Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Malam kian membungkus Kediaman Carlton dalam kesunyian yang mencekam. Bau kebohongan dan ketidakadilan yang merajai rumah itu siang tadi masih membakar dada Vanessa.
Dengan langkah sepelan bisikan, gaun tidur sutra tipisnya melambai saat ia menyusuri koridor remang-remang menuju sayap barat, dimana kamar Alessio berada.
Tanpa mengetuk, Vanessa menggeser pintu kayu yang sedikit terbuka. Di tengah kegelapan yang hanya diterangi pendar cahaya bulan dari jendela besar, sosok Alessio terbaring lelap di atas tempat tidur berukuran king-size.
Vanessa melangkah mendekat, matanya menatap lekat garis wajah pria itu yang tampak tegas namun berbahaya. Pelan, jemari Vanessa terulur hendak menyentuh bahu Alessio untuk memanggilnya.
Namun, belum sempat jemarinya mendarat, sebuah cengkeraman sekeras besi tiba-tiba mengunci pergelangan tangannya.
"Ah!" desis Vanessa kaget.
Dalam satu gerakan kilat yang terukur, Alessio menarik pergelangan tangan Vanessa hingga tubuh wanita itu limbung dan jatuh tepat di atas dada bidangnya.
Belum sempat Vanessa menguasai napasnya yang menderu, Alessio buru-buru bangun, membalikkan posisi, dan menjatuhkan Vanessa ke atas tempat tidur.
Kini, tubuh tegap Alessio menindih penuh wanita itu di balik kegelapan. Deru napas hangatnya berembus di ceruk leher Vanessa.
Dengan perlahan, jemari dingin Alessio meraba sisi wajah Vanessa, turun menyusuri garis leher yang jenjang, bahu yang terbuka, dada yang naik-turun, dan akhirnya berhenti tepat di atas perut Vanessa.
"Mau apa Nona Vanessa, datang ke kamarku dengan gaun tidur setipis ini malam-malam begini?" tanya Alessio dengan suara serak, berat, dan sarat akan intimidasi yang berbahaya.
Vanessa menelan ludah dengan susah payah. Sensasi sentuhan tangan Alessio membuat kulitnya meremang hebat.
Ia berusaha menggerakkan tubuhnya untuk melepaskan diri, namun Alessio sama sekali tidak bergeser sedikit pun dari atas tubuhnya. Pria itu mengurungnya bagai mangsa dalam cengkeraman predator.
"A-aku kemari... ingin menawarkan kesepakatan denganmu," bisik Vanessa, berusaha mempertahankan sisa ketenangannya meski gagal.
"Kesepakatan?" Alessio menaikkan sebelah alisnya di tengah kegelapan, jarinya menekan pelan perut Vanessa sebelum mengangkat wajahnya. "Kesepakatan apa?"
Vanessa menatap lurus ke dalam iris mata hitam Alessio yang tajam. "Menikahlah denganku."
Satu detik. Dua detik.
Sebuah senyum sinis yang dingin terukir di bibir Alessio. Pria itu menyeringai rendah, lalu perlahan memindahkan tubuhnya dari atas tubuh Vanessa.
Ia berdiri santai di samping ranjang, melangkah menuju dinding, dan menyandarkan punggungnya di sana sambil bersedekap dada.
Matanya yang berbahaya tak lepas menatap Vanessa yang kini terduduk di tepi ranjang sambil merapikan gaun tidurnya.
"Kau sedang ingin memanfaatkanku untuk membalaskan dendammu pada Jordan, Nona Vanessa?" cemooh Alessio datar.
Vanessa menggelengkan kepala dengan tegas.
"Ini bukan sekadar memanfaatkanmu, Alessio. Ini kerja sama yang saling menguntungkan. Jika kau menikah denganku, kau bisa merebut kembali statusmu yang terenggut sebagai pewaris sah Keluarga Carlton secara elegan. Dan sebagai gantinya, aku bisa terlepas dari Jordan yang kasar dan gila itu."
"Penawaran yang buruk," potong Alessio tanpa ragu. Ia menatap Vanessa dengan pandangan meremehkan. "Tanpa bantuanmu, aku bisa merebut takhta itu sendiri. Aku tidak butuh wanita untuk menjadi batu pijakanku."
"Kau memang bisa merebutnya sendiri dengan kekuatanmu," timpal Vanessa cepat, matanya berbinar cerdas.
"Tapi kau tidak tahu bahwa ada satu syarat rahasia yang paling penting dalam surat wasiat leluhur dan tradisi Keluarga Carlton untuk penyerahan takhta secara mutlak, Alessio."
Alessio diam sejenak, matanya menyipit meneliti raut wajah Vanessa.
"Surat wasiat kakekmu menyatakan bahwa pimpinan utama hanya bisa diserahkan kepada putra sah yang sudah terikat pernikahan resmi dengan wanita dari garis keturunan yang disetujui kakek sebelum beliau wafat," papar Vanessa mantap. "Dan wanita itu adalah aku. Jika kau merebutnya secara paksa tanpa menikahiku, dewan tetua dan para pemegang saham veteran tidak akan pernah memberimu legitimasi penuh. Kau hanya akan dianggap sebagai pemberontak, bukan penguasa."
Hening merayapi ruangan itu. Alessio terdiam, memproses ucapan Vanessa yang tepat menghantam celah hukum yang memang menjadi kendala utamanya selama ini.
"Menarik..." gumam Alessio pelan. Ia mengetuk lengannya sendiri secara ritmis. "Aku akan memikirkannya. Tapi, Nona Vanessa... aku punya prinsip. Aku tidak sudi menikah dengan wanita yang sudah disentuh oleh kakakku sendiri."
Vanessa tersentak, wajahnya merona kemerahan antara marah dan malu. "Aku belum pernah disentuh oleh Jordan! Sedikit pun tidak!"
Alessio tertawa kecil. Sebuah tawa dingin tanpa humor.
"Jangan membodohiku. Selama ini, kalian sudah tinggal di bawah satu atap yang sama, kan? Mustahil pria impulsif dan berengsek seperti Jordan tidak menyentuh calon istrinya."
"Itu fakta!" tegas Vanessa dengan nada tertahan, dadanya naik-turun emosional. "Aku selalu punya alasan untuk menolaknya! Bahkan jika kau tidak percaya, aku bersumpah... aku siap jika harus melakukan pemeriksaan medis di rumah sakit besok pagi untuk membuktikannya padamu!"
Alessio kembali melangkah mendekat, ia mengikis jarak di antara mereka hingga sosok tingginya membayangi Vanessa yang masih duduk diatas ranjang miliknya.
"Pemeriksaan rumah sakit?" bisik Alessio, suaranya terdengar makin dalam. "Uang bisa membeli hasil medis dengan sangat mudah, Nona Vanessa. Bukti di atas kertas sama sekali tidak berguna bagiku."
Vanessa mendongak, matanya menantang tatapan Alessio. "Lalu kau mau aku membuktikannya dengan cara apa?!"
Alessio membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya hingga jarak bibir mereka hanya tersisa sekian milimeter.
Senyum miring terukir di wajah tampannya. Persis seperti seorang iblis yang baru saja berhasil menjerat mangsanya ke dalam sangkar neraka.
"Tidurlah denganku malam ini," bisiknya dengan suara serak menahan hasrat.
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏