"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Sinar matahari subuh baru saja menerobos celah tirai kamar.
Clara menyembunyikan wajahnya di bawah bantal, napasnya memburu terengah-engah dengan tubuh yang sepenuhnya lelah dan lemas.
"Elzio... stop... udah subuh, El..." cicit Clara parau, suara hampir habis.
Elzio yang masih mengecup bahu mulus Clara akhirnya menghentikan pergerakannya. Pria itu menyunggingkan senyum puas tiada tara, mengelus rambut Clara yang basah oleh keringat dengan penuh kelembutan.
"Terima kasih, sweetheart," bisik Elzio rendah, mengecup kening Clara berulang kali. "Tidur yang nyenyak. Saya urus sisanya."
Begitu Clara memejamkan mata dan tertidur karena kelelahan hebat, Elzio perlahan beranjak dari ranjang. Pria itu memakai celana panjangnya, lalu melangkah keluar kamar membawa ponselnya.
Dia menekan satu tombol cepat. Hanya dalam dua detik, sambungan terhubung.
"Arka," panggil Elzio dingin, suaranya kembali menjadi suara penguasa tanpa cela.
"Ya, Pak Elzio? Ada perintah di subuh buta begini?" suara Arka di ujung telepon terdengar sudah siap.
"Kosongkan jadwal kantor catatan sipil jam sembilan pagi ini."
Arka terdengar tersedak ludahnya sendiri. "Maksud Anda... pagi ini, Pak?!"
"Ya. Pagi ini," tegas Elzio tanpa bantahan. "Saya dan Clara akan menikah secara hukum dan resmi terlebih dahulu. Saya tidak mau mengambil risiko dia berubah pikiran atau kabur setelah bangun tidur nanti."
"Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan berkas administrasi dan dokumennya?"
"Gunakan pengaruh AetherCorp. Selesaikan semua berkas pernikahan kami dalam dua jam ke depan. Siapkan ruangan privat terbaik di kantor mereka. Jangan ada celah sedikit pun."
"Melaksanakan perintah, Pak Elzio. Selamat atas pernikahan Anda."
Elzio mematikan telepon, lalu menyunggingkan seringai bahagianya. Sekarang kamu tidak akan pernah bisa lari lagi dari saya, Clara.
Pukul delapan pagi.
"Aww... aduh..."
Clara meringis kesakitan saat berusaha mendudukkan dirinya di atas ranjang. Seluruh persendian dan pinggangnya terasa pegal luar biasa, seolah baru saja dihantam truk.
"Elzio brengsek..." umpat Clara pelan, memegangi pinggangnya sambil melotot galak ke arah pintu kamar mandi. "Bener-bener gak ada akhlak itu cowok! Gue blak-blakan dibilang lemes malah dimanfaatin sampai subuh!"
KLAK.
Pintu kamar terbuka. Elzio melangkah masuk dengan kemeja hitam yang sudah rapi dan wangi. Wajah pria itu tampak sangat segar, sama sekali tidak menunjukkan jejak begadang hingga subuh.
"Selamat pagi, sweetheart," panggil Elzio manis, membawa segelas air hangat dan nampan berisi sarapan.
"Gak usah sok manis!" semprot Clara galak, melemparkan bantal kecil ke arah Elzio yang langsung ditangkap pria itu dengan santai. "Badan gue rontok semua gara-gara lu ya! Puas lu?!"
Elzio terkekeh renyah, duduk di tepi ranjang dan menyerahkan gelas air hangat. "Maafkan saya, Clara. Kamu terlalu manis, jadi saya tidak bisa berhenti. Minum dulu."
Clara menyeruput air hangat itu dengan wajah cemberut. "Awas aja ya, seminggu ke depan lu tidur di sofa!"
"Tidak masalah," jawab Elzio cepat dengan binar mata jahil. "Tapi sebelum itu... sekarang kamu harus mandi dan ganti baju."
Clara mengerutkan keningnya, curiga melihat Elzio yang sudah tampil sangat rapi. "Ganti baju mau ke mana? Perusahaan kan bisa diurus Arka dulu hari ini, gue masih pegel banget!"
Elzio tersenyum makin lebar. Pria itu menarik sebuah gaun putih simpel namun sangat elegan dari lemari, lalu meletakkannya di atas kasur.
"Kita ke kantor catatan sipil sekarang," ujar Elzio santai.
UHUUK!
Clara tersedak air yang baru saja ditelannya. Wajahnya memerah padam, matanya membelalak sempurna.
"LU BILANG APA?! CATATAN SIPIL?!" jerit Clara histeris.
"Betul, calon istriku," sahut Elzio lembut. "Arka sudah membereskan semua dokumennya. Jam sembilan nanti kita akan tanda tangan berkas pernikahan secara hukum dan resmi."
"ELZIO MAHENDRA! LU GILA YA?!" bentak Clara, menunjuk Elzio dengan jari gemetar. "Kemarin malam katanya dua minggu lagi! Kenapa sekarang tiba-tiba jam sembilan pagi ini?!"
"Dua minggu lagi itu untuk pesta resepsinya, Clara," ralat Elzio tanpa dosa. "Kalau pernikahan hukumnya... harus pagi ini. Saya tidak mau menunda-nunda lagi. Nanti kalau kamu ngambek terus berubah pikiran gimana?"
"Gue ngerasa dijebak, Elzio!" gerutu Clara frustrasi, mengacak rambutnya yang berantakan. "Gue baru bangun! Badan gue sakit semua! Muka gue kusam! Masa nikah mendadak begini kaya dikejar hutang?!"
Elzio menyusupkan tangannya ke pinggang Clara, menarik wanita itu ke dalam dekapannya secara lembut agar tidak menyakiti tubuh Clara yang sedang pegal.
"Kamu tetap wanita paling cantik di mata saya, Clara," bisik Elzio rendah di dekat telinga Clara. "Ini bukan jebakan... ini kepastian. Saya cuma mau memastikan kamu resmi jadi milik saya secara hukum negara dan agama."
Clara menatap Elzio dengan napas terengah. Di satu sisi dia bingung dan kesal setengah mati karena semua proses ini terjadi secepat kilat tanpa persiapan. Tapi di sisi lain, melihat binar mata Elzio yang penuh desakan cinta dan rasa takut kehilangan yang begitu besar... Clara lagi-lagi tidak bisa menolaknya.
"El... ini serba buru-buru banget," cicit Clara melunak, menyandarkan dahinya di dada Elzio. "Gue bahkan belum siapin baju atau apa pun..."
"Semua sudah disiapkan, sweetheart," Elzio mengecup rambut Clara hangat. "Kamu cuma perlu bawa diri kamu dan senyuman kamu. Biar saya yang urus sisanya."
"Pria pemaksa!" umpat Clara pelan, memukul dada Elzio lemah.
"Hanya memaksa untuk kebahagiaan kita," balas Elzio terkekeh. Pria itu menyelipkan tangannya di bawah paha dan punggung Clara, lalu menggendong wanita itu secara tiba-tiba.
"Aaa! Elzio! Mau dibawa ke mana?!" jerit Clara kaget.
"Ke kamar mandi. Mau saya mandikan atau mau mandi sendiri?" goda Elzio dengan seringai tampannya.
"Mandi sendiri! Turunin gak?!" semprot Clara dengan wajah memerah padam.
"Baiklah, baiklah," Elzio menurunkan Clara tepat di depan pintu kamar mandi, lalu mengecup bibir Clara singkat. "Sepuluh menit ya, Nyonya Mahendra. Petugas dan saksi kita sudah menunggu."
Clara memutar bolanya malas sebelum masuk ke kamar mandi, tapi bibirnya tidak bisa menahan senyum tipis yang terukir manis.
"Nyonya Mahendra..." gumam Clara pelan di dalam kamar mandi, menggeleng-geleng tak percaya. "Gila... gue beneran ditodong nikah pagi ini."