Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
“Perjodohan?”
Damar mengulang satu kata yang baru saja ayah mertuanya ucapkan sekadar untuk memastikan pendengarannya tidaklah salah.
“Ya.” Raksa mengangguk.
“Tapi, Ayah, usia Ravi—”
“Aku mengatakan perjodohan, bukan pernikahan,” potong Raksa cepat sebelum Damar menyelesaikan kalimatnya.
Raksa melanjutkan, “Dengan perjodohan, dia akan belajar bertanggung jawab di luar urusan perusahaan. Selama ini hidupnya terlalu nyaman karena semua yang dia butuhkan sudah tersedia di hadapannya.”
Damar menyandarkan punggung, masih belum terlihat sependapat. “Menjodohkan dia dengan seseorang tidak otomatis membuatnya dewasa.”
“Tentu tidak.” Raksa mengambil cangkir teh dari atas meja, lalu menyesap isinya. “Tapi setidaknya dia mulai belajar bahwa setiap keputusan hidup tidak hanya berputar pada dirinya sendiri.”
Damar mengembuskan napas pelan. Sejak kecil Ravian memang nyaris tidak pernah kekurangan apa pun. Pendidikan terbaik, lingkungan terbaik, bahkan jalan menuju perusahaan sudah terbuka sebelum putranya cukup dewasa untuk memikirkan masa depan. Dan mungkin tanpa disadari, dirinya ikut membuat semua itu terlalu mudah.
“Tapi aku tidak ingin memaksanya,” ucap Damar.
Raksa kembali menyesap teh sebelum menjawab, “Siapa bilang harus dipaksa?”
Damar menoleh.
“Kita pertemukan mereka. Biarkan mereka saling mengenal satu sama lain. Kalau mereka merasa cocok lanjutkan, kalau tidak, selesai."
Nada Raksa saat berbicara terdengar terlalu ringan untuk perkara yang baru saja ia lemparkan. Hal yang membuat Damar menatapnya curiga.
“Ayah sudah punya seseorang?” tebak Damar.
Raksa meletakkan cangkirnya perlahan sebelum menjawab.
“Kalau belum, Ayah tidak akan bicara.”
Damar menggeleng kecil sambil tersenyum hambar. “Sudah kuduga.”
“Wanita itu mandiri, tahu apa yang dia inginkan, dan tidak akan menganggukkan kepala hanya karena Ravi seorang Arkatama.”
Kalimat terakhir yang Raksa ucapkan membuat Damar sedikit tertarik.
Raksa melanjutkan tanpa tergesa. “Ravi membutuhkan seseorang yang berani mengatakan kalau dia salah, bukan orang yang terus memanjakannya.”
Damar terdiam sejenak. Entah kenapa satu sosok muncul di kepalanya tanpa permisi. Wanita yang beberapa hari terakhir berulang kali datang ke Arkatama Industrial. Tegas, tenang, dan bahkan tidak ragu menyampaikan hasil pemeriksaan yang menjatuhkan salah satu orang terdekat keluarga mereka.
Damar perlahan mengangkat wajah. “Jangan bilang…”
Sudut bibir Raksa terangkat tipis. “Keira Daneswari.”
Damar langsung mengusap wajahnya. “Ayah serius?”
“Sangat.”
“Dia bahkan baru selesai menangani masalah perusahaan kita,” sahut Damar.
“Justru itu salah satu alasannya,” jawab Raksa.
Raksa menyandarkan tubuhnya. “Ayah sudah melihat caranya bekerja. Dia tidak mudah ditekan, tidak silau dengan nama Arkatama, dan yang paling penting, dia memiliki pikirannya sendiri.”
Damar tidak bisa membantah bagian itu. Keira memang memenuhi semua yang Raksa katakan.
"Dia bahkan mampu membangun Daneswara sendiri di usia muda. Itu membuktikan dia hidup tidak bergantung pada nama keluarganya," Raksa menambahkan.
Damar kian terdiam. Masalahnya bukan pada Keira, melainkan pada putranya sendiri. “Ayah sudah bicara dengan keluarga Daneswara?”
“Belum,” jawab Raksa tanpa jeda.
“Dengan Nona Keira?” tanya Damar lagi.
“Belum.”
Damar menghela napas lega.
Raksa menatap menantunnya datar. “Kenapa wajahmu terlihat seperti baru saja lolos dari masalah?”
“Karena setidaknya Ayah belum melakukan apa-apa di belakang kami,” sahut Damar cepat.
Raksa mendengus, nyaris melayangkan tongkat di tangannya ke kepala menantunya. “Ayah belum setua itu sampai harus menjodohkan cucu diam-diam.”
Damar tertawa pendek, ingin mengatakan bahwa ayah mertuanya memang sudah tua namun urung ia lakukan. Beberapa saat kemudian ekspresinya kembali serius. “Aku perlu membicarakan ini dengan Ravi lebih dulu.”
Raksa tidak menolak. “Silakan.”
“Dan Meira juga harus tahu.”
Kali ini Raksa mengangkat alis. “Untuk bagian itu, kamu urus sendiri.”
Damar menatap ayah mertuanya dengan tatapan tak percaya. “Ayah yang memberi ide, kenapa aku yang harus menghadapi Meira?” protesnya.
“Karena dia istrimu.”
Jawaban itu keluar begitu enteng sampai Damar hanya mampu menggeleng.
Raksa bangkit dengan bantuan tongkat yang selalu ia bawa. Sebelum berjalan meninggalkan ruang keluarga, ia sempat berhenti di samping sofa.
“Satu lagi.”
Damar menoleh.
“Jangan bicara seolah perjodohan ini sudah diputuskan.” Nada Raksa berubah lebih serius. “Ravi tetap harus memilih.”.
Raksa sudah kembali melangkah sambil menambahkan, “Tapi sebelum memilih, setidaknya dia harus belajar berani mengatakan apa yang dia inginkan.”
Damar terdiam. Entah kenapa kalimat itu membuat ia kembali teringat kejadian siang tadi. Ravian tahu harus menolak, namun terlalu lama menimbang bagaimana orang lain akan bereaksi sampai akhirnya tidak mampu mengucapkan satu kata sederhana hingga membuat ia sendiri yang harus turun tangan.
Damar mengembuskan napas panjang. Andai putranya memang memiliki seseorang yang diinginkan suatu hari nanti, ia hanya berharap Ravian tidak menghadapi perasaannya dengan cara yang sama.
Terlalu banyak berpikir, takut mengecewakan orang, dan terlambat bicara, tiga hal yang tampak sederhana tapi bisa membuat putranya kehilangan segalanya. Sayangnya... baik Damar ataupun Raksa sama sekali tidak tahu bahwa seseorang itu sebenarnya sudah ada.
Dan Ravian sudah terlalu lama menyembunyikannya dari seluruh keluarga.
. . .
. . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????