
Senyum Pak Dharma hilang.
Beberapa staf yang belum pulang menoleh diam-diam.
"Saya minta dirapikan, bukan dianalisis."
"Baik. Kalau Bapak ingin semuanya dipindai ulang, saya bisa lanjutkan besok pagi. Tapi untuk kebutuhan proyek, delapan belas file itu yang perlu dibaca."
Pak Dharma menatapnya lama. "Kamu merasa pintar?"
Keira tersenyum sopan. "Saya hanya takut membuang waktu divisi, Pak."
Di ujung ruangan, pintu lift eksekutif terbuka. Richard keluar bersama Jason, langkahnya berhenti sebentar saat melihat tumpukan file di meja Keira.
Pak Dharma langsung mengubah ekspresi.
"Masih rajin sekali, Nona Tan," katanya lebih keras, seolah sejak tadi ia sedang membimbing.
Keira menunduk. "Pak Dharma memberi saya banyak bahan belajar."
Jason melihat tumpukan file itu, lalu melihat jam. "Nona Tan, sudah makan malam?"
"Belum, Ko Jason."
Richard menatap Pak Dharma. "Divisi proyek biasa memberi pekerjaan arsip lama pada anak magang sampai malam?"
Pak Dharma tersenyum kaku. "Untuk latihan, Pak."
"Latihan harus punya tujuan."
"Tentu, Pak. Besok saya susun lebih jelas."
Richard tidak menegur lebih jauh. Justru itu lebih menekan. Pak Dharma menunduk, sementara staf lain pura-pura melihat layar masing-masing dengan wajah tegang.
Keira menutup laptop. Ia tahu Richard melihat semuanya. Untuk malam pertama, cukup.
Besok, Pak Dharma pasti akan memberi serangan yang lebih rapi dan lebih sulit dibantah lagi.
Hari pertama di dunia Richard.
Permainannya baru dimulai.