AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Al mengerutkan kening, mencoba mencerna kalimat sahabatnya.
Ia mengucek mata kirinya dengan tangan, lalu melirik sekilas ke arah jendela kamar yang sudah mulai gelap.
"Hm... emang sudah malam ya? Aku baru bangun," gumam Al sambil menguap lebar.
"Ya ampun, Al! Ini sudah setengah tujuh lewat tahu! Lo tidur atau pingsan dari sore?" Saka terdengar tidak habis pikir.
Terdengar suara knalpot motor yang samar di latar belakang telepon Saka. "Eh, omong-omong, rumah kamu di mana sih? Daripada kamu kelamaan ngumpulin nyawa, biar aku aja yang meluncur ke sana."
Mendengar tawaran Saka, kantuk Al mendadak hilang setengah. Ia terdiam sejenak.
"Kamu mau ke rumahku sekarang?" tanya Al, nadanya berubah agak misterius. "Serius?"
"Ya seriuslah! Kita kan mau nongkrong. Emang kenapa? Kamu nggak lagi menyembunyikan selir di rumah, kan?" canda Saka sambil tertawa.
"Bukan gitu. Tapi... jangan kaget ya kalau lihat rumahku nanti," kata Al pelan, sengaja bersikap misterius.
Saka di seberang sana mengerutkan kening. "Kenapa rupanya? Rumah kamu berhantu?"
Al terkekeh pelan mendengar tebakan asal Saka. "Iya, jangan terkejut aja nanti. Pokoknya siapin mental. Ya sudah, ini aku share lokasi. Aku mau mandi dulu, lengket semua nih."
"Oke, buruan kirim! aku otw!"
Klik.
Sambungan telepon terputus.
Al menghela napas panjang. Ia membuka aplikasi pesan hijau, lalu mengirimkan titik koordinat tempat tinggalnya kepada Saka.
Setelah memastikan pesan itu terkirim dengan tanda centang dua, ia melempar ponselnya ke kasur dan berjalan gontai menuju kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu.
Sementara itu di tempat lain, Saka menepikan motor maticnya di pinggir jalan raya begitu ponselnya bergetar menerima pesan.
Ia membuka tautan peta digital yang dikirim Al.
"Lho? Alamatnya kok masuk ke daerah sini?" Saka bergumam sendiri, menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut.
Jalur navigasi di layar menunjukkan bahwa ia harus melewati jalan protokol, masuk ke gang, dan rutenya berakhir di sebuah kawasan yang dikenal sebagai area perumahan elite.
Daerah yang terkenal dengan rumah-rumah besar yang jarak antar rumahnya dibatasi tembok-tembok tinggi.
"Si Al beneran bercanda apa gimana nih?" Saka menggeleng-gelengkan kepala.
Tanpa berpikir lebih panjang, Saka memasang helmnya, memasukkan ponsel ke dalam saku jaket, dan menarik gas motornya dalam-dalam Dan melajukan motornya.
...🛵🛵🛵🛵🛵🛵...
Dua puluh menit kemudian, Saka memperlambat laju motornya. Suasana di sekitarnya mendadak sepi.
Jalanan aspal yang dilaluinya kini dinaungi oleh pohon-pohon beringin besar di kiri kanan jalan.
Sinar matahari senja sudah sepenuhnya hilang, digantikan oleh temaram lampu jalan yang kekuningan.
"Mbak Google bilang tujuannya ada di sebelah kiri," gumam Saka meniru suara navigasi.
Ia menghentikan motornya tepat di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi, setinggi hampir tiga meter.
Gerbang itu tampak kokoh, memberikan kesan megah. Di balik gerbang itu, berdiri sebuah rumah bergaya modern mewah yang sangat luas, dengan halaman rumput yang tertata rapi.
Saka menelan ludah. Ia meraba ponselnya dan mengirim pesan singkat.
Saka: "Al, aku udah di depan gerbang hitam gede banget. Ini beneran rumah kamu? Aku nggak salah alamat kan? Jangan-jangan aku dikerjain."
Hanya butuh waktu sepuluh detik sampai gerbang besi besar itu tiba-tiba bergerak terbuka sendiri dengan suara derit yang nyaring. Saka terlonjak kaget di atas motornya.
Dari balik pintu jati besar rumah tersebut, muncullah Al. Ia sudah segar, memakai kaos santai dan celana pendek, melambaikan tangan ke arah Saka yang masih melongo di atas motornya.
"Saka! Masuk! Malah bengong di situ kayak patung selamat datang!" teriak Al dari teras rumahnya yang luas.
Saka mengerjapkan mata, perlahan mendorong motornya masuk ke pekarangan rumah mewah tersebut dengan otak yang masih berusaha memproses kenyataan.