Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sumpah di Ujung Pedang
Angin malam berhembus makin kencang dari arah selatan, membawa aroma air laut yang asin bercampur bau tanah hutan yang lembap. Dahan-dahan pohon kelapa di pinggir halaman bergoyang liar, menimbulkan suara gesekan yang berirama namun terdengar mencekam di tengah keheningan desa yang mulai larut. Laras tetap terpaku di tempatnya berdiri di teras, matanya menyipit tajam menembus kegelapan di balik pinggiran hutan. Ia tidak berkedip sedikit pun, seolah penglihatannya bisa menembus batas pepohonan gelap itu dan melihat siapa yang sedang bersembunyi di sana.
Dika tidak berusaha menariknya masuk atau menyuruhnya tenang. Ia hanya berdiri tegak di samping wanita itu, lalu perlahan mengulurkan tangannya dan menggenggam erat jemari Laras. Sentuhan hangat itu mengalirkan kekuatan, namun tidak cukup sepenuhnya menghapus rasa dingin yang merayap di tulang belakang Laras. Ia masih bisa merasakannya—getaran aura yang asing namun sangat akrab, penuh kebencian yang membeku dan niat buruk yang tidak disembunyikan lagi.
“Mereka sudah pergi,” kata Laras pelan setelah beberapa menit berlalu, suaranya rendah namun penuh kepastian. “Tapi mereka tidak lari ketakutan. Mereka hanya mundur sebentar, mengamati reaksi kita. Mereka tahu persis di mana kita berada, tahu kelemahan kita, dan mungkin tahu juga apa yang baru saja kita rasakan satu sama lain.”
“Siapa kelompok yang mengawasimu ini sebenarnya?” tanya Dika pelan. Nadanya tidak menuntut atau menghakimi, hanya ingin memahami seberapa besar bahaya yang sedang mengancam wanita yang dicintainya dan seluruh desa tempat ia tinggal.
Laras menarik napas panjang, mengembuskan napas itu perlahan seolah membuang beban berat yang tersangkut di dadanya. Ia berjalan perlahan menuju kursi kayu tua di sudut teras, lalu duduk sambil menatap lantai yang mulai basah oleh embun. “Dulu… saat aku masih memegang kekuasaan tertinggi di Kerajaan Bayangan, organisasi rahasia yang ditakuti seluruh penjuru negeri ini, aku membentuk pasukan khusus bernama ‘Taring Hitam’. Mereka adalah pasukan elit yang aku latih sendiri selama bertahun-tahun—bukan hanya diajarkan cara bertarung, tapi juga cara membaca gerak musuh, menyusup tanpa suara, dan bertahan hidup dalam kondisi paling sulit sekalipun. Mereka adalah orang-orang yang paling setia padaku, sekaligus yang paling kejam dan tidak kenal ampun di antara semua pengikutku.”
Ia berhenti sejenak, menelan ludah karena rasa pahit yang tiba-tiba memenuhi kerongkongannya. “Aku pernah membuat satu aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar siapapun: jika seseorang memilih meninggalkan Kerajaan Bayangan dan berjanji tidak akan membocorkan rahasia serta tidak melawan kami, maka orang itu berhak hidup damai di tempat yang ia pilih. Tidak ada pengejaran, tidak ada balas dendam. Aku kira aturan itu tetap berlaku bahkan setelah aku pergi.”
“Tapi ternyata tidak begitu?” bisik Dika sambil duduk di sebelahnya, menatap wajah Laras yang tampak begitu lelah.
Laras mengangguk pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya namun ia berusaha menahannya agar tidak jatuh. “Saat aku menghilang belasan tahun lalu, aku yakin mereka akan mematuhi aturan itu. Tapi sekarang aku sadar… ada seseorang yang mengambil alih posisiku setelah aku pergi. Seseorang yang sudah lama mendambakan kekuasaanku, seseorang yang menganggap kepergianku sebagai penghinaan terbesar dan kelemahan yang tidak boleh dibiarkan. Dia tidak mau aku hidup tenang di tempat lain. Dia ingin aku kembali—bukan sebagai pemimpin, tapi sebagai tahanan yang dijadikan contoh bagi siapa saja yang berani melawannya.”
“Dan dia tidak segan melukai orang-orang di sekitarmu untuk memaksamu menyerah?” tanya Dika lagi, tangannya kini menumpu di bahu Laras.
“Justru itulah cara yang paling dia sukai,” jawab Laras dengan suara bergetar. “Dia tahu aku tidak akan pernah mau melihat orang tak bersalah terluka demi urusanku. Jika dia tidak bisa memaksaku kembali dengan ancaman pada diriku sendiri, dia akan menghancurkan semua hal dan orang yang mulai membuatku merasa berharga di sini. Desa ini, kedamaian ini… kau…”
Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Bayangan tentang desa yang damai ini berubah menjadi medan perang, tentang anak-anak yang tidak bisa bermain lagi di pinggir sungai, tentang Dika yang terluka demi melindunginya—semua itu membuat dadanya sesak napas. Ia berdiri dengan cepat, seolah ingin lari menjauh agar tidak membawa bencana ke sini.
“Mungkin sebaiknya aku pergi saja malam ini juga,” katanya tiba-tiba, matanya menatap jalan setapak yang menghubungkan desa dengan dunia luar. “Aku akan menjauh sejauh mungkin, sehingga mereka tidak akan menemukan kalian lagi. Kalian tidak perlu terlibat dalam masalah yang bukan milik kalian.”
Namun Dika segera menarik lengannya pelan namun tegas, memutar tubuh wanita itu agar menghadapnya. Wajah pria itu tampak serius, matanya menatap tajam namun penuh kasih sayang ke dalam manik mata Laras.
“Dengar aku baik-baik, Laras,” katanya dengan nada tegas namun lembut. “Kau tidak akan pergi ke mana-mana sendirian. Desa ini bukan sekadar kumpulan rumah dan tanah bagi kami. Ini adalah rumah bagi semua orang yang mencari tempat untuk beristirahat, untuk berubah, dan untuk hidup dengan tenang. Selama kau tinggal di sini, kau sudah menjadi bagian dari kami. Kau sudah membantu kami dengan tulus selama ini—mengajari anak-anak cara menghindari binatang berbisa, membantu nenek tua memanen hasil kebun, merawat orang sakit saat bidan desa sedang pergi ke luar pulau. Bagaimana mungkin kami membiarkanmu pergi sendirian menghadapi bahaya besar itu?”
“Tapi kau tidak tahu seberapa berbahaya mereka!” seru Laras dengan suara bergetar, air matanya akhirnya tumpah juga. “Mereka tidak memiliki belas kasihan, mereka terlatih membunuh tanpa suara, tanpa rasa bersalah, tanpa peduli siapa yang ada di depan mata. Jika mereka datang, desa damai ini bisa berubah menjadi tempat berdarah dalam satu malam saja. Aku tidak akan sanggup jika harus melihat salah satu dari kalian terluka atau bahkan meninggal karena urusan masa laluku.”
“Kami tahu bahayanya sekarang, dan justru karena itu kami tidak akan berdiam diri,” jawab Dika tidak kalah tegas. “Kau tahu cara berpikir mereka, kau tahu kelemahan mereka, kau tahu bagaimana cara mengantisipasi gerakan mereka. Kita tidak akan melawan dengan kekerasan berlebihan jika tidak perlu, tapi kita juga tidak akan lari ketakutan dan menyerahkan rumah kita begitu saja. Kita akan bersiap bersama, melindungi desa ini bersama-sama.”
Malam itu mereka tidak tidur di kamar masing-masing seperti biasa. Dika menyebar tikar dan selimut di ruang tengah, menyuruh Laras beristirahat di sana sementara ia sendiri berjaga di dekat pintu depan dengan sebilah parang panjang di sampingnya. Laras sebenarnya ingin menolak dan menawarkan diri untuk bergantian berjaga, namun ia tahu berdebat saat ini tidak akan berguna. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan mata merah gelap yang tadi dilihatnya kembali muncul di benak, disertai bisikan dingin yang memanggil nama lamanya—nama yang sudah lama ia kubur dalam-dalam dan berusaha lupakan.
Pagi harinya, kabut putih tebal masih menyelimuti seluruh desa saat mereka berjalan beriringan menuju rumah kepala desa. Udara pagi terasa sangat dingin hingga menembus pakaian, namun yang terasa lebih berat adalah kekhawatiran yang menyelimuti hati Laras. Kepala desa Pak Harun sudah menunggu di beranda rumahnya, tampak sudah siap sejak lama. Ia menyambut mereka dengan senyum ramah seperti biasa, namun senyum itu perlahan memudar saat melihat wajah serius dan mata sembab milik Laras.
“Ada hal penting yang harus kalian sampaikan, bukan?” tanyanya langsung begitu mereka duduk di ruang tamu, lalu menutup pintu kayu rapat-rapat agar tidak ada yang mendengar dari luar.
Laras menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan jujur tanpa menyembunyikan satu hal pun. Ia menceritakan siapa dirinya dulu, apa yang dilakukannya, mengapa ia lari dan bersembunyi di desa ini, hingga siapa yang mengejarnya dan apa bahaya yang mengancam seluruh warga desa. Sepanjang ia bercerita, Pak Harun hanya mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk pelan namun tidak sekalipun menunjukkan ekspresi takut, jijik, atau marah seperti yang Laras khawatirkan sejak awal.
Setelah Laras selesai bercerita dan menunduk menunggu penghakiman, Pak Harun justru menghela napas pelan lalu tersenyum lembut. “Laras, selama lima tahun kau tinggal di sini, kau sudah membuktikan siapa dirimu yang sebenarnya. Bukan dengan cerita masa lalu yang kau sampaikan barusan, tapi dengan perbuatanmu sehari-hari. Masa lalu memang membentuk siapa kita, tapi ia tidak berhak menentukan siapa kita selamanya. Desa ini sejak dulu adalah tempat perlindungan bagi siapa saja yang ingin berubah dan hidup damai. Kami tidak akan membiarkan siapapun datang dan mengganggu kedamaian ini, apapun alasannya.”
Kata-kata tulus itu membuat pertahanan terakhir Laras runtuh. Ia menangis lepas, merasakan beban yang selama ini dipanggulnya sendirian perlahan terangkat karena akhirnya ada orang yang benar-benar memahami dan menerimanya.
Mereka pun segera menyusun rencana matang bersama. Warga desa yang kuat dan tangguh akan dibagi menjadi empat kelompok penjaga yang akan bergantian mengawasi jalan masuk desa, pinggiran hutan, serta tepi sungai yang sering menjadi jalur masuk orang asing. Laras bersedia mengajarkan cara mengenali jejak penyusup, cara menghindari jebakan, dan cara melumpuhkan musuh tanpa harus membunuh jika memungkinkan. Dika ditunjuk sebagai pemimpin kelompok terdepan yang akan berhadapan langsung jika penyusup benar-benar masuk desa.
Siang harinya berita itu menyebar perlahan ke seluruh desa. Awalnya ada yang terkejut, ada yang bertanya-tanya, namun tidak ada satu pun warga yang meminta Laras pergi. Banyak ibu rumah tangga yang datang membawa nasi bungkus, kue, atau sayuran, anak-anak membawa bunga liar, dan para pemuda desa menawarkan diri untuk ikut berlatih menjaga keamanan.
“Kau sudah seperti saudara kami sendiri, Laras,” kata salah satu pemuda desa dengan semangat. “Kami tidak akan membiarkan orang jahat mengambilmu dari sini.”
Sore itu, setelah latihan sederhana selesai, Laras berdiri di tepi sungai melihat anak-anak bermain air dengan riang. Dika berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya erat.
“Terima kasih,” bisik Laras menatapnya dengan mata berbinar penuh harapan. “Terima kasih sudah tidak menyerah padaku.”
“Kita hadapi semua ini bersama, ingat?” jawab Dika sambil tersenyum hangat.
Namun di kejauhan, di atas bukit batu yang menghadap langsung ke desa, tiga sosok berpakaian serba gelap berdiri diam mengamati setiap gerak-gerik di bawah sana. Wajah mereka tertutup kain hitam, hanya sepasang mata tajam yang terlihat jelas.
“Mereka bersiap,” ujar salah satu dengan suara berat. “Tapi persiapan mereka terlalu lemah untuk melawan kita.”
Sosok di tengah yang tampak sebagai pemimpin menunjuk ke arah rumah kayu tempat Laras tinggal. “Mulai malam ini. Kita tidak memberi mereka waktu untuk bernapas. Tangkap dia hidup-hidup, hancurkan siapa saja yang berani menghalangi.”
bersambung...